PENGARUH METODE PEMBELAJARAN CTL DAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF SERTA GAYA BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VII PADA MATA PELAJARAN FISIKA DI SMP NEGERI...(PEND-30)

Dalam proses belajar mengajar (PBM) akan terjadi interaksi antara siswa dan pendidik. Siswa adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai pencari, penerima pelajaran yang dibutuhkannya, sedang pendidik adalah seseorang atau sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengolah kegiatan belajar mengajar dan seperangkat peranan lainnya yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif.



Kegiatan belajar mengajar melibatkan beberapa komponen, yaitu siswa, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode mengajar, media dan evaluasi. Sebagai salah satu komponen dalam proses belajar mengajar (PBM), guru memiliki posisi yang menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola, dan mengevaluasi pembelajaran Gagne (1974), dalam Degeng, (1989) mengatakan bahwa guru bertugas mengalihkan seperangkat pengetahuan yang terorganisasikan sehingga pengetahuan itu menjadi bagian dari sistem pengetahuan siswa. Sejalan dengan itu pula, UU guru dan dosen pasal 6 mengamanatkan bahwa kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Menilik dari itu, keberadaan guru sangat menentukan karena gurulah yang memilah dan memilih bahan pelajaran yang akan disajikan kepada siswa.

Guru hanya berpeluang untuk memanipulasi strategi atau metode pembelajaran di bawah kendala karakteristik tujuan pembelajaran dan siswa. Hal ini diakui oleh Reigeluth,(1983) dalam Degeng, (1989) menyatakan bahwa pada hakekatnya hanya variabel metode pembelajaran yang berpeluang besar untuk dapat dimanipulasi oleh setiap guru dan perancang pembelajaran. Senada dengan itu Suhardjono, (2004) mengatakan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, banyak diantara pengaruh itu diluar kendali guru.

Dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, pada umumnya guru menggunakan metode secara sembarangan. Penggunaan metode secara sembarangan ini tidak berdasarkan pada analisis kesesuaian antara tipe isi pelajaran dengan tipe kinerja (performansi) yang menjadi sasaran belajar. Padahal keefektifan suatu metode pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara tipe isi dengan tipe performansi. Gagne dan Briggs (1979) dalam Dahar, (1988) mengatakan bahwa suatu prestasi belajar memerlukan kondisi belajar internal dan kondisi belajar eksternal yang berbeda. Sejalan dengan ini, Degeng, (1989) menyatakan, suatu metode pembelajaran seringkali hanya cocok untuk belajar tipe isi tertentu di bawah kondisi tertentu. Hal ini berarti bahwa untuk belajar tipe isi yang lain di bawah kondisi yang lain, diperlukan metode pembelajaran yang berbeda.

Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya.
Metode pembelajaran dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh guru, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara atau metode mengajar guru. Yang dimaksud dengan metode pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas Joice (1992) dalam Trianto (2007). Metode pembelajaran banyak ragamnya, salah satu diantaranya adalah metode pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning). Metode CTL ialah suatu metode mengajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.

Senada dengan hal tersebut diatas (Nurhadi, dkk, 2003), mengatakan CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliknya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri, bukan “mengetahuinya”. Dengan metode CTL diharapkan dapat membuka wawasan berfikir yang beragam dari seluruh siswa, sehingga mereka dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkannya dengan kehidupan nyata. Metode CTL sebagai pilihan untuk “menghidupkan” kelas, agar siswa belajar dengan sesungguhnya belajar (learning how to learn). Sehingga pada akhirnya diharapkan siswa tidak bosan mengikuti pembelajaran dan terjadi interaksi multi arah.

Melihat karakteristik metode pembelajaran CTL ini, peneliti beranggapan sangat tepat bila metode ini diimplementasikan pada mata pelajaran Fisika. Sudah dikenal umum bahwa Fisika merupakan salah satu bidang ilmu pengetahuan alam yang tergolong “keras”, artinya tidak mudah dipahami. Bahkan telah berkembang dikalangan siswa suatu mitos bahwa Fisika memang sulit dipelajari. Fisika kemudian menjadi momok dan ditakuti banyak siswa. Fisika dianggap sebagai onggokan rumus-rumus, yang menjerumuskan siswa dengan hafalan yang memusingkan kepala, yang pada gilirannya nilai Fisika para siswa termasuk yang terendah di antara seluruh mata pelajaran di sekolah. Hal ini sungguh memprihatinkan, karena Fisika merupakan ilmu dasar yang harus dikuasai terlebih dulu dalam rangka penguasaan teknologi pada jaman modern ini. Fisika mempelajari watak dan perilaku alam, sehingga memungkinkan kita memanfaatkan dan mempekerjakan alam untuk kepentingan hidup manusia. Di negara maju, Fisika selalu bahu membahu dengan ilmu lain di garis depan dalam usaha untuk mengembangkan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Berangkat dari kondisi yang ada diatas, tidak hanya metode pembelajaran CTL saja yang diperlukan untuk mencapai prestasi siswa yang gemilang, tetapi lebih jauh pembelajaran yang berorientasi pada konstrutivistik yang lain juga diperlukan. Salah satu bentuk pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan konstruktivitistik adalah pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi alternatif untuk mencapai tujuan yang antara lain berupaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama, berpikir kritis, dan pada saat yang sama meningkatkan prestasi akademiknya. Disamping itu pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit dan pada saat yang bersamaan sangat berguna untuk menumbuhkan kemauan kerja sama dan kemauan membantu teman. Pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif terhadap siswa yang rendah prestasi belajarnya karena siswa yang rendah prestasi belajarnya dapat meningkatkan motivasi untuk belajar lebih giat lagi dan mendapatkan materi pelajaran dalam waktu yang lebih lama (Lundgren, 1994) dalam (Aisyah, 2000).

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

1 komentar:


Cara Seo Blogger

Kumpulan Tesis dan Skripsi Pendidikan Headline Animator

Anda ingin download daftar judul tesis dan skripsi terbaru dan lengkap silahkan klik download