Bimbingan Seks Bagi Remaja Tunagrahita (Telaah Kualitatif Dalam Upaya Menyusun Program Bimbingan Seks bagi Remaja Tunagrahita di SLB-C YPLB (Pend-92)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Tunagrahita merupakan bagian dari individu yang memiliki kebutuhan khusus. Salah satu cirinya adalah memiliki kecerdasan di bawah rata-rata, sehingga kemampuan akademik mereka mengalami keterlambatan jika dibandingkan dengan individu normal yang seusianya. Mereka kurang dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosial dan miskin dalam pembendaharaan kata. Namun, mereka memiliki perkembangan fisik yang sama dengan remaja pada umumnya.


Masa remaja ditandai dengan perubahan organ-organ fisik (seksual) primer yaitu menstruasi pada remaja putri dan mimpi basah pada remaja putra. Perubahan organ-organ (seksual) sekunder yaitu pada remaja putri mulai tumbuh rambut pubik atau bulu kapok di sekitar kemaluan dan ketiak, bertambah besarnya buah dada dan pinggul. Begitu pun bagi remaja putra terjadi perubahan suara, tumbuh kumis, jakun dan tumbuh rambut pubik di sekitar kemaluan dan ketiak (Yusuf, 2001: 194).


Pada masa remaja seharusnya mereka memahami berbagai proses perubahan yang terjadi dalam dirinya. Namum, keterbatasan kemampuan berpikir dan kurang informasi membuat mereka sulit untuk memahami berbagai proses perubahan yang terjadi dalam diri mereka. Suharto mengemukakan (2000: 3) “Remaja tunagrahita memiliki ciri seks primer dan sekunder yang sama dengan remaja pada umumnya, tetapi perubahan tersebut tidak dirasakan oleh tunagrahita karena keterbatasan intelegensi dan informasi yang mereka terima”.
Hal senada dikemukan oleh Mariayeni (2003: 2) “Remaja tunagrahita pada umumnya kekurangan sumber informasi yang berhubungan dengan perkembangan seks, hal ini dikarenakan mereka tidak mempunyai informasi mengenai hal itu baik dari orang tua maupun dari pihak sekolah atau buku-buku sumber bacaan”. Hal yang sama juga dikemukan Poernomo (2002: 2) “Pada dasarnya seorang remaja tunagrahita tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk mengerti soal seks. Mereka tidak mempunyai teman untuk berbagi cerita, tidak mampu mendapat informasi yang bisa diperoleh dari buku atau artikel”.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di SLB-C YPLB Cipaganti Bandung menunjukkan bahwa ketidaktahuan, dan kekurangan informasi tentang perkembangan dan proses perubahan yang terjadi pada masa remaja menyebabkan mereka terkesan tidak peduli akan keadaan dan kebersihan dirinya. Misalnya, seringkali remaja putri tidak mengetahui ketika dirinya sedang mengalami menstruasi, sehingga mereka tidak peduli ketika cairan menstruasi tampak pada pakaian luarnya. Oleh karena itu, mereka tidak masuk sekolah pada awal menstruasi. Demikian pula dengan remaja putra, mereka pun tidak mengerti mengapa mereka dapat mengeluarkan cairan sperma dan cara membersihkan diri (mandi) sesuai dengan norma agama.

Penelitian Casmini (1998: 80) mengemukakan bahwa “Kemampuan remaja tunagrahita dalam memelihara kebersihan dan kesehatan diri terutama dalam hal menstruasi dianggap belum mampu, dikarenakan keterbatasan inteligensi dan informasi”. Hal yang sama dikemukan oleh Astati (1996: 30) ”Dalam memelihara kebersihan dan mengurus diri, tunagrahita masih membutuhkan pertolongan orang lain. Oleh karena itu, mereka membutuhkan bimbingan agar memiliki kemampuan dalam memelihara dirinya”.

Berdasarkan wawancara dengan guru SLB C YPLB Cipaganti Bandung, mengatakan bahwa “Remaja tunagrahita juga memiliki permasalahan lain yang dapat dikaitkan dengan ketidaktahuan akan perkembangan yang terjadi dalam dirinya. Contohnya, banyak di antara remaja tunagrahita ini yang belum mengetahui cara berpakaian yang bersih dan sopan, tidak bisa bertata krama dalam pergaulan, suka melakukan masturbasi di depan guru, teman sebaya atau dengan benda-benda, pacaran yang sangat over acting, berkata kotor dan seronok”.

Lebih lanjut guru menginformasikan bahwa “Perilaku seksual seperti yang dikemukan tersebut, tidak semua siswa tunagrahita melakukan penyimpangan seksual”.
Mencermati permasalahan yang dihadapi oleh remaja tunagrahita maka kedua orang tua yang paling bertanggung jawab di dalam membimbing putra-putrinya. Jika orang tua bisa membangun komunikasi yang baik dan harmonis, permasalahan remaja tidak akan muncul. Orang tua harus menciptakan suasana hormat, akrab dan terbuka dengan mereka bukan perasaan ketakutan. Lingkungan keluarga harus diciptakan sedemikian rupa, sehingga remaja tunagrahita berani menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan seksual.
Berdasarkan studi pendahuluan, yang dilakukan di SLB-C YPLB Cipaganti Bandung, pengetahuan orang tua kurang memadai (baik secara teoritis dan objektif) sehingga memiliki sikap kurang terbuka dan cenderung tidak memberikan pemahaman tentang masalah-masalah seks. Orang tua merasa risih, malu, dan selalu

memberikan perlindungan yang berlebihan terhadap remajanya. Jika ada putrinya menstruasi, mereka selalu membantu dalam hal menjaga kebersihan diri saat menstruasi berlangsung. Akibatnya remaja tunagrahita selalu tergantung kepada orang tua. Hendaknya, para orang tua selalu membicarakan masalah-masalah seksual dengan remajanya.

Untuk itu, keluarga membutuhkan pihak lain dalam memberikan informasi tentang seksualitas manusia. Pihak lain yang cukup berkompeten untuk menjadi perantara antara orang tua dengan remaja dalam memberikan bimbingan adalah pihak sekolah.

Killander (1971: 57) menjelaskan bahwa “Sekolah merupakan lembaga yang mempunyai situari kondusif dan edukatif tempat berlangsungnya proses pendidikan demi kedewasan siswa. Sekolah merupakan lingkungan kedua setelah keluarga, di mana para remaja mendapatkan kasih sayang, pendidikan dan perlindungan”. Untuk itu, sekolah harus memberikan bimbingan yang terprogram dalam mengatasi masalah-masalah remaja tunagarhita.

PP nomor 72 tahun 1991 menyatakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam upaya menemukan pribadi, mengatasi masalah yang disebabkan oleh kelainan, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan”. Dari pernyataan ini tampak jelas bahwa bimbingan memegang peranan yang penting dalam mempersiapkan remaja tunagrahita menghadapi masa depannya. Tujuan bimbingan ini mengharapkan remaja dapat mengenal dirinya terutama yang terjadi dalam dirinya, sehingga terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Bimbingan seks yang dilakukan di SLB-C YPLB Cipaganti Bandung belum dilaksanakan secara optimal. Bimbingan seks di sekolah masih bersifat kasuistik, terutama bila ada remaja yang melakukan perilaku seksual langsung diberi ganjaran atau teguran oleh guru. Menurut keterangan guru di SLB-C YPLB Cipaganti Bandung, “Bimbingan belum kami berikan secara sistematis dan terprogram. Selama ini kami hanya memberikannya dalam bentuk saran-saran atau tindakan spontan pada saat kejadian (hukuman)”.

Fenomena yang terjadi di SLB-C YPLB Cipaganti Bandung menunjukkan bahwa bimbingan seks belum dilaksanakan secara optimal, sehingga kebutuhan remaja tunagrahita dalam bimbingan seks belum terpenuhi. Oleh karena itu, remaja tunagrahita memerlukan bimbingan seks. Besar kemungkinan dari segi konseptual bimbingan seks, tidak berbeda secara mendasar dengan apa yang ada di sekolah-sekolah umum. Akan tetapi dari operasionalnya jelas ada perbedaannya, mengingat kondisi remaja tunagrahita yang mengalami hambatan dalam intelegensi.

Keuntungan bimbingan seks bagi remaja tunagrahita yaitu remaja mampu memahami dan menerapkan norma agama dan norma sosial yang berlaku di sekolah maupun di rumah, menciptakan iklim sekolah yang kondusif sehingga perilaku seksual remaja dapat berkembang secara wajar.

Kerugian jika program bimbingan seks tidak diberikan, remaja akan tetap melakukan prilaku seksual yang tidak sesuai dengan norma agama dan norma sosial, sehingga mereka tidak dapat menghilangkan kebiasan-kebiasan buruk dalam perilaku seksual seperti suka melakukan masturbasi di depan guru, teman sebaya atau dengan benda-benda, tidak bisa menjaga kebersihan saat menstruasi, bahkan mereka kurang dalam tata krama dalam pergaulan misalnya saat bicara dengan lawan jenis, duduk yang kurang sopan saat berhadapan dengan lawan bicara, atau suka berbicara kotor dan seronok.

Untuk itu program bimbingan seks harus dilaksanakan secara profesional agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan sekolah. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan tersebut, salah satu faktor yang mendasarinya adalah bimbingan seks yang sesuai dengan kebutuhan remaja tunagrahita.

Permasalahan-permasalahan yang dipaparkan belum tertangani. Hal tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab seluruh komponen pendidikan yang sangat mendesak untuk segera dicari solusinya. Selama ini kajian utama mengenai keseluruhan layanan bimbingan di sekolah baik secara konseptual maupun teoritis, belum banyak mengungkap permasalahan remaja tunagrahita terutama dalam hal bimbingan seks. Oleh karena itu, program bimbingan seks bagi remaja tunagrahita perlu dikaji secara mendalam.


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Cara Seo Blogger

Kumpulan Tesis dan Skripsi Pendidikan Headline Animator

Anda ingin download daftar judul tesis dan skripsi terbaru dan lengkap silahkan klik download