<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718</id><updated>2011-12-31T01:21:51.098-08:00</updated><category term='Tesis Pendidikan'/><category term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Kumpulan Tesis dan Skripsi Pendidikan</title><subtitle type='html'>PERPUSTAKAAN ONLINE. Penyedia layanan referensi online Contoh Tesis Pendidikan dan Skripsi Pendidikan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>167</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-1452772006586123705</id><published>2011-09-06T05:40:00.000-07:00</published><updated>2011-09-06T05:44:17.377-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>KONTRIBUSI IKLIM SEKOLAH DAN KEMAMPUAN MENGENAL KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA MENGAJAR GURU SMP SE-KABUPATEN SUMEDANG (PEND-73)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pendidikan nasional (UU No.2 Tahun 1989 Pasal 4) dinyatakan bahwa ”Pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan  manusia  Indonesia  seutuhnya,  yaitu  manusia  yang  bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan  rohani,  kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Keberhasilan tujuan pendidikan nasional tersebut harus memperhatikan komponen pendidikan khususnya sumber daya manusia (SDM) yang  mempunyai  peranan sangat penting dalam menentukan keberhasilan sekolah untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Oleh karena guru merupakan ujung tombak yang melakukan proses pembelajaran di sekolah, maka mutu, kesejahteraan, keamanan, kenyamanan dan jumlah  guru  perlu  ditingkatkan  dan  dikembangkan  sesuai  dengan  kebutuhan sekarang dan yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan  pengembangan  guru  di  sekolah  adalah  pengembangan  diri pribadi guru  untuk menggali potensi yang ada di dalam dirinya. Salah satu ciri keberhasilan sekolah yang dinilai masyarakat adalah prestasi yang dicapai siswa setiap  tahun.  Sekolah  yang  dinilai  baik  dan  dianggap  berkualitas  bila  siswa mempunyai  prestasi  yang  tinggi.  Kualitas  pendidikan  dan  lulusan  seringkali dipandang tergantung kepada peran guru dalam pengelolaan komponen- komponen  pengajaran  yang  digunakan  dalam  pemebelajaran,  yang   menjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanggung jawab SMP Negeri se-Kabupaten Sumedang, dan prestasi belajar siswa antara satu  SMP Negeri dengan SMP Negeri lainnya tidak sama. Ada sekolah yang  mempunyai  prestasi  belajar  siswa  yang  tinggi,  ada  sekolah  yang  nilai prestasi berlajar siswanya biasa-biasa saja  dan ada juga sekolah yang prestasi belajar siswanya kurang. Sekolah dengan siswa yang berprestasi biasa-biasa dan sekolah dengan siswa berprestasi kurang dituntut untuk  meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajarannya. Salah satu upaya untuk meningkatkan  mutu sekolah  dilakukan  dengan  cara  meningkatan  kinerja  mengajar  guru  dengan memperhatikan faktor motivasi dan komunikasi. Kinerja adalah prestasi, hasil kerja atau unjuk  kerja. Kinerja mengajar guru mengacu pada tingkah laku saat mengajar di kelas. Tingkah laku  merupakan sesuatu yang sangat penting dalam penciptaan suasana belajar mengajar yang kondusif. Motivasi akan timbul dalam diri  guru  apabila  ada  perhatian,  kesesuaian,  kepercayaan  dan  kepuasan  yang diberikan kepala sekolah, serta komunikasi yang lancar antara  guru dan kepala sekolah dan guru dengan guru, akan dapat meningkatkan kinerja mengajarnya.&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini permasalahan rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang  dan  satuan  pendidikan  semakin  banyak  disoroti  berbagai  pihak.  Hal tersebut membawa dampak  ke  arah pemikiran  apa saja  yang perlu dilakukan sehingga  pendidikan  ke  depan  lebih  bermutu  dan  efekfif  sesuai  dengan  pola sentralisasi ke desentralisasi. Sorotan ini tentunya sangat menarik untuk disimak dan   direnungkan  sebagai   bentuk  partisipasi  kita   semua   dalam   ikut   serta memecahkan nasional. persoalan pelik di seputar dunia pendidikan.&lt;br /&gt;Perkembangan global dan era informasi memacu bangsa Indonesia untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meningkatkan  kualitas  sumber  daya  manusia,  karena  dengan  sumber  daya manusia yang berkualitas merupakan modal utama dalam pembangunan di segala bidang sehingga diharapkan  bangsa Indonesia dengan sumber daya manusianya dapat bersaing dengan bangsa lain yang lebih maju.&lt;br /&gt;Dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pendidikan   memiliki   peranan   yang  sangat   penting,   yang   diperlukan  bagi pembangunan  di  segala   bidang  kehidupan  bangsa,  terutama  mempersiapkan peserta  didik  menjadi  aktor  IPTEK  yang  mampu  menampilkan  kemampuan dirinya, sebagai sosok manusia Indonesia  yang  tangguh, kreatif, mandiri, dan profesional di bidangnya, sebagaimana tujuan pendidikan nasional, dalam GBHN&lt;br /&gt;”… adalah untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan  bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian,  mandiri,  maju,  tangguh,  cerdas,  kreatif,  terampil,  berdisiplin, beretos  kerja,  profesional,  bertanggung  jawab,  produktif,  sehat  jasmani  dan rohani”, (http://endang 965. wordpress.com/thesis/1-iklim-organisasi-kinerja- guru).&lt;br /&gt;Dengan ketahan dan kemandirian seseorang diharapkan bangsa Indonesia mampu  menghadapi tantangan global di segala bidang. Mereka diharapkan bisa (1)  meningkatkan  nilai   tambah,  (2)  dapat  mengarahkan  perubahan  struktur masyarakat ke arah yang positif, (3) bisa bersaing dalam era globalisasi, dan (4) dapat menghindari penjajahan dalam penguasaan Iptek.http://endang&lt;br /&gt;965.wordpress.com/ thesis/1-iklim-organisasi-kinerja-guru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesiapan tersebut merupakan salah satu wujud harapan yang ditekankan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh para menteri pendidikan 9 negara berependuduk terbesar di New Delhi yang memuat enam  peran pendidikan, yaitu : (1) ikut menggalang perdamaian dan ketertiban dunia, (2)  mempersiapkan pribadi sebagai warga negara dan masyarakat, (3) pendidikan yang merata dan menyeluruh, (4) menanamkan dasar- dasar pembangunan yang berkelanjutan dan pelestarian lingkungan,  (5) mempersiapkan tenaga kerja untuk pembangunan ekonomi, sehingga pendidikan perlu  dikaitkan  dengan  kebutuhan  dunia  kerja,   dan  (6)  berorientasi  pada penguasaan dan pengembangan Iptek (http://endang 965.wordpress.com/thesis/1- iklim-organisasi-kinerja-guru).&lt;br /&gt;Selanjutnya output dari setiap sekolah atau lembaga pendidikan yang ada diharapkan bisa memasuki dunia kerja yang nyata sesuai dengan kemampuan dan keterampilan  hidup yang dimiliki,  sehingga    tidak menyebabkan banyak pengangguran  di   mana-mana.  Hal  ini  merupakan  tuntutan  bagi  kompetensi seseorang  yang  harus  mereka  kuasai.  Negara-negara  maju,  seperti  Amerika, Inggris, Australia, dan Selandia Baru telah  merumuskan tujuh kompetensi yang diperlukan oleh dunia kerja. Kompetensi tersebut berupa : (1) kemampuan untuk mengumpulkan, menganalisa, dan menyusun informasi, (2) kemampuan  untuk berkomunikasi,  (3)  kemampuan  untuk  merencanakan  dan  mengorganisasikan kegiatan, (4) kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain dalam suatu tim kerja, (5) kemampuan untuk mempergunakan teknik dan logika matematika, (6) kemampuan untuk memecahkan masalah, dan (7) kemampuan   untuk memanfaatkan   teknologi   (http://endang  965.   wordpress.   com/thesis/1-iklim- organisasi-kinerja-guru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan kenyataan tersebut telah tergambar betapa pentingnya suatu pendidikan yang harus dimiliki seseorang, sehingga tidak terpuruk pada keadaan dunia  yang  semakin  berat   dan  penuh  tantangan.  Sebagaimana  kita  ketahui pendidikan  pada  hakekatnya  proses  interaksi  antara  pendidik  dengan  peserta didik,  yang  bertujuan  untuk  mengembangkan   sumber  daya  manusia  yang berkualitas. Hal ini menuntut upaya pelaksanaan pendidikan yang berkualitas dari semua jenis dan jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;Prioritas upaya peningkatan mutu pendidikan, pada dasarnya dititikberatkan pada tiga faktor utama :&lt;br /&gt;1. Mutu dan jumlah sumber daya pendidikan untuk mendukung proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;2. Mutu  proses  belajar  mengajar  dalam  konteks  pelaksanaan  kurikulum  dan pembelajaran peserta didik.&lt;br /&gt;3.  Mutu keluaran pendidikan, dalam artian pengetahuan, sikap dan keterampilan para peserta didik.&lt;br /&gt;Mutu pendidikan yang telah dikaji secara makro, menunjukkan bahwa masih   terdapat  kesenjangan,  ditinjau  dari  segi  pengelolaan  sumber-sumber pendidikan, baik  yang  berasal  dari  dalam  sekolah  maupun  dari  luar  sekolah, sehingga diharapkan “…budaya mutu tertanam di sanubari semua warga sekolah, sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh profesionalisme.” (http://endang965. wordpress.com/thesis/1-iklim-organisasi-kinerja-guru).&lt;br /&gt;Titik picu mutu pendidikan dapat ditinjau dari konsep pendidikan sebagai sistem,  yaitu  pendidikan  yang  bermutu  muncul  karena  output  yang  bermutu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;output yang bermutu hanya bisa dihasilkan melalui proses yang bermutu, proses yang  bermutu   dipengaruhi  oleh  faktor  mutu  input  baik  instrumen  input, environmental input, maupun input kemampuan dasar siswa, kepemimpinan dan kinerja guru.&lt;br /&gt;Pada era mutu ini, manajemen pendidikan sudah saatnya menyediakan suatu kondisi  yang dapat menumbuhkembangkan kreativitas dan inovasi pada satuan pendidikan sebagai  gugus yang terdepan tempat terjadinya pengalaman pembelajaran. Pembinaan kualitas pendidikan harus terjadi pada tingkat manajemen persekolahan  (mikro). Karena itu sistem pembinaan harus dimulai pada manajemen ditingkat mikro yang dapat mengembangkan partisipasi tenaga kependidikan di sekolah, serta dapat menciptakan iklim organisasi yang kondusif.&lt;br /&gt;Manajemen pendidikan yang bermutu tidak terlepas  dari  kemampuan kepala sekolah. Kepala Sekolah sebagai pimpinan di unit kerjanya harus disertai dengan  beberapa  kualifikasi  yang  melekat  pada  tugas  dan  fungsinya,  yaitu profesiosnalisasi dalam pekerjaannya, sebagaimana dikemukakan Sanusi, “…bahwa usaha peningkatan kemampuan manajerial sekolah harus didukung oleh profesionalisasi pekerjaan  administrasi sekolah yang membuat para pejabatnya benar-benar menjadi administrator karir (http://endang965.wordpres.com/thesis/1- iklim-organisasi-kinerja -guru).&lt;br /&gt;Dalam kedudukannya sebagai pemimpin, kepala sekolah bukan sekedar pelaksana  atas berbagai kebijakan, melainkan sebagai penanggung jawab penuh secara profesional dalam  manajemen sekolah, demi tercapainya prestasi sekolah yang diharapkan, karena sekolah yang efektif, bermutu, dan favorit , tidak lepas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari peran seorang kepala sekolahnya. Pada umumnya sekolah tersebut dipimpin oleh seorang  kepala sekolah yang efektif (http://endang 965. word press. com/ thesis/1-iklim-organisasi-kinerja-guru). Sehingga kepemimpinan kepala sekolah mengarah kepada kepemimpinan situasional.&lt;br /&gt;Menurut   Thoha (1999) perilaku tugas dan hubungan yang merupakan titik pusat konsep kepemimpinan situasional:&lt;br /&gt;1.  Perilaku Tugas ialah suatu perilaku seorang pemimpin untuk mengatur dan merumuskan peran-peran dari anggota-anggota kelompok atau para pengikut; menerangkan kegiatan yang  harus dikerjakan oleh masing-masing anggota, kapan dilakukan, dimana melaksanakannya,  dan bagaimana tugas-tugas itu harus  dicapai.  Selanjutnya  disipati  oleh  usaha-usaha   menciptakan  pola organisasi yang mantap, jalur komunikasi yang jelas, dan cara-cara melakukan jenis pekerjaan yang harus dicapai.&lt;br /&gt;2.  Perilaku  hubungan  ialah  suatu  perilaku  seorang  pemimpin  yang  ingin memelihara   hubungan-hubungan  antar  pribadi  di  antara  dirinya  dengan anggota-anggota kelompok  atau para pengikut dengan cara membuka lebar- lebar jalur-jalur komunikasi, mendelegasikan tanggung jawab, dan memberikan kesempatan pada para bawahan untuk menggunakan potensinya. Hal semacam ini disifati oleh dukungan sosioemosional, kesetiakawanan, dan kepercayaan  bersama  (http://  endang  965.  word  press.com/thesis/1-iklim- organisasi-kinerja-guru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila  peran  kepala  sekolah  sebagai pemimpin  tersebut  dapat dilaksanakan  dengan sebaik-baiknya dan dengan dukungan profesionalitas yang tinggi, serta iklim organisasi  sekolah yang kondusif, maka diharapkan terwujudnya  peningkatan   kinerja   guru,  sehingga  perjalanan  organisasi  dapat sinergis, yaitu guru menjalankan tugas  profesi secara benar, bertanggung jawab dan sadar kualitas, personil lainnya melayani  kepentingan stakeholders dengan penuh  tanggung  jawab  dan  disiplin  serta  berorientasi   mutu,   fasilitas  yang dibutuhkan tersedia  secara  lengkap dan layak pakai, iklim  organisasi  sekolah kondusif dan mendukung keberhasilan proses belajar mengajar serta siswa dapat&lt;br /&gt;belajar dengan tenang, tekun, penuh kejujuran dan keikhlasan serta tanggung jawab. Apabila gambaran tersebut terjadi, maka pada akhirnya akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa dan peningkatan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;Keberhasilan proses belajar mengajar dapat berhasil, dipengaruhi pula oleh  hubungan  antar manusia di dalam organisasi atau sekolah, seperti halnya hubungan kepala  sekolah dengan guru, guru dengan guru serta para siswa yang harmonis. Sehingga dengan hubungan yang harmonis tersebut dapat mewujudkan iklim organisasi sekolah yang mendukung  terhadap keberhasilan proses belajar mengajar dan pencapaian tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan, guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangat  tinggi, yaitu sebagai komponen terdepan yang berperan langsung dalam kegiatan belajar  mengajar, sehingga perlu memiliki semangat kerja dan kemampuan profesional. Kemampuan guru dapat terlihat dalam cara pengelolaan kelas,  penguasaan  kurikulu,  penggunaan  metode   dan  teknik  pembelajaran, pembuatan administrasi dan evaluasi.&lt;br /&gt;Prestasi   kerja   guru   dalam   organisasi   pendidikan   perlu   mendapat perhatian   dan   perlu mendapat   dukungan   oleh   semua   komponen,   seperti kemampuan  organisasi, iklim organisasi, serta perilaku dan gaya kepemimpinan kepala sekolah.&lt;br /&gt;Kinerja mengajar guru yang efektif dipengaruhi oleh beberapa sumber :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sumber  individu  itu  sendiri,  diantaranya  intelektual,  psikologis,  fisiologis, demotivasi,  faktor-faktor personalitas, keusangan/ketakutan, prefarasi posisi, orientasi nilai.&lt;br /&gt;2.  Sumber   dari   dalam   organisasi   diantaranya   sistem   organisasi,   peranan organisasi,  kelompok dalam organisasi, perilaku yang berhubungan dengan pengawasan , iklim organisasi.&lt;br /&gt;3. Sumber dari lingkungan eksternal organisasi, diantaranya keluarga, kondisi ekonomi, kondisi hukum, nilai-nilai sosial,   peranan kerja, perubahan teknologi, dan perkumpulan-perkumpulan (http://endang 965.word press.com/ thesis/1-iklim-organisasi-kinerja-guru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efektif atau tidaknya kinerja guru perlu mendapat perhatian semua pihak, terutama kepala sekolah sebagai pengelola pendidikan hendaknya berupaya untuk meningkatkan prestasi kerja guru dan tenaga kependidikan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah adalah salah seorang penentu keberhasilan   mutu  pendidikan.  Sebagaimana  dikemukakan  Kartini  Kartono, “Pemimpin  selalu  menjadi   fokus  dari  semua  gerakan  aktivitas  usaha  dan perubahan menuju pada kemajuan organisasi. Pemimpin merupakan agen primer untuk  menentukan  struktur  kelompok/organisasi  yang   dibinanya.  Pemimpin merupakan  inisiator,  motivator,  stimulator,  dinamistor  dan  inovator   dalam organisasinya”, (http://endang965.wordpress.com/thesis/1-iklim-organisasi-kiner ja-guru).   Keberhasilan  pendidikan  di  sekolah  sangat  tergantung  kepada  ke mampuan manajerial  kepada sekolah  yang memegang peranan penting dalam berbagai kegiatan di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan manajerial kepala sekolah akan mewarnai kualitas kinerja guru dan  tenaga kependidikan lainnya. Kualitas kepemimpinan kepala sekolah dapat dilihat dari keberhasilan melakukan pengelolaan semua aspek yang berada&lt;br /&gt;di sekolah serta memberdayakan masyarakat untuk mendukung tercapainya tujuan sekolah.&lt;br /&gt;Dalam hubungannya dengan potensi di sekolah yang beragam, kepemimpinan  kepala  sekolah  cenderung  bersifat  situasional.  Kepala  sekolah perlu membaca situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kopemimpinannya sehingga berjalan secara efektif. Kepaia sekolah perlu juga memperhatikan faktor kondisi,  waktu dan ruang untuk menentukan  gaya  kepemimpinan  yang tepat, karena gaya kepemimpinan di suatu sekolah mungkin berbeda dengan di sekolah karena lain.&lt;br /&gt;Sejalan dengan uraian di atas, maka kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan  perlu  berupaya  mengelola  sekolah  sebaik  mungkin  agar  terwujud iklim organisasi yang kondusif, sehingga pada akhirnya berdampak positif kepada kinerja mengajar guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  uraian  di  atas,  maka  yang  menjadi  fokus  kajian  dalam penelitian  ini  adalah  :  "Bagaimana  konstribusi  iklim  sekolah  dan  manajerial kepala sekolah dengan kinerja mengajar guru".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-1452772006586123705?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/1452772006586123705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/09/kontribusi-iklim-sekolah-dan-kemampuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1452772006586123705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1452772006586123705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/09/kontribusi-iklim-sekolah-dan-kemampuan.html' title='KONTRIBUSI IKLIM SEKOLAH DAN KEMAMPUAN MENGENAL KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA MENGAJAR GURU SMP SE-KABUPATEN SUMEDANG (PEND-73)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-757499314001392279</id><published>2011-09-06T05:37:00.000-07:00</published><updated>2011-09-06T05:40:02.978-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>PENGARUH KINERJA MANAJEMEN KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA MENGAJAR GURU TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI (PEND-72)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Peningkatan  mutu pendidikan merupakan  suatu  proses  yang terintegrasi dengan proses  peningkatan mutu sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses  peningkatan  mutu sumber daya manusia, maka  pemerintah bersama  kalangan  swasta  sama-sama  telah  dan  terus  berupaya  mewujudkan amanat  tersebut  melalui  berbagai  usaha  pembangunan  pendidikan  yang  lebih bermutu antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan system evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta  pemberian pendidikan dan pelatihan bagi guru. Tetapi upaya pemerintah tersebut belum cukup  berarti dalam meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu indikator kekurangberhasilan ini  ditunjukkan antara lain dengan NEM (UAN) siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang  SLTP dan SLTA  yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah dengan jumlah yang relatif sangat kecil.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendahnya  mutu  pendidikan  selama  bertahun-tahun  beberapa  pendapat menyatakan  kurikulum sebagai penyebabnya. Hal ini tercermin dengan adanya upaya  mengubah kurikulum  mulai  kurikulum 1975  diganti dengan kurikulum 1984, kemudian diganti lagi dengan kurikulum 1994. kemudian diganti kurikulum 1999, timbul lagi kurikulum 1999 edisi 2004. Bahkan pembaharuan kurikulum menjadi kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum) merupakan  suatu terobosan  terhadap kurikulum konvensional, hingga  saat  ini kurikulum 2004 di revisi kembali menjadi kurikulum model KTSP (Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan). Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang  beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk   menjamin   pencapaian   tujuan   pendidikan  nasional.   Standar   nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi  lulusan,  tenaga kependidikan,  sarana  dan  prasarana,  pengelolaan,  pembiayaan  dan  penilaian pendidikan.  Dua  dari  kedelapan  standar  nasional   pendidikan  tersebut,  yaitu Standar Isi  (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasanius  (1988:1-2)   mengungkapkan   bahwa   kemerosotan   pendidikan bukan diakibatkan oleh kurikulum tetapi oleh kurangnya kemampuan profesionalisme  guru  dan  keengganan  belajar  siswa.  Profesionalisme  sebagai penunjang  kelancaran guru dalam Melaksanakan tugasnya, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar yaitu  faktor internal yang meliputi minat dan bakat dan faktor eksternal yaitu berkaitan dengan lingkungan sekitar, sarana prasarana, serta berbagai  latihan  yang  dilakukan  guru.  Sedang  menurut  Sumargi  (1996:9-11), profesionalisme guru dan tenaga kependidikan masih belum memadai utamanya dalam hal bidang keilmuannya. Misalnya guru Biologi dapat mengajar Kimia atau Fisika. Ataupun guru  IPS dapat mengajar Bahasa Indonesia. Memang jumlah tenaga   pendidik  secara   kuantitatif  sudah  cukup  banyak,  tetapi  mutu  dan profesionalisme belum  sesuai dengan harapan. Banyak diantaranya yang tidak bermutu  dan  menyampaikan  materi  yang  keliru  sehingga  mereka  tidak  atau kurang mampu menyajikan dan menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubungan  dengan  profesionalisme  guru  terdapat  permasalahan  yang merupakan  masalah  yang  usang  dan  terus  terjadi  dalam  proses  pembelajaran selama ini, permasalahan kinerja mengajar guru tersebut diantaranya adalah :&lt;br /&gt;1. Guru mengajar  cenderung monoton  dengan  menggunakan  metode  yang kurang inovatif.&lt;br /&gt;2. Keengganan guru untuk memperbaiki proses pembelajaran melalui banyak membaca dan melakukan penelitian tindakan kelas.&lt;br /&gt;3. Guru  hanya  menggunakan  satu  sumber  belajar,  dan  pengetahuan  yang diberikan hanya dari satu buku sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta   tersebut   mengungkapan   betapa   guru   punya   peranan   terhadap keberhasilan   pendidikan.  Guru  adalah  salah  satu  tenaga  kependidikan  yang mempunyai  peran  sebagai   faktor  penentu  keberhasilan  mutu  pendidikan  di samping tenaga kependidikan lainnya, karena guru yang langsung bersinggungan dengan  peserta  didik,  untuk  memberikan  bimbingan   yang  muaranya  akan menghasilkan  tamatan  yang  diharapkan.  Untuk  itu  kinerja  guru  harus  selalu ditingkatkan. Upaya-upaya untuk meningkatkan kinerja itu biasanya dilakukan dengan cara memberikan  motivasi, mengadakan supervisi, memberikan insentif, memberikan kesempatan yang baik untuk berkembang dalam karir, meningkatkan kemampuan,  gaya   kepemimpinan  yang  baik  dan  upaya-upaya  lainnya  yang relevan. Sementara kinerja guru  dapat ditingkatkan apabila yang bersangkutan mengetahui apa yang diharapkan dan kapan bisa  menetapkan harapan-harapan yang diakui hasil kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinerja  guru  atau  prestasi  kerja  (performance)  merupakan  hasil  yang dicapai oleh  guru dalam Melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu. Kinerja guru akan baik jika  guru telah Melaksanakan unsur-unsur yang terdiri kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas  dalam  pelaksanaan  pengajaran,  kerjasama  dengan  semua   warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur dan obyektif dalam membimbing siswa, serta tanggungjawab terhadap tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu pendidikan dan lulusan seringkali dipandang tergantung kepada peran guru dalam pengelolaan komponen-komponen pengajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar, yang menjadi tanggung jawab sekolah. Namun demikian konsep manajemen mutu pendidikan  sering diabaikan dalam dunia pendidikan, padahal konsep ini dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan. Adanya ouput sekolah yang tidak bermutu menunjukkan adanya kinerja guru dan tidak  jelasnya  sikap  terhadap  manajemen  peningkatan  mutu  pendidikan  di sekolah. Konsep manajemen mutu pendidikan yang sudah dilakssiswaan oleh sekolah belum sepenuhnya disikapi oleh guru dengan baik, ini dapat mempengaruhi kinerja guru tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan  guru  sebagai  unsur  utama  tenaga  kependidikan  merupakan faktor  yang  sangat  strategis  dan  keseluruhan  penggerak  pendidikan,  dimana sumber  daya  pendidikan  meliputi  :  sarana,  anggaran,  sumber  daya  manusia, organisasi dan lingkungan (Nanang Fattah,1988), kinerja guru sebagai komponen&lt;br /&gt;pendidikan  terhadap  peningkatan  mutu  pendidikan  sangat  berpengaruh  pada kecakapan   tamatan   (competence),   tanggungjawab   sosial   (compassion)   dan berahlak mulia (consience).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Sekolah sebagai pemegang komando di lembaga sekolah. Kepala sekolah harus  menguasai dan mampu mengambil kebijaksanaan serta keputusan yang  bersifat  memperlancar   dan  meningkatkan  kualitas  pendidikan.  Secara langsung   kepala   sekolah   berhubungan   erat   terhadap   kelangsungan   belajar mengajar. Dalam prosesnya kepala sekolah harus dekat  dengan  guru-guru dan kepada siswa.&lt;br /&gt;Penguasaan  bidang  manajemen  adalah  salah  satu  kunci  sukses  dalam mengemban   suatu  jabatan  pemimpin.  Manajemen  tidak  hanya  dijumpai  di perusahaan, atau instansi tertentu, melainkan di lembaga sekolah, manajemen juga sangat  besar peranannya, terutama  untuk  menyusun  program  atau  mengambil keputusan yang harus diterapkan dalam  kelangsungan proses belajar mengajar. Salah  satu  peranan  manajemen  yang  sangat  penting  adalah  untuk  menyusun program belajar mengajar dan menempatkan tugas masing-masing  guru. Guru sebagai pelaksana pendidik, untuk itu kepala sekolah harus benar-benar menjalin komunikasi aktif dan setiap saat mengadakan evaluasi terhadap tugas pengajaran yang sudah  dilakssiswaan guru. Agar guru dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka sedikit banyaknya kepala sekolah harus mengetahui dan memberikan motivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  pelaksanaan  pendidikan  di  sekolah,  baik  negeri  maupun  swasta, masih banyak kepala sekolah yang belum dapat melaksanakan manajemen dengan&lt;br /&gt;baik  dan  optimal.  Kehadiran  mereka  di  sekolah  tidak  jauh  berbeda  dengan kehadiran  guru-guru  lainnya,  yaitu  untuk  mengajar  dan  mengisi  daftar  hadir. Padahal selain kepala  sekolah masih banyak tugas lain, seperti menata program pendidikan,  baik  yang  menyangkut   dengan  administrasi,  supervise  maupun keperluan yang lainnya. Hubungan kepala sekolah dengan guru-guru harus baik, tanggung jawab, didasari dengan kejujuran, kesetiaan, keikhlasan dan kerjasama. Apabila diibaratkan dalam satu keluarga, maka hubungan kepala sekolah dengan guru-guru  lainnya harus  berlangsung bagaikan hubungan satu saudara dengan saudara   lainnya,   dan  hubungan  kepala  sekolah  dengan  siswa  harus  seperti hubungan ayah dengan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendahnya  kinerja  manajemen  kepala  sekolah  dapat  disebabkan  oleh beberapa hal diantaranya :&lt;br /&gt;1. Proses  rekrutmen  kepala  sekolah  yang  belum  mengikuti  aturan  yang seharusnya.&lt;br /&gt;2. Minimnya pengetahuan tentang manajemen sehingga kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya hanya menggunakan kebiasaan dan alamiah belaka. Kemampuan  seorang  pemimpin  akan  memberikan  dampak  yang  nyata&lt;br /&gt;terhadap  mutu  produk  yang  dihasilkan. Dalam  hal  ini  mutu  kepala  sekolah sebagai  pemimpin  suatu  lembaga  pendidikan  akan  berdampak  terhadap  mutu produk pendidikan di sekolah tersebut.  Mortimer J. Adler dalam Dadi Permadi (1998:24) menegaskan bahwa “The quality of teaching and learning that goes in a school is largely determined by the quality of principals leadership” (mutu belajar mengajar yang terjadi di sekolah adalah ditentukan oleh  sebagian besar mutu&lt;br /&gt;kepemimpinan   kepala sekolah)   dengan   demikian   seorang   pemimpin   bisa dikatakan ruh sebuah lembaga atau institusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain masalah menurunnya nilai rata-rata ujian sekolah terdapat juga permasalahan lain yang merupakan dampak dari kurangnya motivasi siswa untuk belajar, salah satu indikator kurangnya motivasi belajar siswa diantaranya adalah apabila siswa tidak naik kelas lebih memilih drof out (DO) dari pada mengulang belajar di kelas tersebut.&lt;br /&gt;Berdasarkan  uraian  di  atas  maka  penulis  tertarik  untuk  mengadakan penelitian tentang: “Pengaruh  Kinerja Manajermen Kepala Sekolah dan Kinerja Mengajar Guru Terhadap  Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar” (Penelitian Deskriptif  kepada Sekolah  Dasar  di  Kecamatan  Gunungtanjung  Kabupaten Tasikmalaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-757499314001392279?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/757499314001392279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/09/pengaruh-kinerja-manajemen-kepala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/757499314001392279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/757499314001392279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/09/pengaruh-kinerja-manajemen-kepala.html' title='PENGARUH KINERJA MANAJEMEN KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA MENGAJAR GURU TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI (PEND-72)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-1316921403960268238</id><published>2011-09-06T04:39:00.000-07:00</published><updated>2011-09-06T04:41:16.228-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Pengaruh Pemberian Tugas Setiap Akhir Pertemuan Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Pada SD Inpres Buttatianang  I Makassar (P-87)</title><content type='html'>BAB  I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Konsep mengenai pendidikan yang dikembangkan saat ini, merupakan rangkaian upaya manusia Indonesia untuk meningkatkan sumber daya yang akhir-akhir ini santer diperbincangkan sehubungan dengan peningkatan sumber daya manusia pembangunan.&lt;br /&gt;Pelaksanaan proses pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di seluruh tanah air, sudah tentu tidak terlepas tuntutan zaman dan kebutuhan pendidikan yang cenderung melibatkan seluruh strata sistem kemasyarakatan dalam suatu proses interaksi dan komunikasi yang berimbang sebagai penjabaran operasional fungsi dan strategi bagi dunia pendidikan. Mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan mengenai sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan proses pendidikan dan pengajaran senantiasa mengacu pada tujuan pendidikan nasional yang telah dirumuskan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional serta telah ditetepkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara Republik Indonesia dengan ketetapan MPR Nomor II/ MPR/1993, bidang pendidikan bahwa “Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cita tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merealisasikan kerangka dasar pendidikan seperti yang telah dipaparkan di atas, tentunya diperlukan upaya maksimal dari berbagai pihak, dalam melihat tugas dan tanggung jawab pendidikan itu, tanpa harus terikat dengan kondisi formal pendidikan semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya perlu dipahami bahwa indikator keberhasilan suatu proses pendidikan dan pengajaran tentunya tidak hanya terbatas pada sederetan angka-angka prestasi belajar, akan tetapi harus terkait dengan kemampuan seseorang anak didik merefleksikan program belajarnya dalam bentuk aplikasi sikap positif melalui serangkaian aktivitas yang selektif dan efektif. Dalam prestasi yang demikian itu, maka kita dapat memahami bahwa aspek nilai yang ditransfer dalam dunia pendidikan dan pengajaran harus selalu terkait dengan unsur pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diproyeksikan melalui kurikulum dan silabus pengajaran, untuk selanjutnya dioperasionalisasikan melalui kegiatan pengajaran. Diukur dengan menggunakan instrumen test yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan empiris proses pendidikan dan pengajaran yang dikembangkan berbagai lembaga pendidikan menunjukkan bahwa penerapan pola pendidikan dan pengajaran yang tepat, tampaknya masih kurang mendapat perhatian yang memadai dari tenaga pengajar. Sehingga proses pengajaran cenderung tidak relevan dengan pola pendekatan atau metode pengajaran yang digunakan. Hal ini menyebabkan sisi kualitas pengajaran yang diharapkan kurang terpenuhi. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk melihat efektivitas suatu pendekatan dan metode pengajaran proses belajar mengajar yang dilakukan dapat berhasil guna dan memudahkan bagi siswa dalam memahami   suatu disiplin ilmu atau mata pelajaran diterimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan dari pemikiran di atas, penulis dengan segenap kemampuan untuk mencoba melakukan suatu penelitian sekitar penggunaan metode pemberian tugas dalam pengajaran IPA yang oleh penulis diduga meningkatkan hasil belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-1316921403960268238?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/1316921403960268238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/09/pengaruh-pemberian-tugas-setiap-akhir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1316921403960268238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1316921403960268238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/09/pengaruh-pemberian-tugas-setiap-akhir.html' title='Pengaruh Pemberian Tugas Setiap Akhir Pertemuan Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Pada SD Inpres Buttatianang  I Makassar (P-87)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-2702363115979202771</id><published>2011-08-28T01:58:00.000-07:00</published><updated>2011-08-28T02:01:22.179-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL PEMBELAJARAN DALAM PELATIHAN GURU SEKOLAH DASAR: (pend-71)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1  Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan  merupakan  usaha  sadar  dan  terencana  untuk  mewujudkan suasana  dan   proses  pembelajaran  agar  peserta  didik  secara  aktif  mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, kepribadian, kecerdasan, pengendalian diri,  kepribadian, akhlak mulia, serta kecakapan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru  sebagai  ujung  tombak  dalam  pelaksanaan  proses  pembelajaran memiliki  tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan  mengevaluasi  peserta didik agar mencapai atau melewati standar nasional  pendidikan.  Berdasarkan  hal  tersebut,  guru  dituntut  untuk  memiliki kompetensi yang dapat menopang  keterlaksanaan tugas utamanya Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dengan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati,   dan   dikuasai   oleh   guru   dan   dosen   dalam   melaksanakan   tugas keprofesionalan. Kompetensi yang harus dimiliki guru, sebagaimana ditetapkan dalam  UU No  19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan meliputi kompetensi  pedagogik,  kompetensi  kepribadian,  kompetensi  profesional,  dan kompetensi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut	Sagala	(2009:23),	kompetensi	merupakan	gabungan	dari kemampuan,  pengetahuan,  kecakapan,  sikap,  sifat,  pemahaman,  apresiasi  dan harapan  yang  mendasari  karakteristik  seseorang  untuk  berunjuk  kerja  dalam menjalankan   tugas   atau   pekerjaan   guna   mencapai   standar  kualitas   dalam pekerjaan  nyata.  Kompetensi   merupakan  suatu  substansi/materi  ideal  yang seharusnya   dikuasai   atau   dipersyaratkan   untuk   dikuasai   oleh   guru   dalam menjalankan pekerjaannya. Dengan demikian seseorang guru dapat dipersiapkan atau belajar untuk menguasai kompetensi tertentu sebagai bekal ia bekerja secara profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai  cara  dapat  dilakukan  untuk  memperbaiki  atau  meningkatkan kompetensi  guru  antara  lain  melalui  pelatihan.  Pelatihan  adalah  serangkaian aktivitas  yang diprogram  untuk  meningkatkan  keahlian-keahlian, pengalaman, pengetahuan,  atau  pembahasan  sikap  individu.  Di  dalam  pelatihan  ini  juga merupakan penciptaan suatu lingkungan dimana  karyawan	dapat memperoleh dan mempelajari sikap, kemampuan, keahlian, pengetahuan dan prilaku spesifik yang berkaitan dengan pekerjaan atau performasi kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan merupakan bagian dari pendidikan. Pendidikan lebih bersifat filosofis  dan  teoretis.  Pelatihan  bersifat  spesifik,  praktis  dan  segera.  Spesifik berarti pelatihan berhubungan  dengan bidang pekerjaan yang dilakukan. Praktis dan   segera   berarti   yang   sudah   dilatihkan   dapat   dipraktikkan   (Samsudin, 2006:110). Pelatihan sangat penting bagi karyawan termasuk juga guru, baik guru  baru   maupun  guru  yang  sudah  lama  mengabdi.  Menurut  McKenna (2001:199)	bahwa:	pelatihan	memberikan	kontribusi	positif	terhadap pemberdayaan karyawan yaitu dengan meningkatkan kemampuan, keterampilan, sikap dan tanggung jawab karyawan sehingga lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan bagi guru sangat penting dewasa ini apabila dikaitkan dengan masih rendahnya kompetensi guru di Indonesia termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka  Belitung.  Hal  ini  antara  lain  ditunjukkan  oleh  hasil  uji  kompetensi terhadap Guru SMA di Provinsi  Kepulauan Bangka Belitung tahun 2005 yang menunjukkan bahwa untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, tidak ada guru yang berada pada grade A dan B, pada umumnya guru berada pada grade C (39%) dan grade D (61%).  Hal serupa terjadi pula pada guru matematika dan bahasa inggris, yang menjadi mata pelajaran pokok pada ujian nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendahnya kompetensi ini berdampak terhadap kinerja mengajar guru yang diindikasikan antara lain dengan rendahnya nilai hasil ujian nasional, baik pada jenjang pendidikan dasar maupun menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  jenjang  SMP,  Provinsi  Kepulauan  Bangka  Belitung  berada  pada peringkat  31  dari  33  provinsi  secara  nasional.  Pada  jenjang  SMA,  Provinsi Kepulauan Bangka Belitung  berada pada peringkat 26 untuk jurusan IPS dan peringkat 30 untuk jurusan IPA dari 33 provinsi secara nasional.&lt;br /&gt;Dalam  upaya  meningkatkan  kompetensi  guru  diperlukan  antara  lain program  pendidikan  dan  pelatihan  yang  sesuai  dengan  kebutuhan.	Ada  dua sumber  pengetahuan,  yaitu  pengetahuan  yang  diterima  dan  diperoleh  melalui belajar	baik	secara	formal	maupun	informal	(received	knowledge)	dan pengetahuan  yang  diperoleh   melalui  pengalaman  (Experiential  knowledge). Kedua sumber pengetahuan tersebut merupakan kunci bagi pengembangan  profe- sionalisme.   Model   ini   berasumsi   bahwa   masing-masing   peserta   pelatihan membawa   pengetahuan   dan   pengalaman   ke   tempat   pelatihan.   Kemudian, pengetahuan dan pengalaman tersebut digunakan dalam alur proses mengajar dan mengingat kembali pelaksanan mengajar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi guru memiliki berbagai manfaat. Menurut Surapranata (2009 : 226), pendidikan dan pelatihan peningkatan kompetensi	guru	memiliki	beberapa	tujuan	di	antaranya	sebagai	upaya penyegaran, pendalaman/perluasan, peningkatan, dan pengembangan kompetensi dan profesionalisme. Masing-masing tentu memiliki manfaat sesuai dengan desain yang dikembangkan  oleh penyelenggara pendidikan dan pelatihan. Lebih lanjut Surapranata (2009 : 228) menjelaskan bahwa secara umum manfaat pendidikan dan pelatihan bagi guru adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1)  Memperdalam dan memperluas pengetahuan dan wawasan;&lt;br /&gt;2)  Meningkatkan kompetensi dan profesionalisme;&lt;br /&gt;3)  Memantapkan nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan budi pekerti luhur;&lt;br /&gt;4)  Mendukung penguatan semangat nasionalisme dan integritas nasional;&lt;br /&gt;5)  Meningkatkan kecintaan terhadap budaya, bangsa dan negara;&lt;br /&gt;6)  Memantapkan keseimbangan etika, logika, estetika dan kinestetika;&lt;br /&gt;7)  Meningkatkan daya adaptasi terhadap abad pengetahuan dan teknologi informasi;&lt;br /&gt;8)  Mengembangkan keterampilan hidup, serta&lt;br /&gt;9)  Memberdayakan peserta pendidikan dan pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  itu  Lembaga  Penjaminan  Mutu  Pendidikan  Kepulauan  Bangka Belitung  sebagai  Unit  Pelaksana  Teknis  Departemen  Pendidikan  Nasional  di provinsi melalui fungsi  fasilitasinya berupaya memperbaiki dan meningkatkan kompetensi guru di daerah bekerjasama  dengan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota.   Fungsi   fasilitasi   tersebut   dimplementasikan   dalam   bentuk program	pendidikan	dan	pelatihan	dengan	sasaran	tenaga	pendidik	dan kependidikan yang ada di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan bagi guru yang dilaksanakan oleh LPMP Kepulauan Bangka Belitung  merupakan upaya peningkatan kompetensi guru yang dilakukan secara terencana dan melalui  tahapan-tahapan, yang diawali tahap analisis kebutuhan. Pelatihan akan berhasil jika proses mengisi kebutuhan pelatihan yang benar. Pada dasarnya  kebutuhan  itu  adalah  untuk   memenuhi   kekurangan  pengetahuan, meningkatkan  keterampilan  atau  sikap  dengan   masing-masing  kadar  yang bervariasi kemudian tahap disain pelatihan, implementasi dan evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada	tahap	pelaksanaan	pelatihan	terdapat	beberapa	faktor	yang mempengaruhi  hasil  pembelajaran  dalam  suatu  pelatihan.  Menurut  Bambang Kusriyanto (1991: 68-69) agar suatu pelatihan mendapatkan hasil yang diharapkan maka suatu pelatihan harus:&lt;br /&gt;(1) mempunyai tujuan yang jelas hasilnya sebagai tolak ukur; (2) diberikan oleh tenaga  pengajar yang cakap dalam menyampaikan ilmunya dan pandai memotivasi peserta; (3) isinya mendalam sehingga tidak hanya menjadi bahan hafalan, melainkan mampu mengubah sikap dan meningkatkan prestasi kerja; (4)  sesuai  dengan  latar  belakang  teknis,  permasalahan  dan  daya  tangkap peserta; (5) menggunakan metode yang tepat;  (6)meningkatkan keterlibatan aktif para peserta; (7) disertai penelitian sejauh mana tujuan  tercapai yaitu meningkatkan prestasi kerja dan produktivitas perusahaan/lembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang   faktor-faktor  yang  berpengaruh  terhadap  hasil  pembelajaran  dalam pelatihan yang  dilaksanakan oleh LPMP Kepulauan Bangka Belitung	dengan judul  :  Faktor  Faktor  yang  Mempengaruhi  Hasil  Pembelajaran  Dalam Pelatihan   (Studi   Tentang  Pengaruh  Kemampuan  Isntrukstur,  Relevansi Bahan  Ajar,   Ketersediaan   Fasilitas  dan  Efisiensi  Manajemen  Pelatihan terhadap  Hasil   Pembelajaran   dalam  Pelatihan  yang  Dilaksanakan  oleh LPMP Kepulauan Bangka Belitung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-2702363115979202771?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/2702363115979202771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-hasil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2702363115979202771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2702363115979202771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-hasil.html' title='FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL PEMBELAJARAN DALAM PELATIHAN GURU SEKOLAH DASAR: (pend-71)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-5898955781499662075</id><published>2011-08-24T03:57:00.000-07:00</published><updated>2011-08-24T03:59:20.956-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>PENGARUH KEMAMPUAN PROFESIONAL GURU DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU SEKOLAH DASAR : (PEND-70)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenaga guru adalah salah satu tenaga kependidikan yang mempunyai peran  sebagai  salah  satu  faktor  penentu  keberhasilan  tujuan  pendidikan, karena  guru  yang  langsung   bersinggungan  dengan  peserta  didik,  untuk memberikan bimbingan yang akan  menghasilkan tamatan yang diharapkan. Guru merupakan sumber daya manusia yang menjadi perencana, pelaku dan penentu tercapainya tujuan organisasi lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru merupakan tulang punggung dalam kegiatan pendidikan terutama yang berkaitan dengan kegiatan proses belajar mengajar. Tanpa adanya peran guru maka proses belajar mengajar akan terganggu bahkan gagal. Oleh karena itu dalam manajemen pendididikan perananan guru dalam upaya keberhasilan pendidikan selalu ditingkatkan,  kinerja atau prestasi kerja guru harus selalu ditingkatkan  mengingat  tantangan  dunia   pendidikan  untuk  menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing diera global.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem  pendidikan yang amat  paternalistik dan feodalistik selama  ini yang  diperankan oleh birokrasi memang membuka ruang yang sempit bagi profesionalisme.  Hal   ini  berimplikasi  pada  pelaksanaan  pembelajaran  di sekolah yang model pelaksanaannya cenderung bersifat rutinitas atau sekedar melepas tanggung-jawabnya sebagai pekerja.  Kegiatan rutinitas tersebut itu ditandai ada guru di kelas, ada siswanya, gurunya berbicara, siswanya tampak mendengarkan,   dan   sebagainya   yang   tampak   sebagai   kegiatan   belajar mengajar di kelas. Namun jika ditelusuri lebih dalam ternyata kegiatan belajar dan mengajar  tersebut semu. Hal ini ditandai dengan gurunya tidak boleh dikritik dan tidak bersedia menerima kritik, siswanya diintimidasi harus patuh, sopan, dan nurut sesuai kemauan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari kegiatan yang cenderung feodalistik tersebut mungkin saja sekolah-sekolah tersebut tetap saja mempunyai dan melahirkan siswa yang sopan	dan	bertatakrama.	Tetapi	kemampuan	intelektualnya	rendah, keterampilannya tidak memadai, daya saingnya rendah, tingkat optimismenya tidak  memadai,  dan akhirnya gamang dalam menghadapi kehidupan nyata. Semua  ini  bisa  terjadi  karena  manajemen  sekolah  diurus  dengan  suasana rutinitas, guru yang belum menggambarkan profesionalime yang nyata, serta kurang memaksimalkan kecerdasan emosi dari para pengelolanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma  pengelolaan  pendidikan  demikian  telah  memberikan  bukti seperti yang  ditulis harian Kompas (1 Mei 2003) mengemukakan, menurut laporan pengembangan  manusia (Human Development Report 2002-UNDP), nilai human development index (HDI) Indonesia tahun 2002 adalah 0,684 atau rangking 109 dari 174 negara yang diteliti. Peringkat ini tidak lebih baik jika dibandingkan dengan  peringkat  pada  tahun-tahun  sebelumnya.  Pada  tahun&lt;br /&gt;1996 Indonesia menempati peringkat 102, tahun 1997 dan 1998 peringkat 99 dan tahun 1999 berada pada peringkat 105.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang  guru  dalam  mengerjakan  tugasnya  dengan  baik,  seringkali ditentukan oleh penilaian terhadap kinerjanya. Penilaian tidak hanya dilakukan untuk  membantu  mengawasi  sumber  daya  organisasi  namun  juga  untuk mengukur	tingkat	efisiensi	penggunaan	sumber	daya	 yang	ada	dan mengidentifikasi  hal-hal  yang  perlu  diperbaiki.  Penilaian  terhadap  kinerja merupakan  faktor penting untuk meningkatkan kinerja dan kepuasan kerja guru, bagian-bagian yang menunjukkan kemampuan guru yang kurang dapat diidentifikasi,	diketahui	sehingga	dapat		ditentukan	strategi	dalam meningkatkan kinerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta  tersebut  mengungkapan  betapa  guru  punya  peranan  terhadap keberhasilan  pendidikan. Guru adalah salah satu tenaga kependidikan yang mempunyai peran sebagai  faktor penentu keberhasilan mutu pendidikan di samping	tenaga		kependidikan	lainnya,	karena	guru	yang	langsung bersinggungan  dengan  peserta  didik,  untuk  memberikan  bimbingan  yang muaranya akan	menghasilkan tamatan yang diharapkan. Untuk itu kinerja guru harus selalu ditingkatkan. Upaya-upaya untuk meningkatkan kinerja itu biasanya dilakukan dengan cara memberikan motivasi, mengadakan supervisi, memberikan insentif, memberikan kesempatan yang baik  untuk berkembang dalam karir, meningkatkan kemampuan, gaya kepemimpinan yang baik  dan upaya-upaya lainnya yang relevan. Sementara kinerja guru dapat ditingkatkan apabila  yang bersangkutan mengetahui apa yang diharapkan dan kapan bisa menetapkan harapan-harapan yang diakui hasil kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinerja guru atau prestasi kerja (performance) merupakan hasil  yang dicapai	oleh	guru	dalam	melaksanakan	tugas-tugas	yang	dibebankan kepadanya  yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu. Kinerja guru akan baik jika guru telah melaksanakan unsur-unsur  yang  terdiri  kesetiaan  dan  komitmen  yang  tinggi  pada  tugas mengajar,   menguasai  dan  mengembangkan  bahan  pelajaran,  kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam pelaksanaan pengajaran, kerjasama dengan semua warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur dan obyektif dalam  membimbing siswa, serta tanggungjawab terhadap tugasnya. Oleh karena itu tugas Kepala Sekolah selaku manager adalah melakukan penilaian terhadap kinerja guru. Penilaian ini  penting untuk dilakukan mengingat fungsinya sebagai alat motivasi dari pimpinan kepada guru maupun bagi guru itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang mempunyai nilai kinerja baik tentu akan berdampak dengan hasil kegiatannya terutama berkaitan dengan proses belajar mengajar, dimana output akan  meningkat  baik secara  mutu maupun  kuantitas. Namun fakta empiris menunjukkan  bahwa  menurut Usman (2002:19) ”kinerja lembaga- lembaga pendidikan di Indonesia jauh dari memadai”. Kondisi tidak lepas dari peran guru sebagai pengajar dan pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap pendidikan. Ini menunjukkan bahwa adanya mutu pendidikan yang rendah antara lain disebabkan oleh rendahnya kinerja guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  Glickman,  dalam  Mulyasa  (2008  :  13)  guru  profesional memiliki dua  ciri yaitu tingkat kemampuan yang tinggi dan komitmen yang tinggi. Oleh sebab itu, pembinaan profesionalisme guru harus diarahkan pada dua hal tersebut. Peningkatan  profesinalisme guru merupakan upaya untuk membantu   guru   yang   belum   memiliki   kualifikasi   profesional   menjadi profesional.  Dengan  demikian  peningkatan  profesional   guru  merupakan kegiatan	guru	untuk	meningkatkan	kemampuannya,	baik	kecerdasan emosional,   kompetensi   kepribadian,   kompetensi   sosial   dan   kompetensi profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan	emosional	(Goleman,		2000)	merupakan	kemampuan merasakan, memahami  dan secara  efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi   sebagai   sumber   energi,   informasi,   koneksi   dan   pengaruh   yang manusiawi. Dengan kemampuan ini maka guru akan mampu untuk mengenal siapa dirinya, mengendalikan dirinya, memotivasi dirinya, berempati terhadap lingkungan	sekitarnya	dan	 memiliki	keterampilan	sosial	 yang	akan meningkatan kualitas pemahaman mereka tentang kinerja karena pelaksanaan tugasnya dilakukan dengan didasari oleh kesadarannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan dunia kerja sekarang ini, para pemberi kerja umumnya tidak  hanya   melihat  pada  kemampuan  tekhnik  saja  melainkan  adanya kemampuan  dasar  lain  seperti  kemampuan  mendengarkan,  berkomunikasi lisan, adaptasi, kreatifitas, ketahanan mental terhadap kegagalan, kepercayaan diri,  motivasi,  kerjasama  tim  dan  keinginan   untuk  memberi  kontribusi terhadap perusahaan. Hal tersebut ditunjukkan oleh hasil survey di Amerika serikat  yang  menyingkapkan  bahwa  lebih  dari  setengah  pekerja  kurang memiliki   motivasi   untuk  terus   belajar   dan   meningkatkan  diri   melalui pekerjaan mereka, dan hanya 19 % dari pekerja Amerika yang melamar untuk pekerjaan  tingkat  pelaksana  mempunyai  disiplin  diri  cukup  untuk  bekerja (Goleman, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  Syamsu  Yusuf  (2003  dalam  fauzi2000.blogspot.com)  emosi dapat  dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu: emosi sensoris dan emosi psikis. Emosi sensoris yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin,  manis, sakit, lelah, kenyang dan lapar. Emosi psikis yaitu emosi yang mempunyai  alasan-alasan kejiwaan, seperti : (1) perasaan intelektual, yang berhubungan dengan ruang lingkup kebenaran; (2)  perasaan  sosial,  yaitu  perasaan  yang terkait  dengan  hubungan  dengan orang lain, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok; (3) perasaan susila,  yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral); (4) perasaan keindahan, yaitu perasaan yang berhubungan dengan  keindahan  akan  sesuatu,   baik   yang  bersifat  kebendaan  maupun kerohanian; dan (5) perasaan ke-Tuhan-an,  sebagai  fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (Homo Divinas) dan makhluk beragama (Homo Religious).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan  di  lapangan,  khusunya  guru  Sekolah  Dasar  Negeri  di Kecamatan	Panumbangan	saat	ini	walaupun	pemerintah	melalui pemberlakukan  Undang-undang  Nomor  20  Tahun  2003  tentang  Sistem Pendidikan  Nasional  dan  pemberlakuan  Undang-undang  Nomor  14  tahun&lt;br /&gt;2005 tentang Guru dan Dosen yang mewajibkan seorang guru untuk memiliki kualifiaksi  akademik sarjana atau diploma  IV,  banyak diantara guru  yang masih belum mencerminkan seorang yang memiliki kemampuan professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bukti yang dapat dilihat adalah banyak diantara guru sekolah dasar di Kecamatan Panumbangan yang masih menganggap bahwa mengajar merupakan kegiatan rutin sebagai sebuah tugas untuk sebagai pegawai negeri sipil.  Selain  itu  banyak  juga  guru  yang  menganggap  bahwa  keberhasilan pendidikan di sekolah itu hanya dinilai dari tingginya nilai ujian atau ulangan. Padahal bila diteliti lebih dalam soal yang dibuatnya itu lebih banyak memuat ranah  kognitif.  Sehingga  ranah  yang   lain  yaitu  psikomotor  dan  afektif terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  itu  guru  di  Kecamatan  Panumbangan  masih  banyak   yang mengabaikan kesadaran diri, pengaturan diri, empati serta keterampilan social. Padahal  semua  itu  akan   melatih  para  guru  untuk  dapat  mengendalikan emosinya sehingga akan mendukung  terhadap kemampuan intelektual yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napoleon Hills  dalam  Agustian  (2005:102)  “menamakan  EQ  sebagai kekuatan alam pikiran alam bawah sadar yang berfungsi sebagai tali kendali atau pendorong. Ia tidak digerakan oleh sarana logis. Hills juga menganjurkan kita berlatih mengendalikannya sehingga menjadi kebiasaan”.&lt;br /&gt;Dengan demikian Emosional Quotient (EQ) merupakan tali kendali atau pendorong bagi kita untuk tidak melakukan hal yang tidak  dan melakukan hal yang baik. Kesemuanya  itu  tidak terakomodasi oleh Kecerdasan Intelegensi (IQ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang di atas penulis melakukan penelitian yang dituangkan  dalam  bentuk  tesis  yang  berjudul  ”  Pengaruh  Kemampuan profesional  guru  dan  Kecerdasan  Emosional  terhadap  Kinerja  Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Panumbangan Kabupaten Ciamis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-5898955781499662075?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/5898955781499662075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/pengaruh-kemampuan-profesional-guru-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/5898955781499662075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/5898955781499662075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/pengaruh-kemampuan-profesional-guru-dan.html' title='PENGARUH KEMAMPUAN PROFESIONAL GURU DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU SEKOLAH DASAR : (PEND-70)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-8186922110953248666</id><published>2011-08-24T03:53:00.000-07:00</published><updated>2011-08-24T03:56:59.488-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>KONTRIBUSI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA MENGAJAR GURU TERHADAP PRODUKTIVITAS SEKOLAH : (PEND-69)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang  Sistem  Pendidikan  Nasional  (UUSPN)  Nomor  20 tahun 2003 menyatakan  bahwa:&lt;br /&gt;Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk  watak  serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam rangka   mencerdaskan   kehidupan   bangsa,   mengembangkan   potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah  sebagai  lembaga  pendidikan  formal  berfungsi  menyiapkan sumber  daya manusia yang merupakan salah satu komponen penting dalam pembangunan di segala bidang. Dalam menjalankan perannya sebagai  pencetak sumber daya manusia,  sekolah dituntut untuk dapat memenuhi harapan dan keinginan masyarakat secara mikro maupun makro. Dalam memenuhi harapan dan  keinginan  masyarakat  yang  semakin  meningkat,  maka  sekolah  sebagai organisasi pendidikan harus berupaya untuk mengkaji  berbagai kelebihan dan kelemahan  sekolah  serta  selalu  berupaya  mencari  cara  untuk   melakukan perbaikan terus menerus serta berupaya mengidentifikasi segala tantangan dan ancaman sebagai upaya menciptakan produktivitas sekolah yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah   sebagai   organisasi   sosial   diharapkan   mampu   memenuhi harapan  dan  kebutuhan  masyarakat  mengenai  pendidikan  berkualitas  yang mampu menyiapkan sumber daya yang dapat bersaing dalam percaturan dunia yang semakin kompleks. Untuk kepentingan ini, produktivitas sekolah menjadi syarat yang tidak bisa ditawar lagi karena karakteristik umum sekolah produktif dapat dilihat dari  bentuk dan sifat organisasi sekolah tersebut, apakah dapat memberikan peluang untuk mencapai produktivitas tinggi. Hal tersebut antara lain berupa peningkatan   jumlah dan  kualitas kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik setelah mengikuti pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulyasa 	(2007:92) 	mengemukakan: 	 “Produktivitas 	dalam 	dunia pendidikan  berkaitan  dengan  keseluruhan  proses  penataan  dan  penggunaan sumber  daya  untuk mencapai tujuan pendidikan secara  efektif dan efisien”. Dalam	konteks	 produktivitas 	pendidikan, 	sumber-sumber 		pendididikan dipadukan  dengan  cara-cara  yang  berbeda.  Untuk  menguasai  teknik-teknik tersebut  harus dilakukan proses belajar. Seiring dengan bertambahnya waktu, semakin besar pula  modal untuk pendidikan. Sekolah pun menjadi semakin berkembang   karena   semakin   besarnya   tuntutan   pendidikan   yang   harus dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai pihak menunjukkan bahwa produktivitas pendidikan di Indonesia sampai beberapa tahun terakhir belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Tingginya tingkat pengangguran,	menurunnya 	kualitas 	moral 	bangsa 	serta 	ketertinggalan Indonesia   dalam  percaturan   internasional   menunjukkan   masih  rendahnya produktivitas pendidikan di negara kita. Produktivitas pendidikan di negara kita ditinjau dari aspek  administrasi, perubahan perilaku siswa maupun dari aspek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ekonomi masih jauh tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian United Nation Development Programe (UNDP) pada tahun  2007  tentang  indeks  pengembangan  manusia  menyatakan  Indonesia berada  pada   peringkat  ke  107  dari  177  negara  yang  diteliti.  Indonesia memperoleh indeks  0,728. Dan jika Indonesia dibanding dengan negara-negara ASEAN yang dilibatkan dalam penelitian, Indonesia berada pada peringkat ke-&lt;br /&gt;7 dari sembilan negara ASEAN. Salah satu unsur utama  dalam komposit IPM adalah tingkat pengetahuan bangsa atau pendidikan bangsa. Peringkat Indonesia yang  rendah   dalam   kualitas  SDM  ini  adalah  merupakan  gambaran  mutu pendidikan yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterpurukan  mutu  pendidikan  di  Indonesia  juga  dinyatakan  oleh United  Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), Badan  PBB  yang  mengurus  bidang  pendidikan.  Menurut  Badan  PBB  itu, peringkat  Indonesia  dalam  bidang  pendidikan 	pada  tahun  2007  adalah  62 diantara 130 negara di dunia. Education Development Index (EDI) Indonesia adalah   0,935,   dibawah   Malaysia   (0,945).   Rendahnya   mutu   pendidikan Indonesia juga  tercermin dari daya saing di tingkat internasional. Daya saing menurut  Word  Economic  Forum,  2007-2008,  berada  di  level  54  dari  131 negara.  Malaysia  ke-21,  Singapura   ke-7.  Salah  satu  penyebabnya  adalah rendahnya mutu guru. Rendahnya profesionalitas  guru dilihat dari kelayakan guru mengajar baik di negeri maupun swasta. Menurut Balitbang Diknas guru- guru yang layak mengajar untuk tingkat SD 28,94 %, SMP  Negeri  54,12 %, SMP Swasta 60,99%, SMA Negeri 65,29 %, SMA Swasta 64,73 %, guru SMA Negeri 55,91 %, Swasta 58,26 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan  adalah  modal  utama  bagi  suatu  bangsa  dalam  upaya meningkatkan	kualitas 	sumberdaya 	manusia 	yang 	dimilikinya. Sumberdaya manusia yang berkualitas akan mampu mengelola sumber daya  alam   dan  memberi  layanan  secara  efektif  dan  efisien  untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, hampir semua bangsa berusaha  meningkatkan kualitas pendidikan  yang dimilikinya, termasuk Indonesia. (Dinas Pendidikan Nasional 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu   pendidikan 	yang   rendah 	merupakan 	salah   satu   penyebab rendahnya produktivitas sekolah. Proporsi jumlah guru SD, SMP, dan SMA yang	belum	memenuhi 		kualifikasi 	pendidikan 	mendekati 	50% 	dapat menyebabkan  kualitas  hasil  pendidikan  kurang  memuaskan.  Dalam  forum pengukuran dan assessmen internasional, Indonesia selalu berada di peringkat bawah. Hasil pengukuran yang dilaksanakan oleh TIMSS (Third International Mathematics  and   Science   Study)  terhadap  38  peserta  pada  tahun  2000 menunjukkan negara Indonesia  hanya mampu meraih ranking 34 untuk mata pelajaran IPA dan rangking 32 untuk mata pelajaran matematika. Peringkat ini berada  di  bawah  Malaysia  (16  dan  21)  dan   Tailand  (27  dan  24).  Hasil assessment PISA (Program for International Student  Assessment) pada tahun&lt;br /&gt;2003  pada  literacy  membaca,  matematika  dan  IPA  terhadap  41  peserta menunjukkan  negara  Indonesia  hanya  mampu  meraih  ranking  ke  39  pada literacy  membaca dan matematika sedangkan literacy IPA mendapat ranking 38. Peringkat ini berada di bawah Thailand yang selalu mendapat peringkat 32 (Fasli Jalal, 27 Februari 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator  mutu  sumber  daya  manusia  yang  diukur  melalui  Human Development Index (HDI) menunujukkan Indonesia masih berada pada posisi rendah bila dibandingkan dengan 179 negara lainnya. Peringkat HDI Indonesia selalu  berada  di  atas  100,  kalah  dengan  Thailand,  Malaysia  dan  Philipina. Dalam persaingan kerja di pasar global, Indonesia hanya mampu mengisi ruang tenaga kerja asing terdidik di wilayah Asia  Timur sekitar 20.000 orang pada tahun  2001  sedangkan  negara  Thailand  telah  mampu  mengisi  tenaga  kerja paling banyak yaitu 1.055.300 orang (Fasli Jalal, 27 Februari 2006).&lt;br /&gt;Indikator  mutu  pendidikan   yang  ditetapkan   menggunakan  standar kelulusan pada nilai terendah 4.25 dari skala 10 untuk 3 mata pelajaran masih belum mencapai angka kelulusan 100%. Pada Ujian Nasional (UN) tahun 2005, siswa   SMA/MA   yang   tidak   lulus   mencapai   20,6%,   SMK   22,2%   dan SMP/MTs/SMP Terbuka 13,4%.  Nilai rata-rata UN tahun 2003/2004 = 5,55 dan pada tahun 2004/2005 mulai meningkat  menjadi 6,76  (Rencana Strategis Depdiknas 2005-2009). Menurut berbagai macam  indikator mutu pendidikan tersebut, pendidikan di Indonesia belum dapat menunjukkan hasil yang optimal. Kelemahan hasil pendidikan tesebut, antara lain disebabkan karena guru yang belum kompeten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas  sumberdaya  manusia  dapat  dilihat  dari  kemampuan  atau kompetensi yang dimiliki lulusan lembaga pendidikan, seperti sekolah. Sekolah memiliki tugas untuk  mengembangkan potensi peserta didik 	secara optimal menjadi	kemampuan	untuk   hidup   di   masyarakat   dan   mensejahterakan masyarakat.   Setiap   peserta   didik	memiliki   potensi   dan   sekolah   harus&lt;br /&gt;mengetahui potensi yang dimiliki peserta didik. Selanjutnya sekolah merancang pengalaman belajar yang harus diikuti peserta didik agar memiliki kemampuan yang  diperlukan  masyarakat.  Dengan  demikian  potensi  peserta  didik  akan berkembang secara optimal.&lt;br /&gt;Pada dasarnya peningkatan kualitas pendidikan berbasis pada sekolah. Sekolah	merupakan 	basis 	peningkatan 	kualitas, 	karena 	sekolah 	 lebih mengetahui masalah yang dihadapi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sekolah  berfungsi sebagai unit  yang mengembangkan 	kurikulum, 	silabus, strategi  pembelajaran,  dan  sistem  penilaian.  Dengan  demikian  manajemen sekolah  merupakan  basis  peningkatan  kualitas  pendidikan.  Oleh  karena  itu penerapan	manajemen	berbasis 	sekolah 	merupakan 	 usaha 		untuk memberdayakan  potensi   yang  ada  di  sekolah  dalam  usaha  meningkatkan kualitas pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran   pemerintah   terhadap   pentingnya  pendidikan   berkualitas dewasa  ini  semakin  nyata,  hal  ini  terbukti  dengan  meningkatnya  perhatian pemerintah terhadap guru dan dosen berupa digulirkannya undang-undang guru dan dosen no.14 tahun 2005. Lahirnya undang-undang ini menjadi angin segar bagi perkembangan pendidikan di negara kita, walaupun sampai saat ini masih muncul berbagai kontroversi dalam pelaksanaannya.  Disamping itu, perhatian pemerintah terhadap kualitas pendidikan juga diwujudkan  melalui penentuan standar kelulusan bagi peserta didik pada Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. Hal ini pun mengundang kontroversi yang semakin berkepanjangan serta menimbulkan permasalahan baru dalam dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaksiapan sekolah dalam menerapkan ketetapan pemerintah tersebut menyebabkan	timbulnya 	berbagai 	kecurangan 	dan 	pelanggaran 	dalam pelaksanaan ujian nasional, sehingga kejujuran sistem pendidikan di negara kita ini  masih   dipertanyakan.  Namun  kita  tidak  perlu  saling  mempersalahkan terhadap kekacauan  sistem pendidikan kita saat ini, yang perlu kita lakukan adalah  bersama-sama  membenahi  dan  memperbaiki  sistem  pendidikan  kita. Dalam  hal  ini,  sekolah  sebagai  penyelenggara  pendidikan  berperan  penting dalam memperbaiki kondisi pendidikan kita  yang sedang carut marut seperti saat ini. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan  memiliki peran yang sangat  besar  untuk  membawa  guru  dan  tenaga  kependidikan  lainnya  untuk secara   bersama-sama   melakukan   perbaikan   dalam   segala   hal.   Tuntutan pemerintah terhadap pendidikan berkualitas harus ditanggapi kepala sekolah dengan memberikan motivasi terhadap guru untuk terus mengembangkan diri serta  berbagai  potensi  yang  mereka  miliki,  serta  memfasilitasi  mereka  agar terus belajar dan berkarya dengan penuh semangat dan kejujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan program sertifikasi yang baru berjalan sekitar satu tahun belum	dapat	dinilai 	keberhasilannya, 	namun 	selama 	program 	tersebut berlangsung,   program  tersebut  belum  memberikan  kontribusi  positif  bagi perwujudan  sekolah   produktif,  tetapi  lebih  mengarah  kepada  peningkatan kesejahteraan  guru.  Tidak  sedikit  guru  yang  telah  lulus  sertifikasi  namun kinerjanya tidak meningkat, artinya program  sertifikasi guru dan dosen tidak menjamin  bahwa  produktivitas  pendidikan  kita  akan  meningkat.  Walaupun demikian   kita  selalu   berharap  program  tersebut  memberi  manfaat   yang signifikan bagi perkembangan pendidikan kita dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber daya manusia berkualitas merupakan produk yang dihasilkan oleh suatu lembaga yang berkualitas pula dalam hal ini sekolah. Sekolah yang didukung oleh  pemimpin yang profesional serta didukung oleh guru dengan kinerja  yang  tinggi  akan  mampu  menghasilkan  lulusan sesuai  dengan  yang diharapkan oleh semua pihak yang berkepentingan terhadap produk pendidikan.&lt;br /&gt;Kunci keberhasilan sekolah terletak pada kerjasama yang baik antara kepala  sekolah,  guru,  tenaga  kependidikan,  partisipasi  orang  tua  dan  para stekholders. Guru sebagai pelaksana dalam pembelajaran hendaknya memiliki komitmen  yang  tinggi  terhadap  pekerjaannya.  Artinya  guru  harus  memiliki kesadaran dan kecintaan terhadap  profesinya. Dengan adanya kesadaran dan kecintaan  terhadap  pekerjaannya  sebagai  guru,  maka  kinerjanya  akan  lebih baik,  kesadaran  untuk  mengembangkan  potensi  dirinya  juga  akan  semakin meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam 	upaya 	meningkatkan 	kesadaran 	guru 	akan 	pentingnya peningkatan  kompetensi  profesional  serta  kualitas  kinerjanya,  maka  kepala sekolah	sebagai 	pemimpin 	pendidikan 	berperan 		penting 	untuk 	selalu memberikan   motivasi,  dukungan  serta  penyediaan  fasilitas  terhadap  guru sehingga akan tumbuh  kesadaran pada diri mereka untuk selalu belajar dan terus belajar serta selalu berupaya mengembangkan diri seiring perubahan yang berlangsung  sangat  cepat.  Kepemimpinan   dengan  pendekatan  yang  sesuai sangat dibutuhkan untuk menghadapi perubahan yang sangat cepat, baik di luar maupun di dalam lingkungan sekolah. Dengan demikian kepala sekolah sebagai pemimpin	harus	mampu 	mengembangkan 	gerakan 	inovatif, 	mampu memberdayakan staf  dan sekolah sebagai organisasi pendidikan ke dalam suatu perubahan cara berpikir, pengembangan visi, pengertian dan pemahaman yang terus menerus melalui pengolahan aktivitas kerja dengan memanfaatkan bakat, keahlian,  kemampuan,  ide  dan   pengalaman  sehingga  semua  guru  merasa terlibat dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran  guru  terhadap  peningkatan  kompetensi  profesional  serta kualitas  kinerjanya  harus  dilandasi  komitmen  yang  kuat  terhadap  sekolah sebagai   organisasi   tempat   mereka   bekerja   dan   mengamalkan   ilmunya. Komitmen  guru  sangat   diperlukan  demi  keberlangsungan  sekolah  sebagai organisasi  pendidikan.  Salah  satu  upaya  mewujudkan  komitmen  yang  kuat terhadap  organisasi  adalah  bagaimana  kepala   sekolah  sebagai  pemimpin mengkondisikan  guru  dan  tenaga  kependidikan  lainnya  untuk  bekerja  dan melaksanakan tugasnya sesuai harapan kepala sekolah sebagai pemimpin dalam organisasi pendidikan. Rendahnya komitmen guru memberikan kerugian tidak hanya kepada guru sebagai individu tetapi juga kepada siswa sebagai pengguna jasa pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steer  dan  Porter  (1983)  menyatakan  bahwa  suatu  bentuk  komitmen yang  muncul dalam diri karyawan tidak hanya bersifat loyalitas yang pasif, tetapi juga  melibatkan hubungan yang aktif dengan organisasi yang memiliki tujuan	memberikan	segala 	usaha 	demi 	keberhasilan 	organisasi 	yang bersangkuatan. Tingginya komitmen guru terhadap pekerjaan diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru sebagai pemegang kunci keberhasilan pembelajaran, dengan  demikian  produktivitas  sekolah  yang  diharapkan  akan  lebih  mudah terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui   penerapan   kepemimpinan   serta   peningkatan   kinerja   guru diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekolah, dengan demikian akan terwujud  sekolah  berkualitas  yang  mampu  mencetak  generasi  yang  dapat bersaing  dan  berperan  penting  dalam  percaturan  dunia  baik  lokal  maupun internasional. Kerjasama yang solid antara  guru dan kepala sekolah melalui penerapan  kepemimpinan  serta  peningkatan  kinerja  guru  merupakan  suatu langkah  perbaikan  dalam  rangka  peningkatan  produktivitas  sekolah.  Untuk melihat   bagaimana 	kepemimpinan	kepala   sekolah   dalam   meningkatkan produktivitas   sekolah   dan   bagaimana   kinerja   guru   dalam   meningkatkan produktivitas sekolah, maka perlu dilakukan suatu studi mengenai hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-8186922110953248666?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/8186922110953248666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/kontribusi-kepemimpinan-kepala-sekolah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8186922110953248666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8186922110953248666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/kontribusi-kepemimpinan-kepala-sekolah.html' title='KONTRIBUSI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA MENGAJAR GURU TERHADAP PRODUKTIVITAS SEKOLAH : (PEND-69)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-1084264700172615187</id><published>2011-08-24T03:51:00.000-07:00</published><updated>2011-08-24T03:53:37.546-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>PENGARUH EFEKTIFITAS KEPEMIMPINAN MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH DAN KOMPENSASI TERHADAP KINERJA GURU : (PEND-68)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah dan Analisis Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring-sejalan dengan perkembangan jaman, kepemimpinan dalam organisasi pendidikan,  khususnya  kepala  sekolah,  diharapkan  mampu  untuk  beradaptasi dengan perkembangan yang  ada, terlebih yang berkaitan dengan isu-isu terkini dalam dunia pendidikan di tingkat  messo  (sekolah). Secara administratif kepala sekolah  diharapkan  dapat  meningkatkan  keterampilan  dan  pengetahuan  orang orang  dalam  organisasi  sekolah,  menciptakan  kultur  harapan  yang  baik  dan mempersatukan	berbagai	perbedaan	dalam	organisasi	untuk	menciptakan hubungan yang produktif.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Sekolah adalah pemimpin tertinggi di sekolah. Pola kepemimpinannya sangat berpengaruh bahkan sangat menentukan terhadap kamajuan sekolah. Pada saat menjadi guru tugas pokoknya adalah mengajar dan membimbing siswa untuk mempelajari   mata   pelajaran   tertentu   sedangkan   Kepala   Sekolah   bertugas pokoknya  adalah “ memimpin “ dan  “mengelola” guru beserta stafnya  untuk bekerja sebaik-baiknya demi mencapai tujuan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai  pasal  12  ayat  1  Peraturan  Pemerintah  Nomor 28  Tahun  1990,&lt;br /&gt;bahwa:&lt;br /&gt;Kepala	Sekolah	bertangggungjawab	atas	penyelenggaraan	kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana serta prasarana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di terangkan pula pada pasal 1 ayat 1 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah bahwa :&lt;br /&gt;Untuk   diangkat   sebagai   kepala   sekolah/madrasah,   seseorang   wajib memenuhi standar kepala sekolah/madrasah yang berlaku nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memimpin dan mengelola sangat mudah untuk dikatakan tetapi sulit untuk dilaksanakan   karena  perlu  keterampilan  khusus  dan  pengorbanan  terutama sekarang yang paling langka adalah keteladanan. Seorang Kepala Sekolah harus menjadi suri teladan, baik bagi guru dan stafnya maupun siswa dan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  demikian,  kepemimpinan  yang  dijalankan  oleh  kepala  sekolah terkadang belum mencapai hasil terbaik yang diharapkan oleh sekolahnya, karena berbagai kendala yang dihadapi oleh kepala sekolah terkadang juga belum dapat diatasi  dengan  maksimal,  disebabkan   profesionalisme  kepemimpinan  kepala sekolah yang tidak mencapai tingkat terbaik atau dengan kata lain “... with strong&lt;br /&gt;leadership by the principal, a school is likely to be effective; without capable&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;leadership, it is not” (Roland S. Barth, 1990:64). Pernyataan tersebut menjelaskan&lt;br /&gt;bahwa jika kepemimpinan kepala sekolah kuat, maka sekolah pun akan menjadi efektif, namun tanpa hal itu, maka sekolah tidak akan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kenyataan saat ini, yang seringkali dihadapi oleh kepala sekolah salah satu kendalanya adalah “... Lack of specific knowledge about the skills that principals need in order to be effective school leaders exists at a time when many principals  are  facing  dramatic  changes  in  their  roles  ...”  (Roland  S.  Barth,&lt;br /&gt;1990:64). Pernyataan tersebut menginformasikan bahwa kurangnya pengetahuan khusus tentang  keterampilan yang kepala sekolah perlukan untuk tetap menjadi pemimpin  sekolah  yang   efektif,   ketika  banyak  kepala  sekolah  menghadapi perubahan dramatis dalam menjalankan peranannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  proses  belajar-mengajar,  guru  menempati  posisi  penting  dan penentu	berhasil-tidaknya	pencapaian	tujuan	suatu	proses	pembelajaran. Sekalipun proses pembelajaran telah menggunakan berbagai model pendekatan dan metode yang lebih memberi peluang siswa aktif, kedudukan dan peran guru tetap penting dan  menentukan. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menjelaskan  bahwa “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,  membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”  (Undang-Undang   Nomor&lt;br /&gt;14 Tahun 2005 :1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang profesional dibangun melalui penguasaan sejumlah kompetensi yang secara nyata diperlukan untuk mendukung pelaksanaan tugas pekerjaannya. Kompetensi guru perlu  dikembangkan terus menerus sehingga penyelenggaraan pendidikan didukung oleh tenaga pendidik yang profesional dalam melaksanakan tugas, mampu menempatkan diri sesuai dengan jabatan dan memiliki kepribadian yang mendukung pelaksanaan tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidik  dan  tenaga  kependidikan  memegang  peranan  yang  sangat strategis terutama dalam membentuk watak bangsa serta mengembangkan potensi pesrta didik. Dalam  Pasal 39 ayat (2) dan pasal 40 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa :&lt;br /&gt;“Pendidik  merupakan  professional  yang  bertugas  merencanakan  dan melaksanakan	proses	pembelajaran,	menilai	hasil	pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian   kepada  masyarakat,  terutama  pendidik  pada  perguruan tinggi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam	pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa : Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(1)  Menciptakan  suasana  pendidikan  yang  bermakna,  menyenagkan, kreatif,	dinamis,	dan	dialogis.	(2)	Mempunyai	komitmen	secara professional  untuk  meningkatkan  mutu  pendidikan  dan  (3).  Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dangan kepercayaan yang diberikan kepadanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  demikian, dapat  disimpulkan bahwa dalam melaksanakan tugas dan	tanggungjawabnya,  setiap  guru  dituntut  untuk  berkinerja  secara  optimal sesuai		dengan  kompetensi  dan  profesionalitas  di  bidangnya  atau  setidaknya mampu menguasai dan dapat melaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan  terhadap  tugas  dan  tanggungjawab  guru,  nampaknya akan sulit	terpenuhi,  manakala kondisi	psikologis	dan	sosial	serta penghargaan (kompensasi)  yang  dirasakan  guru  tidak  mendukung,  karena  pada  dasarnya kinerja guru   membutuhkan konsentrasi  dan  kegairahan dalam bekerja, dan hal itu dapat	 terwujud	apabila kebutuhan guru terpenuhi secara adil dan layak, sehingga	akan	menimbulkan	kepuasan, kenyamanan dan ketenangan	dalam bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Pasal Pasal 40 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh: Penghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan memadai; Penghargaan sesuai dengan tugas dan  prestasi kerja; Pembinaan karier  sesuai  dengan tuntutan pengembangan kualitas; Perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil kekayaan intelektual; dan Kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbalan  atau  bayaran  atau  juga  disebut  kompensasi	sebagai  bagian dari	fungsi  oprerasional Manajemen  Sumber  Daya  Manusia, sangat  penting, karena   manusia termasuk guru mau bekerja untuk mendapatkan imbalan guna memenuhi  kebutuhan  hidupnya. Jalal dan Supriadi (2001:340), mengemukakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahwa guru  seharusnya mendapatkan penghargaan dan penghormatan dari semua pihak yang  terkait dengan proses penyelenggaraan pendidikan, yang setidaknya diwujudkan	dalam  bentuk  pember ian	jaminan yang   layak	dan	adil	guna mendorong  semangat  hidup dan motivasi  kerja para  guru dalam meningkatkan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat   sekolah   sebagai   unit   pelaksana   pendidikan   formal terdepan   dengan  berbagai  keragaman  potensi  anak  didik  yang  memerlukan layanan pendidikan ya ng  beragam, kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan	l a i n n ya ,	m a k a	s e k o l ah	h a r u s	di n a mi s	d a n	k r e at i f	d a l am m e l a ks a n a k an	perannya	untuk	mengupayakan	peningkatan	kualitas/mutu pendidikan.  hal  ini  akan  dapat  dilaksanakan   jika  sekolah  dengan  berbagai keragamannya, itu, diberikan, kepercayaan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri sesuai dengan kondisi lingkungan, dan kebutuhan anak didiknya.&lt;br /&gt;Hoy	dan	Miskell	(1978	:116)	yang	 mengutip	pendapat	Vroom, menyatakan  bahwa  performance  =  f  (ability  x  motivation).  Dengan  katalain kinerja	ditentukan		dengan	  kemampuan	 yang		yang   diperolaeh	dari	hasil pendidikan, pengalaman, latihan, motivasi yang merupakan perhatian khusus dari hasrat seorang guru dalam melakukan pekerjaanya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  beberapa  pendapat  mengenai  pengertian  kinerja  di  atas,  dapat dimaknai pula bahwa kemampuan (abiliy), keterampilan (skiil) dan upaya (effort) akan  memberikan  kontribusi  positif  terhadap  kualitas  kerja  personal  apabila disertai dengan upaya (effort) yang dilakukan untuk mewujudkannya. Upaya yang dilakukan oleh suatu organisasi untuk meningkatkan  kualitas kinerja personal dengan sendirinya akan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas kinerja organisasi sehingga turut mendukung pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk		mencapai	tujuan	pendidikan	menengah	kejuruan	yang diharapkan  bisa  melahirkan  lulusan  (output)  yang  mutunya  berkualitas, diantaranya  dapat  ditentukan  dengan  meningkatkan  kompetensi  professional guru dan kualitas manajemen yang baik dari lembaga yang bersangkutan, hal ini ditunjukan	dari	penguasaan	kompetensi	guru		dan	kepala	sekolah	 yang menjalankan kepemimpinannya secara efektif dan mampu bekerja sama dengan bawahan  secara  profesional,  Serta  melaksanakan  tugasnya masing-masing&lt;br /&gt;dengan  penuh  tanggung  jawab  selain  itu  seorang pemimpin pemimpin harus memperhatikan  hubungan antar manusia (Human Relation) dan memperhatikan pada tugas (Task Oriented),  karena kedua hal ini merupakan dwi tunggal yang nyaris, tidak dapat dipisahkan.&lt;br /&gt;Hal  ini  sesuai  dengan  pendapat  Thomas  Gordon  (1990:8),  bahwa  :  “ Efektifitas   seorang  pemimpin   mensyaratkan   agar   sang   pemimpin   tersebut memperlakukan orang lain  dengan baik, sementara memberikan motivasi agar mereka menunjukan performa yang tinggi dalam melaksanakan tugas". Selain itu menurut Miftah Toha (1986:1), bahwa : "Suatu  organisasi akan berhasil bahkan akan gagal, sebagian bisa ditentukan oleh kepemimpinan".&lt;br /&gt;Sejalan dengan pendapat Gordon, Juran dalam Teriska Rahadjo (2005:29) berpendapat,  bahwa : “ kepemimpinan efektif adalah yang dapat menumbuhkan sikap  melayani  kebutuhan   utama  pelanggan  organisasi  dan  menumbuhkan peningkatan mutu, sehingga organisasi perlu  menyusun  sasaran dan  pedoman peningkatan mutu yang dapat diraih organisasi”.&lt;br /&gt;Selama ini seringkali kita menjumpai bahwa dalam menilai keberhasilan, sebuah  lembaga pendidikan hanya melihat dari sumber daya, sarana serta pra  sarana,  padahal   ada  aspek  penting  yang  harus  diperhatikan  dalam meningkatkan mutu pendidikan, aspek itu adalah aspek kepemimpinan, dan salah&lt;br /&gt;satunya	yang   terdapat   di   sekolah   adalah   kepemimpinan   kepala   sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini senada dengan pendapat Umaedi (Jurnal Pendidikan, April 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala  sekolah  harus  tampil  sebagai  koordinator  dari  sejumlah orang  yang  mewakili  berbagai  kelompok  yang berbeda di  dalam  masyarakat sekolah dan secara  profesional harus terlibat dalam setiap proses perubahan di sekolah	m e l a l u i	p e n e r a p a n	p n n s i p - p n n s i p	p e n g e l o l a a n	k u a l i t a s t o t a l  d e n g a n   menciptakan kompetisi dan penghargaan di dalam sekolah itu sendiri maupun sekolah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, seorang pemimpin harus mampu menjalankan fungsinya sebagai  pemimpin. Hal ini di tunjukan dengan mampu menempatkan gaya dan perilaku kepemimpinannya, apabila seorang pemimpin berlaku seenaknya&lt;br /&gt;malah bisa menurunkan kreativitas, anggotanya. Hal ini sesuai dengan pemvataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sang dikemukakan oleh Tripura Priyadhanna (2001:65), yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran  kepemimpinan  yang  bersikap  dan  berperilaku  diktator. main   perintah,  tidak  mendengar  saran  dari  bawah,  suka  marah-marah,  tidak menyenangi  perubahan,  tidak  bisa  menghargai  orang,  yang  berakibat  pada orang  bawahannya  menjadi  takut  dan  cemas  sehingga  kreativitas  tidak  bisa muncul.&lt;br /&gt;B e r d a s a r k a n u r a i a n d i a t a s . P e n u l i s m e n c o b a u n t u k m e n g u p a s permasalahan tersebut dengan mengadakan penelitian yang berjudul : "Pengaruh Efektifitas Kepemimpinan Manajerial Kepala Sekolah dan Kompensasi Terhadap Kinerja Guru“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-1084264700172615187?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/1084264700172615187/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/pengaruh-efektifitas-kepemimpinan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1084264700172615187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1084264700172615187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/pengaruh-efektifitas-kepemimpinan.html' title='PENGARUH EFEKTIFITAS KEPEMIMPINAN MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH DAN KOMPENSASI TERHADAP KINERJA GURU : (PEND-68)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-7019088630825020177</id><published>2011-08-22T08:29:00.000-07:00</published><updated>2011-08-24T03:50:25.771-07:00</updated><title type='text'>Download Contoh Tesis Pendidikan dan Contoh Skripsi Pendidikan Gratis</title><content type='html'>Bagi Mahasiswa yang akan menyusun skripsi bidang pendidikan maupun tesis pendidikan  atau pun mendapat tugas makalah. Kami memberi bantuan dengan menyediakan bahan-bahan tesis pendidikan dan skripsi pendidikan  yang berguna untuk menambah referensi anda dalam penyusunan tesis pendidikan maupun skripsi pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menyediakan Contoh Tesis pendidikan maupun Contoh Skripsi pendidikan GRATIS semua sudah dalam bentuk file Ms-word mulai bab 1 s.d. daftar pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file, silahkan klik &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;" href="http://www.ziddu.com/download/16140598/databasependidikan-01.pdf.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/16140598/databasependidikan-01.pdf.html" style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/16140598/databasependidikan-01.pdf.html"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;klik &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/16140598/databasependidikan-01.pdf.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-7019088630825020177?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/7019088630825020177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/7019088630825020177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/7019088630825020177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html' title='Download Contoh Tesis Pendidikan dan Contoh Skripsi Pendidikan Gratis'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-7083539313994102825</id><published>2011-08-21T07:04:00.000-07:00</published><updated>2011-08-22T13:35:04.804-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>KONTRIBUSI GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA GURU MADRASAH ALIYAH NEGERI DAN SWASTA SE-KABUPATEN (pend-67)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk  meningkatkan  harkat  dan  martabat  manusia  serta  kualitas  sumber  daya manusia. Arah pendidikan tersebut dituangkan dalam kebijakan pemerintah melalui Undang-  Undang  Nomor  20  tahun  2003  tentang  sistem  pendidikan  nasioanal. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka  mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga pada gilirannya manusia Indonesia mampu berperan aktif sebagai agen pembaharuan serta pengembangan kehidupan nasional manupun internasional. Untuk itu upaya meningkatkan kualitas pendidikan sangat penting dilakukan oleh setiap penyelenggara pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai upaya yang bukan saja membuahkan manfaat besar, pendidikan juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang sering dirasakan belum memenuhi harapan.  Hal itu disebabkan banyak lulusan pendidikan formal yang belum  dapat  memnuhi  kriteria  tuntutan  lapangan  kerja  yang  tersedia  apalagi menciptakan  lapangan  kerja  baru  sebagai   persentase  penguasaan  ilmu  yang diperolehnya dari lembaga pendidikan. Kondisi ini merupakan gambaran rendahnya kualitas pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak faktor yang turut mempengaruhi rendahnya kualitas pendidikan. Apabila  dilihat  sebagai  suatu  sistem  maka  faktor  yang mempengaruhi  kualitas pendidikan tersebut, menurut Deming meliputi input mentah atau siswa, lingkungan instruksional, proses pendidikan dan keluaran pendidikan. Dalam proses pendidikan didalamnya   terdapat   aktivitas   guru   mengajar,   siswa   dalam   belajar,   sistem pengelolaan administrasi,  serta mekanisme kepemimpinan kepala madrasah yang perlu dioptimalkan fungsinya agar kualitas pendidikan dapat ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu faktor yang menjadi tolak ukur keberhasilan sekolah adalah kinerja guru. Kinerja guru dimaksud adalah hasil kerja guru yang terefleksi dalam cara merencanakan,  melaksanakan dan menilai proses belajar mengajar	(PBM) yang intensitasnya dilandasi oleh etos kerja, serta disiplin profesional guru dalam proses pembelajaran. Kinerja adalah hasil kerja yang secara kualitas dan kuantitas dicapai oleh seorang  guru dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab   yang   diberikan   kepadanya.   Kinerja   merupakan   perilaku   nyata   yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang  dihasilkan oleh guru sesuai dengan perannya dalam tugas profesinya. Kinerja guru merupakan suatu hal yang sangat  penting dalam  upaya  menciptakan  pembelajaran  yang berkualitas  untuk mencapai tujuan. Baik tidaknya kinerja guru  dapat terlihat dari kompeten tidaknya dalam melaksanakan kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru disamping kualifikasi akademik. Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan dan  prilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas sebagai seorang  guru   secara profesional   yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kompetensi guru ini terbagi pada empat hal yaitu kompetensi paedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Kinerja  guru  merupakan  integrasi  dari  keempat  kompetensi  tersebut.  Mitchell (1978: 343) menyatakan bahwa kinerja meliputi beberapa aspek yaitu; “Quality of work (kualitas kerja), Promptness (ketepatan/kecepatan kerja), initiative (inisiatif), capability (kemampuan /kompetensi), and communication (komunikasi)”. Mulyasa (2006:138,150)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru merupakan tenaga edukatif yang berperan	menjalankan tugasnya dengan  kompetan  dan	profesional,  tidak  hanya  melakukan  pengajaran  atau mentransfer   ilmu   pengetahuan  tetapi   juga   dituntut  untuk  mampu  memberi bimbingan, keteladanan,  pelatihan pada para peserta didik   dan pengabdian pada masyarakat serta melakukan tugas-tugas  administratif lainnya. Moh. Uzer Usman mengemukakan bahwa Tugas guru sebagai profesi  meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik artinya meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar  artinya  meneruskan	atau  mentansfer  dan   menegmbangkan  ilmu pengetahuan, sedangkan melatih adalah mengembangkan keterampilan pada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madrasah	Aliyah	merupakan	suatu	organisasi	atau	lembaga	yang memerlukan pengelolaan terpadu baik oleh guru sebagai pelaksana kegiatan belajar mengajar  di   kelas  maupun  oleh  kepala  madrasah  sekolah  sebagai  pengedali kegiatan  di  sekolah.   Koordinasi  yang  baik  oleh  kepala  sekolah  melahirkan pencapaian tujuan sekolah, serta tujuan individu yang ada pada lingkungan sekolah. Disamping  itu  keterpaduan  kerja  guru  dalam   melaksanakan  kegiatan  belajar mengajar serta penciptaan situasi yang kondusif merupakan  prasarat keberhasilan tujuan sekolah. Aktivitas guru dalam melaksanakan tugasnya tidak terlepas  dari pengaruh  kepemimpinan  kepala  madrasah.  Kepala  madrasah  merupakan  motor penggerak bagi  semua sumber daya sekolah  dituntut untuk mapu menggerakkan guru secara efektif, membina  hubungan baik antar warga agar terciptanya susana kondusif,   bergairahkan,   produktif   dan   kompak   serta   mampu   melaksanakan perencanaan,  pelaksanaan  dan  pengevaluasian  terhadap  berbagai  kebijakan  dan perubahan yang dilakukan secara efektif dan efisien yang semua diarahkan untuk mengasilkan produk atau lulusan  yang berkualitas. Selanjutnya  Direktorat Jendral Pendidikan  Dasar  dan  menengah  mengemukakan	bahwa  Kepala  Madrasah berperan  dan  berfungsi  sebagai  “EMASLIM”,  yaitu  Kepala  Madrasah  sebagai; Educator, Manajer, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator dan Motivator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efektivitas kepemimpinan	kepala sekolah tergantung pada sejauhmana kepala  sekolah tersebut dapat menggunakan gaya	kepemimpinan		yang sesuai. Robert House  dengan teori alur sasarannya (Path–Goal Theory)   mengemukakan terdapat  empat  gaya	kepemimpinan  yang  akan  ditampilkan  pimpinan  dengan bawahan	dalam	proses	kepemimpinannya,	yakni	pemimpin	yang	direktif (megarahkan), Suportive  (membantu), Partisipatif (partisipasi) dan Goal orientede (berorisntasi  pada  prestasi).  Efektif   tidaknya  gaya		kepemimpinan  tersebut tergantung pada sejauhmana gaya		kepemimpinan tersebut beradaptasi dengan kematangan (maturity) bawahan.&lt;br /&gt;Sebagai suatu organisasi atau lembaga pendidikan pada madrasah yang didalamnya  terdapat personal guru dimana guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang besar   terhadap proses belajar mengajar, tugas tersebut terlihat pada aktivitas   pembelajaran  dan  administrasi  sekolah  yang  dikerjakan.  Disamping kepimpinan kepala  madrasah faktor lain yang mempengaruhi kinerja guru adalah motivasi  kerja.  Di  duga  munculnya	motivasi  kerja  yang baik  dari  guru  akan melahirkan  kinerja yang baik pula. Motivasi adalah proses psikologi yang terjadi pada diri seseorang akibat adanya interaksi antara sikap, kebutuhan, keputusan dan persepsi seseorang dengan lingkungannya. Morgan mengemukakan bahwa motivasi adalah pendorong atau penggerak yang berasal dari  dalam		diri individu untuk bertindak  kearah  tujuan  tertentu.	Untuk  melaksanakan  semua  tugas  guru  itu diperlukan adanya dorongan  atau motivasi kerja baik dari dirinya sendiri ataupun dari  kepala  sekolah  atau  lingkungan  sekitarnya.	Motivasi  kerja  adalah  sutu dorongan  mental   yang   muncul  dari  dalam  dan  dari  luar  diri  guru  untuk melaksanakan  tugas.  Ducan  mengemukakan	motivasi  kerja  berkaitan  dengan dorongan   yang   muncul  dari  diri  seseorang  untuk  melakukan  tugas  secara keseluruhan berdasarkan  tanggung  jawab masing-masing.	Motivasi merupakan bagimana cara gairah kerja guru, agar mau bekerja keras dengan menyumbangkan segenap kemampuan, pikiran, keterampilan, pengetahuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Motivasi merupakan kekuatan potensial yang ada pada diri seseorang manusia yang dapat dikembangkan sendiri atau oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya sekitar imbalan material dan non material, yang dapat mempengaruhi hasil kinerja secara positif atau negatif, hal mana sangat tergantung pada situasi dan kondisi   yang   dihadapi   orang   bersangkutan.   Motivasi   atau   dorongan   dapat mempengaruhi   prilaku	seseorang   dan   prilaku   akan	menimbulkan	aktivitas sedangkan  aktivitas  dapat  mengarah  untuk  pencapaian  suatu  tujuan.  Motivasi timbul karena  adanya kebutuhan-kebutuhan. Maslow menggolongkan kebutuhan tersebut ke dalam lima  kebutuhan yaitu: kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan bersosial, kebutuhan adanya  penghargaan dan		kebutuhan aktualisasi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping  dorongan  atau  motivasi	dari  diri  guru  itu  sendiri  kepala sekolah  sebagai  seorang pemimpin	dituntut untuk mampu memberikan prilaku yang  mendorong	guru tersebut dapat	bekerja dengan optimal.	 Dan hal yang demikian  bisa  sangat  berpengaruh  dari	perilaku  atau  gaya	kepemimpinan seseorang.  Yang  jadi  pertanyaan  berapa  besar  pengaruhnya  tersebut?  Betulkah motivasi kerja dapat meningkatkan kinerja guru? Berapa besar pengaruhnya? Hal ini memerlukan  penelitian atau pengkajian baik secara teoritis maupun pengujian dilapangan. Untuk itu penulis mencoba meneliti tentang masalah tersebut. Adapun judul penelitiannya adalah  “Kontribusi gaya  kepemimpinan kepala  madrasah dan motivasi kerja  Terhadap Kinerja guru di Madrasah Aliyah Negeri dan Swasta Se- Kabupaten Majalengka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-7083539313994102825?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/7083539313994102825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/kontribusi-gaya-kepemimpinan-kepala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/7083539313994102825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/7083539313994102825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/kontribusi-gaya-kepemimpinan-kepala.html' title='KONTRIBUSI GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA GURU MADRASAH ALIYAH NEGERI DAN SWASTA SE-KABUPATEN (pend-67)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-8319850729549033647</id><published>2011-08-19T16:03:00.000-07:00</published><updated>2011-08-22T13:35:44.595-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>PERSEPSI GURU TERHADAP KEMAMPUAN MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH DAN IKLIM ORGANISASI DALAM HUBUNGAN DENGAN KINERJA MENGAJAR GURU : (PEND-66)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah  adalah  salah  satu  organisasi  formal   yang  tumbuh  dan berkembang   di   tengah-tengah   masyarakat,   guna   menjalankan   program pendidikan bagi anak  dengan tujuan dan aturan yang jelas untuk membina anak yang berkualitas sebagaimana  diharapkan oleh masyarakat. Di dalam organisasi terjadi interaksi antar individu	dengan  pola komunikasi tertentu untuk bekerja sama menjalankan kegiatan guna mencapai tujuan.  Trewarha dan  Newport (Winardi, 2004: 53) menyajikan defenisi berikut tentang sebuah organisasi:  ‘Sebuah  organisasi  dapat  dinyatakan  sebagai  sebuah  struktur sosial, yang	didesain guna mengkoordinasi kegiatan dua orang atau lebih, melalui  suatu  pembagian  kerja,  dan  hierarki  otoritas,  guna  melaksanakan pencapaian  tujuan  umum’.  Hubungan  keorganisasian  yang  berkembang di sekolah menekankan pada sistem nilai dalam hubungan kepada antar manusia, keorganisasian, dan situasi yang dirasakan (iklim).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suatu organisasi, sekolah memiliki unsur yang berfungsi dan saling  berhubungan  dalam  rangka  mencapai  tujuan  sekolah.  Komponen- komponen tersebut  terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru- guru, karyawan, supervisor dan siswa. Ada pula unsur sarana dan prasarana, termasuk  fasilitas  dan  finansial  sekolah,  disamping  komponen  kurikulum pendidikan sebagai pedoman bagi proses pengajaran dan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Level manajerial menengahi dan mengontrol usaha-usaha internal dari organisasi. Proses administrasi adalah fungsi-fungsi manajerial, sebuah proses yang secara kualitatif berbeda dari mengajar. Kepala sekolah adalah pegawai administrasi yang terbaik di sekolah.  Mereka harus menemukan cara untuk membangun kesetiaan dan kepercayaan guru,  memotivasi usaha guru, dan mengkoordinir kerja. Administrasi mengontrol dan melayani sub sistem teknis dalam dua cara penting: pertama, administrasi menengahi antara  guru-guru dan  yang menerima layanan-layanan yaitu, siswa-siswa dan orangtua; dan yang  kedua,  administrasi  memperoleh  sumber-sumber  yang  penting untuk mengajar yang  efektif. Jadi, guru memerlukan sebuah perhatian dasar dari administrasi.&lt;br /&gt;Aspek  penting  dari  peran  kepemimpinan  dalam  pendidikan  adalah memberdayakan  para  guru  dan  memberikan  wewenang  yang  luas  untuk meningkatkan	kinerja  mengajar  guru  sehingga  proses  pembelajaran  para pelajar   dapat mencapai hasil  yang optimal. Seperti yang dikemukakan oleh Stanley Spanbauer ( Sallis, 2008: 174) bahwa:&lt;br /&gt;Pemimpin institusi pendidikan harus memandu dan membantu pihak lain (guru dan  staf) dalam mengembangkan karakteristik serupa. Sikap tersebut  mendorong  terciptanya  tanggungjawab  bersama-sama  serta sebuah gaya kepemimpinan yang  melahirkan lingkungan kerja yang interaktif. Dia menggambarkan sebuah gaya  kepemimpinan dimana pemimpin harus menjalankan dan membicarakan mutu  serta mampu memahami perubahan terjadi sedikit demi sedikit, bukan dengan serta merta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara eksplisit dinyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan  proses pembelajaran di dalam kelas antara adalah kompetensi guru, metode pembelajaran  yang dipakai, kurikulum, sarana dan prasarana,&lt;br /&gt;serta  lingkungan  pembelajaran  baik  lingkungan  alam,  (psiko)sosial  dan budaya  (Depdikbud, 1994). Dapat diartikan disini bahwa lingkungan sosial pembelajaran di kelas  maupun di sekolah (kantor, guru dan staf tata usaha) mempunyai pengaruh baik langsung  maupun tak langsung terhadap proses KBM.&lt;br /&gt;Berdasarkan kutipan diatas maka dapat dilihat	bahwa kemampuan seorang kepala sekolah dan iklim organisasi memiliki hubungan yang positif dan berkontribusi terhadap kinerja mengajar guru. Sementara  kenyataan yang penulis  lihat  dan  temui  dilapangan  guru-guru  SMP  di  Kabupaten Bangka selatan, bahwa kinerja mengajar guru menunjukkan gejala-gejala yang dialami guru sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Guru  dilapangan  masih  menunjukkan  kelemahan  dalam  memilih  dan mengembangkan bahan pengajaran;&lt;br /&gt;2)  Guru  dilapangan  masih  menunjukkan  kelemahan  dalam  hal  menarik perhatian untuk memotivasi siswa dalam belajar;&lt;br /&gt;3)  Guru dilapangan masih	banyak  yang tidak memiliki persiapan dalam pengajaran (tidak membuat perangkat pembelajaran);&lt;br /&gt;4)  Guru  dilapangan  masih  menunjukkan  kelemahan  dalam  menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan;&lt;br /&gt;5)  Guru dilapangan masih menunjukkan kelemahan dalam hal menciptakan lingkungan belajar yang kondusif;&lt;br /&gt;6)  Guru  dilapangan  masih  menunjukkan  kelemahan  dalam  berinteraksi dengan siswa;&lt;br /&gt;7)  Guru sering kali  tidak  merangkum  materi  pelajaran dalam  mengakhiri pembelajaran;&lt;br /&gt;8)  Guru  dalam  melaksanakan  evaluasi	hampir  tidak  pernah  melakukan analisis soal yang akan diujikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  hal  Iklim  organisasi,  guru-guru  SMP  Negeri  di  Kabupaten Bangka  Selatan  dalam	bekerja  masih  menunjukkan  gejala-gejala  sebagai berikut:&lt;br /&gt;1)  Guru  dilapangan  masih  menunjukkan  kelemahan  dalam  memberikan kritikan terhadap sesama guru dan pada kepala sekolah;&lt;br /&gt;2)  Guru  dilapangan  masih  banyak  tidak  menerima  terhadap  kritikan  atau teguran dari guru lain dan teguran kepala sekolah;&lt;br /&gt;3)  Guru dilapangan menunjukkan adanya  ketidakpercayaan terhadap  guru lain yang diberikan tugas oleh kepala sekolah;&lt;br /&gt;4)  Guru dan kepala sekolah dilapangan menunjukkan kelemahan dalam hal membangun  kebersamaan apabila ada permasalahan yang membutuhkan pemecahan bersama;&lt;br /&gt;5)  Guru  belum  mempunyai  kesamaan  orientasi  terhadap  visi  dan  misi organisasi bahkan guru tidak tahu visi dan misi organisasi tempat dimana ia bekerja;&lt;br /&gt;6)  Guru	tidak	merasakan	bahwa	pekerjaan	mereka	adalah	milik bersama.&lt;br /&gt;Sementara  dalam  hal  kemampuan  manajerial  kepala  sekolah  SMP Negeri  di   kabupaten  Bangka  Selatan  menunjukkan  adanya  gejala-gejalasebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Kepala sekolah belum dapat memperlihatkan keteladanan dalam sikap dan tindakan;&lt;br /&gt;2)  Kepala	sekolah	belum	dapat	menganalisis	faktor-faktor	kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dimilki dan dihadapi oleh sekolah;&lt;br /&gt;3)  Kepala sekolah belum mampu memberdayakan sumber daya sekolah;&lt;br /&gt;4)  Kepala sekolah belum mampu menciptakan iklim kerja yang kondusif;&lt;br /&gt;5)  Kepala sekolah belum mampu memberikan pengarahan dan menggerakkan guru  yang diberikan tugas olehnya;&lt;br /&gt;6)  Kepala	sekolah	belum	mampu	menyusun	rencana	dan	program pengembangan sekolah;&lt;br /&gt;7)  Sebagian kepala sekolah belum berani mengambil keputusan dan tindakan untuk kemajuan sekolah kalau tanpa ada aturan-aturan yang ada di Dinas Pendidikan Kabupaten.&lt;br /&gt;Berdasarkan  uraian  tersebut,  peneliti  bermaksud  untuk  mengkaji mengenai   kontribusi  kemampuan  manajerial   kepala  sekolah  dan  iklim organisasi terhadap kinerja mengajar guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; Atau klik &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-8319850729549033647?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/8319850729549033647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/persepsi-guru-terhadap-kemampuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8319850729549033647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8319850729549033647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/persepsi-guru-terhadap-kemampuan.html' title='PERSEPSI GURU TERHADAP KEMAMPUAN MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH DAN IKLIM ORGANISASI DALAM HUBUNGAN DENGAN KINERJA MENGAJAR GURU : (PEND-66)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-8849394176625339853</id><published>2011-08-19T09:33:00.000-07:00</published><updated>2011-08-22T13:36:17.719-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>KONTRIBUSI KINERJA KOMITE SEKOLAH DAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN DI SEKOLAH : (PEND-65)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan telah diyakini sebagai salah satu aspek pembangunan bangsa yang sangat penting untuk  mewujudkan warga negara  yang handal profesional dan berdaya saing tinggi.  Di  samping  itu,  diyakini  pula  oleh  berbagai  bangsa  bahwa  pendidikan  juga merupakan cara yang efektif sebagai  proses nation and character building, yang sangat menentukan  perjalanan  dan  regenerasi  suatu  negara.  Pendidikan selalu  menjadi  topik diskusi yang hangat (up-to-date topic of discussion) bagi negara-negara di penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia Sebagai salah satu developing country telah menunjukkan perhatian yang cukup besar  terhadap pendidikan, yang secara yuridis tercermin dalam Pasal 31 UUD&lt;br /&gt;1945 yang berbunyi  “Tiap-tiap warga  negara  berhak  mendapat pengajaran  (Pasal  1); pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang diatur  dengan  undang-undang  (Pasal  2)”.  Di  samping  itu,  masalah  pendidikan  juga tercermin dalam Rencana  Strategis Depdiknas (2004-2009)  yang merupakan landasan operasional dalam menjabarkan pendidikan ke dalam kebijakan pendidikan nasional dan program-program kegiatan yang merupakan refleksi dan derived dari Tujuan Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 49 (1) secara eksplisit  dinyatakan “Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan  dialokasikan  minimal  20%  dari  Anggaran  Pendapatan  dan  Belanja  Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah  (APBD)”.  Pasal  tersebut  menunjukkan  bahwa   pemerintah  Indonesia  telah memiliki  tekad  yang  bulat  untuk  mewujudkan  pendidikan  yang  bermutu  dengan melakukan   himbauan   terhadap   peningkatan   alokasi   dana   pendidikan   yang   cukup significant, meskipun realisasinya belum mencapai jumlah yang dipersyaratkan (minimal&lt;br /&gt;20%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun	demikian,	upaya-upaya	yang	dilakukan	selama	ini	belum	mampu meningkatkan mutu pendidikan yang significant dan belum mampu mewujudkan Tujuan Pendidikan  Nasional  seperti  yang  tertuang  dalam  Undang-undang  Sistem  Pendidikan Nasional. Justru sebaliknya,  berbagai kritikan dari berbagai kalangan tentang rendahnya mutu pendidikan terus bermunculan sejalan  dengan spirit reformasi bidang pendidikan yang  mulai  menggema  semenjak  krisis  multi  dimensi  melanda  Indonesia.  Terdapat beberapa indikator yang mencerminkan masih rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, antara lain masih rendahnya tingkat pencapaian hasil belajar siswa, khususnya bidang ilmu pengetahuan  alam,  matematika,  dan  Bahasa  Indonesia  yang  dianggap  sebagai  faktor determinan mutu pendidikan di jenjang pendidikan dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Pendidikan Nasional lebih lanjut melaporkan bahwa indikator mutu juga diukur secara kuantitatif berdasarkan prestasi akademis. Berdasarkan laporan Bank Dunia tentang hasil  tes  membaca  murid  dari  kelas  IV  Sekolah  Dasar  menunjukkan  bahwa, Indonesia berada pada peringkat terendah di  Asia Timur. Berdasarkan rerata hasil tes membaca di beberapa negara menunjukkan hasil yaitu: Hongkong 75,5%, Singapura 74%, Thailand 65,1%, Filipina 52, 6% dan Indonesia 51,7%. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa Indonesia tersebut hanya mampu memahami 30% dari materi bacaan, dan mengalami kesulitan menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran, sehingga  berada   pada  peringkat  paling  bawah.  Dalam  studi  ini  diketahui  rata-rata kemampuan sisa kelas 4 SD hanya mampu mengerjakan 34% soal, sedangkan anak SLTP hanya mengerjakan 2% soal, (Wor Bank: 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu pendidikan di Indonesia dalam forum assessment internasional selalu berada di peringkat  bawah.  Hasil  pengukuran  yang  dilaksanakan  oleh  The  Third  Internatonal Mathematics   and   Science   Study   (TIMSS)   terhadap   38   peserta   pada   tahu   2000 menunjukkan negara Indoensia hanya mampu  meraih rangking 34 untuk mata pelajaran IPA dan rangking 32 untuk mata pelajaran matematika.  Peringkat ini berada di bawah Malaisia  (16  dan  21)  dan  Thailand  (27  dan  24).  Hasil  assessment   Program  for International  Student  Assessment  (PISA)  pada  tahun  2003  untuk  literacy  membaca, matematik dan IPA terhadap 41 negara peserta menunjukkan negara Indonesia hanya mampu meraih rangking kr 39 pada literacy membaca dan matematika sedangkan literacy IPA  mendapat  rangking  38.  peringkat  ini  berada  di  bawah  Thailand  yang  mendapat peringkat 32, (Balitbag Depdiknas: 2007:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya yang telah dilakukan untuk peningkatan mutu pendidikan belum mencapai hasil yang  optimal. Hal ini terbukti dari hasil pengukuran Human Development Index (HDI) antara tahun 1995 sampai dengan 2005, Indoensia masih berada pada posisi rendah bila dibandingkan dengan 179 negara  lainnya. Peringkat HDI Indonesia selalu berada diposisi di atas 100, kalah dengan Thailand, Malaisia  dan Filipina.	Pada tahun 1995&lt;br /&gt;Indonesia berada pada peringkat 104, di bawah Malaysia (59) dan Filipina (100), pada tahun 2000 berada pada peringkat 109, di bawah China (99) dan Filipina (77), dan pada tahun 2005 berada pada peringkat  110, peringkat Indonesia tersebut lebih rendah dari Vietnam  yang berada  pada peringkat  108  dan  jauh  lebih rendah  dari  Malaysia (61), Thailand (73), dan Filipina (84), (Balitbang Depdiknas: 2007:2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survei The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) juga menunjukkan bahwa mutu sistem pendidikan Indonesia berada di urutan ke-12 setelah Vietnam. Survei mutu tenaga kerja tersebut telah dilaksanakan, dan hasilnya menempatkan Indonesia pada peringkat ke-12 di antara 12 negara yang disurvey. Peringkat yang dicapai Indonesia berada di bawah  Vietnam yang berada pada urutan ke-11, Malaysia urutan ke-7, dan Singapura urutan ke-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator-indikator yang telah dipaparkan menggambarkan kondisi nyata profil mutu pendidikan  di   Indonesia,  dan  sekaligus  merefleksikan  mutu  sumber  daya  manusia Indonesia  sebagai  dampak  langsung  dari  mutu  pendidikan.  Lebih  dari  itu,  indikator- indikator tersebut juga  memberikan  gambaran  tentang efektivitas dan efisiensi sistem penyelenggaraan  pendidikan  yang  selama  ini  diterapkan  oleh  pemerintah  Indonesia, meskipun beberapa waktu terakhir terdapat peningkatan prestasi pelajar Indonesia dalam beberapa event internasional, antara lain pada Olimpiade Fisika Internasional ke-23 tahun&lt;br /&gt;2002 yang diselenggarakan di Bali yang menghantarkan lima wakil Indonesia semuanya memperoleh medali (3 medali emas, 1 perak, dan 1 perunggu); dan pada Olimpiade Fisika Asia ke-4 tahun 2003 di Thailand yang menghantarkan regu Indonesia meraih juara umum dengan predikat the best team, dengan  memperoleh 6 medali emas dan 2 penghargaan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep otonomi daerah yang menjadi bagian dari kebijakan pemerintah sejak era reformasi telah  menjadi agenda penting yang diterapkan dalam setiap bidang kehidupan termasuk bidang pendidikan. Dalam konteks ini, otonomi di bidang pendidikan merupakan upaya mengembalikan pengelolaan pendidikan kepada pihak-pihak yang dianggap paling mengetahui  kebutuhan  pendidikan  di  daerah  masing-masing   dengan  tujuan  untuk meningkatkan mutu pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, tema sentral dari  otonomi pendidikan	adalah	desentralisasi.	Konsep	“desentralisasi”	mengisyaratkan	adanya penyebaran  sesuatu  yang sebelumnya  terpusat  atau  terkumpul  pada  satu  tempat  saja. Dalam konteks pendidikan, desentralisasi pendidikan berarti pengalihan  tanggung jawab pemerintah  pusat  dalam  hal  perencanaan,  pengelolaan,  pengalihan  dana,  dan  alokasi sumber daya pendidikan kepada pemerintah daerah. Keputusan-keputusan desentralisasi secara  langsung  berpengaruh  terhadap  siswa  seperti  keputusan  program  pendidikan, keputusan kurikulum, keputusan alokasi waktu, keputusan instruksional, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep desenralisasi pendidikan dalam kontek otonomi daerah adalah memberikan otonomi pada  tingkat satuan pendidikan, karena sekolah (Kepala Sekola) adalah pihak yang  lebih  mengetahui  tentang  permasalahan  yang  dihadapinya  dan  kebutuhan  yang diperlukannya	untuk	meningkatkan	mutu	pendidikan.	Upaya	pemerintah		dalam memberikan  otonomi  pada  tingkat  satuan  pendidikan  diantaranya  dilakukan  dengan program manajemen berbasis sekolah (MBS) dan pendidikan berbasis masyarakat. MBS bertujuan  agar   sekolah  (Kepala  Sekolah)  mampu  mengetahui   permasalahan   yang dihadapinya,	kebutuhan-kebutuhannya,	tujuan	pendidikannya,	serta	mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, sehingga menjadi sekolah yang  mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan berbasis kepada kebutuhan masyarakat dimaksudkan untuk meningkatkan rasa  memliki masyarakat  terhadap  sekolah,  sehingga  hubungan  kerjasama  masyarakat  dan  sekolah menjadi  lebih  harmonis.  Hubungan  kerjasama  yang  harmonis  (gotong-royong)  antara sekolah dan masyarakat sudah tercipta pada jaman awal kemerdekaan, (Buku Lima Puluh Tahun  Indonesia  Merdeka  1995).  Sekolah  yang  mandiri  memerlukan  dukungan  dan kepedulian  masyarakat  agar  sekolah  mampu  memenuhi  kebutuhan  masyarakat  yang menjadi stakeholder utama pendidikan. Wadah untuk menyalurkan aspirasi, dukungan dan kepedulian masyarakat terhadap dunia pendidikan diwujudkan dalam lembaga  mandiri yang bernama Komite Sekolah.&lt;br /&gt;Komite Sekolah sebagai wakil dari kepedulian masyarakat terhadap mutu sekolah merupakan  institusi yang memiliki peran penting dalam aktivitas pembelajaran secara eksternal. Komite  Sekolah  berfungsi  untuk: (1)  mendorong tumbuhnya perhatian  dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu; (2) melakukan kerja  sama  dengan  masyarakat  dan  pemerintah  berkenaan  dengan  penyelenggaraan pendidikan yang  bermutu; (3) menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat; (4) memberikan masukan, pertimbangan,  dan  rekomendasi  kepada   sekolah   mengenai  kebijakan  dan  program pendidikan, rencana anggaran pendidikan dan belanja sekolah (RAPBS), kriteria kinerja satuan pendidikan, tenaga kependidikan, dan fasilitas pendidikan, serta berbagai hal yang berkaitan  dengan  kegiatan  pendidikan  di  sekolah;  (5)  mendorong  orang  tua  dan masyarakat  berpartisipasi  dalam  pendidikan  guna  mendukung  mutu  pendidikan  dan pemerataan  pendidikan;  (6)  menggalang  dana  masyarakat  dalam  rangka  pembiayaan penyelenggaraan pendidikan  di sekolah; dan (7) melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di sekolah.&lt;br /&gt;Kepemimpinan kepala sekolah akan sangat menentukan dalam proses peningkatan mutu  pembelajaran di sekolahnya karena kepala sekolah merupakan unsur yang sangat penting dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan masalah pendidikan di sekolah. Kepemimpinan Kepala sekolah dituntut untuk mampu melakukan pengelolaan segala sumber daya yang ada, dan memanfaatkannya untuk belajar siswa. “Kepala Sekolah yang berkompeten harus memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap,  performance, dan etika  kerja  sesuai  dengan  tugas  dan  tanggung  jawabnya  sebagai  Kepala  Sekolah”, (Depdiknas: 2006: 32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi		Kepala	 Sekolah	yang		profesional	harus		mampu	melakukan pengelolaan  segala  sumber  daya  yang  ada  untuk  mendukung  suasana  belajar  yang kondusif.	Kepala	Sekolah	berkewajiban	mengelola	tenaga	kependidikan,	seperti melakukan perencanaan  dan penempetan guru dan tenaga kependidikan sesuai dengan kompeensinya, menginventarisasi karakteristik guru dan tenaga kependidikan yang efektif, serta memelihara dokumentasi sekolah. Melakukan pembinaan terhadap guru dan tenaga kependidikan seperti memfasilitasi pengembangan profesionalisme tenaga kependidikan, memanfaatkan, menilai kinerja, mengelola konplik, dan memotivasi tenaga kependidikan, serta mengembangkan sistem pembinaan karier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengelola  kesiswaaan,   seperti   melaksanakan   penerimaan   siswa   baru   (PSB), mengembangkan potensi siswa sesuai dengan minat, bakat, kreatifitasn dan potensi siswa. Dari sisi prepentif dapat dilakukan dengan menerapkan sistem bimbingan dan konseling, memelihara disiplin siswa, serta menerapkan sistem pelaporan perkembangan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan  pengelolaan  sarana  dan  prasarana  sekolah.  Melakukan  pengelolaan sarana dan  prasarana sekolah diantaranya adalah menyusun kebutuhan fasilitas sekolah, mengidentifikasi   jenis   dan   spesifikasi   fasilitas   sekolah,   melaksanakan   pengadaan, melakukan	pemeliharaan,	menginventarisasi	fasilitas	sekolah,	serta	mengelola perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengelola	  hubungan		sekolah	dengan		masyarakat.	Diantaranya	 adalah merencanakan kerjasama dengan lembaga pemerintah, swasta, dan masyarakat, dimulai dengan  menyusun  program  kerjasama,  mengidentifikasi  dukungan  masyarakat  (dana, daya,	atau	pemikiran),	sampai	memfasilitasi	kegiatan-kegiatan	 yang	melibatkan masyarakat  sesuai  dengan  program  yan  dikembangkan.  Langkah  selanjutnya  adalah membina kerjasama dengan  lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat mulai dengan mengembangkan	program	kerjasama,	 menerapkan	hubungan	kerjasama	 saling menguntungkan, sampai pada tingkat evaluasi dan menindaklanjuti program pelaksanaan dan hasil kerjasama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengelola  kegiatan  belajar  mengajar.	Mengelola  kegiatan  belajar  mengajar dimulai  dengan   mengembangkan  kurikulum,  mengevaluasi  pelaksanaan  kurikulum, memfasilitasi	guru	dalam	 menyusun	silabus,		sampai	memfasilitasi	guru	dalam menentukan   buku   sumber	yang   tepat.   Dalam   persiapan   KBM,   Kepala   Sekolah memfasilitasi   guru   untuk   membuat   rencana   pembelajaran,   menyusun   bahan   ajar, menyiapkan   alat   bantu   pembelajaran,   dan   menyusun   instrumen   evaluasi.   Dalam pelaksanaan  KBM  Kepala   Sekolah   mengkoordinasikan  kegiatan  belajar  mengajar, kegiatan evaluasi, dan pelaporan hasil belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengelola ketatausahaan dan keuangan sekolah. Dalam mengelola ketatausahaan sekolah   Kepala   Sekolah   menyelenggarakan   tata   laksana   persuratan,   kepegawaian, kesiswaan, fasilitas, kerjasama sekolah, pembelajaran dan tata laksana program sekolah. Dalam mengelola keuangan sekolah  Kepala Sekolah bersama guru menyusun RAPBS secara transparan, menggali sumber dana dan atau natura, mengelola akuntansi keuangan sekolah, dan melaksanakan sistem pelaporan keuangan.&lt;br /&gt;Permasalahan  mutu  pendidikan  dalam  konteks  desentralisasi  pendidikan  akan berhubungan erat dengan mutu sekolah dan model kepemimpinan kepala sekolah-nya. Hal ini karena sekolah sudah melaksanakan MBS, yang intinya memberikan kewenangan dan pendelegasian  kewenangan  (delegation  of  outority)  kepada  sekolah  untuk  melakukan perbaikan dan peningkatan mutu secara berkelanjutan  (quality  continous inprovement). Adapun mutu sekolah dalam hal ini diasumsikan sebagai sejumlah karakteristik mutu yang perlu dimiliki sekolah. Karakteristik tersebut mencakup:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama mutu input pendidikan, yaitu segala hal yang berkaitan dengan masukan untuk proses pendidikan di sekolah merupakan input pendidikan. Input pendidikan dapat berupa  material  dan  non-material.  Berikut  ini  adalah  beberapa  indikator  yang  dapat dioperasionalkan sebagai input  pendidikan di tingkat persekolahan, yaitu: (1) memiliki kebijakan mutu, (2) tersedia sumber daya yang siap, (3) memiliki harapan prestasi yang tinggi,  (4)  berfokus  pada  stakeholder  (khususnya  peserta  didik),  (5)  memiliki  input manajemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua mutu proses pendidikan. Berkaitan dengan proses pendidikan di sekolah, dapat dilihat  berdasarkan indikator-indikator mutu pembelajaran. Indikator yang dapat dioperasionalkan untuk  melihat  mutu  sebuah  sekolah  dalam  menjalankan  Manajemen Berbasis Sekolah, yaitu: (1) efektivitas proses belajar mengajar tinggi, (2) kepemimpinan sekolah yang kuat (3) pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif , (3) sekolah memiliki budaya mutu, (4) sekolah memiliki teamwork yang kompak, cerdas, dan  dinamis, (5) sekolah   memiliki   kewenangan   (kemandirian),	(6)   partisipasi   warga	sekolah   dan masyarakat  tinggi,  (7)  sekolah   memiliki  keterbukaan  (transparansi  manajemen),  (8) sekolah memiliki kemauan untuk berubah, (9) sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan, (10)  sekolah  responsif  dan  antisipatif  terhadap  kebutuhan,   (11)  sekolah  memiliki akuntabilitas, (12) sekolah memiliki sustainabilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga mutu output pendidikan. Output adalah kinerja sekolah, kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses sekolah. Kinerja sekolah diukur dari mutunya,  efektifitasnya,   produktivitasnya,  efisiensinya,  inovasinya,  mutu  kehidupan kerjanya  dan  moral  kerjanya.  Pada  umumnya  indikator  output  dapat  diklasifikasikan menjadi  dua,  yaitu  output  pencapaian  akademik  (academic  achievement)  dan  output pencapaian non akademik (non academic achievement).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan  indikator-indikator  yang  mencerminkan  mutu  pembelajaran  dan mutu  sumber  daya  manusia  sebagai  direct  impact  dari  pendidikan,  serta  menyadari kelemahan  sistem  pendidikan  yang  dianut  selama  ini,  pemerintah  dalam  dasawarsa terakhir ini telah melakukan reform in  education, terutama sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang dianut oleh pemerintah selama ini  cenderung bersifat centralized yang banyak memberikan wewenang dan tanggung jawab kepada pemerintah pusat dan kurang memberdayakan potensi  dan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat.  Menyadari kelemahan sistem ini, pemerintah segera mengubah paradigma sistem pendidikan dari centralized  menuju  decentralized  yang  lebih  banyak  memberikan  kewenangan  dan sekaligus  tanggung  jawab kepada pemerintah daerah, sekolah dan terlebih lagi kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran paradigma sistem pendidikan nasional yang dilakukan sejalan dengan semangat otonomi daerah yang tertuang dalam UU No. 22 Tahun 1999, yang diperbaharui dengan UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan UU No. 25 Tahun 1999, yang diperbaharui dengan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan  Daerah,  yang  membawa  konsekuensi  terhadap  pemberdayaan  masyarakat  dalam menunjang pendidikan yang diharapkan mampu memberikan layanan pendidikan sebagai layanan publik (public services) yang lebih baik, transparent, dan accountable.  Untuk mendukung upaya pemberdayaan masyarakat dalam menunjang pendidikan, pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional, telah membentuk wadah bagi masyarakat untuk berpartisipasi  dan   menyalurkan  aspirasi  serta  dukungan  mereka  dalam  menunjang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui  Kepmendiknas  No.  044/U/2002,  pemerintah  memberikan  wadah  bagi masyarakat   untuk   berperan   serta   dan   menyalurkan   aspirasinya  dalam   menunjang pendidikan melalui Dewan  Pendidikan di tingkat kabupaten dan Komite Sekolah pada setiap satuan pendidikan atau kelompok  satuan pendidikan (sekolah). Dengan adanya Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, tingkat kepedulian  dan peran serta masyarakat dalam membantu pemerintah mewujudkan pendidikan yang bermutu  diharapkan akan lebih baik dan meningkat untuk mewujudkan community – based education.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun	demikian,	menurut	pengamatan	Depdiknas,	dalam	implementasi Kepmendiknas No. 044/U/2002 terdapat beberapa masalah yang perlu segera diselesaikan, antara  lain:  (1)   Belum  semua  masyarakat  dan  stakeholders  pendidikan  di  daerah memahami  Kepmendiknas  No.   044/U/2002  tentang  Dewan  Pendidikan  dan  Komite Sekolah;  (2)  Belum  semua  daerah  dan  sekolah  melaksanakan  Kepmendiknas  No. 044/U/2002 sebagaimana mestinya; (3) Masih banyak masyarakat yang belum paham tentang Komite Sekolah, dan menganggap Komite Sekolah sama dengan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3);  dan (4) Dampak dari Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah belum banyak berpengaruh terhadap  peningkatan mutu layanan pendidikan dan hasil belajar.	(5) Kepala Sekolah masih belum optimal  bekerjasama dengan Komite Sekolah untuk memberdayakan segala sumber yang ada untuk kepentingan belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui secara mendalam tentang  implementasi  Kepmendiknas  No.  044/U/2002,  terutama  yang  terkait  dengan pemahaman para  stakeholders pendidikan dan masyarakat di daerah dalam memahami Kebijakan Pemerintah tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, serta mengetahui efektivitas	kinerja	Komite	Sekolah	dan	kepemimpinan	Kepala	Sekolah	dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan kepada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; Atau klik &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-8849394176625339853?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/8849394176625339853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/kontribusi-kinerja-komite-sekolah-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8849394176625339853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8849394176625339853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/kontribusi-kinerja-komite-sekolah-dan.html' title='KONTRIBUSI KINERJA KOMITE SEKOLAH DAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN DI SEKOLAH : (PEND-65)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-2149427607752593505</id><published>2011-08-18T07:45:00.000-07:00</published><updated>2011-08-24T05:48:51.272-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP  INVESTIGATION (GI) DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI MATA PELAJARAN EKONOMI PADA SISWA KELAS VII (PEND-63)</title><content type='html'>BAB I	&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.	Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Pendidikan selalu mengalami pembaharuan dalam rangka mencari struktur kurikulum, sistem pendidikan dan metode pengajaran yang efektif dan efisien. Upaya tersebut antara lain peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan mutu para pendidik dan peserta didik serta perubahan dan perbaikan kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu memiliki dan memecahkan problema pendidikan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah sebagai suatu institusi atau lembaga pendidikan idealnya harus mampu melakukan proses edukasi, sosialisasi, dan transformasi. Dengan kata lain, sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu berperan sebagai proses edukasi (proses pendidikan yang menekankan pada kegiatan mendidik dan mengajar), proses sosialisasi (proses bermasyarakat terutama bagi anak didik), dan wadah proses transformasi (proses perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik/ lebih maju).					&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMP Negeri 16 Surakarta merupakan salah satu sekolah negeri yang mempunyai input atau masukan siswa yang memiliki prestasi belajar yang bervariasi. Karena prestasi belajar yang bervariasi inilah maka peran serta dan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar beraneka ragam. Pada tahun pelajaran 2005/2006 batas terendah Nilai Ebtanas Murni (NEM) masuk SMP Negeri 16 Surakarta adalah 32,00. Batas tuntas nilai IPS SMP Negeri 16 Surakarta untuk tahun pelajaran 2005/2006 adalah 6,00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah proses belajar mengajar pada umumnya terjadi di kelas, kelas dalam hal ini dapat berarti segala kegiatan yang dilakukan guru dan anak didiknya di suatu ruangan dalam melaksanakan KBM. Kelas dalam arti luas mencakup interaksi guru dan siswa, teknik dan strategi belajar mengajar, dan implementasi kurikulum serta evaluasinya. (Kasihani Kasbolah E.S, 2001 hal: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembelajaran melalui interaksi guru dan siswa, siswa dan siswa, dan siswa dengan guru, secara tidak langsung menyangkut berbagai komponen lain yang saling terkait menjadi satu sistem yang utuh. Perolehan hasil belajar sangat ditentukan oleh baik tidaknya kegiatan dan pembelajaran selama program pendidikan dilaksanankan di kelas yang pada kenyataannya tidak pernah lepas dari masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hasil pengamatan yang dilakukan peneliti melalui observasi kelas dan wawancara dengan guru mata pelajaran ekonomi kelas VII(E) semester genap di SMP Negeri 16 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006 menunjukkan bahwa pencapaian kompetensi mata pelajaran ekonomi siswa kurang optimal. Asumsi dasar yang menyebabkan pencapaian kompetensi mata pelajaran ekonomi siswa kurang optimal adalah pemilihan metode pembelajaran dan kurangnya peran serta (keaktifan) siswa dalam KBM. Pada tahun ajaran 2005/2006 SMP Negeri 16 Surakarta sudah mempergunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi, namun pelaksanaannya belum optimal. Metode mengajar guru masih secara konvensional. Proses belajar mengajar ekonomi masih terfokus pada guru dan kurang terfokus pada siswa. Hal ini mengakibatkan kegiatan belajar mengajar (KBM) lebih menekankan pada pengajaran daripada pembelajaran. Metode pembelajaran yang digunakan lebih didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja. Peran serta siswa belum menyeluruh sehingga menyebabkan diskriminasi dalam kegiatan pembelajaran. Siswa yang aktif dalam KBM cenderung lebih aktif dalam bertanya dan menggali informasi dari guru maupun sumber belajar yang lain sehingga cenderung memiliki pencapaian kompetensi belajar yang lebih tinggi. Siswa yang kurang aktif cenderung pasif dalam KBM, mereka hanya menerima pengetahuan yang datang padanya sehingga memiliki pencapaian kompetensi yang lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pertimbangan di atas, maka perlu dikembangkan suatu metode pembelajaran yang mampu melibatkan peran serta siswa secara menyeluruh sehingga kegiatan belajar mengajar tidak hanya didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja. Selain itu, melalui pemilihan metode pembelajaran tersebut diharapkan sumber informasi yang diterima siswa tidak hanya dari guru melainkan juga dapat meningkatkan peran serta dan keaktifan siswa dalam mempelajari dan menelaah ilmu yang ada terutama mata pelajaran ekonomi.&lt;br /&gt;Salah satu metode pembelajaran yang melibatkan peran serta siswa adalah metode pembelajaran kooperatif. Dalam metode pembelajaran kooperatif lebih menitikberatkan pada proses belajar pada kelompok dan bukan mengerjakan sesuatu bersama kelompok. Proses belajar dalam kelompok akan membantu siswa menemukan dan membangun sendiri pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang tidak dapat ditemui pada metode konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para siswa dalam kelompok kooperatif belajar bersama-sama dan memastikan bahwa setiap anggota kelompok telah benar-benar menguasai konsep yang telah dipelajari, karena keberhasilan mereka sebagai kelompok bergantung dari pemahaman masing-masing anggota. Ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dari penggunaan metode pembelajaran kooperatif ini, yaitu: siswa dapat mencapai prestasi belajar yang bagus, menerima pelajaran dengan senang hati atau sebagai hiburan, karena adanya kontak fisik antara mereka, serta dapat mengembangkan kemampuan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pembelajaran kooperatif peserta didik akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan temannya. Agar pembelajaran kooperatif dapat terlaksana dengan baik, peserta didik harus bekerja dengan lembar kerja yang berisi pertanyaan dan tugas yang telah direncanakan. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan guru dan saling membantu sesama teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini peneliti mencoba mengkaji penerapan metode pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dalam proses pembalajaran. Group Investigation adalah metode pembelajaran yang melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode pembelajaran ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan dalam suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat dari investigasi kelompok adalah perencanaan kooperatif murid dalam melakukan penyelidikan terhadap topik yang telah diidentifikasikan. Anggota kelompok mengambil peran dalam menentukan apa yang akan mereka selidiki, siapa yang akan mengerjakan dan bagaimana mereka mempresentasikan hasil secara keseluruhan di depan kelas. Kelompok pada pembelajaran berbasis investigasi kelompok ini merupakan kelompok yang heterogen baik dari jenis kelamin maupun kemampuannya. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang. Di dalam kelompok tersebut, setiap siswa dalam kelompok mengejakan apa yang telah menjadi tugasnya dalam lembar kerja kegiatan secara mandiri yang telah disiapkan dan teman sekelompoknya bertanggungjawab untuk saling memberi kontribusi, saling tukar-menukar dan mengumpulkan ide. Setelah itu anggota kelompok merencanakan apa yang akan dilaporkan dan bagaimana membuat presentasinya. Langkah terakhir dalam kegiatan ini, salah satu anggota kelompok mengkoordinasikan rencana yang akan dipresentasikan di depan kelompok yang lebih besar.&lt;br /&gt;Teknik presentasi dilakukan di depan kelas dengan berbagai macam bentuk presentasi, sedangkan kelompok yang lain menunggu giliran untuk mempresentasikan, mengevaluasi dan memberi tanggapan dari topik yang tengah dipresentasikan. Peran guru dalam GI adalah sebagai sumber dan fasilitator. Di samping itu guru juga memperhatikan dan memeriksa setiap kelompok bahwa mereka mampu mengatur pekerjaannya dan membantu setiap permasalahan yang dihadapi di dalam interaksi kelompok tersebut. Pada akhir kegiatan, guru menyimpulkan dari masing-masing kegiatan kelompok dalam bentuk rangkuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dirumuskan judul penelitian sebagai berikut: “PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI) DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI MATA PELAJARAN EKONOMI PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 16 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2005/2006.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; Atau klik &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-2149427607752593505?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/2149427607752593505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/penerapan-metode-pembelajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2149427607752593505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2149427607752593505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/penerapan-metode-pembelajaran.html' title='PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP  INVESTIGATION (GI) DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI MATA PELAJARAN EKONOMI PADA SISWA KELAS VII (PEND-63)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-3822211684186646153</id><published>2011-08-18T07:33:00.000-07:00</published><updated>2011-08-18T08:10:35.677-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>RESPONS MAHASISWA TERHADAP KEGIATAN  TUTORIAL PAI  DAN PENGHAYATANNYA TERHADAP NILAI-NILAI AGAMA ISLAM (Studi Kasus di Universitas ...(PEND-64)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan  di  seluruh  dunia  kini  sedang  mengkaji  kembali  perlunya pendidikan nilai moral, atau pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter. Menurut  Zuriah   (2007).   Hal  ini  bukan  hanya  dirasakan  oleh  bangsa  dan masyarakat Indonesia, tetapi juga oleh Negara-negara maju. Bahkan di Negara- negara	Industri 	dimana 	ikatan	nilai 	moral 	menjadi 	semakin 	longgar, masyarakatnya mulai merasakan  perlunya  revival pendidikan nilai yang pada akhir-akhir ini mulai ditelantarkan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan di Indosesia memiliki tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia yang berbudi luhur dan religius, yaitu:&lt;br /&gt;Pendidikan 	Nasional 	berdasarkan 	Pancasila 	bertujuan 	untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan  bertaqwa  kepada  Tuhan  Yang  Maha  Esa,  berakhlak  mulia,  sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UUSPN, No. 20 th 2003 Bab II pasal 3:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut maka tidak terlepas dari peran   agama  sebagai  salah  satu  sumber  nilai.  Nilai  dapat  dikembangkan sekurang-kurangnya  dari  dua  sumber  utama,  yaitu  kebaikan-kebaikan  yang terkandung  dalam  pandangan   hidup  bangsa   dan   kebaikan-kebaikan   yang terkandung dalam kitab suci yang menjadi rujukan keyakinan bangsa (Mulyana,&lt;br /&gt;2004:  156).  Itulah  sebabnya  dalam  konteks  pendidikan  nasional  diperlukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adanya dua sisi muatan kurikulum yang dapat mewariskan nilai-nilai baik yang terdapat   dalam  filsafat  dan  ideologi  bangsa  dan  nilai-nilai  kebaikan  yang merujuk pada agama yang dianut oleh bangsa kita. Dalam kurikulum pendidikan formal di tingkat perguruan tinggi hal ini ada pada kelompok Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) atau Mata Kuliah Umum (MKU), yaitu pada kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  SK  Mendiknas  No.  232/U/2002  dan  045/U/2002  bahwa kelompok Mata Kuliah Umum (MKU) dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: (1) Kelompok Mata  Kuliah  Pengembangan Kepribadian (MPK) yang terdiri atas Agama,	Pancasila,	dan	Kewarganegaraan. 	(2) 	Kelompok 	Mata 	Kuliah Berkehidupan  Bermasyarakat  (MBB),  yang  terdiri  atas  Ilmu  Sosial  Budaya Dasar (ISBD) dan Ilmu Alamiah Dasar (IAD).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksudkan  dengan  Mata  Kuliah Umum adalah sebagai sebuah sebutan untuk koordinasi mata kuliah-mata kuliah yang diberikan secara umum untuk  seluruh   mahasiswa  dari  semua  fakultas,  semua  jurusan,  dan  semua program  studi.  Mata   Kuliah   Umum  mengkoordinasikan  mata  kuliah  yang termasuk  bidang  Pendidikan   Umum,  yaitu  mata  kuliah  yang  tidak  hanya menekankan  pada  aspek  kognitif  dan  keterampilan  semata,  melainkan  lebih menekankan pada aspek konatif, bobot moral,  mental, nilai, serta makna yang menjadi  karakter dasar  kemanusiaan  dengan  menggunakan  pendekatan  multi aspek, multidimensional, multi disipliner atau interdisipliner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan   umum   diberikan   kepada   peserta   didik   -dalam   hal   ini mahasiswa-  dengan  harapan  akan  melahirkan  siswa-siswa  yang  memahami nilai-nilai  hidup.  Hal  ini  senada  dengan  tujuan 	Pendidikan  Umum 	yang diungkapkan oleh Sikun Pribadi (1971), yaitu:&lt;br /&gt;1. 	Membiasakan siswa berfikir objektif, kritis, dan terbuka.&lt;br /&gt;2. 	Memberikan  pandangan  tentang  berbagai  jenis  nilai  hidup,  seperti kebenaran, keindahan, kebaikan.&lt;br /&gt;3. 	Menjadi manusia yang sadar akan dirinya, sebagai warga negara.&lt;br /&gt;4. 	Mampu 	menghadapi 	tugasnya, 	bukan 	saja 	menguasai 	bidang profesinya,  tetapi  mampu  mengadakan  bimbingan  dan  hubungan sosial yang baik dalam lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian 	Pendidikan 	Umum 	Menurut 		Menteri 	Pendidikan 	dan Kebudayaan (1975) adalah Pendidikan yang harus atau wajib diikuti oleh semua siswa tanpa  melihat jurusan atau spesialisanya. 	Pendidikan umum bukanlah program  atau  mata  pelajaran  khusus  atau  pilihan  yang  dapat  dipilih  sesuai dengan minat, bakat, dan  kemampuan masing-masing. Dilihat dari fungsinya, pendidikan  umum  berfungsi  bagi  pembinaan  warga  negara  yang  baik.  Jadi fungsi  Pendidikan  umum  bukan  dipusatkan   pada  peningkatan  kemampuan intelektual (kemampuan akademis) atau keahlian  (keterampilan) tertentu saja, melainkan lebih ditujukan pada pembinaan kepribadian warga negara yang baik (Maftuh dalam  Mulyana, 1999: 118).&lt;br /&gt;Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai Mata Kuliah Umum memiliki visi  sebagai sumber nilai dan pedoman yang mengantarkan mahasiswa dalam pengembangan   profesi  dan  kepribadian  Islami.  Sedangkan  misinya  adalah terbinanya mahasiswa yang beriman dan bertaqwa, berilmu dan berakhlak mulia serta menjadikan ajaran Islam sebagai landasan berfikir dan berperilaku dalam pengembangan profesi (Modul Acuan MPK, 2003: 8-9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  demikian,  Pendidikan  Agama  Islam  secara  jelas  mengemban misi   pewaris  dan  penyadaran  nilai,  maka  mata  kuliah  tersebut  memiliki karakteristik  yang  berbeda dari  mata  kuliah  lainnya.  Nilai,  moral,  dan  etika adalah esensi yang terdapat di dalamnya dan itu semua harus menjadi komitmen dari setiap tindakan pendidikan yang dilakukan dalam pembelajaran mata kuliah itu. Karena itu akan menjadi hal ironis apabila  dalam perkuliahan PAI tidak berkembang pendekatan belajar yang secara khusus  memfasilitasi anak untuk belajar menimbang dan memilih nilai secara kritis dan kreatif, walaupun dalam mata  kuliah  PAI  ini  keputusan  akhirnya  ada  pada  otoritas  kebaikan   dan kebenaran wahyu. Persoalan yang dihadapi saat ini, mata Kuliah PAI masih sering  tergoda  oleh  kebiasaan  umum  pengajaran  yang  menempatkan  peserta didik sebagai peserta pasif dan pengembangan belajar yang berorientasi kognitif.&lt;br /&gt;Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) sangat memegang peranan penting dalam menanamkan nilai-nilai keimanan kepada mahasiswa. Terutama dalam  situasi  seperti  sekarang  ini  pergeseran  nilai  sebagai  akibat  dari  arus perkembangan  teknologi  informasi  telah  meluluhlantahkan  nilai  moral  dan keagamaan yang selama ini dipegang   teguh oleh masyarakat. Fenomena yang terjadi   ialah   hilangnya   rasa   malu   di   kalangan	generasi   muda   dengan memamerkan aurat, bertutur bahasa yang tidak santun, hubungan sek di luar pernikahan, bahkan menurut Notoatmodjo (2007) bahwa di Indonesia satu dari lima anak pertama yang dilahirkan oleh wanita menikah pada usia 20-24 tahun merupakan  anak hasil hubungan seksual sebelum menikah, dan meningkatnya angka aborsi di kalangan generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Degradasi  akhlak  ini  dikhawatirkan  akan  berdampak 	terhadap  masa depan   bangsa.   Untuk   itulah   peranan   pendidikan   sangat   penting   dalam membimbing   peserta  didik  menuju  pribadi  yang  berakhlak  mulia  dengan didasari nilai-nilai keimanan dan ketakwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 	umumnya 	pembinaan 	nilai-nilai 	keimandan 	ketakwaan 	di lingkungan  pendidikan   formal  cenderung  diserahkan   kepada  mata  kuliah Pendidikan Agama Islam. Dalam kurikulum Perguruan Tinggi mata kuliah PAI berbobot 2 sks. Waktu 2 SKS tidaklah cukup untuk dapat merealisasikan cita- cita mulya PAI sebagai pendidikan  umum dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan  nasional,  demikian  pula  kompilasi   skenario  pembelajaran  nilai agama yang dapat dijadikan rujukan dosen masih sulit ditemukan.&lt;br /&gt;Sejatinya   Pendidikan Agama Islam dimaknai sebagai pendidikan yang menyampaikan	bahasan-bahasan 	yang 	berkaitan 	dengan 	keimanan 	dan ketaqwaan serta akhlak dan ibadah kepada kepada Allah. Hal ini berarti bahwa yang   disampaikan   dalam  Pendidikan  Agama   Islam  di  Perguruan   Tinggi seharusnya adalah Pendidikan  nilai-nilai agama Islam.&lt;br /&gt;Maka untuk turut membantu mengatasi persoalan tersebut di Universitas Pendidikan Indonesia, mata kuliah PAI ditunjang dengan kegiatan tutorial PAI, yaitu  sebuah  bentuk  aktivitas  akademik  di  luar  jam  perkuliahan  PAI  tetapi merupakan  bagian  integral  yang  tak terpisahkan  dari  mata  kuliah  PAI  yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa yang mengontrak Mata kuliah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelulusan  dalam  mengikuti  kegiatan  tutorial  PAI  menjadi  salah  satu syarat  dalam  kelulusan  mata  kuliah  PAI.  Dalam  pelaksanaannya 	kegiatan tutorial PAI dikelola oleh suatu kepengurusan kegiatan tutorial PAI yang disebut dengan Program Tutorial (PT) dibawah tanggung jawab dosen PAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan   tutorial   PAI   ini   sudah   berlangsung   sejak   lama   sebagai perwujudan  dari  harapan  para  orang  tua  yang  mengharapkan  putra-putrinya menjadi  mahasiswa yang tidak hanya cerdas dari sisi intelektual tapi juga dari sisi spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan 	Pedoman 	Penyelenggaraan 	Kegiatan 	tutorial 	PAI Universitas Pendidikan Indonesia Bab II Pasal 2 ayat 1 (2007) Kegiatan tutorial PAI  merupakan kegiatan akademik bagian yang tidak terpisahkan dari Kegiatan Belajar Mengajar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI). Hal ini berarti bahwa  mahasiswa  yang  mengontak  mata  kuliah  PAI  wajib  pula 	mengikuti kegiatan tutorial PAI selama satu semester.&lt;br /&gt;Peneliti   menemukan   ada   fenomena   yang   berbeda   di   Universitas Pendidikan Indonesia, sebagai Perguruan Tinggi yang mempunyai motto ilmiah, edukatif, dan religius,  sangat kental dengan nilai religi. Dari pengamatan ini muncul pertanyaan di benak peneliti “ada apa di UPI”. Akhirnya fokus perhatian terarah kepada kegiatan tutorial PAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti sangat kagum dengan kegiatan tutorial PAI yang dilaksanakan di Universitas	Pendidikan 	Indonesia, 	karena 	berdasarkan 	pengamatan 	dan observasi partisipan di lapangan kegiatan yang dikelola oleh Program Tutorial (PT)   mampu   melibatkan   mahasiswa   dalam   jumlah   banyak   dan   mampu mengelolanya dengan teratur. Keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan tersebut diharapkan  dapat  memenuhi  kebutuhan  rohani  yang  selama  ini  dicari  oleh mereka dan dapat menjalankan  salah satu kewajiban sebagai seorang muslim, yaitu menuntut ilmu.&lt;br /&gt;Dalam  kegiatan  tutorial  PAI  memungkinkan  mahasiswa  untuk  dapat menjalankan kewajiban tersebut. Kehandiran dan keikutsertaan mereka karena sebagai   sebuah  kewajiban  secara  akademis  dan  teologis.  Secara  akademis artinya karena merupakan kewajiban sebagai mahasiswa yang mengontrak mata kuliah PAI, dan secara  teologis maksudnya karena berdasarkan ajaran agama Islam menuntut dan mendalami ilmu agama adalah kewajiban setiap muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh mahasiswa yang mengontrak mata kuliah PAI, wajib mengikuti kegiatan  tutorial  PAI.  Tentunya  keikutsertaan  mereka  berlandaskan  kepada landasan	akademis  dan  teologis,  Namun  dalam  hal  ini  kiranya  tidak  bisa disalahkan  jika  beberapa  diantara  mereka  masih  memiliki  anggapan  bahwa kegiatan  dalam  Program  Tutorial  (PT)  itu  merupakan  kewajiban  akademis, artinya mereka belum memiliki kesadaran  terhadap kewajiban religius. Untuk menyikapi  anggapan  tersebut  maka  dibutuhkan  sebuah  pembinaan  terhadap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penyadaran  akan  kewajiban  religius.  Dalam  hal  ini  dibutuhkan  proses  yang berkelanjutan.&lt;br /&gt;Peneliti   menganggap   perlu   untuk   mengetahui   bagaimana   respons mahasiswa  terhadap kegiatan tutorial PAI dan penghayatannya terhadap nilai- nilai agama Islam  ketika  mereka mengikuti kegiatan tersebut. Oleh karena itu peneliti   bermaksud	mengungkap 	motivasi   keikutsertaan   peserta   tutorial, bagaimana  keseriusannya dalam mengikuti semua bentuk kegiatan di tutorial, bagaimana   frekuwensi   kehadiran,   dan   bagaimana   tanggapannya   terhadap kegiatan tutorial PAI.&lt;br /&gt;Melalui kegiatan tutorial PAI diharapkan tujuan mata kuliah Pendidikan Agama  Islam  dapat  terwujud.  Dan  diharapkan  hasilnya  nampak  pada  diri mahasiswa  berupa  adanya  perubahan  sikap,  mampu  menerapkannya  dalam kehidupan  sehari-hari  baik  di  lingkungan  kampus,  maupun  di  luar  kampus. Kegiatan  tutorial  PAI  yang  diikuti  bukan  hanya  sekedar  diwajibkan  tetapi memang disadari dengan sepenuhnya bahwa kegiatan  tersebut diperlukan dan penting dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk mencerdaskan spiritual.&lt;br /&gt;Penghayatan terhadap kegiatan tersebut membuahkan hasil yang sangat mulya,	melahirkan 	mahasiswa 	yang 	memiliki 	akhlak 	karimah, 	mampu menginternalisasikan nilai-nilai yang sudah diperoleh melalui kegiatan tutorial PAI dan  mampu menerapkannya di lingkungan kampus; di dalam dan di luar perkuliahan baik kepada teman, dosen, karyawan, dan di lingkungan yang lebih luas yaitu masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok  yang  ingin  dilahirkan  melalui  kegiatan  tutorial  PAI  sebagai penunjang mata kuliah PAI adalah sosok lulusan yang bertaqwa, menjadi warga negara yang sadar, dan berdisiplin, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.&lt;br /&gt;Salah satu bentuk penghayatan terhadap nilai-nilai agama Islam melalui kegiatan  tutorial PAI adalah adanya perubahan sikap dan perilaku. Gejalanya memang  terlihat,   sejak  mahasiswa  mengikuti  kegiatan  tutorial  PAI  maka semakin banyak mahasiswa yang tersadarkan terhadap nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan berupa kewajiban-kewajiban  agama yang harus dilaksanakan oleh mereka  sebagai  muslim,  misalnya  mahasiswa  putri  (akhwat)  semakin  hari- semakin  banyak   yang   mengenakan   jilbab,   beberapa   mahasiswa   tergugah semangatnya	untuk 	mengikuti 	kajian-kajian	keIslaman, 	dan 	tumbuhnya kesadaran untuk mempelajari Islam secara lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  studi  penjajakan  yang  dilaksanakan  pada  29  April  2008 (Aeni,	2008) 	menampakkan 	adanya 	penerapakan 	nilai-nilai 	baik 	pada mahasiswa   berupa   munculnya   kesadaran   untuk   melaksanakan   kewajiban- kewajiban agama yang harus dilaksanakan oleh mereka sebagai seorang muslim (70%), misalnya untuk  mahasiswa putri (akhwat) mengenakan jilbab ((80%), beberapa  mahasiswa  tergugah   semangatnya  untuk  mengikuti  kajian-kajian keIslaman (72,23%), dan tumbuhnya kesadaran untuk mempelajari Islam secara lebih mendalam (87,87%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi tersebut dilakukan terhadap responsden para alumni peserta tutorial&lt;br /&gt;(mahasiswa yang telah lulus kegiatan tutorial PAI), pengurus tutorial, tutor dan&lt;br /&gt;dosen UPI. Menurut para dosen mahasiswa yang telah dan sedang mengikuti kegiatan tutorial PAI nampak lebih sopan (60%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan   data-data   tersebut   peneliti   tergugah   untuk   melakukan penelitian  lebih  lanjut  tentang  kegiatan  tutorial  PAI  dengan  judul:  Respons Mahasiswa	Terhadap	Kegiatan 	Tutorial 	PAI 	dan 	Penghayatannya Terhadap Nilai-nilai Agama Islam (Studi Kasus di Universitas Pendidikan Indonesia)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; Atau klik &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;&lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-3822211684186646153?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/3822211684186646153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/respons-mahasiswa-terhadap-kegiatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/3822211684186646153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/3822211684186646153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/respons-mahasiswa-terhadap-kegiatan.html' title='RESPONS MAHASISWA TERHADAP KEGIATAN  TUTORIAL PAI  DAN PENGHAYATANNYA TERHADAP NILAI-NILAI AGAMA ISLAM (Studi Kasus di Universitas ...(PEND-64)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-5087245206904925000</id><published>2011-07-19T16:58:00.000-07:00</published><updated>2011-08-22T13:37:28.876-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Usaha Orang Tua Dalam Pembinaan Pendidikan Agama Anaknya Pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kecamatan Amuntai Selatan Kab Hulu Sungai (P-86)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul&lt;br /&gt;Dalam rangka membangun negara kita ini, maka sangat  diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas baik dalam penguasaan ilmu pengetahuan maupun teknologi. Terlebih lagi dalam pemilikan kepribadian yang dilandasi iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk mencapai hal ini adalah dengan melalui proses pendidikan.&lt;br /&gt;Untuk mencapai cita-cita  tersebut dilaksanakan satu sistem pendidikan Nasional yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 tentang pendidikan nasional yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa ,bertyujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa,berakhlak mulia ,sehat ,berilmu ,cakap kreatif,mandiri dan menjadi warga negara yang demograsi serta bertanggung jawab1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membentuk manusia yang berkualitas sebagaimana tujuan diatas, bukanlah hal yang mudah tetapi harus diusahakan dengan kerja keras dan pengorbanan yang tidak sedikit. Salah satu cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut adalah lewat jalur pendidikan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan itu merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, pemerintah dan masyarakat. Atas dasar inilah maka pendidikan di negara kita  dibedakan kepada dua jalur, yaitu jalur sekolah dan jalur luar sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua merupakan pendidik pertama  dan utama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak-anak mulai menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam keluarga. Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama seorang anak menerima pendidikan adalah dalam keluarga, maka baik tidaknya situasi dalam keluarga akan sangat berpengaruh bagi setiap pribadi anak, kepada orang tua diberikan amanah untuk memelihara dan mendidiknya. Firman Allah dalam Surah At-Thahrim ayat 6 :&lt;br /&gt;يَا أيـُّهَـا الّــذِ يـْـنَ أ مَـنـُوْا قـُوآ اَ نـْــفـُـسَــكـُـمْ وَا َهْـلِــيْـكـُـمْ نـَـارًا وَقـُـوْدُهـَا الــنـَّـا سُ   وَالـْحِـجـَـــا رَة ُ عـَلـَيـْــهَا مَـلـَــئِــكـَـــة ٌغِـــــلا ظ ٌ شِــــــدَا د لآ يـَعـْـصُـــوْ نَ ا للـّــــهَ مـَـــــآ أمَـــرَهـُـــمْ وَيـَــفـْـعـَـلـُـــوْن َمـَــــا يـُــؤ مـَــــــرُوْنَ  ( أ لـتـحـريـــم :2 )      &lt;br /&gt;Kemudian sabda Nabi SAW :&lt;br /&gt;عـن أبى هــــريــرة أ نـــه كـــان يــــقــول قـال : رســــول ا للـــه صـــلى ا للــه عـلـيــه وســلــم : مَــا مِـنْ مَـوْ لُـوْدٍ إلاّ يـُوْ لـَـدُ عَـلىا لـفِــطْــرَةِ فـَـأبَـوَاهُ يـُهَـــِوّدَا نِــهِ وَيُــــنَـصِّــــرَا نِـــــهِ وَيُــمَــجِّــسَـــــا نِـــــهِ   ( رواه  مـســـلــم (  2&lt;br /&gt;Dari kutipan ayat dan hadits datas dapatlah kita ketahui bahwa betapa tegasnya ajaran Islam yang menyangkut tanggung jawab orang tua dalam melaksanakan pendidikan agama kepada anak-anaknya, dan juga orang tualah yang menjadi penentu apakah anaknya nanti menjadi orang Islam atau tidak tergantung pada pendidikan orang tua dalam keluarga. Karena itulah orang tua harus dapat menciptakan suasana dan kesan yang terbaik sehingga menjadi panutan bagi anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan agama harus secara dini diberikan kepada anak-anak, karena dengan pendidikan  agama itulah nanti akan menjadikan anak mempunyai pedoman dan pandangan serta arahan bagi anak-anaknya untuk masa depan mereka. Juga tidak diragukan lagi bahwa tanggung jawab pendidikan secara mendasar terpikul kepada orang tua, apakah itu diakuinya secara sadar atau tidak, diterimanya dengan sepenuh hati atau tidak, hal itu adalah merupakan “fitrah” yang telah dikodratkan Allah kepada  orang tua. Mereka tidak bisa mengelakan tanggung jawab itu, karena menjadi amanat Allah SWT yang dibebankan kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Arifin mengemukakan bahwa pendidikan itu hakekatnya adalah “Ikhtiar manusia untuk membantu dan mengarahkan fitrah manusia supaya berkembang sampai titik maksimal yang dapat dicapai sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan”3&lt;br /&gt;Karena itulah perlunya pada masa dini anak-anak betul-betul dibiasakan dan dilatih serta dibimbing secara mantap. Lain halnya dengan orang  tua  yang berpandangan sempit, dan menanggap pergi ke sekolah hanya pekerjaan yang ringan, tidak perlu banting tulang dan peras keringat. Sehingga bila  anak pulang sekolah terus diajak bekerja. Bahkan tidak jarang anak-anak  kecil tersebut disuruh membolos dari sekolah, demi membantu orang tuanya di sawah. Biasanya ini terjadi pada musim tanam atau musim panen padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dari persoalan di atas dan  berdasarkan penjajakan pertama serta mengalaman secara umum, menunjukkan bahwa usaha orang tua terhadap pembinaan agama kepada anaknya pada Sekolah Mengangah pertama Negeri 2 Kecamatan Amuntai Selatan Kabupaten Hulu Sungai Utara ini masih belum terlaksana dengan baik, hal ini dapat dilihat dari aspek ibadah, baik shalat, puasa, membaca Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah penulis merasa tertarik dan ingin mengetahui lebih jauh hal tersebut, sehingga disusunlah menjadi sebuah skripsi dengan judul “USAHA ORANG TUA DALAM PEMBINAAN PENDIDIKAN AGAMA ANAK PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 2 KECAMATAN AMUNTAI SELATAN KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/08/download-contoh-tesis-pendidikan-dan.html"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-5087245206904925000?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/5087245206904925000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/07/usaha-orang-tua-dalam-pembinaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/5087245206904925000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/5087245206904925000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/07/usaha-orang-tua-dalam-pembinaan.html' title='Usaha Orang Tua Dalam Pembinaan Pendidikan Agama Anaknya Pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kecamatan Amuntai Selatan Kab Hulu Sungai (P-86)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-4780942947202356182</id><published>2011-07-19T16:55:00.000-07:00</published><updated>2011-07-19T16:57:54.229-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Novela Kusamnya Langit Dini Hari Karya Mayon Soetrisno Dan Realitas Sosial Dalam Tinjauan Gender (P-85)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  kehidupan   sehari-hari,   manusia   tidak   pernah   lepas   dari fenomena-fenomena sosial. Fenomena-fenomena sosial itu banyak macamnya, mulai dari masalah politik, kriminalitas, gender, hukum, kemiskinan, dan lain sebagainya.  Dalam  kehidupan  sehari-hari  manusia,  fenomena  sosial  yang terkait  dengan  masalah  gender  sangat  kompleks  dan  banyak  macamnya. Terutama  bagi  kaum  perempuan  yang  lebih  sering  menjadi  objek  dalam permasalahan gender.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok perempuan sering kali dianggap sebagai the other sex atau the second sex yang mana keberadaannya sering kali tidak diperhitungkan. Posisi kaum perempuan dalam  keluarga dan masyarakat tidak lebih hanya sebagai konco  wingking-nya  laki-laki,  artinya,   tugas  sosialnya  hanyalah  sekadar pelayan  bagi  seorang  suami,  seorang  istri  hanya  bertugas  menghidangkan makanan bagi sang suami, mengandung dan melahirkan anaknya, dan bahkan tidak jarang istri tidak mengetahui banyak hal tentang suaminya. Perempuan juga  hanya  ibu  bagi  anak-anaknya,  tugasnya  melahirkan,  menyusui  dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan materi anak, tanpa ada bekal pengetahuan sedikitpun tentang pengasuhan dan pendidikan anak.&lt;br /&gt;Perempuan  sering  kali  berada  dalam  kondisi  yang  terpuruk  dan mengenaskan.   Banyak  kaum  perempuan  yang  tidak  pernah  merasakanpendidikan formal. Pendidikan nonformal dari pihak keluarga dan lingkungan hanya  sekadar pembekalan untuk mengatur urusan dapur dan rumah tangga saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi sosial bagi kaum perempuan dengan masyarakat luas hampir menjadi  suatu  hal  yang  mustahil,  karena  perempuan  terpenjara  di  antara dinding-dinding rumah.  Keadaan yang ironis tersebut memasung kebebasan kaum perempuan, baik kebebasan  berkehendak, berpikir dan berbuat yang semestinya menjadi hak asasi setiap insan. Perempuan terkekang dan tunduk di bawah kekuasaan kaum laki-laki.&lt;br /&gt;Melalui  konstruksi  sosial  dan  budaya  dalam  masyarakat,  kaum perempuan  menjadi semakin tertindas. Adanya konstruksi sosial dan budaya tersebut, muncul adanya pembagian peran dalam masyarakat antara laki-laki dan perempuan. Adanya perbedaan  peranan tersebut sering kali membawa masalah terutama bagi kaum perempuan..  Perbedaan  peran itu tampak pada tugas-tugas   harian   antara   laki-laki   dan   perempuan   yang   tampak   pada pemilahan akan tugas kerumahtanggaan (mencuci, memasak dan  melayani suami)  untuk  perempuan,  dan  pencarian  nafkah  untuk  laki-laki.  Sehingga gender menjadi bias. Masalah gender telah mengalami bias yang sulit untuk dipecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya perbedaan  gender  tidak  menjadi  masalah  selama  tidak memunculkan ketidakadilan gender. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu  perbedaan gender telah membawa pada bentuk ketidakadilan gender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena  itulah  gender  dipermasalahkan  sehingga  membawa  akibat  pada diskriminasi dan ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kasus-kasus yang muncul dalam masyarakat terkait dengan permasalahan gender. Pelecehan seksual, beban kerja ganda, pemerkosaan, kekerasaan fisik maupun sikologis atau kejiwaan dan lain sebagainya. Dalam hal pendidikan misalnya,  perempuan pernah mengalami pendiskriminasian, terutama  pada  masa  pemerintah   kolonial   Belanda.  Perempuan  dianggap sebagai  sosok  yang  tidak  pantas  untuk   mendapat  pendidikan  untuk  itu pendidikan perempuan diabaikan. Dalam masalah hukum perempuan seringkali  mendapat  pendiskriminasian  pula.   Banyak  sekali  kasus-kasus Kekerasan  Dalam  Rumah  Tangga  (KDRT)  yang  korbannya   kebanyakan adalah perempuan, tidak mendapat penanganan dari hukum. Dalam bidang ekonomi, perempuan juga sering mendapat pendiskriminasian seperti tidak diperhitungkannya kerja domestik perempuan dalam statistik perekonomian negara. Dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena-fenomena yang ada di dalam masyarakat tidak semata-mata muncul  dalam kehidupan nyata manusia. Namun dalam hal lainpun ternyata fenomena-fenomena sosial itu juga nampak, seperti dalam sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena  sosial  dalam  masyarakat  yang  terkait  dengan  masalah gender, banyak sekali muncul dalam dunia sastra. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan  banyaknya   karya  sastra  yang  tokohnya  adalah  perempuan  yang ditindas oleh laki-laki. Misalnya tampak antara lain pada novel Gadis Pantaikarya Pramudya Ananta Toer, Pengakuan Pariyem karya Linus Suriadi A.G., dan dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.&lt;br /&gt;Dalam novel-novel tersebut tergambar posisi perempuan  yang subordinat. Perempuan selalu bergantung pada apa kata laki-laki sekalipun banyak hal  dari  perkataan dan tindakan laki-laki tidak sesuai dengan kata hatinya.  Kata-kata   laki-laki   seolah  tak  terbantahkan.  Perempuan harus bersikap pasrah dan nrimo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk misalnya, digambarkan seorang ronggeng yang secara terang-terangan menjadi korban kekuasaan laki-laki dan budaya masyarakat. Di dalamnya menceritakan mengenai kehidupan seorang ronggeng bernama Srintil. Sebagai  ronggeng, Srintil kerap kali mengalami tindak  asusila  dari  para  laki-laki  yang  menginginkan  menari  bersamanya. Untuk menjadi seorang ronggeng, Srintil dipaksa  menjual keperawanannya. Tatkala Srintil menginginkan berhenti dari melayani lak-laki yang menghendaki dirinya, Srintil harus terlebih dahulu menerima  cemooh dari pengasuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya masyarakat di mana Srintil tinggal, telah menetapkan bahwa sarat sah seorang ronggeng adalah harus menyerahkan keperawanan meskipun tanpa kerelaan dari pemilik. Seorang ronggeng harus bersedia melayani laki- laki  yang  menginginkan  dirinya.  Sebagai  perempuan,  Srintil  seolah-olah pantas menjadi objek nafsu laki-laki. Konstruksi  sosial budaya masyarakat telah  menjadikan  Srintil  sebagai  perempuan  teraniaya  dan  terpinggirkan. Bahkan  dirinya  tidak  pernah  merasakan  kehidupan  manis  seperti  yangdiinginkannya,  yaitu  hidup  sebagai  istri  dengan  memiliki  suami  yang menyayangi dan seorang anak yang dicintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali  sastra  Indonesia,  khususnya  dalam  novel  atau  yang sejenisnya (baca: novela) yang menceritakan mengenai permasalahan gender. Diungkapkan   oleh   Lilis,   bahwa   tema-tema   seputar   rumah   tangga   dan persoalan-persoalan yang mengiringinya seperti cinta, perselingkuhan, penganiayaan,  pemerkosaan  dan   sejenisnya,  banyak  dialami  oleh  kaum perempuan (Lilis, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema-tema seputar kehidupan rumah tangga, cinta, kekerasan, penganiayaan, dan pemerkosaan memang bukan hal yang aneh. Di dalam dunia   telenovela  dan  sinetron,  tema-tema  seperti  itu  kerap  ditemukan. Biasanya tema-tema  tersebut disajikan dengan konflik-konflik keras, penuh pertengkaran, dan air mata (Lilis, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novela Kusamnya Langit Dini Hari memerlukan sebuah kajian yang lebih mendalam. Secara lebih mendalam, diperlukan suatu kajian yang dapat mengungkap dan menganalisis teka-teksnya. Apakah di dalamnya mengandung   permasalahan   bias   gender   atau   idak.   Apakah   novela   ini menggambarkan  sebuah  realitas  sosial  yang  terkait  dengan  permasalahan gender?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;&lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-4780942947202356182?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/4780942947202356182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/07/novela-kusamnya-langit-dini-hari-karya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/4780942947202356182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/4780942947202356182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/07/novela-kusamnya-langit-dini-hari-karya.html' title='Novela Kusamnya Langit Dini Hari Karya Mayon Soetrisno Dan Realitas Sosial Dalam Tinjauan Gender (P-85)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-1946447646873104108</id><published>2011-07-19T16:53:00.000-07:00</published><updated>2011-07-19T16:55:43.370-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Transformasi Nilai Sosial Dan Etika Politik Warga Desa Makamhaji Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo Dalam Era Reformasi Tahun 1999 – 2004</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah  politik  adalah  masalah  yang  selalu  aktual  sehingga  tetap menarik  untuk dibicarakan, dikaji dan dicermati. Persoalannya bukan berarti politik  adalah masalah yang paling utama dalam kehidupan  manusia, akan tetapi sebagai  warga negara yang hidup dalam suatu negara perlu tahu dan peduli terhadap keadaan politik masyarakat yang saat ini sedang berkembang. Dengan mengetahui perkembangan budaya dan etika politik suatu masyarakat, maka keputusan  dan  kebijakan  politik yang dilakukan  oleh  penguasa akan lebih bermanfaat dan berorientasi terhadap kesejahteraan masyarakat banyak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  era  reformasi  seperti  sekarang   ini,  masalah  politik  menjadi kebutuhan  sehari  –  hari  dan  menjadi  perbincangan  orang  hampir  disemua tempat. Mulai dari meja pemerintah, kalangan ekonomi, para praktisi hukum, bahkan  sampai  para  petani  yang  pada  masa  orde  baru,  mereka  tidak  tahu politik, kini sangat terasa bahwa dunia politik sepertinya menjadi bagian yang penting bagi kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa dan media elektronik sebagai salah satu dari agen politik memungkinkan gencarnya arus informasi yang masuk ke pedesaan, termasuk informasi dalam bidang politik, sehingga masyarakatpun dapat dengan leluasa mengikuti perkembangan politik  yang terjadi  di tanah  air bahkan di duniainternasional  sekalipun.  Masyarakat  desapun  kini  sudah  dapat  mengakses berbagai kejadian dengan cepat kapan dan dimanapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  peranan  media  massa  terlebih  media  elektronik  sebagai  salah satu  agen politik, arus urbanisasi dan mobilitas penduduk dari desa ke kota dapat  pula   mempengaruhi  pola  pikir  masyarakat  dalam  bidang   politik, terutama  terhadap   orientasi  budaya  politik,  mulai  dari  pengetahuan  dan kepercayaan  politik  (orientasi  kognitif),  perasaan  terhadap  sistem  politik, perasaan politik serta aktor politik dan penampilannya (orientasi afektif), juga orientasi  evaluatif  yang  meliputi  keputusan  dan  pendapat  tentang  obyek  – obyek  politik  yang  secara  tipikal  melibatkan  kombinasi  standar  nilai  dan kriteria dengan informasi dan perasaan ( Almond dkk, 1990:16-17 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana  politik  yang  saat  ini  sedang  berkembang  terutama  di  Desa Makamhaji Kecamatan Kartasura Kabupatan Sukoharjo dalam era reformasi perlu  dikaji dan dicermati karena adanya indikasi gejolak dalam masyarakat terhadap  keputusan  –  keputusan  yang  diambil  oleh  pemerintah,  terutama pemerintah Desa. Dalam era reformasi seperti sekarang ini di Desa Makamhaji ada  keberanian  dari sebagian  masyarakatnya  untuk  lebih  aktif  dan berpartisipasi dalam bidang politik. Namun ada keraguan dalam menentukan cara – cara mereka berpartisipasi, sehingga terjadi partisipasi yang kurang etis dari sebagian kecil warga Desa Makamhaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertitik  tolak  dari  pemikiran  tersebut  diatas,  maka  kami  bermaksud meneliti sejauh mana transformasi nilai sosial serta cara – cara yang ditempuh masyarakat dalam menyalurkan aspirasi politiknya, lebih khusus perubahannilai  sosial  dan  etika  politik  yang  ada  dan  terjadi  di  Desa  Makamhaji&lt;br /&gt;Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo dalam era reformasi tahun 1999 -2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;&lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-1946447646873104108?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/1946447646873104108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/07/transformasi-nilai-sosial-dan-etika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1946447646873104108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1946447646873104108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/07/transformasi-nilai-sosial-dan-etika.html' title='Transformasi Nilai Sosial Dan Etika Politik Warga Desa Makamhaji Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo Dalam Era Reformasi Tahun 1999 – 2004'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-1925588590691074989</id><published>2011-07-19T16:50:00.000-07:00</published><updated>2011-07-19T16:53:31.316-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Korelasi Aktivitas Siswa Membaca Buku Perpustakaan Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada SMP Negeri 1 Bancak Kabupaten Semarang (P-83)</title><content type='html'>BAB. I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan sebuah negara adalah bergantung kepada rakyatnya yang berilmu pengetahuan, berfikiran positif, rajin dan berdaya saing. Ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui aktivitas membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Negara-negara maju, masyarakat telah sadar dengan sendirinya akan pentingnya  budaya membaca buku untuk mendapatkan informasi. Walaupun di negara-negara maju tersebut harga PC relatif murah dan informasi melalui internet sangat mudah. Namun demikian baik perpustakaan maupun toko-toko buku selalu banyak pengunjungnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini harus diakui bahwa minat membaca yang diwujudkan dengan aktivitas membaca buku dikalangan siswa umumnya masih rendah.  Alasan klasik yang sering mengemuka adalah bahwa membaca belum membudaya di kalangan masyarakat,  khususnya  pelajar.  Sebagian  besar  pelajar  menganggap  aktivitas membaca adalah merupakan aktivitas yang  membosankan atau membuat jemu dan lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut laporan Bank Dunia Nomor 16369-IND dan Studi International Association  for the Evaluation of Education Achievement (IEA) di Asia Timur pada  tahun  2000,  Indonesia  menempati  posisi  terendah  pada  skala  kebiasaan membaca.  Apabila  dibandingkan  dengan   negara  tetangga  sekitar,  kebiasaan membaca anak Indonesia berada pada skor 51,7. Angka ini tentu tidak sebanding dengan Hong  Kong  yang  memiliki  skor  75,5  atau  Singapura  (74,0),  maupun Thailand (65,1). Bahkan dengan Filipina saja, Indonesia masih kalah. Negeri yang letaknya  di  utara  Nusantara  itu  berada  pada  skor  52,6  untuk  skala  kebiasaan membaca anak (http://www. Mandrasah Aliyah Negeri Pacet Cianjur - Tingkatkan Kegemaran Membaca Anak.htm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2000 juga, organisasi International Educational Achievement (IEA)  menempatkan kemampuan membaca siswa SD Indonesia diurutan ke-38 dari  39  negara.  Indonesia  merupakan  negate  terendah  diantara  negara-negara ASEAN. Dengan kondisi seperti itu, maka tidak heran bila kualitas pendidikan di Indonesia juga buruk. Dalam hal pendidikan, survei The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan di Singapura, pada akhir 2001, menempatkan  Indonesia  diurutan  ke-12  dari  12  negara  di  Asia  yang  diteliti (http://www. Bali Post.htm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil  survei  yang  telah  penulis  lakukan  pada  perpustakaan  SMP Negeri 1 Bancak Kabupaten Semarang tahun ajaran 2006/2007 jumlah siswa yang menyempatkan diri  untuk  berkunjung ke perpustakaan sekolah rata-rata setiap harinya hanya berkisar antara 30 - 50 siswa dari jumlah siswa secara keseluruhan sebanyak 372 siswa, atau hanya 0,08 % sampai  0,13 %.(Sumber : Buku Daftar Pengunjung Perpustakaan Sekolah SMP Negeri 1 Bancak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi abad ke- 21 yang merupakan abad teknologi dan informasi, siswa dituntut untuk memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas, sikap kritis, serta kesiapan untuk bersaing secara kompetitif dalam berbagai aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya aktivitas membaca yang tinggi merupakan cermin kemajuan suatu bangsa. Bangsa atau masyarakat yang maju akan selalu menempatkan kebiasaan membaca sebagai salah  satu kebutuhan hidupnya sehingga tercipta masyarakat yang senang membaca (reading society). Masyarakat yang gemar membaca pada dasarnya adalah masyarakat yang belajar (learning  society). Dalam masyarakat yang   membaca   dan   belajar,   buku-buku   dan   bahan-bahan   bacaan   lainnya mempunyai  kedudukan  yang  sangat  penting  (Staf  Pengajar  SMP  Stella  Duce Tarakanita, 1991:40). Untuk mencapai maksud tersebut maka perlu dilakukan berbagai  upaya  terus-menerus  memberikan  pemahaman  dan  apresiasi  kepada siswa akan pentingnya peningkatan aktivitas dan kegemaran membaca bagi siswa terhadap prestasi belajarnya di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan suatu lembaga pendidikan dapat diukur dari prestasi belajar siswanya.  Prestasi belajar yang tinggi memberi arti kepada keberhasilan dalam proses belajar  mengajarnya,  begitu pula sebaliknya prestasi belajar yang rendah memberi  arti  kegagalan   lembaga  pendidikan  tersebut  dalam  proses  belajar mengajarnya.&lt;br /&gt;Keberhasilan  siswa  dalam  belajar  sangat  ditentukan  oleh  kecakapan membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai   penelitian   melaporkan   bahwa   ketidak   cakapan   dalam membaca  menjadi  penyebab  utama  kegagalan  anak  dalam  sekolah.  Hal  ini disebabkan oleh karena setiap mata pelajaran di sekolah memprasyaratkan anak untuk   mempelajari   dan   memahami   materi   setiap  mata  pelajaran  tersebut. Pemahaman terhadap materi pelajaran hanya dapat dilakukan jika anak memiliki kemampuan dan keaktifan membaca yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidak mampuan  siswa  membaca  akan  berakibat  rendahnya  prestasi belajarnya.  Hal  ini  dapat  terjadi  karena  apabila  siswa  tersebut  tidak  mampu membaca, maka siswa  tersebut tidak akan dapat memahami isi materi pelajaran tersebut, sehingga prestasi belajarnya pun akan rendah&lt;br /&gt;Prestasi  belajar  siswa  dimungkinkan  dipengaruhi  oleh  banyak  faktor, diantaranya adalah minat dan keaktifan siswa membaca. Siswa yang mempunyai minat membaca tinggi,  dimungkinkan akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi. Siswa dengan minat baca tinggi, dengan sendirinya akan timbul kesadaran untuk belajar serta mengisi waktu luangnya dengan  membaca buku, baik buku pelajaran maupun buku lain yang masih berhubungan dengan pelajaran sehingga mereka akan memiliki pengetahuan lebih jika dibandingkan dengan siswa  lain yang memiliki minat baca rendah. Begitu juga apabila minat membacanya rendah, akan membawa hasil yang rendah pula. Siswa yang memiliki minat baca rendah hanya akan mengandalkan apa yang diberikan guru disekolah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang siswa yang memiliki kegemaran membaca akan nampak lebih dewasa daripada teman sebayanya. Siswa tersebut akan lebih dewasa dalam hal bergaul dan berpikir.  Dia akan tumbuh menjadi pribadi yang utuh karena lebih tahan menghadapi berbagai tantangan. Hal itu terjadi karena daya kritis, kepekaan ilmiah, dan kepekaan sosial siswa akan berkembang  sesuai dengan potensinya sebagai konsekuensi logis dari besarnya wawasan yang ditimba  dari  kegiatan membaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas membaca bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja secara rutin.  Melalui  kegiatan  membaca  seseorang  dapat  menambah  informasi  dan memperluas ilmu pengetahuan. Dengan membaca membuat orang menjadi cerdas, kritis dan mempunyai daya analisa yang tinggi. Melalui kegiatan membaca juga selalu tersedia  waktu untuk merenung, berfikir dan mengembangkan kreativitas berfikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya peningkatan aktivitas membaca siswa sangat erat kaitannya dengan keberadaan perpustakaan di sekolah. Perhatian terhadap keberadaan perpustakaan sekolah sering terabaikan. Padahal, keberadaan perpustakaan sekolah dalam upaya mendorong tumbuhnya minat dan kegemaran membaca sangat strategis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat pentingnya peranan keaktifan membaca siswa, sudah selanyaknya  setiap  siswa  untuk  membudayakan  gemar  membaca.  Harapannya dengan  banyak   membaca  buku  pelajaran  serta  buku-buku  lain  yang  masih berkaitan dengan pelajaran, prestasi belajar yang akan dicapai siswa tersebut akan lebih baik. Sebagai konsekwensi keaktifannya membaca, siswa dapat memenuhi kebutuhan bahan bacaan di perpustakaan sekolah maupun di tempat-tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kondisi di atas maka penulis berminat untuk mengadakan penelitian yang berjudul "Korelasi Aktivitas Siswa Membaca Buku Perpustakaan Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada SMP Negeri 1 Bancak Kabupaten Semarang "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;&lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-1925588590691074989?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/1925588590691074989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/07/korelasi-aktivitas-siswa-membaca-buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1925588590691074989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1925588590691074989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/07/korelasi-aktivitas-siswa-membaca-buku.html' title='Korelasi Aktivitas Siswa Membaca Buku Perpustakaan Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada SMP Negeri 1 Bancak Kabupaten Semarang (P-83)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-3255999168430584040</id><published>2011-05-19T02:44:00.001-07:00</published><updated>2011-05-19T02:45:14.439-07:00</updated><title type='text'>Tesis Pendidikan</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tesis pendidikan merupakan sebuah laporan riset yang sama dengan esai dan makalah, tetapi masuk ke dalam jauh lebih detail. Biasanya merupakan laporan ilmiah. Ini menjadi cara yang hebat untuk menguji seberapa baik yang bisa dilakukan oleh mahasiswa, terutama mahasiswa pascasarjana .&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Menulis tesis pendidikan nyatanya bukan hal yang mudah. Dibutuhkan kerja keras dan tekad kuat yang harus benar-benar ditanamkan sejak awal. Bisa jadi, untuk urusan judul saja kita sudah dibuat pusing. Kita harus bolak balik mengganti dengan berbagai alasan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam membuat tesis pendidikan, dibutuhkan referensi yang cukup. Semakin banyak referensi yang kita baca, semakin bertambah pengetahuan kita. Dengan melakukan diskusi yang intens dengan pembimbing, maka kita bisa mendapatkan pencerahan dalam mengerjakan tesis. Setidaknya, pemikiran kita tentang apa yang akan kita tulis untuk tesis bisa diterima.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Untuk itu kami hadir untuk membantu mahasiswa dalam hal memberikan contoh tesis pendidikan, contoh judul tesis pendidikan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Untuk mendapatkan koleksi contoh Skripsi Lengkap dan contoh Tesis Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Atau klik &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-3255999168430584040?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/3255999168430584040/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/05/tesis-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/3255999168430584040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/3255999168430584040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/05/tesis-pendidikan.html' title='Tesis Pendidikan'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-8009524447601302742</id><published>2011-04-04T17:34:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T05:21:31.807-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MENCARI INFORMASI DALAM PENINGKATAN KEMANDIRIAN KEMAMPUAN BERAPRESIASI DI SMA NEGERI 1 JOGONALAN KLATEN (PEND-62)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama (B1)  anak   terjadi  bila  anak  yang  sejak  semula  tanpa  bahasa  kini  telah memperoleh  satu  bahasa.  Pada  masa  pemerolehan  bahasa  anak,  anak  lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya (Pakdesota, 2008. “Pemerolehan Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua”.  www.wordpress.com)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna  jika  anak  mengalami  apa  yang  dipelajarinya.  Pembelajaran  yang berorientasi   pada   penguasaan   materi   terbukti   berhasil   dalam   kompetisi menggingat jangka pendek  tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan masalah kehidupan jangka panjang&lt;br /&gt;Pembelajaran  berbasis  mencari  informasi  merupakan  konsep  belajar yang  membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa  dan  mendorong  siswa  membuat  hubungan  antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai   anggota  keluarga  dan  masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa  diberi  kesempatan  dan kebebasan untuk mencari informasi sebagai sumber belajar. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung  alamiah  dalam  bentuk  kegiatan  siswa  bekerja  dan  mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari  guru ke siswa, jadi siswa lebih proaktif untuk   memperoleh   pengetahuan,   pengalaman   dan   keterampilan.   Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil&lt;br /&gt;Guru memang harus kreatif. Metode mengajar guru yang penuh inovasi akan  selalu  ditunggu  para  muridnya.  Tentunya,  kreasi  dan  inovasi  positif. Bagaimana  mungkin seorang guru mengajarkan muridnya supaya aktif kalau dia sendiri  kontraproduktif  (Ahmad Zeni, 2008.  “Beban Guru Tidak Berat”. www.wordpress.com. )&lt;br /&gt;Tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi, tetapi justru siswa yang aktif mencari informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang  bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari  apa  kata  guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru   juga  dapat  mengembangkan  kemandirian  dan kemampuan siswa  dalam melakukan apresiasi pada  informasi  yang diperolehnya.  Apresiasi merupakan  suatu  bentuk    untuk   memperoleh, menghayati,  menilai,  dan  menghargai  terhadap  sesuatu  hal,  terutama  yang terkait dengan   pembelajaran. Dengan   demikian,   siswa   akan  mampu memberikan respon balik terhadap materi pembelajaran secara aktif, tidak harus menunggu informasi dari guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; Atau klik &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;&lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/14873656/Database2011-2.pdf.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-8009524447601302742?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/8009524447601302742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/model-pembelajaran-berbasis-mencari.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8009524447601302742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8009524447601302742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/model-pembelajaran-berbasis-mencari.html' title='MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MENCARI INFORMASI DALAM PENINGKATAN KEMANDIRIAN KEMAMPUAN BERAPRESIASI DI SMA NEGERI 1 JOGONALAN KLATEN (PEND-62)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-2616748868305596707</id><published>2011-04-04T17:32:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T05:23:42.993-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>STUDI TENTANG KEPUASAN SISWA DITINJAU DARI UNJUK KERJA GURU, FASILITAS PEMBELAJARAN DAN KESELAMATAN KERJA SISWA DI SMK NEGERI 1 NGAWEN (PEND-61)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap negara membutuhkan sumber daya yang berkualitas  sebab sumber daya  yang berkualitas akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan pembangunan  suatu  bangsa  dalam  berbagai  bidang.  Tidak  hanya  dalam  hal penguasaan ilmu  pengetahuan dan teknologi yang diharapkan, tetapi juga sikap mental yang baik. Oleh  karena itu, setiap  negara selalu meningkatkan  kualitas sumber  daya  manusia  yang  dimilikinya.  Untuk  meningkatkan  kualitas  sumber daya  manusia  itu  dapat  dilakukan  dengan  meningkatkan  kualitas  pendidikan bangsanya karena dengan pendidikan yang berkualitas akan tercipta sumber daya manusia  yang  berkualitas  pula,  yang pada akhirnya  dapat  mendukung perkembangan pembangunan nasional.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber daya manusia yang berkualitas juga akan mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk kemajuan bangsa dan negara. Hal itu sesuai dengan tujuan pendidikan   nasional  yang  menyatakan  bahwa  pendidikan  nasional  bertujuan mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mempunyai akhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri,   estetis,   dan   demokratis,   serta   memiliki   rasa   kemasyarakatan   dan kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan   kualitas   pendidikan   dapat  dilakukan   dengan  meningkatan kinerja para guru karena para guru merupakan pejuang pendidikan yang langsung berhadapan  dengan siswa. Tanpa adanya kinerja atau prestasi kinerja para guru, peningkatan  kualitas  pendidikan  tidak  akan  tercapai.  Kepala  sekolah  sebagai atasan langsung dan  pemegang  kunci kepemimpinan  di sekolah,  harus mampu membangkitkan  semangat  kerja  terhadap  bawahannya  sehingga  dapat  tercipta&lt;br /&gt;bahwa semua warga sekolah mempunyai sikap dan perilaku yang setia dan taat kepada  tugas-tugas  yang  diembannya,  memiliki  dedikasi  yang  tinggi,  berdaya guna dan  berhasil  guna, serta bertanggung jawab sebagai abdi negara dan abdi masyarakat.&lt;br /&gt;Tugas guru tidak hanya melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan  efisien, tetapi juga sebagai figur yang diharapkan mampu membentuk dan membangun  watak  dan  kepribadian  para  siswanya  sehingga  mereka  memiliki sikap  mental  yang  baik  yang  dibutuhkan  dalam  pembangunan  nasional  suatu bangsa. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pembentukan sikap anak-anak yang  perlu diperhatikan  dalam  pendidikan   ialah  kematangan (maturation),   keadaan    fisik   anak,   pengaruh   keluarga,  lingkungan   sosial, kehidupan sekolah, bioskop, guru, kurikulum sekolah, dan cara guru mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan tercapainya keberhasilan pendidikan di sekolah, faktor lingkungan  kerja  tidak  dapat  diabaikan.  Lingkungan  kerja  yang  nyaman,  dan keharmonisan kerja diantara teman sejawat akan sangat mendukung suasana kerja warga  sekolah,  yang  pada  akhirnya  akan  mempunyai  dampak positif  terhadap keberhasilan pendidikan sekolah tersebut. Jika lingkungan kerja di sekolah tidak nyaman,   atau   sering   terjadi   pertikaian   antar   teman   sekerja,   keberhasilan pendidikan di sekolah tersebut  tidak akan memenuhi harapan yang diinginkan. Tidak hanya hubungan baik antara sesama teman sekerja saja, yang diharapakan dapat  tercipta,  tetapi  hubungan  dan  kerja  sama  yang  baik  dengan  orang  tua, masyarakat, dan pemerintah pun harus terpelihara dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan,   baik   formal   maupun   nonformal,   adalah   sarana   untuk pewarisan  kebudayaan.  setiap  masyarakat  mewariskan  kebudayaannya  kepada generasi   yang  lebih  kemudian  agar  tradisi  kebudayaannya  tetap  hidup  dan berkembang,  melalui  pendidikan.  Sudah  lama  banyak  orang  mempertanyakan pendidikan  kita,   mengapa  hasilnya  tidak  memperkuat  dan  mengembangkan&lt;br /&gt;budaya sendiri? mengapa bangsa kita mudah larut dalam pengaruh budaya yang datang dari luar? mengapa budaya asli kita tidak dapat menahan banjir bandang globalisasi  yang  datang?  pendidikan  kita  selama  ini  menjadi  sarana pewarisan budaya atau tidak?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan kebutuhan   pelanggan   dipenuhi.   Suatu   pelayanan   dinilai   memuaskan   bila pelayanan tersebut  dapat  memenuhi  kebutuhan  dan  harapan  pelanggan. Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan  yang  lebih  baik,  lebih  efisien  dan  lebih  efektif.  Apabila  pelanggan merasa  tidak puas terhadap suatu pelayanan  yang disediakan,  maka pelayanan tersebut dapat  dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. Hal ini terutama sangat penting bagi pelayanan  publik. Tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan merupakan faktor yang penting  dalam mengembangkan suatu sistim penyediaan pelayanan yang tanggap terhadap kebutuhan pelanggan, meminimalkan biaya dan waktu   serta   memaksimalkan   dampak   pelayanan   terhadap   populasi   sasaran (Anonim. 2007. ”Mengukur Kepuasan Pelanggan”. www.wordpress.com. ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru adalah kondisi yang diposisikan sebagai garda terdepan dan posisi sentral  di dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Berkaitan dengan itu, maka guru  akan  menjadi  bahan  pembicaraan  banyak  orang,  dan  tentunya  tidak  lain berkaitan  dengan  kinerja  dan  totalitas  dedikasi  dan  loyalitas  pengabdiannya. Sorotan   tersebut   lebih   bermuara   kepada   ketidakmampuan   guru   di   dalam pelaksanaan proses pembelajaran,  sehingga bermuara kepada menurunnya mutu pendidikan. Kalaupun sorotan itu lebih mengarah kepada sisi-sisi kelemahan pada guru, hal itu tidak sepenuhnya dibebankan kepada guru, dan mungkin ada sistem yang berlaku, baik  sengaja  ataupun tidak  akan  berpengaruh  terhadap permasalahan  tadi.  Banyak  hal  yang  perlu  menjadi  bahan  pertimbangan  kita, bagaimana kinerja guru akan berdampak kepada pendidikan bermutu. Kita melihat&lt;br /&gt;sisi lemah dari sistem  pendidikan  nasional kita, dengan gonta ganti kurikulum pendidikan, maka secara langsung atau tidak akan berdampak kepada guru itu sendiri. Sehingga perubahan kurikulum dapat menjadi beban psikologis bagi guru, dan mungkin  juga  akan dapat membuat guru frustasi akibat perubahan tersebut. Hal ini sangat dirasakan oleh guru yang memiliki kemampuan minimal, dan tidak demikian  halnya guru  profesional  (Isjoni,  2007.  ”Kinerja  Guru”. www.re_searchengines.com/isjoni12.html.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;&lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-2616748868305596707?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/2616748868305596707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/studi-tentang-kepuasan-siswa-ditinjau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2616748868305596707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2616748868305596707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/studi-tentang-kepuasan-siswa-ditinjau.html' title='STUDI TENTANG KEPUASAN SISWA DITINJAU DARI UNJUK KERJA GURU, FASILITAS PEMBELAJARAN DAN KESELAMATAN KERJA SISWA DI SMK NEGERI 1 NGAWEN (PEND-61)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-8978531439378100086</id><published>2011-04-04T17:28:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T05:24:14.540-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>MOTIVASI KERJA GURU TIDAK TETAP DI BERBAGAI SMA SWASTA DI KOTA SEMARANG (PEND-60)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk  watak  serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia  yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.  Untuk mencapai butir- butir  tujuan pendidikan tersebut  perlu didahului oleh proses  pendidikan  yang memadai. Agar proses pendidikan dapat  berjalan dengan baik, maka semua aspek yang dapat mempengaruhi belajar siswa hendaknya dapat berpengaruh positif bagi diri siswa, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkannya Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka semakin kuatlah alasan pemerintah dalam melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan lembaga pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah   tersebut   mencakup  beberapa  aspek  dari   perencanaan,  pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan (UU No. 20 Th.  2003,  pasal 8), termasuk berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wakiran, dkk. (2004), dalam pasal 2 ayat (3) Undang-undang&lt;br /&gt;Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 8 Tahun&lt;br /&gt;1974 secara tegas dinyatakan, bahwa disamping Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud  dalam ayat (1) pejabat yang berwenang dapat mengangkat Pegawai Tidak Tetap. Dalam penjelasannya yang dimaksud dengan Pegawai Tidak Tetap adalah pegawai yang diangkat untuk  jangka waktu tertentu guna melaksanakan tugas  pemerintahan  dan  pembangunan  yang   bersifat  teknis  profesional  dan administrasi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan organisasi dalam kerangka sistem kepegawaian, Pegawai Tidak Tetap tidak berkedudukan sebagai Pegawai Negeri. Dalam pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembangunan selain Pegawai Negeri  Sipil  terdapat  juga  beberapa  jenis  pegawai  yang  melaksanakan  tugas sebagaimana dilaksanakan oleh Pegawai Negeri Sipil, akan tetapi pendekatannya atau sebutan istilahnya di berbagai instansi baik Pusat maupun Daerah berbeda- beda.  Hal  ini  disebabkan, karena  sampai  saat  ini  belum  ada  norma,  standar, prosedur yang mengatur hal tersebut.&lt;br /&gt;Pegawai Tidak Tetap tersebut saat ini diangkat dalam berbagai instansi pemerintah  antara lain di lingkungan Departemen Kesehatan (Dokter PTT dan Bidan  PTT),  di   lingkungan   Departemen  Pendidikan  Nasional  (Guru  Tidak Tetap/Guru  Bantu),   dilingkungan   Departemen  Agama  (Guru  Tidak  Tetap, Penyuluh Agama), dilingkungan Departemen Kimpraswil (Pegawai Honorer/Tenaga Kontrak), dan dibeberapa daerah Propinsi/Kabupaten/Kota yang sudah mengangkat Pegawai Tidak Tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini guru yang bekerja di berbagai sekolah, baik negeri maupun swasta, sering kali masyarakat mengira bahwa para guru tersebut adalah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Padahal tidak semua guru yang bekerja di sekolah- sekolah tersebut berstatus Pegawai Negeri  Sipil (PNS), atau yang biasa disebut Guru Honorer, Guru Tidak Tetap, atau Guru Kontrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Tidak Tetap yang bekerja pada beberapa sekolah negeri maupun swasta,  sampai  saat ini belum memiliki standar gaji yang menitikberatkan pada bobot jam pelajaran, tingkatan jabatan, dan tanggung jawab masa depan siswanya. Apalagi  untuk  guru  yang  mengajar  di  tingkat  SMA/SMK.  Banyak  diantara mereka yang bekerja melebihi dari imbalan yang mereka terima. Dengan kata lain, insentif atau gaji yang mereka terima tidak sebanding  dengan pekerjaan yang mereka laksanakan dan tanggung jawab yang mereka terima terhadap masa depan siswanya, berhasil atau tidaknya menyelesaikan program pendidikan di sekolah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi ataupun masuk ke dunia kerja, bergantung pada kapabilitas guru SMA/SMK ini.&lt;br /&gt;Menurut arsip data kepegawaian tahun 2010 yang didapatkan dari Dinas Pendidikan  Kota  Semarang  tentang  Guru  Tidak  Tetap  (GTT)  yang  bertugas diberbagai SMA/SMK  se-Kota Semarang yang berjumlah 2605 orang dengan rincian sebagai berikut: 1638 GTT di SMK swasta, 189 GTT di SMK Negeri, 682&lt;br /&gt;GTT SMA swasta, dan 96 GTT di SMA Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda kondisi dengan para guru yang telah diangkat statusnya menjadi Pegawai   Negeri  Sipil  (PNS).  Selain  kenaikan  gaji  pokok,  pemerintah  juga memberikan gaji bulan  ke-13 bagi PNS dan pensiunan. Pemerintah juga akan&lt;br /&gt;menaikkan uang makan bagi TNI/Polri dan PNS. Untuk TNI/Polri uang makan naik dari Rp 35 ribu per hari menjadi Rp 40 ribu per hari. Sedangkan untuk PNS, uang makan dari Rp 15 ribu menjadi Rp20 ribu. Presiden SBY pun menyatakan, selama lima tahun terakhir, gaji PNS dan TNI/ Polri telah naik dari Rp674 ribu menjadi Rp 1,721 juta (metrotvnews.com, 8 Januari  2010). Bahkan PNS yang berstatus  guru  misalnya,  selain  mendapatkan  kenaikan  gaji  setiap  tahunnya, mereka juga mendapatkan tunjangan perbaikan kesejahteraan bagi mereka yang sudah lolos sertifikasi.&lt;br /&gt;Di Kota Semarang, beberapa kali para Guru Tidak Tetap ataupun Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Honorer memperjuangkan nasibnya. Hal tersebut menindak lanjuti PP Nomor 43&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2007 pasal 6 yang menyebutkan Guru Honorer tidak tetap yang dibiayai APBD  akan  diangkat  menjadi  Pegawai  Negeri  Sipil.  Menurut  Drs.  Akhmad Zaenuri, MM. dalam  keterangan resminya di  website Dinas Pendidikan Kota Semarang (19 Februari 2009) dalam menanggapi tuntutan GTT, Dinas Pendidikan akan mempelajari regulasinya untuk dapat memperujangkan nasib Guru Honorer dan Guru Tidak Tetap, karena itu diminta Guru Honorer untuk tidak mengurangi motivasinya dalam mengajar dan mari berfikir positif untuk kebaikan  bersama. Pemerintah  Kota  Semarang  sendiri  dalam  APBD  2009  telah  menganggarkan tunjangan Guru Honorer / Tidak Tetap sebesar Rp. 1.200.000 selama satu tahun sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan Guru Honorer / Tidak Tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Animo masyarakat yang tinggi dalam setiap penerimaan CPNS , baik yang sudah  berstatus pegawai tidak tetap sebelumnya ataupun  yang baru melamar, mengindikasikan  profesi  tersebut  masih  begitu  menggiurkan,  sebagai  sebuah&lt;br /&gt;asumsinya, menjadi CPNS, akan berada dalam titik aman, tidak akan di-PHK, menerima uang pensiun, mendapatkan gaji setiap bulan, dengan segala tunjangan keluarga, kesehatan,  transportasi  dan hingga adanya gaji ke-13, dan kita akan menelan  ludah  lagi  apabila  dihubungkan  dengan  kebijakan  pemerintah  yang meningkatkan gaji dan kesejahteraan PNS yang hampir setiap tahunya, pantas saja jika profesi ini akan semakin banyak diminati. Tidak hanya dampak secara materi semata, namun dampak dalam kehidupan bersosial, menjadi PNS biasanya status sosialnya meningkat, lebih percaya diri, dan sudah barang tentu lebih dihormati dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut juga mengindikasikan banyak orang yang termotivasi menjadi PNS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud   motivasi di sini adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias  mencapai hasil yang optimal (Prabu, 2005). Menurut Mulyana (2006), Guru  sebagai  salah  satu  komponen dalam  kegiatan  belajar  mengajar  (KBM), memiliki peran  yang  sangat  menentukan  keberhasilan  pembelajaran,  karena fungsi utama    guru ialah merancang,  mengelola,  melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Kedudukan guru dalam kegiatan  belajar   mengajar juga sangat strategis dan menentukan. Disebut strategis karena guru yang  akan menentukan  kedalaman  dan  keluasan  materi   pelajaran,  sedangkan  bersifat menentukan karena guru yang memilah dan memilih bahan pelajaran yang akan disajikan kepada peserta didik. Semua itu tidak akan dapat dicapai apabila guru itu  sendiri tidak memiliki keprofesionalitasan dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat  begitu  pentingnya  peran  guru  dalam  proses  pendidikan  dan sekaligus   sebagai  pihak  yang  bertanggungjawab  dalam  pelaksanaan  proses pendidikan  atau  kegiatan  belajar  mengajar  (KBM)  di  sekolah,  dituntut  untuk memiliki sikap yang positip terhadap jabatannya. Guru merupakan suatu jabatan yang memerlukan keahlian, tanggung jawab dan jiwa  rela memberikan layanan sosial di atas kepentingan pribadi.  Sesuai dengan tuntutan jabatan guru tersebut, maka jabatan guru merupakan jabatan "profesi". Oleh karena itu, tujuan program pendidikan akan dapat dicapai oleh guru yang mempunyai sikap profesional yang positip.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan eksistensi mereka di lembaga pendidikan, maka perlu diwujudkan   kesadaran itu dalam tindakan proses belajar mengajar. Keberhasilan guru dalam melaksanakan mengajar/mendidik dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: fasilitas, biaya, minat, sikap, serta kemampuan guru itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap profesional tidak akan tercapai tanpa didukung oleh beberapa faktor yang   mempengaruhinya,  salah  satunya  adalah  lingkungan  (baik  lingkungan tempat  tinggal  maupun  sekitar  sekolah).  Faktor  lain  yang  dapat  mendukung terbentuknya  sikap  profesional   adalah  status  kepegawaian  (negeri  maupun swasta), masa kerja sebagai guru, latar belakang keluarga, serta jenis kelamin.&lt;br /&gt;Dampak kualitas kemampuan profesional kinerja guru bukan hanya akan berkontribusi terhadap kualitas lulusan yang akan dihasilkan (output), melainkan juga akan berlanjut pada kualitas kinerja dan jasa para lulusan tersebut (outcome) dalam pembangunan, yang pada gilirannya kemudian akan nampak pengaruhnya terhadap kualitas peradaban dan martabat hidup  masyarakat, bangsa, serta umat&lt;br /&gt;manusia pada umumnya. Diyakini dengan adanya UU Guru dan Dosen, martabat guru semakin  dihargai, profesi  guru dapat disejajarkan dengan profesi-profesi lain,   mendorong  peningkatan   kualitas   guru,   dan  akhirnya  bermuara  pada peningkatan mutu pendidikan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya UU Guru dan Dosen, saat ini profesi guru pun mulai dilirik orang, karena UU ini menjanjikan perbaikan kesejahteraan bagi para guru yang profesional,  yaitu  tunjangan sebesar satu  kali  gaji  pokok dan tambahan tunjangan fungsional (Pernendiknas RI Nomor 18 Tahun 2007). Meski demikian, UU Guru dan Dosen juga membawa konsekuensi  yang  tidak mudah bagi para guru.  Walaupun menjanjikan perbaikan kesejahteraan bagi para  guru,  UU ini menuntut banyak hal dari para guru.&lt;br /&gt;Menurut Kusmawan (2009), kemunculan masalah kultural/tradisi bertitik tolak dari permasalahan waktu. Lamanya kondisi guru berada dalam ketidaksejahteraan  telah  membentuk  tradisi-tradisi  yang  terinternalisasi  dalam kehidupan guru  sampai sekarang. Konkretnya, kondisi itu lebih mengacu pada ranah akademis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimnya   kesejahteraan   guru   telah   menyebabkan   konsentrasi   guru terpecah   menjadi  beberapa  sisi.  Disatu  sisi  seorang  guru  harus  menambah kapasitas  akademis   pembelajaran  dengan  terus  memperbarui  dan  berinovasi dengan media, metode pembelajaran, dan kapasitas dirinya. Di sisi lain, sebagai efek demonstrasi dari minimnya kesejahteraan, seorang guru dituntut memenuhi kesejahteraannya dengan melakukan usaha atau kegiatan lain  seperti katering, bimbingan belajar, dan lain-lain. Akhirnya, seiring dengan perjalanan waktu, sisi-&lt;br /&gt;sisi  peningkatan  kualitas  akademis  menjadi   tersisihkan  dan  hal  ini  terus berlangsung sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimnya kesejahteraan guru dalam jangka waktu lama telah menggiring budaya/tradisi  akademis menjadi terpinggirkan. Terlebih lagi dalam era modern saat ini, guru selalu dituntut menjadi figur yang mampu memberikan kesan positif baik dilingkungan kerjanya (sekolah) maupun ketika berada di masyarakat. Tugas dan tanggung jawab guru semakin berat ketika di satu sisi guru harus menerapkan didikan yang tepat sesuai kodrat alam anak didiknya, di sisi lainnya guru berupaya semaksimal mungkin memilah dan menyelaraskan nilai-nilai hidup yang ada di lingkungan anak didiknya dengan segala perkembangan arus modernisasi melalui berbagai media yang dapat mempengaruhi kehidupan anak iu sendiri. Selain itu di berbagai daerah, guru masih dianggap profesi yang mempunyai prestis tersendiri di mata masyarakat sehingga guru menjadi figur yang dianggap mampu dari segi moril maupun materiil. Padahal kondisi sebenarnya tidaklah selalu demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, peneliti merasa perlu diadakan penelitian mengenai hal-hal yang menyebabkan para Guru Tidak Tetap tersebut termotivasi untuk menekuni profesinya,  walaupun  imbalan  yang  diterima  oleh  para  pegawai  tidak  tetap tersebut tidak sesuai yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;&lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-8978531439378100086?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/8978531439378100086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/motivasi-kerja-guru-tidak-tetap-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8978531439378100086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8978531439378100086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/motivasi-kerja-guru-tidak-tetap-di.html' title='MOTIVASI KERJA GURU TIDAK TETAP DI BERBAGAI SMA SWASTA DI KOTA SEMARANG (PEND-60)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-1154910347181497675</id><published>2011-04-04T17:25:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T05:24:50.746-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis Pendidikan'/><title type='text'>KEEFEKTIFAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK DENGAN PENDEKATAN RASIONAL EMOTIF DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN MENTAL SISWA PANTI PAMARDI PUTRA (PEND-59)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  LATAR BELAKANG MASALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tingkah laku individu merupakan manifestasi dari beberapa kebutuhan dan ditunjukkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan kata lain setiap tingkah laku individu itu selalu terarah pada satu objek atau suatu tujuan pemuasan kebutuhan yang  memberikan arah pada gerak aktivitasnya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegangan-ketagangan dan konflik-konflik batin akan timbul pada seseorang apabila kebutuhan-kebutuhan hidup yang sifatnya vital terhalang atau dirinya mengalami frustrasi. Sebaliknya ketegangan atau stress akan lenyap, apabila semua  kebutuhan  tadi  bisa  terpuaskan  atau  terpenuhi,  kebutuhan  itu  bisa bersifat fisis  juga bisa bersifat psikis, dan sosial. Menurut Maslow dalam Hendrarno, dkk (2003:9) pada hirarki dorongan kebutuhan , disebutkan bahwa&lt;br /&gt;‘tingkat-tingkat kebutuhan manusia yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri’&lt;br /&gt;Maka demi  kelancaran  hidup  individu,  kebutuhan  tersebut  harus mendapatkan  pemuasan atau harus dicukupi. Kebutuhan –kebutuhan tersebut tidak boleh  senantiasa dihalangi sebab jika orang terus menerus mengalami frustrasi , individu akan selalu diliputi oleh stress, ketegangan, dan ketakutan, sampai  mengalami  mental  ‘break  down’  atau  kepatahan  mental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamaindividu masih bisa menemukan jalan keluar yang wajar untuk memecahkan&lt;br /&gt;kesulitan hidupnya serta pemenuhan kebutuhan, selama itu akan menjamin kesehatan  jiwa dan keseimbangan mentalnya, sebab kepuasan jasmani dan kepuasan psikis dalam pemenuhan kebutuhan itu merupakan alas fundamental bagi  kesehatan  mentalnya,  sehingga   individu  akan  (1)  dapat  merasakan ketenangan dan ketentraman hidup, (2) mampu  melihat dan menilai realita secara  obyektif,  (3)  mampu  untuk  menerima  dirinya  sendidri,  (4)  mampu memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani, (5) mampu belajar dari pengalaman hidupnya,  (6)  mampu  untuk  mengembangkan  kemampuan  yang  ada  pada dirinya, (7) mampu menghadapi permasalahan yang muncul, serta (8) mampu untuk memahami dan menerima orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga merupakan tempat persemaian bagi perkembangan kepribadian manusia. Dalam keluarga anak mengenal lingkungan sosial yang akan  membentuk  mental  dan  kedewasaannya.  Begitu  pentingnya  peranan keluarga dalam  pembentukan mentalitas anak, sehingga dimungkinkan anak yang kurang mendapatkan perawatan dan kasih sayang dari keluarga, kurang terpenuhinya  kebutuhan-kebutuhan  baik  yang  bersifat  kejasmanian,  sosial, maupun kejiwaannya. Secara ideal dalam  perkembangan  anak harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, dan apabila terjadi gangguan dalam usaha pemenuhan kebutuhan itu maka penyesuaian dirinya menjadi  kurang lancar yang akibatnya kesehatan mental dan kepribadiannya terganggu.&lt;br /&gt;Anak yang tinggal di panti-panti rehabilitasi merupakan anak-anak yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti juga anak-anak yang diasuh di Panti Pamardi Putra  Mandiri Semarang, mereka merupakan Penyandang&lt;br /&gt;Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang terdiri dari: anak nakal, anak korban narkoba, dan anak jalanan yang khususnya berasal dari keluarga yang kurang mampu, anak-anak tersebut kurang mendapat perawatan, kasih sayang atau perhatian dari keluarga. Di Panti Pamardi Putra Mandiri siswa  diberikan suatu pelayanan social agar mereka mampu  berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat yang meliputi pembinaan fisik, mental, social, mengubah sikap dan tingkah laku, pelatihan ketrampilan, dan resosialisasi serta  pembinaan lanjut.  Di  sana  siswa-siswa  mengikuti  program-program  ketrampilan  yang sesuai dengan bakat dan minatnya yaitu Las, R2 (Roda 2), R4 (Roda 4). Selain itu siswa  mengikuti kegiatan-kegaiatn kejasmanian, keagamaan, kesehatan, maupun bimbingan baik klasikal maupun di wisma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan observasi  dan  wawancara  dengan  pembimbing  panti selama peneliti PLBK (Praktik Lapangan Bimbingan dan Konseling) di Panti Pamardi  Putra  Mandiri  Semarang  kurang  lebih  selama  2  bulan,  meskipun siswa diberikan berbagai  pembinaan dan ketrampilan namun tetap masih banyak  siswa yang merasa kurang nyaman berada di panti, mereka merasa kurang bisa beradaptasi baik dengan temannya maupun lingkungan barunya di mana biasanya mereka hidup bebas di  jalan dan bebas melakukan apa saja yang mereka mau, tetapi sekarang mereka harus mematuhi peraturan di panti, sehingga terjadi konflik dalam diri mereka antara mematuhi  peraturan atau kembali  ke  kehidupan  semula  akibatnya  banyak  diantara  mereka  yang melanggar peraturan misalnya membolos mengikuti kegiatan, di panti, sering ijin pulang, mereka kurang mempunyai kesadaran diri untuk mengembangkan kemampuannya, mereka merasa tidak berguna, mereka kurang bisa menerima kenyataan yang mereka hadapi, serta kurang bisa menghadapi permasalahan- permasalahan baik yang menyangkut masalah dengan temannya, lingkungannya  maupun   keluarganya   dengan   cara   negatif   yaitu   mereka cenderung kembali pada kebiasaannya yaitu mabuk-mabukan atau melakukan tindakan agresif pada penyebab masalah tersebut, mereka  sering bertengkar dengan temannya, merasa minder dan kurang percaya diri, mereka cenderung berpikir irasional dalam menghadapi suatu masalah.&lt;br /&gt;Dari masalah-masalah tersebut perlu diupayakan suatu usaha untuk mengatasinya,   karena   apabila   tidak   segera   diberikan   penanganan   akan menghambat  perkembangan  individu  dalam  mencapai  perkembangan  yang optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usaha pengentasan masalah, dalam bimbingan dan konseling ada beberapa layanan meliputi layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran,  pembelajaran,  bimbingan  kelompok  konseling  kelempok,  dan konseling  individu.  Ketujuh  jenis  layanan  tersebut  semuanya  merupakan upaya  untuk  membantu  individu   dalam  menghadapi  dan  melalui  tahap perkembangannya,  mengatasi  hambatan  yang   timbul  serta  memperbaiki penyimpangan   perkembangan   agar   perkembangan   individu   berlangsung secara  wajar.  Jadi  secara  prinsip  dengan  melalui  layanan  bimbingan  dan konseling individu dapat dibantu dalam mencapai tugas-tugas perkembangan secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu jenis layanan bimbingan dan konseling yang dipandang tepat dalam  membantu siswa untuk meningkatkan kesehatan mental adalah melalui layanan konseling kelompok. Layanan konseling kelompok merupakan   upaya   bantuan   untuk   dapat   memecahkan   masalah   dengan memanfaatkan  dinamika  kelompok.   Dalam   layanan  konseling  kelompok menggunakan pendekatan interaksional, di mana  dalam pendekatan tersebut menitik beratkan interaksi atau hubungan timbal balik antar anggota, anggota dengan  leader  (pemimpin  kelompok)  dan  sebaliknya,  yang  akan  nampak dalam dinamika kelompok. Interaksi itu selain berusaha bersama untuk dapat memecahkan  masalah  juga  setiap  anggota  kelompok  dapat  belajar  untuk mendengarkan secara aktif,  melakukan konfrontasi dengan tepat, memperhatikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap anggota lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam  kelompok,  anggota  kelompok akan  saling  menolong, menerima, berempati dengan tulus. Keadaan ini membutuhkan suasana yang positif antara anggota, sehingga mereka akan merasa diterima, dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka.&lt;br /&gt;Konseling  kelompok   bersifat   memberikan   kemudahan dalam pertumbuhan  dan  perkembangan  individu,  dalam  arti  bahwa  konseling kelompok   memberikan   dorongan   dan   motivasi   kepada   individu   untuk membuat perubahan-perubahan atau bertindak dengan memanfaatkan potensi secara maksimal sehingga dapat mewujudkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan rasional emotif  merupakan salah satu pendekatan yang dapat   digunakan  dalam layanan  konseling  kelompok,  di  mana  dalam pendekatan rasional emotif dalam layanan konseling kelompok mempunyai tujuan membantu  individu  anggota  kelompok  agar  dapat  mengurangi pandangan   diri   yang   berpusat   pada   perusakan   diri   dan   bersama-sama mencapai pandangan realistis dan berpandangan toleran satu sama lain, saling mengarahkan  ke  perasaan  pantas,  dan  berlatih   bersama  guna  perubahan perilaku  sebagai  perwujudan  pemikiran  rasional  dan  emosi  pantas,  serta menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  konseling   kelompok   rasional   emotif   terjadi   pembinaan hubungan menyehatkan yang berisi upaya-upaya penciptaan suasana psikologis yang dapat mendukung kelancaran kelompok, para klien dibantu untuk mengenali dan menjelaskan masalah termasuk konsekuensi-konsekuensi berpandangan irrasional melalui pandangan edukatif serta menekankan upaya pengubahan dan modifikasi perilaku klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  dilihat   dari   tujuan   layanan   konseling   kelompok   dengan pendekatan  rasional emotif tersebut sangatlah tepat bila dilaksanakan dalam usaha meningkatkan kesehatan mental pada anak di panti rehabilitasi karena dalam  layanan  konseling  kelompok  rasional  emotif  kebutuhan-kebutuhan memperoleh  penghargaan,  kebutuhan  untuk  diterima  atau  merasa  bagian dalam kelompok, kebutuhan untuk merasa dibutuhkan orang lain, kebutuhan memperoleh   prestasi   dan   posisi,   kebutuhan   hidup   bersama,   kebutuhan memperoleh kebebasan, kebutuhan memperoleh kasih sayang dan rasa aman, yang kesemuanya kebutuhan itu  dapat terpenuhi, yang pada akhirnya individu belajar untuk berfikir secara rasional dan logis dalam sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan anggota kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah banyak penelitan-penelitian yang sudah dilakukan berkaiatan dengan  variabel  di  atas  misalnya  penelitian  mengenai  keefektifan  layanan konseling kelompok  dalam meningkatkan kepercayaan diri yang dilkaukan oleh Atik Siti, dengan diperoleh  hasil bahwa layanan konseling kelompok efektif untuk meningkatkan kepercayaan diri.  Selain itu ada juga penelitian mengenai keefektifan pendekatan rasional emotif dalam mengatasi siswa yang kurang percaya diri yang dilakukian oleh Slameto, dengan  diperoleh hasil bahwa pendekatan rasional emotif efektif untuk meningkatkan percaya diri. Sedangkan penelitian tentang kesehatan mental juga pernah dilakukan oleh Siti Aeni yaitu mengenai kesehatan mental anak dari keluarga migrant dengan diperoleh hasil bahwa  kesehatan mental anak dari keluarga migrant adalah baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk untuk melakukan  penelitian eksperimen tentang “Keefektivan Layanan Konseling Kelompok dengan Pendekatan Rasional Emotif dalam Meningkatkan Kesehatan Mental  Siswa Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang Tahun 2005/ 2006”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;&lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-1154910347181497675?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/1154910347181497675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/keefektifan-layanan-konseling-kelompok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1154910347181497675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1154910347181497675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/keefektifan-layanan-konseling-kelompok.html' title='KEEFEKTIFAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK DENGAN PENDEKATAN RASIONAL EMOTIF DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN MENTAL SISWA PANTI PAMARDI PUTRA (PEND-59)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-8770807837273444067</id><published>2011-04-04T07:49:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T05:25:12.264-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Lara Cameron’s Motivation In Achieving Power And Wealth In Sidney Sheldon’s The Stars Shine Down (P-82)</title><content type='html'>CHAPTER I&lt;br /&gt;INTRODUCTION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Background of the Study&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nowadays, some people tend to read literature more than to scientific or religious books since  they consider that literature will lead human to a better social or personal conduct. Moreover, literary book presents expression of feelings, while scientific or religious books are the most exact kind of reporting. In a very real sense, some people who have read good literature have  lived more comfortable than people who cannot or will not read.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rees (1973: 1-2) defines literature in a broad and a narrow sense. The former means  anything that is written such as catalogues, textbooks, brochures, and  so  on.  While  the  latter  means  writing  that  expresses  and  communicates thoughts, feelings, ideas, and attitudes  towards  life in serious, fuller and deeper sense of words such as novel, poetry, prose, fiction, essay, and autobiography.&lt;br /&gt;Actually, literature has primary aim is giving pleasure, to entertain those who concern to it. Darma (1984: 55) says that literature is really an expression to explore the life problems, philosophy, and psychology. In other words, the author of literary work is usually considered as an expert in psychology, and philosophy who concern about life problems.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In psychological point of view, there is a relation between psychology and&lt;br /&gt;literature that we called psychoanalysis. Felman, as quoted in Green and LeeBihan&lt;br /&gt;(1996: 143), explains that we normally tend to see psychoanalysis as the active practice performed upon the passive text:&lt;br /&gt;While literature is considered as a body of a language-to be interpreted- psychoanalysis is considered as a body of knowledge, whose competence is called upon interpret. Psychoanalysis, in other words, occupies the place of a subject, literature that of an object. (Felman, 1982: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The  main  subject  of  psychoanalysis  is  the  term  “unconsciousness”. Psychoanalytic  treatment  demonstrates  how  these  unconscious  factors  affect current relationship and patterns of behavior. Ernest R. Hilgrad (1962: 125) states that psychologist have made a distinction between the things we learn, our habits, and the things which make us to use these habits, that is our motives&lt;br /&gt;The subjects of motivation can be found in the literary work. We can find how motivation is described individually or socially and how an individual reacts to  his/her  motives.  However,  some  people  may  not  recognize  that  they  need certain motivation to reach goal related to power and wealth. Since they probably think that motivation only a piece of science  which does not influence in one’s success.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moreover, motivation appears from the person himself and it does not depend on  the environment, so he needs encouragements to build his internal drive  to  be  motivated.  Floyd  L.  Ruch  mentioned  there  are  two  effects  of motivation on behavior. They are:&lt;br /&gt;1.  Motives  determine  the  direction  of  behavior  and  their  change  within individual to its environment.&lt;br /&gt;2.  Motives make energy available for the activity required.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Because of the varieties of motivate existing in individual the terms of motivation in literary works are significant to be explored principally women’s motivation.&lt;br /&gt;As we know God creates human men and women. They are born to this world  with  several  differentiations  in  physique,  thinking,  and  characteristic. Commonly men are always  identified with his strength and women with her weakness. A lot of opinions on stereotypes  say that women are weaker, more emotional, less able to learn and dependent through men who have everything to judge themselves as superior.&lt;br /&gt;Obviously, women have been treated unfairly although that is only public opinion.  Based on those differentiations women are motivated to surpass men’s authority.  They  tend  to  show  that  women  can  do  anything  better  that  men. Actually, it is not easy for women to be highly-motivated in the society because they are still norms, principles, and traditions that  limit  their activities. Now, women’s motivation has moved through the recognition of significant purposes. They are determined to get particular achievement, fulfill their inner  drive,  or reach higher status in society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Stars Shine Down written by Sidney Sheldon talks about a woman who  was  motivated  to  achieve  power  and  wealth.  The  main  character,  Lara Cameron, had to struggle to change her life. She did hard work in many ways to change her life. Here, in this study, I intend to show Lara Cameron’s motivation in achieving power and wealth. I will discuss the problem in the next chapter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;&lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-8770807837273444067?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/8770807837273444067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/lara-camerons-motivation-in-achieving.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8770807837273444067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8770807837273444067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/lara-camerons-motivation-in-achieving.html' title='Lara Cameron’s Motivation In Achieving Power And Wealth In Sidney Sheldon’s The Stars Shine Down (P-82)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-768530210474925724</id><published>2011-04-04T07:47:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T05:25:28.096-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Hubungan Antara Kekuatan Otot Lengan Bahu Dan Daya Ledak Otot Lengan Bahu Dengan Hasil Jumping Service Pada Mahasiswa Putra (P-81)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Alasan Pemilihan Judul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia olahraga dikenal berbagai macam cabang olahraga, salah satunya adalah cabang bola voli. Permainan bola voli merupakan salah satu diantara banyak cabang olahraga yang populer di masyarakat. Hal ini terbukti bahwa bola voli banyak dimainkan di sekolah-sekolah, di kantor-kantor maupun di kampung-kampung. Permainan bola voli digemari oleh masyarakat dari berbagai tingkat usia, anak-anak, remaja dan dewasa baik pria maupun wanita  ( Suharno HP, 1984 : 6 ).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembina bola voli berpendapat bahwa sumber pemain kebanyakan berasal dari sekolah-sekolah, seperti dikatakan oleh Bonnie Robinson ( 1993 : 7 ) bahwa tempat yang cocok untuk latihan olahraga adalah sekolah, termasuk Perguruan Tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran pendidikan jasmani dan kesehatan olahraga di Sekolah Dasar dan  sekolah menengah, hendaknya tidak diartikan secara sempit, ialah  hanya sebagai kesempatan bagi siswa untuk mendapatkan kegiatan sebagai penyela kesibukan belajar atau sekedar untuk mengamankan siswa supaya  tertib.  Pendidikan  jasmani  adalah   proses  pendidikan  melalui aktifitas jasmani. Tujuan yang ingin dicapai bersifat menyeluruh mencakup  domain  psykomotor,  kognitif  dan  afektif. Dengan  kata  lain&lt;br /&gt;melalui  aktifitas  jasmani,  anak  diarahkan  untuk  belajar  melalui  fisik&lt;br /&gt;sehingga akan  terjadi  suatu  perubahan  perilaku  tidak  saja  menyangkut aspek  psikomotor,  tetapi  juga  kognitif  dan  afektif.  Sehingga  sekolah sebagai  suatu  lembaga  pendidikan  formal  pada  pelaksanaannya  secara nasional telah menetapkan  kurikulum yang disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan  memperhatikan tahap perkembangan peserta  didik  dan  disesuaikan  dengan  lingkungannya (  Rusli  Lutan,&lt;br /&gt;2000:4 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan   bola   voli   dapat   digunakan   sebagai   sarana   untuk mendidik, sebab dengan olahraga bola voli dapat membentuk pribadi yang sportif, jujur, kerjasama, bertanggung jawab. Yang semua itu merupakan nilai-nilai pendidikan yang dapat  ditanamkan. Oleh karena itu olahraga permainan bola voli diberikan dalam  lingkungan  atau sebagai olahraga sekolah, bola voli diberikan sejak anak-anak SD, SLTP, SLTA sampai di tingkat   Perguruan   Tinggi.   Hal   yang   sama   juga   diungkapkan   oleh Maryanto, dkk. ( 1993:51 ) bahwa olahraga dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, salah satunya ialah olahraga permainan bola voli digemari dan menarik bagi anak didik, ternyata juga mengandung nilai-nilai  secara  langsung  dapat  membentuk  kepribadian  anak  didik, memberi   ketegasan   dan   kecekatan   pada   anak   didik.   Hal   tersebut mendorong untuk selalu terus  dikembangkan serta ditingkatkannya mutu permainan olahraga bola voli di Indonesia,  dan salah satu usaha untuk mengembangkannya  adalah  mengajarkan  permainan  olahraga  bola  voli sedini mungkin. Karena kepada anak-anak akan lebih mudah dan  cepat&lt;br /&gt;menyerap teknik dasar bola voli dibandingkan dengan orang dewasa ( PBVSI,  1995 : 55 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini olahraga bola voli bukan hanya merupakan olahraga rekreasi, tetapi sudah merupakan olahraga prestasi. Seperti yang dikemukakan oleh Suharno H.P ( 1984:10 ), bahwa bola voli pada abad ke-20 ini  tidak  hanya merupakan olahraga rekreasi lagi, melainkan telah menjadi olahraga  prestasi  sehingga menuntut kualitas prestasi setinggi- tingginya.   Karena   ada   tuntutan   prestasi   yang   tinggi   dan   semakin berkembangnya  permainan  bola  voli  maka  akan  mengalami  beberapa perkembangan baik secara teknik maupun  taktik. Selain itu juga perlu dicari cara latihan yang efektif dan efisien, terutama untuk  memilih dan menyusun metode latihan yang baik, terutama untuk penguasaan teknik dasar yang sempurna sehingga prestasi yang diharapkan dapat tercapai  ( M. Yunus, 1992, 5 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam permainan  bola  voli  dikenal  berbagai  teknik  dasar,  dan untuk dapat  bermain bola voli harus betul-betul dikuasai dahulu teknik- teknik dasar ini. Salah  satu  teknik dasar adalah service, dimana service merupakan  permulaan  untuk   dimulainya  suatu  pertandingan.  Service adalah pukulan bola yang dilakukan dari daerah dibelakang garis lapangan melampaui   net   ke   daerah   lawan.   Pukulan   service   dilakukan   pada permulaan dan setelah terjadinya suatu kesalahan. Pukulan  service dapat berupa serangan bila bola dipukul dengan keras dan terarah ( Sunardi,&lt;br /&gt;1993 : 114 ). Service harus dilakukan  dengan  baik  dan  sempurna  dan oleh semua pemain, karena   kesalahan   service   mengakibatkan pertambahan  angka  bagi  lawan  dan  uniknya  lagi  setiap  pemain  akan melakukan  service  ini.  Demikian  pentingnya  kedudukan  service  dalam permianan bola voli, maka teknik dasar service harus  dikuasai dengan baik, sebaiknya latihan dasar service mendapat porsi yang  cukup. Service dilakukan dari daerah service di belakang lapangan, dengan panjang tak terbatas. Mula-mula service hanya berperan sebagai pelayanan  saja untuk memulai pertandingan, tetapi dewasa ini service bisa merupakan serangan awal untuk mendapat nilai agar suatu regu memperoleh kemenangan ( M. Yunus, 1992 : 69 ). Oleh karena itu service harus dilakukan dengan keras dan terarah dengan tujuan agar tidak bisa diterima oleh lawan yang berarti pihak pemegang service mendapatkan angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Service sendiri  juga  ada  bermacam-macam,  dan  masing-masing memiliki  nama dan sifat serta teknik sendiri-sendiri. Menurut M Yunus, ( 1992 : 69-71 ),   bertolak dari pentingnya kedudukan service diciptakan bermacam-macam teknik dan  variasi service. ialah : 1) Service tangan bawah  (  underhand  service  ),  terutama   diajarkan  untuk  pemula.  2) Floating Service ( Servis Mengapung), terdiri atas  Floating Overhand Service dan Overhand Change Up Service ( Slider  Floating Overhand ).&lt;br /&gt;3) Overhand Round-Hause Sservice ( Hook Service ), dan 4) Jumping&lt;br /&gt;Service.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan tehnik dasar secara sempurna dapat di capai dengan melakukan  latihan-latihan kontinyu dan menggunakan metode latihan yang&lt;br /&gt;baik. Penguasaan teknik dasar sebagai salah satu penunjang keberhasilan permainan bola  voli  sangat  di  pengaruhi  oleh  unsur  lain  yaitu  unsur kondisi fisik. Komponen  fisik yang diperlukan dalam service terutama dalam  jumping  service  dalam   permainan  bola  voli  adalah  kekuatan, kecepatan,  daya  tahan,  keseimbangan  dan  koordinasi.  (Agus  Margono&lt;br /&gt;1993 : 174 )  Komponen-komponen fisik tersebut masing-masing memiliki peranan yang berbeda, sesuai karakteristik yang dimiliki. Komponen fisik yang  dirasa  sangat  penting   berkaitan  dengan  jumping  service  dalam permainan bola voli antara lain adalah  unsur  kekuatan otot lengan bahu dan daya ledak otot lengan bahu. Hal ini didasarkan  pada teori   bahwa service yang baik ialah keras dan terarah. Service yang keras dan terarah adalah spesifikasi jumping service, dan pelaksanaannya dibutuhan lompatan yang tinggi agar pemain leluasa dalam  mengarahkan bola dan pukulan yang lepas dan keras. Untuk pukulan yang keras ini dubutuhkan daya ledak otot lengan bahu dan kekuatan otot lengan bahu. ( M.Maryanto,&lt;br /&gt;1993 : 114-115 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas alasan memilih judul dapat disimpulkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.1.1 Service dewasa ini juga merupakan cara untuk mendapatkan nilai maka harus  dilakukan  dengan keras dan terarah, dan jumping service adalah service yang cocok untuk tujuan tersebut.&lt;br /&gt;1.1.2 Teknik service  merupakan salah satu teknik dasar yang paling penting dan harus dikuasai terlebih dahulu dibandingkan teknik yang lain apabila ingin bermain bola voli.&lt;br /&gt;1.1.3 Sepengetahuan penulis bahwa Judul ini oleh orang lain belum ada yang meneliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;&lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-768530210474925724?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/768530210474925724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/hubungan-antara-kekuatan-otot-lengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/768530210474925724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/768530210474925724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/hubungan-antara-kekuatan-otot-lengan.html' title='Hubungan Antara Kekuatan Otot Lengan Bahu Dan Daya Ledak Otot Lengan Bahu Dengan Hasil Jumping Service Pada Mahasiswa Putra (P-81)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-2258942231916603369</id><published>2011-04-04T07:45:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T05:25:43.829-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Peningkatan Pemahaman Tentang Kecerdasan Emosional Melalui Layanan Informasi Bimbingan Pribadi Pada Siswa Kelas Xi Ips Sma Kesatrian I Semarang (P-80)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anugerah Allah SWT yang tak ternilai harganya bagi manusia salah satunya adalah kecerdasan. Manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun  peradaban  dan  keadaban  demi  kesejahteraan  umat  manusia  dengan kecerdasan akal. Kecerdasan memungkinkan manusia maju dalam bersikap, berbuat, dan berkarya secara dinamis dan konstruktif.  Beberapa kecerdasan tersebut antara lain: kecerdasan intelegensi, emosi, spiritual, linguistik, bodi kinestik, dan interpersonal,  kecerdasan  sosial  seperti  yang  dikemukakan  oleh  Wahab  (Sumber: Republika Online Collected By pasarmuslim.com).  Perkembangan terakhir dalam seminar Multiple Intelligence di Denpasar diperoleh hasil penelitian Goleman, bahwa keberhasilan  seseorang  hanya  20%  dipengaruhi  Intelligence  Quotient  (IQ),  80% dipengaruhi Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ).&lt;br /&gt;(http://www.mail-archive.com/ppiindia@yahoogroups.com/msg20773.html).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EQ tinggi diperlukan agar mampu mengendalikan diri sendiri dan orang lain,  dengan   mengutamakan  kepentingan  umum/  rakyat,  daripada  kepentingan perorangan dan golongan. Keberhasilan seseorang semata-mata tidak ditentukan oleh kecerdasan rasional yang diukur IQ,   ada  unsur lain yang harus diperhatikan yaitu Emotional Quotient (EQ). Unsur ini jauh lebih efektif menyokong kesuksesan dalam&lt;br /&gt;hidup manusia. EQ sangat menekankan aspek emosional dalam diri manusia. Aspek ini memungkinkan orang menghidupkan segala talenta yang dimiliki serta mengembangkan afeksi secara wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan emosi  menggambarkan  kemampuan  seorang  individu  untuk mampu  mengelola dorongan-dorongan dalam dirinya terutama dorongan emosinya. Perkembangan terakhir dalam bidang ilmu psikologi menunjukkan bahwa perkembangan  kecerdasan emosi ini ternyata lebih penting bagi seorang individu daripada kecerdasan intelektualnya. Mengapa? Goleman (1999) menyebutkan bahwa: (1)  EQ mempengaruhi prestasi anak&lt;br /&gt;(2)  EQ mempengaruhi perilaku anak&lt;br /&gt;(3)  EQ mempengaruhi penyesuaian sosial, konsep diri, kepribadian anak&lt;br /&gt;(http://multiply.com/user/join?connect=jovandc)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang paling berarti bagi pertumbuhan   dan   perkembangan   siswa   adalah   mengarah,   membimbing   serta mengantar  mereka  menuju  kepada  bidang  yang  cocok  dengan  bakatnya.  Adanya sumbangan sekolah sebagai lembaga pendidikan mengaktualisir segala potensi siswa sehingga diharapkan siswa puas dan berkompeten dalam pelbagai konteks kehidupan. Tujuan   pengembangan   kecerdasan   emosional   adalah   agar   manusia   memiliki kompetensi emosional. Kompetensi emosional meliputi kompetensi individual  dan sosial. Kompetensi sosial yaitu kemampuan berelasi, berempati terhadap yang lain. Peranan EQ  yang disoroti tidak berarti menggantikan peran IQ. EQ dan IQ tetap&lt;br /&gt;dibutuhkan hanya proporsinya berbeda. (http://www.indomedia.com/poskup/2003/01/30/EDISI30/h04.htm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang  siswa   sebagai   generasi   penerus   bangsa,   sepatutnya   mampu mengelola  aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang dimilikinya secara baik. Usia siswa yang tergolong remaja berkisar antara 15-18 tahun. Masa remaja dikenal dengan masa storm dan stress, masa-masa  terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan bervariasi. Pergolakan emosi yang terjadi pada  remaja  tidak  terlepas  dari  bermacam-macam  pengaruh,  seperti  lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman-teman sebaya serta  aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupannya sehari-hari (Mu’tadin, 2002: 1).  Hurlock (2004: 207)  menyatakan bahwa “masa remaja sebagai periode perubahan, yang salah satunya adalah meningginya emosi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena di SMA Kesatrian I Semarang khususnya pada kelas XI IPS, bahwa  terdapat 4 siswa yang sering berselisih dengan teman, 9 siswa berperilaku kasar, 50 siswa suka berfoya-foya, 7 siswa bersikap individualis, 8 siswa tidak bisa berempati,  12  siswa  belum  mampu   memecahkan  masalahnya  sendiri,  9  siswa bermalas-malasan  dalam  mengerjakan  tugas  dan  suka  membolos,  serta  12  siswa bersikap tidak saling menghormati antar sesama. Penelitian  sebelumnya juga telah dilakukan oleh Siti Uswatun, salah satu mahasiswi Universitas Negeri  Semarang tentang  upaya  meningkatkan  kecerdasan  emosional  melalui  layanan  bimbingan kelompok. Adanya penelitian tersebut juga menunjukan bahwa kecerdasan emosional siswa di SMA Kesatrian I Semarang masih perlu ditingkatkan (belum optimal). Jika&lt;br /&gt;perilaku demikian dibiarkan, dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi kehidupan siswa tersebut di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustian (2001: 199) menyatakan bahwa:&lt;br /&gt;Tingkat IQ atau kecerdasan intelegen sebagian umumnya tetap, sedangkan EQ (kecerdasan emosional) dapat terus ditingkatkan.  Dalam  peningkatan  inilah  kecerdasan  emosi  sangat berbeda  dengan IQ, yang umumnya hampir tidak berubah selama kita hidup. Apabila kemampuan murni kognitif relatif tidak berubah, kecakapan emosi dapat  dipelajari  kapan saja. Tidak peduli orang yang tidak peka, pemalu, kikuk, atau sulit bergaul dengan orang lain, dengan motivasi dan usaha yang benar kita dapat  mempelajari dan menguasai kecakapan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan   Tinggi   (2004:   14)   “visi   konseling   adalah   terwujudnya   kehidupan kemanusiaan  yang  membahagiakan  melalui  tersedianya  pelayanan  bantuan  dalam pemberian   dukungan   perkembangan   dan   pengentasan   masalah   agar   individu berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia”. Berdasarkan visi konseling, maka guna membantu perkembangan siswa dalam rangka  pencegahan masalah tersebut, peneliti turut   mengupayakan  siswa agar meningkatkan pemahaman  tentang kecerdasan  emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya  pemahaman  siswa  tentang kecerdasan emosional, diharapkan mampu mempengaruhi tingkat kecerdasan emosional. Peneliti pun berupaya meningkatkan pemahaman tentang kecerdasan emosional siswa melalui pemberian layanan informasi   bidang  bimbingan  pribadi.  Peneliti memilih menggunakan  layanan  informasi  karena  layanan  informasi  bertujuan  membekali individu dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahkan  masalah yang dihadapi   berkenaan dengan  lingkungan   sekitar,&lt;br /&gt;pendidikan, jabatan,  maupun  sosial  budaya.  Sukardi  (2003:  33)  mengungkapkan bahwa “layanan informasi bertujuan untuk membekali individu dengan pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan   dan   mengembangkan   pola   kehidupan   sebagai   pelajar,   anggota keluarga dan masyarakat”. Sedangkan alasan menggunakan bidang bimbingan pribadi adalah  karena  kecerdasan   emosi  berkaitan  dengan  pribadi  siswa.  Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Zulfa (2007: 43) tentang efektivitas layanan informasi karier  dalam  meningkatkan  perencanaan  karier  siswa  bahwa  “layanan  informasi karier efektif dalam meningkatkan perencanaan karier siswa”. Begitu  juga dengan penelitian Widyastuti (2006: 29) tentang meminimalkan kenakalan remaja melalui layanan  informasi  bimbingan  sosial  bahwa  “layanan  informasi  bimbingan  sosial dapat meminimalkan kenakalan remaja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti memilih judul “Peningkatan Pemahaman tentang Kecerdasan Emosional Melalui Layanan Informasi Bimbingan Pribadi Pada Siswa Kelas XI IPS SMA Kesatrian I Semarang Tahun Ajaran 2008/ 2009” dengan alasan  untuk mengetahui sejauh mana layanan  informasi bimbingan pribadi dapat meningkatkan pemahaman tentang kecerdasan emosional pada  siswa. Sedangkan alasan peneliti mengambil  lokasi  SMA  Kesatrian  I  Semarang  adalah  karena   lokasi  tersebut merupakan  lokasi  praktikan  memperoleh  fenomena  yang  terkait  dengan  upaya meningkatkan  pemahaman  tentang  kecerdasan  emosional  siswa.  Selain  itu  lokasi tersebut juga dekat dengan lokasi peneliti sehingga diharapkan memudahkan kegiatan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;&lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-2258942231916603369?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/2258942231916603369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/peningkatan-pemahaman-tentang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2258942231916603369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2258942231916603369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/peningkatan-pemahaman-tentang.html' title='Peningkatan Pemahaman Tentang Kecerdasan Emosional Melalui Layanan Informasi Bimbingan Pribadi Pada Siswa Kelas Xi Ips Sma Kesatrian I Semarang (P-80)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-5943756346883397176</id><published>2011-04-04T07:43:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T05:26:02.515-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Common Strategic Competence Employed By Senior High School Debaters (P-79)</title><content type='html'>CHAPTER I INTRODUCTION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Background of the Study&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;English debate is nowadays widely known among senior high school students especially in  Semarang. This activity has been something popular for its image among  both  students  and   English  teachers.  They  think  of  this  activity  as something outstanding. This thought may  appear due to the fact that not many students of senior high school are able to do so. Only  those who are at least capable in producing oral communication in English will be chosen as  debater. Referring to this assumption, it is no wonder that the number of English debaters is  not  of great  significance  compared  with  the  whole  number  of students  in general.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The effort of facilitating this great potential has been done. It is proven that many  competitions among high schools and vocational schools have been conducted recently. In fact, this effort gains so much attention and respect from several parties. They are students as the  agent, teachers as the supporters, and frequently  may  collaborate  with  the  government  as   the   facilitator  through Department of Education to present debate competitions. The question that may arise upon this notion is how it gains such great attention.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On the one hand, if we see this fact from the perspective of students’&lt;br /&gt;cognitive aspect, we come into the answer that debate itself will stimulate the&lt;br /&gt;students to have good understanding of what happens around them. It deals with how  they  cope  with  the  current  issues  and  how  they position  themselves  as humans who have great  faith in their own thought or idea upon the issues. This thought is not merely for the sake of their own, it is to be believed by others. In short, we can say that debate can be used as a tool to prepare students to cope with social life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On the other hand, if we see this fact from the perspective of linguistic knowledge,  debate can be used as a tool to train students to use the language practically.   In   relation   to   English   language learning, it is   actually   the implementation of language in use; that is oral communication.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Those two elements mentioned above, as the answer of the question arises, carry a  comprehensive concept. This concept constitutes the reason why debate necessarily  affects  one’s  mindset  and  the  need  of  debaters  to  convince  the adjudicators that somehow their case is logical, reliable, convincing, and therefore undefeatable. To reach this point, a debater should have the competence that will ease   them   in   carrying   his   massage   through   speech   so   that   it   becomes comprehensible and convincing to the adjudicators as the decision makers of the winning. Since it deals with the massage being conveyed and the language being employed, one way to overcome this is to have what so called communicative competence.  As  stated  by  Hymes  (1972),  communicative  competence  is  the knowledge  which  enables   someone  to  use  a  language  effectively  for  real&lt;br /&gt;communication which involves two or more speakers. These speakers interact&lt;br /&gt;each other in the form of oral communication and stimulate each other to respond what each says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Briefly,  communicative  competence  is  really  needed  in  anytime  and anywhere to present nearly perfect performance. Debate, in this case, is one of the examples where a speaker  is supposed to be able to convey massages or cases comprehensively and to respond what other speakers say.  This fact is exactly the main idea of what a debate is intended to be.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The component of communicative competence that relates to the way each speaker  maintains  and  sustains  his  communication  is  what  we  call  strategic competence or communicative strategy. This competence is deemed to be the last but practical choice if the  speakers are lacking of linguistic competence. When they are in this very situation, communication breakdown is so much possible to occur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem in oral communication, especially for those learning a foreign language,  may  coincide  with  the  insufficient  knowledge  in  that  language.  In relation to this, Willing  once declared that  communication to  some degree is problematic since people communicating  may fail to discover that they do not understand  each  other  fully  due  to  lack  of  common  vocabulary  or  common background, or perhaps due to different attitudes (1992: 1).  A debater may say “a…a... what is it?” during his speech when he forgets some massage or some lexical items to be delivered.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If breakdown occurs in debate and the debaters fails to compensate it, their&lt;br /&gt;performance will be less convincing and finally it will influence the adjudicator’s&lt;br /&gt;judgment  about  which  team  deserves  the  winning.  Therefore,  having  good strategic competence is deemed to be crucial for them as merely debaters and as students basically whose background is academic institution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From this long elaboration, we have seen the pedagogical idea implied in a debate that  somehow becomes the  major point  of our discussion. Since I am engaged in a society dealing  with debate namely English Debate Society (EDS) and engaged in educational program,  it becomes a great importance for me to analyze some strategies employed by debaters during their speeches.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Being a judge, or usually called as adjudicator, in several English debate competitions also drives my curiosity upon how debaters maintain their speeches to give more assurance on their cases.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik&lt;/i&gt; &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#CC0000"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau klik&lt;/i&gt; &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;&lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/05/download-tesis-dan-skripsi-gratis.html"&gt;&lt;span style="color:red"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-5943756346883397176?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/5943756346883397176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/common-strategic-competence-employed-by.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/5943756346883397176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/5943756346883397176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/common-strategic-competence-employed-by.html' title='Common Strategic Competence Employed By Senior High School Debaters (P-79)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-3312595166448265564</id><published>2011-04-04T07:41:00.000-07:00</published><updated>2011-04-04T07:43:44.538-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Minat Mahasiswa Sendratasik Program Studi Seni Musik Fakultas Bahasa Dan Seni Universitas Negeri Semarang Terhadap Musik Kontemporer (P-78)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Kebudayaan merupakan hasil cipta dan karsa manusia adalah suatu kekayaan yang sampai saat ini masih kita miliki dan patut kita pelihara. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan  yang   berbeda  dengan  kebudayaan  masyarakat lain. Beragamnya kebudayaan inilah yang menjadi bukti bahwa bangsa kita kaya akan budaya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  Ralph  Linton (dalam  Ihromi,   2000:18), kebudayaan  adalah  seluruh  cara  kehidupan  dari  masyarkat manapun dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup yang oleh masyarakat   dianggap lebih   tinggi atau lebih diinginkan.  Meskipun   banyak  perbedaan     diantara kebudayaan-kebudayaan manusia, namun isi dari kebudayaan yang berbeda itu dapat digolongkan ke dalam sejumlah kategori yang sama. Menurut Koentjoroningrat (dalam Ihromi, 2000:xx) kebudayaan terdiri dari  tujuh kategori yaitu sistem peralatan hidup,  norma, sistem kemasyarakatan, bahasa  religi,  dan kesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas menunjukan bahwa kesenian&lt;br /&gt;merupakan salah  satu  dari  tujuh  kategori  kebudayaan.  Ini&lt;br /&gt;berarti kesenian adalah salah satu kebudayaan manusia yang sampai sekarang masih bertahan. Adapun kesenian itu sendiri mencakup seni  pahat, seni lukis, seni tari, dan seni musik. Dari kelima seni tersebut yang akan dibahas dalam masalah ini adalah seni musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni musik merupakan salah satu kekayaan budaya yang selalu  berkembang  sejalan  dengan  berjalannya  waktu.  Oleh Jamalus (1998:1)  musik adalah suatu hasil karya seni bunyi dalam  bentuk lagu atau komposisi musik,   yang mengungkapkan  pikiran  dan  perasaan  penciptanya  melalui unsur-unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk atau struktur lagu, dan ekspresi sebagai satu kesatuan. Lagu atau komposisi musik tersebut baru merupakan suatu  hasil karya seni jika diperdengarkan dengan menggunakan suara (nyanyian) atau dengan alat-alat musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan   sehari-hari,  kita   dapat menikmati karya  musik  melalui  beberapa  cara,  di  antaranya  dengan menonton pertunjukan  musik  secara langsung di tempat pertunjukan ataupun menikmatinya melalui media audio serta audio visual. Jenis musik yang disajikan oleh beberpa tempat pertunjukan  ataupun media itu pun bermacam-macam, sehingga kita bisa  leluasa  memilih jenis musik yang sesuai dengan  selera  kita,  misalnya  musik  klasik,  pop,  rock,  jazz,&lt;br /&gt;blues, disco, dangdut, keroncong, campursari, dan yang lainnya termasuk musik kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam jenisnya  musik  yang  disajikan  oleh  berbagai media  pertunjukan tersebut menunjukan bahwa selera atau minat masyarakat terhadap jenis musik beragam pula. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal seperti lingkungan, status sosial, pendidikan, sarana dan prasarana serta faktor-faktor yang lain. Menurut Walgito (1997:38)  minat adalah  suatu  keadaan dimana seseorang mempunyai perhatian terhadap obyek-obyek disertai  dengan  keinginan-keinginan  untuk  mengetahui  dan mempelajari  maupun  membuktikannya  lebih  lanjut  tentang obyek tertentu dengan pengertian  adanya   kecenderungan untuk  berhubungan lebih aktif terhadap obyek tersebut. Demikian halnya dengan peminat musik kontemporer. Peminat musik kontemporer tentunya juga mempunyai alasan atau latar belakang tertentu dalam menyukai musik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita akui dan sadari, bahwa hingga saat ini peminat musik  kontemporer  belumlah  begitu  banyak  seperti  halnya peminat musik pop, dangdut, atau jenis musik lain yang sudah populer di kalangan  masyarakat  umum. Musik kontemporer memang tidak sepopuler seperti  jenis-jenis musik tersebut di atas,  hanya  kalangan  tertentu  saja  yang  mempunyai  minat untuk menikmatinya, sebagai contohnya adalah para&lt;br /&gt;mahasiswa yang mempelajari musik pada program studi seni musik di  berbagai  perguruan  tinggi, termasuk mahasiswa jurusan  Sendratasik (Prodi) program studi Seni Musik (FBS) Fakultas Bahasa dan  Seni (UNNES) Universitas  Negeri Semarang.  Walaupun demikian, bukan berarti semua mahasiswa menyukai musik  kontemporer karena masih ada juga sebagian mahasiswa yang tidak berminat pada jenis musik ini, dan cenderung   lebih suka memainkan  serta menikmati musik jenis lain, misalnya pop, dangdut, rock, hip-hop,  R&amp;B, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Dari uraian  di  atas,  dapat  disimpulkan  bahwa  musik kontemporer belumlah sepopuler seperti jenis musik lainnya, dan belum tentu semua orang berminat serta bisa menikmatinya.  Dalam  penelitian  ini,  penulis  akan  meneliti minat mahasiswa  Sendratasik Prodi Seni Musik FBS UNNES terhadap musik kontemporer, khususnya pada angkatan&lt;br /&gt;2002/2003.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-3312595166448265564?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/3312595166448265564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/minat-mahasiswa-sendratasik-program.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/3312595166448265564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/3312595166448265564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/minat-mahasiswa-sendratasik-program.html' title='Minat Mahasiswa Sendratasik Program Studi Seni Musik Fakultas Bahasa Dan Seni Universitas Negeri Semarang Terhadap Musik Kontemporer (P-78)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-8601498465346153125</id><published>2011-04-04T07:38:00.000-07:00</published><updated>2011-04-04T07:41:08.364-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Unveiling The Mystery Of Incest As The Mirror Of Soul Depression In “The God Of Small Things” And Its Relevance To The Modern Society (P-77)</title><content type='html'>CHAPTER I&lt;br /&gt;INTRODUCTION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Background of the Study&lt;br /&gt;Exultation can be reached through reading. This kind of activity is believed to be an effective way in avoiding listlessness. Many people love reading for looking for pleasure or just  spending spare times. When reading foreign literature, the readers  may  also  get  supplementary  knowledge  about  different  culture.  This activity  can  also  stimulate  people  to  learn  English  as  well  as  to  learn  about themselves, people, lifestyle, and other societies.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reading becomes my prominent activity for doing the analysis. As an English  literature student I have read many literary works such as poetry, short story, novel, drama script, and so on. During my study, being deeply involved in literary works is considered to be one of the main tasks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In a narrow sense, literature is defined as all things written; for example, text  book,  brochures,  recipe,  timetable,  etc.  In  a  broad  sense,  as  stated  in Encyclopedia Americana  (1973:559), literature is ‘one of the great creative and universal means of communicating the emotional, spiritual, or intellectual concern of mankind’.&lt;br /&gt;Hardjana (1985:10) in Kritik Sastra, Sebuah Pengantar states:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra merupakan  pengungkapan  baku  dari  apa  yang  telah  disaksikan orang dalam kehidupan, apa yang telah direnungkan, dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang paling menarik minat secara langsung lagi kuat pada hakikatnya adalah  suatu pengungkapan kehidupan lewat bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literature exists because it pleases us by imitating life or more precisely, by displaying the writer’s vision of life as it is or as the writers think it should be. Another function of literature is to expand or to refine our minds or quicken our sense of life (Koesnobroto, 1988).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As it is stated before, novel is one branch of literature. The theme about love,  friendship, and life that are found in novels seems to be the outstanding points that attract the  readers’ curiosity. The dictions used in novels are mostly denotative, containing little complexity and ambiguity. Therefore, novel is easier to read than poetry, play and other literary works. It is considered as a very crucial and enjoyable work to be analyzed&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talking about novel, I choose novel as the object of the study. In addition, I have read many novels during my study in English department. One of them is Arundhati Roy’s The God of Small Things. I am interested in its theme very much since it offers such magic, mystery, sadness, and love in explicit terms. It mostly tells about autobiographical story of an upper-caste  family in Kerala, a part of India. Furthermore, the pictorial details of Kerala’s beauty and  romanticism are also flowing freely through our senses. This novel also offers the exoticism, mysticism, and historical phenomenon in this city. Concerning those reasons, I will analyze The God of Small Things further in this paper.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In this project, I will unveil the topic about incest as found in the novel. This topic  attracts me to analyze it further. Different opinions about this sexual relationship towards someone who is closely related has created a controversy that has not ended yet today. Many people think incest as a taboo phenomenon to be&lt;br /&gt;raised. Kalibonso  (2003)  as  quoted  by  Abdi  (2003:109)  states  that  ‘incest  is always considered as a private family problem which the victim position is under pressured’.  However, others claim that incest is a crime that the doer should be punished. The controversy has made incest one of interesting topics in novel. The author wrote about incest, committed by the  characters, in a unique way. This phenomenon  appeared  differently  compared  to  other  sex  deviation  cases  that finally enrich the incest itself. This is the main reason why I took incest as  the focus of the analysis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furthermore, the result of this analysis is very crucial for me to compose the final project. As undergraduate (S1) student, I have to propose a final project in  the  end  of  my  study.  This  final  project  is  considered  to  be  one  of  the requirements for getting the degree of Sarjana Sastra in English.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-8601498465346153125?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/8601498465346153125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/unveiling-mystery-of-incest-as-mirror.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8601498465346153125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8601498465346153125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/unveiling-mystery-of-incest-as-mirror.html' title='Unveiling The Mystery Of Incest As The Mirror Of Soul Depression In “The God Of Small Things” And Its Relevance To The Modern Society (P-77)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-8161989486826947166</id><published>2011-04-03T18:14:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T18:16:16.481-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Teaching Procedure Written Text Of Cooking Recipe Using Sequence Pictures (An Action Research on the Seventh Degree of Junior High School (P-76)</title><content type='html'>CHAPTER I INTRODUCTION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This chapter is divided into six sub sections. They are background of the study, reason for choosing the study, research question, purpose of the expected result of the study, significant of the study, limitation of the problem, and outline of the final project.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teaching is not an easy job but it is a necessary one and can be very rewarding when we see our students’ progress and know that we have helped to make it happen. It is true  that some lessons can be difficult and students feel stressful at times but it is also worth remembering that the best teaching can also be extremely enjoyable.&lt;br /&gt;Based  on  the  concept  and  function  of  English  as  stated  in  the  2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Competence-Based  Curriculum  which  has  similar  principle  with  Kurikulum Tingkat  Satuan  Pendidikan  (KTSP)  for  SMP/MTS,  the  teaching-learning  of English  has  the  purpose  to  develop  four  language  skills;  listening,  speaking, reading  and  writing.  The  other  English   language  components;  vocabulary, structure and pronunciation (in speech) or spelling (in writing) are also important to be taught to support the development of four language skills. It  means that English teacher should teach the four aspects. It is not only reading or speaking but also listening and writing so the students can master all these skills.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;English teacher  should  provide  materials  that  are  appropriate  with  the curriculum  and find suitable methods in teaching and learning process to make students understand our  lessons. KTSP is the recent curriculum in Indonesia. A curriculum has to prepare students to achieve the competence. It also prepares the student  to  communicate  using  language  society.  One  of  the  new  approaches methods introduced by the government is by using media as  stated by Keidler (1965:1) that media can be useful to the language teachers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition, Brown et al (1977:2-3) say that medium is the tools or physical things used by the teacher to facilitate the instruction. Supporting Brown’s idea, Gerlach and Ely (1980:216) say that a medium, broadly conceived, in any person, material, or event that establishes condition, which enable the learner to acquire knowledge, skills and attitude. In this sense, the  teacher, the textbook, and the school environment are media. Every medium is a means to an end or to a goal. It means that the teacher have to consider the characteristic of media which will be given to the students.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Writing skill is more complex and difficult skill to be taught because it is not only  requiring mastery on grammatical and rhetorical devices but also on conceptual  and  judgment  devices  (heaton,  1975:138).  In  writing  process,  the students are expected to write their written grammatically, express their idea, and make the conclusion as the steps to develop rhetorical devices in the written form. It is clear that the way we organize our students writing and the  way  we offer advice and correction will be different .It is depending on what kind of writing they are involved in.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;A text that is any meaningful stretch of language (Derewiangka, 1990:17) in the written  form belongs to the written product that is produced grammatically. The students have to choose the words that are used and how to put the words to communicate meaning. There are two main categories of text, namely: literary and factual form. A text has a particular type which is called with genre. Genre is a social informed theory of language offering an authoritative pedagogy grounded in research of texts and contexts. Many genre teachers are also strongly committed to  empowering student to participated effectively in writing situations. Genre- based teaching  helps teacher and students to see that texts are purposeful and patterned to serve writer and  community purpose. Each text type has different social function, different structure and different linguistic feature. There are many kinds of  text type’s that are studied for the junior high school  students, namely : description, narration, spoof/recount, procedure, report, and news items.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The study will be focused on writing a procedure text only which is one of the materials in English lesson for SMP/MTs especially on eight degree students. . It  is  a  kind  of  factual  type  that  is  designed  to  describe  how  something  is accomplished  through  a  sequence  of  acts  or  steps  (Derewianka,  1946:27).  In learning  this  material,  students  have  many  difficulties  such  as  understanding generic  structure,  using  imperative  verbs  and  temporal   conjunction  in  the procedure text. Sometimes, the students create the procedure text without analyses the generic structure specifically. They also get difficulties in using imperative verbs  and temporal conjunction in appropriate words so the result of learning procedure text is not optimal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Because of the difficulties in writing procedure text, the teachers have to prepare  some  method  that  appropriate  to  students  in  learning  procedure  text easily.  According  to  Kreidler  (1965:1),  he  states  that  because  pictures  are recognized way of a representing a  real situation so they can be served as an example of the advantages in using visual aids. In the classroom, picture can help the students to associate with their real life experience. In this case,  the writer intends to choose picture of cooking recipe to teach the procedure text because it can make the students understand the grammatical structure, imperative verb and temporal conjunction of procedure texts easily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The writer focuses the study on the using of sequence picture of cooking recipe  in   teaching  procedure  text  and  the  contribution  of  it  to  help  them understand to write procedure text well. She also wants to know whether or not it improves their ability significantly of writing the procedure text after using this method.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-8161989486826947166?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/8161989486826947166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/teaching-procedure-written-text-of.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8161989486826947166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8161989486826947166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/teaching-procedure-written-text-of.html' title='Teaching Procedure Written Text Of Cooking Recipe Using Sequence Pictures (An Action Research on the Seventh Degree of Junior High School (P-76)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-4166369745644572067</id><published>2011-04-03T18:12:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T18:13:51.446-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Word, Above Word And Grammatical Level Equivalence In The Translation Of Nokia 2300 Manual (P-75)</title><content type='html'>CHAPTER I&lt;br /&gt;INTRODUCTION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Background of the Study&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Communication can not be limited only in a certain area or community but people in all over the world need to communicate each others. It is because the needs of life are more complex  and various. Not only the needs of food, clothing and housing   but   nowadays   the   needs   of   information,   education,   science   and technology, fashion and many more become very important.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The  issue  above  can  not  be  separated  from  language  as  a  mean  of communication. Language is the tool by which we express what we think, the typical vehicle of communication that humans use of dealing with one another. On the other hand, the presence of various languages that people speak in different nations all over the world, has more or less  caused obstacles in the process of communicating  among  speakers  of  different  language.  Not  every  human  can speak in all languages. How we can understand information from others country with  different  languages?  How  we  can  share  the  experiences,  sciences  and technology and many things to the people in all over the world? Translation plays important  role   here.  Catford  in  A  Linguistics  Theory  of  Translation  said, “Translation is an activity of enormous importance in the modern world and it is a subject of interest not only to linguist,  professional and amateur translators and languages teachers, but also to electronic engineers  and  mathematicians”. The&lt;br /&gt;statement  shows  us  how  very  useful  translation  for  enhancing  the  people&lt;br /&gt;knowledge so that not only the professional translators who take interest in this subject.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We often are not aware that translation gives much contribution to the growth of the world. As stated by Smith,&lt;br /&gt;The man in the street doesn’t always realize that in the world today, the vast bulk of translation is performed in the fields of commerce, industry and science, and that literacy translation, exciting as it is a relatively minor activity. (1989:19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In line with Catford, Smith agreed that translation is needed in the fields of life for example commerce, industry and science.&lt;br /&gt;Especially in  the  fields  of  industry,  science  and  technology,  it  saying without doubt that translation bring much ease to their progress. As we know that nowadays there are so many products of technology have been launched and most of  them  are  sophisticated  tools.  For  instance,  computer,  mobile  phone,  plays station and others electric tools.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Of course the distributions of those products are not limited in a certain country. The companies compete to enhance their distribution to the international market. Of course in order to use those products optimally, the companies have to provide user’s guide book or manual. Beside it will facilitate the users, the manual useful for them in avoiding the mistakes which cause the damage and endanger the users. Automatically they have to provide the manual in languages where the companies distribute their products. Here, the translation will take the important role to give much understanding of how to use the product properly by conveying the message of the Source Language.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Translation is not as simple as most people think. It’s more than just ability in speak in the target language and understand it. A translator has to know and understand the language  not just semantically and grammatically, but also the culture of where the language is used.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The problem of translation is very complicated, from the level of finding the most  equivalent in word level until the problem of cultural. One in millions problems of translation is the words beras, gabah, menir (Indonesia) only can be translated rice in English. Another example is how to translate words that are not available in target language? For  example a noun rawon (Indonesia/Javanese) must  be  defined  as  kind  of  beef  stew  made  with  ‘keluak’. In  the  previous translation analysis of manual, Rofiatun (2005:2) gave an example, “At Nokia, we call   it   human   technology.   (Nokia   3530:1)   is   translated   Di   Nokia   kami menyebutnya teknologi yang mengerti Anda (Nokia 3530:1)”. There is a shifting in meaning in translating the phrase ‘human  technology’ which should literally mean ‘teknologi manusia’, but it was translated ‘teknologi yang mengerti Anda’. Here, the translator strives for every effort to find the closest equivalent  of the target language. The translator also has to know the suitable strategies how to translate   the  language  naturally,  therefore  the  message  can  be  understood correctly.&lt;br /&gt;From those issues above, the writer will analyze the translation of Nokia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2300 manual. The analysis will be focused on the strategies used by the translator based on the classification word, above word and grammatical level equivalence.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-4166369745644572067?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/4166369745644572067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/word-above-word-and-grammatical-level.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/4166369745644572067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/4166369745644572067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/word-above-word-and-grammatical-level.html' title='Word, Above Word And Grammatical Level Equivalence In The Translation Of Nokia 2300 Manual (P-75)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-166392944350480856</id><published>2011-04-03T18:10:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T18:12:14.250-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Hubungan Antara Sikap Terhadap Merokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Remaja (Penelitian Pada Siswa Laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga ..(P-74)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merokok merupakan kegiatan yang masih banyak dilakukan oleh banyak orang, walaupun sering ditulis di surat-surat kabar, majalah dan media masa lain yang menyatakan bahayanya merokok. Bagi pecandunya, mereka dengan bangga menghisap  rokok  di   tempat-tempat  umum,  kantor,  rumah,  jalan-jalan,  dan sebagainya.  Di  tempat-tempat  yang  telah  diberi  tanda  “dilarang  merokok” sebagian orang ada yang masih terus merokok. Anak-anak sekolah yang masih berpakaian seragam sekolah juga ada yang melakukan kegiatan merokok.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merokok merupakan salah satu masalah yang sulit dipecahkan. Apalagi sudah menjadi masalah nasional, dan bahkan internasional. Hal ini menjadi sulit, karena berkaitan  dengan banyak faktor yang saling memicu, sehingga  seolah- olah sudah menjadi lingkaran setan. Di tinjau dari segi kesehatan merokok harus dihentikan karena menyebabkan kanker dan penyumbatan pembuluh darah yang mengakibatkan kematian,  oleh  karena  itu  merokok  harus  dihentikan  sebagai usaha   pencegahan   sedini   mungkin.   Dari   segi   pemerintahan,   pemerintah memperoleh pajak pemasukan rokok yang tidak sedikit jumlahnya, dan mampu banyak  menyerap  tenaga  kerja.  Jika  pabrik  rokok  ditutup  harus  mencarikan pemasukan  dana  dari sumber lain dan mengalihkan para pekerja pabrik rokok&lt;br /&gt;yang tidak sedikit jumlahnya (sulit pemecahannya). Di pihak perokok sendiri, mereka  merasakan  nikmatnya  begitu  nyata,  sampai  dirasa  memberikan  rasa kesegaran dan kepuasan  tersendiri sehingga setiap harinya harus menyisihkan uang untuk merokok. Kelompok lain,   khususnya  remaja pria, mereka menganggap  bahwa merokok adalah merupakan ciri kejantanan yang membanggakan, sehingga mereka yang tidak merokok malah justru diejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survei yang diadakan oleh Yayasan Jantung Indonesia tahun 1990 yang dikutip  oleh  Mangku  Sitepoe  (2000:  19)  menunjukkan data  pada  anak-anak berusia 10-16 tahun sebagai berikut  : angka perokok &lt;10 tahun (9%), 12 tahun (18%), 13 tahun (23%), 14 tahun (22%), dan 15-16 tahun (28%). Mereka yang menjadi perokok karena dipengaruhi oleh teman-temannya sejumlah 70%, 2% di antaranya hanya coba-coba. Selain itu, menurut data  survei kesehatan rumah tangga 2002 seperti yang tercatatat dalam koran harian Republika tanggal 5 juni&lt;br /&gt;2003, menyebutkan bahwa jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 75% atau 141 juta orang. Sementara itu, dari data WHO jumlah perokok di dunia ada sebanyak 1,1 miliar orang, dan 4 juta orang di antaranya meninggal setiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini di Indonesia kegiatan merokok seringkali dilakukan individu dimulai di sekolah menengah pertama, bahkan mungkin sebelumnya. Kita sering melihat di jalan atau tempat yang biasanya dijadikan sebagai tempat “nongkrong” anak-anak tingkat sekolah menengah banyak siswa yang merokok. Pada saat anak  duduk di sekolah menengah atas, kebanyakan pada siswa laki-&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;laki merokok merupakan kegiatan yang menjadi kegiatan sosialnya. Menurut mereka merokok merupakan lambang pergaulan bagi mereka.&lt;br /&gt;Siswa SMU yang berada dalam masa remaja yang merasa dirinya harus lebih banyak  menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok sebaya dari pada norma-norma orang dewasa. Dalam hal ini remaja menganggap merokok sebagai  lambang  pergaulannya.  Khususnya  siswa  laki-laki  bahwa  merokok sebagai suatu tuntutan pergaulan bagi mereka. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Hurlock (1999: 223) bahwa bagi remaja rokok dan  alkohol merupakan lambang  kematangan.  Hal  tersebut  disampaikan  oleh  Hurlock   berdasarkan fenomena di Amerika. Tetapi menurut norma yang berlaku di Indonesia lebih memandang bahwa remaja khususnya remaja yang masih berada diusia sekolah melakukan aktivitas merokok diidentikan sebagai anak yang nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua orang mulai merokok dengan alasan yang sedikit sekali kaitannya dengan kenikmatan. Dalam pikiran remaja, rokok merupakan lambang kedewasaan. Sebagai  seorang remaja mereka menggunakan berbagai cara agar terlihat  dewasa.  Untuk   membuktikannya  mereka  melakukan  dengan  sadar melakukan  kebiasaan  orang  dewasa   yakni  merokok.  Seperti  halnya  yang diungkapkan oleh  Hariyadi (1997: 12) bahwa remaja ingin mencoba melakukan apa  yang  sering  dilakukan  oleh  orang  dewasa,  dengan  sembunyi-sembunyi remaja pria mencoba merokok karena seringkali mereka melihat orang dewasa melakukannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada masa remaja, ada sesuatu yang lain yang sama pentingnya dengan kedewasaan,  yakni solidaritas kelompok, dan melakukan apa yang dilakukan oleh kelompok. Apabila dalam suatu kelompok remaja telah melakukan kegiatan merokok  maka  individu  remaja  merasa  harus  melakukannya  juga.  Individu remaja tersebut mulai merokok karena individu dalam kelompok remaja tersebut tidak  ingin  dianggap  sebagai  orang  asing,  bukan  karena   individu  tersebut menyukai rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitepoe (2000: 20) menyebutkan bahwa alasan utama menjadi perokok adalah karena ajakan teman-teman yang sukar ditolak, selain itu juga, ada juga pelajar  pria  mengatakan  bahwa  pria  menjadi  perokok  setelah  melihat  iklan rokok. Ini berarti bahwa tindakan merokok diawali dari adanya suatu sikap, yaitu kecenderunga seseorang untuk menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju terhadap respon yang datang dari luar dalam hal ini adalah rokok. Orang melihat rokok atau melihat orang lain merokok, lalu respon apa yang muncul di dalam pikiran  atau  perassaanya, bisa  saja  orang tertarik  (setuju) atau  tidak  tertarik (tidak setuju), hal ini  akan terjadi pada setiap orang. Orang yang setuju, ada kecenderungan akan melakukannya atau menirunya, bagi yang tidak setuju tentu kencenderungannya akan menghindari. Namun  ada kecenderungan lain, yaitu dalam hati ia tidak setuju, tetapi kenyataannya ia melakukannya (merokok). Hal ini   tentu   ada   faktor   lain   yang   mempengaruhinya.   Di   sinilah   terjadinya kontradiksi antara sikap dan perbuatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penelitian akan dilakukan di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat. Berdasarkan hasil penelitian sementara di lapangan didapat data dari hasil penyebaran angket kebiasaan merokok pada remaja sebagai studi pendahuluan yang  disebarkan  kepada  404  siswa  laki-laki  di  SMA  Negeri 1&lt;br /&gt;Jasinga Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat didapat bahwa 61,14% siswa laki- laki tersebut melakukan aktivitas merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan  dengan  fenomena  di  atas,  maka  peneliti  bermaksud  untuk mengadakan  penelitian  di  lapangan  dengan  judul  “  Hubungan Antara  Sikap Remaja Terhadap Merokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Remaja (Penelitian Pada Siswa  Laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005)”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-166392944350480856?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/166392944350480856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/hubungan-antara-sikap-terhadap-merokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/166392944350480856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/166392944350480856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/hubungan-antara-sikap-terhadap-merokok.html' title='Hubungan Antara Sikap Terhadap Merokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Remaja (Penelitian Pada Siswa Laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga ..(P-74)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-4980520961643601693</id><published>2011-04-03T18:07:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T18:10:08.445-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Melalui Metode Latihan Terbimbing Dengan Media Teks Lagu Siswa Kelas X-7 Sma Negeri 1 Pemalang (P-73)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa merupakan  alat yang sangat vital  bagi manusia dalam berkomunikasi.   Manusia   berkomunikasi   agar   dapat   saling   belajar,   berbagi pengalaman,  dan  dapat  meningkatkan  kemampuan  intelektualnya.  Penggunaan bahasa dalam berkomunikasi ada dua macam yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Bahasa  yang  digunakan  dalam  berkomunikasi  baik  secara  lisan  maupun  tulis tersebut muncul dalam segala   aktivitas seperti pendidikan, keagamaan, perdagangan, politik, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran keterampilan bahasa dan sastra Indonesia mencakupi keterampilan mendengarkan, keterampilan membaca, keterampilan berbicara, dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan tersebut selalu berkait satu dengan yang  lain.  Di  antara  keterampilan  tersebut  keterampilan  mendengarkan  dan keterampilan membaca merupakan keterampilan reseptif, sedangkan keterampilan berbicara dan keterampilan menulis merupakan keterampilan produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suyatno (2004:6) menyatakan bahwa posisi bahasa Indonesia berada dalam dua  tugas.  Tugas  pertama  adalah  bahasa  Indonesia  sebagai  bahasa  nasional. Sebagai  bahasa  nasional,  bahasa  Indonesia  tidak  mengikat  pemakainya  untuk sesuai dengan kaidah dasar. Tugas kedua adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Sebagai bahasa negara berarti bahasa Indonesia  harus digunakan sesuai&lt;br /&gt;dengan kaidah, tertib, cermat, dan masuk akal. Bahasa Indonesia yang dipakai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harus lengkap dan baku. Tingkat kebakuannya diukur oleh aturan kebahasaan dan logika  pemakaian. Dengan demikian pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak  hanya  mempelajari  bahasa  yang  resmi,  bahasa  yang  sesuai  dengan  tata bahasa dan kaidah-kaidah  penggunaannya saja tetapi juga mempelajari bahasa dalam bentuk yang tidak resmi seperti dalam bahasa sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus  diajarkan  pada  siswa.  Keterampilan  menulis  mempunyai  peranan  yang sangat penting dalam  kehidupan sehari-hari. Keterampilan menulis merupakan syarat untuk berkecimpung dalam berbagai macam bidang atau kegiatan. Hal ini mengandung pengertian betapa pentingnya keterampilan dan kemampuan menulis dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diberlakukannya  Kurikulum  Tingkat  Satuan  Pendidikan  (KTSP)  oleh pemerintah  menghendaki  (1)  peserta  didik  dapat  mengembangkan  potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri; (2) guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa siswa dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar; (3) guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan  dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan siswanya; (4) orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan  kesastraan  di  sekolah;  (5)  sekolah  dapat  menyusun  program  pendidikan tentang  kebahasaan  dan  kesastraan  sesuai  dengan  keadaan  siswa  dan  sumber&lt;br /&gt;belajar yang tersedia; (6) daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar&lt;br /&gt;kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional (Depdiknas, 2005:1).&lt;br /&gt;Standar kompetensi  mata  pelajaran  Bahasa  dan  Sastra  Indonesia  aspek bersastra SMA kelas X untuk subaspek menulis menyebutkan bahwa siswa harus mampu mengungkapkan pengalaman diri sendiri dan orang lain ke dalam cerpen (Depdiknas,   2005:4).   Untuk   mencapai   standar   kompetensi   di   atas   proses pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia  bukan sekadar pengajaran mengenai teori-teori  sastra.  Di  samping  memperoleh  pengetahuan  tentang  teori-teorinya siswa pun dituntut untuk dapat mengungkapkan pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaannya melalui sebuah karya sastra yang berupa cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan imajinatif yang merupakan tulisan kreatif, dalam hal ini dapat berupa puisi, cerpen, novelet, dan novel. Dalam kajian ini dipilih cerpen sebagai objek penelitian. Pemilihan cerpen karena cerpen tidak memerlukan waktu yang lama untuk membuatnya karena  bentuknya yang lebih pendek daripada novel, begitu pun untuk membacanya, sehingga cerpen sering disebut bacaan yang dapat dibaca sekali duduk. Bahasa yang digunakan dalam cerpen  pun menggunakan bahasa yang sederhana, lebih sederhana jika dibandingkan dengan bahasa dalam puisi yang mempunyai arti lebih kompleks, serta berupa pemadatan kata yang di dalamnya menceritakan gagasan, perasaan ataupun pengalaman penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan  menulis  cerpen  bukanlah  sesuatu  yang  dapat  diajarkan melalui   uraian   atau  penjelasan  semata-mata.  Siswa  tidak  akan  memperoleh keterampilan menulis  hanya dengan duduk, mendengarkan penjelasan guru, dan&lt;br /&gt;mencatat  penjelasan  guru.  Keterampilan  menulis  cerpen  dapat  ditingkatkan&lt;br /&gt;dengan melakukan kegiatan menulis cerpen secara terus-menerus sehingga akan mempengaruhi hasil dan prestasi siswa dalam menulis cerpen. Hasil dan prestasi dapat  meningkat apabila ada perubahan sikap dan tingkah laku siswa baik pada aspek pengetahuan, keterampilan maupun psikomotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit  siswa  yang  mengalami  hambatan  dalam  mengembangkan keterampilannya  menulis  cerpen.  Hal  ini  juga  dialami  siswa  kelas  X-7  SMA Negeri  1  Pemalang,  hambatan-hambatan  tersebut  yaitu  daya  imajinasi  siswa masih kurang, diksi yang  digunakan dalam menulis cerpen kurang bervariasi, kesulitan menentukan tema, dan kurang dapat mengembangkan ide. Proses belajar mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah-sekolah umumnya berorientasi pada  teori  dan  pengetahuan  semata-mata  sehingga   keterampilan  berbahasa khususnya keterampilan menulis kurang dapat perhatian. Ide, gagasan,  pikiran, dan perasaan mereka berlalu begitu saja, tidak diungkapkan khususnya dalam bentuk karya sastra.&lt;br /&gt;Keterampilan menulis cerpen yang diajarkan di sekolah-sekolah selama ini menggunakan  metode  konvensional.  Peran  guru  amat  dominan  dalam  proses pembelajaran.  Siswa  kurang  aktif dan  sering  kali  metode  ini  menimbulkan kebosanan bagi siswa dalam pembelajaran menulis cerpen sehingga karya yang dihasilkan siswa kurang maksimal. Cerpen yang dibuatnya kurang menarik karena bahasa yang digunakan  monoton, dan pengembangan ide atau gagasan kurang bervariasi.  Hal  ini  dapat  dilihat  dari   kesesuaian  isi  cerpen  dengan  tema,&lt;br /&gt;pengembangan topik, dan diksi yang belum mendapat perhatian dari siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru sebagai penyampai materi kepada siswa harus dapat menyampaikan materi yang akan dibahas dengan metode dan media yang tepat dan menarik. Hal tersebut akan berdampak pada keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran dan mengerjakan tugas yang diberikan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keprofesionalan seorang  guru  dituntut  demi  lancarnya  proses  belajar mengajar. Ada tiga persyaratan utama yang harus dimiliki oleh seorang guru agar menjadi  guru  yang   baik,  yaitu  menguasai  (1)  bahan  ajar  (2)  keterampilan pembelajaran, dan (3) evaluasi  pembelajaran. Dalam penguasaan keterampilan pembelajaran guru dituntut untuk menggunakan  berbagai strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran yang tepat dan dapat menarik perhatian  siswa sehingga menciptakan  suasana  pembelajaran  yang  menyenangkan  dan  dapat  mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran menulis cerpen dalam penelitian ini menggunakan metode latihan  terbimbing  karena  keterampilan  menulis  bukanlah  semata-mata  milik golongan orang yang berbakat menulis, melainkan dengan latihan yang sungguh- sungguh keterampilan itu dapat  dimiliki oleh siapa saja. Keterampilan menulis merupakan proses belajar yang memerlukan  ketekunan berlatih, semakin rajin berlatih, keterampilan menulis akan meningkat. Begitu juga dengan  keterampilan menulis cerpen, untuk dapat menulisnya diperlukan usaha yang keras dan latihan terbimbing secara terus-menerus untuk menghasilkan cerpen yang baik. Peran guru   sebagai  motivator,  fasilitator,  sekaligus  inspirator  bagi  siswa  sangat diperlukan dalam hal  ini yaitu memberikan latihan terbimbing kepada siswa&lt;br /&gt;dalam menulis kreatif cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen yaitu teks lagu. Teks lagu merupakan sebuah naskah yang berisi lirik lagu yang berisi rangkaian kata yang merupakan  ungkapan pikiran dan perasaan penyair. Pemilihan teks lagu sebagai media dalam pembelajaran menulis cerpen didasarkan pada alasan- alasan berikut: (1) pada usianya yang masih tergolong remaja kebanyakan siswa SMA   menyukai   lagu-lagu,   sehingga   dengan   media   ini   diharapkan   dapat menstimulus siswa untuk menghasilkan karya terbaiknya dan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, (2) lagu merupakan  sarana hiburan yang menyenangkan dan dapat menciptakan kepuasan, kebahagiaan dan keharuan bagi yang menikmatinya, (3)  teks lagu berisi rangkaian kata indah yang mengisahkan sebuah cerita, baik mengenai  kehidupan, pengalaman ataupun sebuah peristiwa, dengan   teks   lagu   tersebut   dapat   diketahui   alur   dan   temanya   yang   akan mempermudah siswa dalam menulis cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media memegang peran penting dalam pembelajaran karena dengan adanya media siswa dapat menangkap penjelasan yang disampaikan guru dengan mudah, begitu juga dengan media  yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen dengan media teks lagu ini. Siswa diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya menuangkan ide-ide atau pengalamannya ke dalam sebuah karya sastra yaitu cerita pendek dengan mudah dan dapat menghasilkan karya yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penelitian mengenai keterampilan menulis cerpen telah banyak dilakukan. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas tentang keterampilan menulis cerpen&lt;br /&gt;telah  banyak  dilakukan,  namun  metode-metode  dan  media  yang  digunakan&lt;br /&gt;berbeda-beda. Metode dan media yang telah digunakan antara lain karya wisata, pengalaman  pribadi sebagai basis melalui pendekatan keterampilan proses dan pemodelan.  Hal  tersebut   memberi  kemungkinan  untuk  menemukan  metode- metode  yang  lain  untuk  dijadikan  penelitian  lebih  lanjut.  Penelitian  ini  akan mencoba metode latihan terbimbing dengan media teks lagu untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media  teks   lagu  diasumsikan  dapat  mengatasi  permasalahan  siswa  dalam pembelajaran keterampilan  menulis cerpen. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian  tindakan  kelas  sekaligus  sebagai  bahan  penyusunan  skripsi  dengan judul  Peningkatan  Keterampilan  Menulis  Cerpen   melalui  Metode  Latihan Terbimbing dengan Media Teks Lagu Siswa Kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-4980520961643601693?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/4980520961643601693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/peningkatan-keterampilan-menulis-cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/4980520961643601693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/4980520961643601693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/peningkatan-keterampilan-menulis-cerpen.html' title='Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Melalui Metode Latihan Terbimbing Dengan Media Teks Lagu Siswa Kelas X-7 Sma Negeri 1 Pemalang (P-73)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-1847213836620685734</id><published>2011-04-03T18:05:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T18:07:39.081-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Male Feminis Dan Kontra Male Feminis Dalam Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari (P-72)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya sastra  adalah  salah  satu  jenis  hasil  budidaya  masyarakat  yang dinyatakan dengan bahasa, baik lisan maupun tulis, yang mengandung keindahan. Karya  sastra  diciptakan  pengarang  untuk  dinikmati,  dipahami,  dihanyati,  dan dimanfaatkan oleh masyarakat pembacanya. Pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat  dan  lingkungannya,  ia  tak  bisa  begitu  saja  melepaskan  diri  dari masyarakat lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang mengangkat persoalan  perempuan  dan  menceritakan  perjalanan  hidup  seorang  perempuan (Srintil)  dalam  menggapai  kehidupan  yang  diinginkannya.  Selanjutnya,  tokoh perempuan  itu  juga  bertemu  dengan  banyak  tokoh  laki-laki  yang  mempunyai karakter  yang  berbeda-beda,  karakter  yang  mendukung  tokoh  perempuan  dan karakter yang menghambat kebahagiaan tokoh wanita..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya  sastra,  seperti  diakui  banyak  orang,  merupakan  suatu  bentuk komunikasi yang disampaikan dengan cara yang khas dan menolak segala sesuatu yang serba “rutinitas”  dengan memberikan kebebasan kepada pengarang untuk menuangkan kreativitas imajinasinya. Hal ini menyebabkan karya sastra menjadi lain, tidak lazim, namun juga kompleks sehingga memiliki berbagai kemungkinan penafsiran  dan  sekaligus  menyebabkan  pembaca  menjadi  “terbata-bata”  untuk&lt;br /&gt;berkomunikasi dengannya. Berawal dari inilah kemudian muncul berbagai teori untuk mengkaji karya sastra, termasuk karya sastra novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel merupakan sebuah “struktur organisme” yang kompleks, unik, dan mengungkapkan  sesuatu  secara  tidak  langsung.  Hal  inilah,  antara  lain,  yang menyebabkan sulitnya pembaca menafsirkan  sebuah novel, dan untuk keperluan tersebut dibutuhkan suatu upaya untuk menjelaskannya disertai bukti-bukti hasil kerja kajian yang dihasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel merupakan salah satu jenis karya sastra prosa yang mengungkapkan sesuatu  secara  luas. Berbagai kejadian di dalam kehidupan yang dialami oleh tokoh cerita merupakan gejala kejiwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat yang akan terasa dari hasil kajian itu adalah apabila pembaca (segera)  membaca  ulang  karya  sastra  yang  dikajinya.  Dengan  cara  ini  akan dirasakan adanya pembedaan: ditemukan sesuatu yang baru, yang terdapat dalam karya  sastra  itu  sebagai  akibat   kekompleksitasan  karya  yang  bersangkutan sehingga  sesuatu  yang  dihadapi  baru  dapat   ditentukan.  Dengan  demikian, pembaca akan lebih menikmati dan memahami cerita, tema, pesan-pesan, tokoh, gaya  bahasa,  dan  hal-hal  lain  yang  diungkapkan  dalam  karya  yang   dikaji (Nurgiyantoro 1995: 32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesusastraan Indonesia modern banyak pengarang yang menghasilkan cerita fiksi, sebagai contoh dapat disebutkan di antaranya Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala karya Ahmad Tohari,  Para  Priyayi  karya  Umar  Kayam.  Pengakuan  Pariyem  karya  Linus Suryadi AG serta Roro Mendut karya J.B. Mangunwijaya. Kebanyakan inti cerita&lt;br /&gt;dan karya-karya itu tentang etika Jawa dan persoalan wanita Jawa yang masih memegang teguh nilai-nilai dan pandangan hidup wanita Jawa.&lt;br /&gt;Karya sastra  yang  dijadikan  objek  kajian  penelitian  ini  adalah  novel Trilogi  Ronggeng  Dukuh  Paruk  karya  Ahmad  Tohari  karena  novel  tersebut menempatkan wanita  sebagai tokoh utama meskipun masih dipengaruhi tokoh pria. Tokoh wanita dalam novel Ahmad Tohari adalah sosok wanita yang penuh dengan permasalahan yang harus dihadapi.  Masalah cinta, rumah tangga, asal usul,  dan  kebahagiaan  yang  masih  dihadapi  dan  harus  dipecahkan  oleh  sang tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Srintil ingin mempertahankan sesuatu yang menjadi haknya. Ia ingin berhenti menjadi ronggeng dan menjadi perempuan seutuhnya, menikah dan mempunyai anak. Srintil sebagai ronggeng harus melakukan pengorbanan, ia mengorbankan  sebuah  kesucian  dalam  acara  Bukak-Klambu.  Kartareja  telah menyanyembarakan kesucian Srintil pada laki-laki yng bisa memenuhi syarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca  menyukai  novel-novel  Ahmad  Tohari  karena  kemenarikan ceritanya. Ahmad tohari sering mengangkat tema tentang kehidupan masyarakat lapisan bawah yang  disajikan dengan gaya bahasa yang mampu menghidupkan suasana cerita dan mudah dipahami  pembaca. Ahmad Tohari bisa melahirkan karya yang mengangkat kesukaran hidup kaum bawah karena pengalaman hidup yang  sangat  berkesan,  terutama  yang  mengangkat  tentang  kemelaratan  para tetangga, kebodohan, serta ketidakberdayaan mereka keberpihakan Ahmad Tohari terhadap wong cilik seakan menjadi obsesinya yang tidak pernah berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pribadi-pribadi yang terwujud dalam diri tokoh-tokoh manusia Jawa dalam karya Ahmad Tohari merupakan cerminan dari kepribadiannya selaku pengarang dalam pergulatannya dengan pengalaman hidup. Ahmad Tohari memang tinggal dan  dibesarkan  di  daerah  Jawa,  tepatnya  di  daerah  Jati  Lawang,  Banyumas, sehingga wajar bila nilai kultur Jawa yang melatarbelakangi hidupnya sangat lekat dan kentara mewarnai hampir dalam semua karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Trilogi  Ronggeng  Dukuh  Paruk  terdiri  dari  tiga  episode  yaitu episode  pertama berjudul Ronggeng Dukuh Paruk, episode kedua diberi judul Lintang Kemukus Dini Hari, dan yang ketiga adalah Jantera Bianglala. Menurut pengarangnya, novel Ronggeng Dukuh Paruk sengaja dipersiapkan untuk menjadi trilogi,   ketika   menulis   episode   pertama,   pengarang   mengakui   mengalami kebuntuan untuk menyelesaikan dalam sebuah trilogi  sekaligus. Novel tersebut berkisah tentang dunia Ronggeng Dukuh Paruk. Tokoh-tokohnya  adalah Srintil dan  Rasus  yang  menginjak  dewasa  pada  sekitar  tahun  1965.  Sekian  tahun sebelumnya, Dukuh Paruk adalah sebuah desa kecil yang terpencil dan terbilang miskin. Namun, segenap warganya memiliki suatu kebanggaan tersendiri karena mewarisi kesenian  ronggeng yang senantiasa menggairahkan kehidupan. Tradisi itu  nyaris  musnah  setelah  terjadi  musibah  keracunan  tempe  bongkrek  yang mematikan belasan warga Dukuh Paruk. Untunglah mereka menemukan kembali semangat kehidupan setelah gadis cilik Srintil pada umur belasan  tahun secara alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng (Yudiono 2003: 17-&lt;br /&gt;18).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lebih jauh, novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari sepertinya   ingin  menunjukkan  sisi  lain  dari  kehidupan  perempuan,  sebuah fenomena  yang  jarang   terjadi  ketika  sosok  perempuan  dengan  tekad  dan kegigihannya berusaha keluar dari  jeratan nasib yang kurang memihaknya. Hal lain, novel ini banyak mengangkat tokoh laki-laki  untuk secara bersama-sama memerangi   suatu ketidakadilan, baik yang berasal dari sosok  laki-laki maupun sosok perempuan itu sendiri. Laki-laki dan perempuan adalah sosok yang secara maknawi mereka sama, konstruksi sosial di masyarakatlah yang menyebabkan mereka diperlakukan berbeda.&lt;br /&gt;Dalam waktu singkat, Srintil membuktikan kebolehannya menari disaksikan orang-orang Dukuh Paruk sendiri. Srintil sebagai seorang ronggeng, harus   menjalani   serangkaian  upacara  tradisional  yang  puncaknya  menjalani upacara  bukak  klambu,  yaitu  menyerahkan  keperawanannya  kepada  siapapun lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama  ini  perempuan  dipandang  sebagai  sosok  yang  lemah.  Banyak anggapan  yang beredar di masyarakat tentang diri perempuan itu sendiri yang menyebabkan perempuan semakin terpinggirkan. Adanya anggapan bahwa sosok perempuan itu irrasional atau emosional  sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Laki-lakilah yang dianggap dominan yang berada di  pusat. Perempuan  hanya  sebagai  kanca  wingking  atau  dalam istilah  bahasa  jawanya “swargo nunut neroko katut” (Fakih 2003: 12).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Srintil merupakan sosok wanita yang berparas cantik. Sejak usia sebelas tahun ia sudah menjadi Primadona karena menjadi ronggeng. Kecantikan Srintil banyak menrik perhatian orang terutama kaum laki-laki. Mereka rela mengeluarkan  uang  dalam  jumlah  banyak  untuk  sekedar  bertayub  dan  tidur dengan Srintil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan yang jelas antara konsep jenis kelamin (sex) telah melahirkan ketidakadilan, baik kaum laki-laki dan terutama perempuan. Disadari atau tidak, ketika gagasan  feminis ini dilihat secara sekilas, sepertinya perempuanlah yang menjadi korban konsep-konsep  gender tersebut. Laki-laki bisa menjadi feminis jika  sikap  dan  tingkah  laku  mereka   menunjukkan  sikap  menghargai  dan menghormati perempuan. Namun, tatkala istilah male feminis dimunculkan, akan ada  sebuh  oposisi  yang  menyatakan  perlawanan  dari  male  feminis  yang  bisa disebut  dengan  istilah  kontra  male  feminis.  Sikap  laki-laki  yang  kontra  male feminis  terlihat  dari  tingkah  laku  mereka  yang  tidak  menghargai  perempuan, bahkan cenderung semena-mena (Adian dalam Subono 2001: 26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi tokoh laki-laki cukup mewarnai novel Ronggeng Dukuh Paruk tersebut Srintil banyak melibatkan tokoh laki-laki. Pada kenyataannya tokoh laki- laki ada yang mendukung atau yang disebut male feminis dan ada pula yang tidak mendukung dan disebut  kontra male feminis. Namun, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa tokoh kontra kontra feminis lebih dominan dibanding dengan laki-laki yang male feminis. Tokoh male feminis inilah  yang banyak membantu tokoh perempuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka dalam bersikap dan tingkah lakunya sangat menghormati dan menghargai perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi,  laki-laki  pun  bisa  menjadi  feminis  jika  tingkah  laku  mereka menunjukkan sikap menghargai dan menghormati perempuan. Dan laki-laki bisa menjadi kontra male feminis  jika mereka menunjukkan sikap tidak menghargai dan menghormati perempuan. Terlihat jelas bahwa laki-laki dan perempuan perlu berkolaborasi untuk membangun sebuah masyarakat yang bebas dari diskriminasi dan  hal  ini  jelas  terlihat  dalam  novel  Trilogi  Ronggeng  Dukuh  Paruk  karya Ahmad Tohari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk adalah  Srintil,  Rasus,  Ki  Kertareja,  Bajus,  Marsusi,  Sakarya,  Sulam,  Dower, Warta, Darsun, dan lain-lain. Deretan nama-nama dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk telah mampu  memerankan perannya dengan baik. Hampir semua tokoh  yang  dimunculkan  oleh  Ahmad   Tohari  telah  mampu  menunjukkan karakteristik pribadi yang unik, sanggup memberikan penginderaan yang jelas dan terasa begitu nyata, lengkap dengan segala pelukisan gambaran, penempatan, dan perwatakannya masing-masing tokoh tersebut.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal di atas, dalam penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti tokoh male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk  karya  Ahmad  Tohari  berdasarkan  teori  male  feminis  dan  kontra  male feminis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-1847213836620685734?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/1847213836620685734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/male-feminis-dan-kontra-male-feminis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1847213836620685734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1847213836620685734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/male-feminis-dan-kontra-male-feminis.html' title='Male Feminis Dan Kontra Male Feminis Dalam Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari (P-72)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-5820045006953105558</id><published>2011-04-03T18:04:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T18:05:44.373-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Keterampilan Pengelolaan Kelas Guru Sdn Wilayah Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri Tahun Ajaran 2006/2007 (P-71)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan salah satu wahana penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas.  Hal ini sebagaimana tercantum  dalam Pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk   watak  serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat dalam  rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa  kepada  Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung-jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional tersebut diperlukan kerjasama dari berbagai pihak, baik   pemerintah  pusat  dan  daerah,  guru,  masyarakat,  dan  lembaga- lembaga di luar  lembaga pemerintah. Dari semua pihak tersebut, guru merupakan komponen yang paling menentukan, karena guru merupakan pihak  yang  berhubungan  secara   langsung   dalam  pelaksanaan  proses belajar-mengajar di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jalal dan  Mustafa dalam Mulyasa (2007 : 9) yang menyatakan bahwa komponen  guru  sangat  mempengaruhi  kualitas  pengajaran  melalui  (1) penyediaan waktu lebih banyak pada peserta didik, (2) interaksi dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;peserta didik  yang  lebih  intensif,  dan  (3)  tingginya  tanggung  jawab mengajar dari guru.&lt;br /&gt;Namun demikian, peranan dan fungsi guru yang sangat penting tersebut  belum  sepenuhnya  dapat  dijalankan  oleh  para  guru.  Hal  ini dibuktikan dengan masih buruknya kinerja para guru. Mulyasa (2007 : 9) menyebutkan tujuh indikator yang menunjukkan lemahnya kinerja guru, yaitu  :  (1)  rendahnya  pemahaman  tentang  strategi  pembelajaran,  (2) kurangnya kemahiran dalam mengelola kelas, (3) rendahnya kemampuan melakukan dan memanfaatkan penelitian tindakan kelas, (4)  rendahnya motivasi berprestasi, (5) kurang disiplin, (6) rendahnya komitmen profesi, dan (7) rendahnya kemampuan manajemen waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator pertama adalah strategi pembelajaran. Guru berkualitas wajib  mengetahui dan memahami strategi pembelajaran yang berbeda- beda. Minimnya pengetahuan dan pemahaman tentang strategi pembelajaran menyebabkan guru tidak mampu mempergunakan strategi pembelajaran  yang  berbeda-beda,  sehingga  kegiatan  belaajar-mengajar berlangsung dengan monoton dan membosankan.&lt;br /&gt;Indikator kedua adalah pengelolaan kelas. Guru harus terampil dalam  mengelola kelas, karena pengelolaan kelas yang baik merupakan salah satu syarat  berlangsungnya proses belajar-mengajar yang efektif. Sebaliknya, pengelolaan kelas  yang buruk menyebabkan proses belajar- mengajar menjadi tidak berjalan secara efektif.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari tujuh indikator tersebut, indikator pengelolaan kelas merupakan salah satu indikator yang sangat penting. Meskipun indikator pertama  juga   penting,  tetapi  indikator  pertama  tersebut  tidak  akan berfungsi apabila guru tidak  memiliki keterampilan dalam pengelolaan kelas. Misalnya adalah, guru menerapkan  strategi pembelajaran berupa ceramah  dan  diskusi  untuk  satu  mata  pelajaran.   Pemakaian  strategi pembelajaran ini akan berhasil apabila didukung oleh keterampilan guru dalam mengelola kelas, misalnya mengatur tata ruang dan kursi, membuat kelompok   diskusi   yang   tepat,   memotivasi   siswa   dengan   memberi penguatan atau menegur, dan keterampilan pengelolaan kelas lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan indikator kinerja guru yang lain, seperti kedisiplinan,  manajemen  waktu,  motivasi  berprestasi,  dan  komitmen profesi. Indikator-indikator tersebut tercakup dan terlibat dalam pengelolaan  kelas.  Kedisiplinan  guru  yang  tinggi  akan  mendukung kemampuan guru dalam mengelola kelas, tetapi kedisiplinan yang tinggi tidak akan bermanfaat banyak apabila tidak disertai dengan kemampuan dalam  mengelola  kelas.  Hal  ini   disebabkan  karena  proses  belajar- mengajar yang dijalankan oleh guru sebagian besar berlangsung di dalam kelas.  Kinerja  guru  yang  rendah  dalam  hal  pengelolaan  kelas  dapat mengakibatkan siswa tidak mampu belajar secara efektif, karena kondisi kelas  yang  tidak  memungkinkan  untuk  belajar.  Kondisi  tersebut  pada gilirannya menyebabkan ketidakberhasilan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  demikian,  upaya  perbaikan  pendidikan  harus  dimulai melalui perbaikan kualitas guru, terutama perbaikan dalam hal kemampuan guru dalam mengelola kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Depdiknas  (2004  :  6)  seorang  guru  disebut  memiliki kompetensi  profesional apabila telah menguasai 12 keterampilan dasar guru yaitu : (1) memahami standar nasional pendidikan, (2) mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (3)  menguasai materi standar, (4) mengelola program pembelajaran, (5) mengelola kelas, (6)  menggunakan  media  dan  sumber   pembelajaran,  (7)  menguasai landasan kependidikan, (8) memahami dan melaksanakan pengembangan peserta didik, (9) memahami dan menyelenggarakan administrasi sekolah, (10)   memahami   penelitian   dalam   pembelajaran,   (11)   menampilkan keteladanan dan kepemimpinan dalam pembelajaran, (12) memahami dan melaksanakan konsep pembelajaran individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah  satu  aspek  dalam  keterampilan  dasar  tersebut  adalah keterampilan pengelolaan kelas. Aspek ini merupakan aspek yang paling mendasar  yang harus dimiliki oleh guru karena aspek ini berpengaruh terhadap pelaksanaan 11 keterampilan dasar yang lain. Dengan kata lain, kesebelas keterampilan dasar terwujud dalam pelasanaan proses belajar- mengajar  di  dalam  kelas.  Misalnya  adalah  keterampilan  dasar  yang pertama,  yaitu  memahami  standar  nasional  pendidikan.   Pemahaman terhadap standar pendidikan nasional tidak akan memberikan kontribusi yang berarti apabila guru yang bersangkutan tidak memiliki kemampuan&lt;br /&gt; mengelola  kelas  dengan  baik.  Demikian  halnya  dengan  keterampilan- keterampilan   dasar  yang  lain  seperti  keterampilan  mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan  Pendidikan, keterampilan menguasai materi standar,  keterampilan  menggunakan  media  dan  sumber  pembelajaran, atau  keterampilan  menguasai  landasan   kependidikan.  Keterampilan- keterampilan tersebut terkait dengan proses pembelajaran di dalam kelas. Apabila guru mampu mengelola kelas dengan baik, maka  ketrampilan- keterampilan dasar tersebut akan berfungsi dengan baik dalam menunjang proses belajar-mengajar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa proses belajar-mengajar siswa dapat terselenggara secara efektif apabila pelaksanaan kegiatan pengelolaan kelas dapat berjalan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  peranannya  sebagai  pengelola  kelas,  guru  hendaknya mampu  mengelola  kelas  sebagai  lingkungan  belajar.  Lingkungan  ini diatur dan diawasi agar kegiatan belajar terarah kepada tujuan pendidikan. Pengawasan  terhadap  lingkungan  belajar  ini  turut  menentukan  sejauh mana lingkungan tersebut dapat menjadi  lingkungan belajar yang baik. Dalam pengelolaan  kelas,  guru  bertugas  menciptakan  dan  memelihara kondisi yang optimal untuk belajar-mengajar. Apabila terjadi situasi yang menyimpang  sehingga  kondisi  belajar-mengajar  menjadi  tidak  optimal maka guru berupaya untuk mengembalikan ke kondisi yang optimal agar proses belajar-mengajar yang ada dapat berjalan dengan efektif.&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, dapat disimpulkan bahwa  keterampilan mengelola kelas sangat penting dikuasai oleh guru.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keterampilan  pengelolaan  kelas  dapat  mendukung  terjadinya  proses belajar-mengajar yang efektif. Kenyataan ini mendorong peneliti untuk mengkaji  lebih  lanjut tentang sejauh mana keterampilan yang dimiliki oleh guru dalam mengelola kelas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-5820045006953105558?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/5820045006953105558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/keterampilan-pengelolaan-kelas-guru-sdn.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/5820045006953105558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/5820045006953105558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/keterampilan-pengelolaan-kelas-guru-sdn.html' title='Keterampilan Pengelolaan Kelas Guru Sdn Wilayah Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri Tahun Ajaran 2006/2007 (P-71)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-1332982302755970661</id><published>2011-04-03T18:02:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T18:04:17.437-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>A Comparative Study On Diction And Sentence Structure Between Spoken News Broadcast By Cnn International And Written News Articles Issued .. (P-70)</title><content type='html'>CHAPTER I INTRODUCTION&lt;br /&gt;1.1 Background of Study&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jay Black and Frederick C. Whitney (1988) as quoted by www.buzzin.net mention that  mass  communication  is  a  process  whereby  mass-produced  message  are transmitted to large, anonymous, and heterogeneous masses of receivers. So the number of the receivers are numerous and unpredictable in that way we need to scrutinize which receivers go to which media, In this case audio - visual media represented by television and visual media represented by broadsheet or famous as newspaper. Revealing all aspects of these two media will such an effort that needs a lot of energy and time wasted. So, I will concentrate on the point of the style of those two media as the sender of spoken and written message.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even though the receivers of certain messages are not only the reader or those who  watch television, I will stress upon those two media for their great influences that they have in  nowadays time of information, they   are television and newspaper. Joseph A Devito, (in Nuruddin 2003:10) suggests that&lt;br /&gt;“First, mass communication is communication addressed to masses, to an  extremely  large  science.  This  does  not  means  that  the  audience includes all people or  everyone who reads or everyone who watches television; rather it means an audience that is large and generally rather poorly defined. Second, mass communication is communication mediated by audio and/or visual  transmitter. Mass communication is perhaps most easily and most logically defined by its forms; television, radio, newspaper, magazines, films, books, and tapes”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In ‘delivering’ the messages both television and newspaper has their own ideology, whether it is for the purpose of propaganda or telling the truth, and even for entertainment only.  Here I would analyze more on the choices of words, grammatical structures, and the length of certain utterances which could lead to a typical distinctive style of spoken and written news reporting. Dennis Freeman (in (www.buzzin.net.2006) state it in his book entitle Style “…..how important are the choices  of  vocabulary  and  grammatical  structure  in  producing  the  distinctive styles of writing that serve to make that ideology clear.” The question is why only those several aspects that is being analyzed? In linguistics, the purpose of close analysis is to identify and classify the elements of language being used.) Stylistic analysis in linguistic refers to the identification of patterns of usage in speech and writing. Other than the close analysis of the  style, I will also try to see the correlation  of  the  style  being  used  and  the  effect  towards  the  audiences  or receivers.  But  the  main  point  of  this  writing  is  to  provide  us  with  adequate information of what is actually the style of spoken and written news reporting.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-1332982302755970661?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/1332982302755970661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/comparative-study-on-diction-and.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1332982302755970661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1332982302755970661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/comparative-study-on-diction-and.html' title='A Comparative Study On Diction And Sentence Structure Between Spoken News Broadcast By Cnn International And Written News Articles Issued .. (P-70)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-6347455181273000190</id><published>2011-04-03T17:57:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T18:02:03.614-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Siswa Kelas Viii Smp Bhakti Praja Gebog Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 Pada Materi ..(P-69)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMP Bhakti Praja bukanlah pilihan pertama dari lulusan SD/MI di sekitar  Gebog,  walau  merupakan  satu-satunya  SMP  swasta  di  kecamatan Gebog.  Setelah  hasil  seleksi  SMP  negeri  diumumkan,  siswa  yang  tidak diterima baru mendaftar di SMP Bhakti Praja Gebog. Dengan demikian input SMP Bhakti Praja Gebog adalah saringan atau  sisa dari anak-anak terpilih, dengan motivasi orangtua yang kurang mendukung, latar  belakang ekonomi orangtua kebanyakan buruh pabrik, sehingga proses belajar mengajar di SMP Bhakti  Praja  Gebog,  terutama  pada  mata  pelajaran  matematika  yang  bagi sebagian siswa adalah pelajaran yang kurang menarik terasa berat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah  menonjol  yang  dihadapi  oleh  pendidikan  matematika adalah  pada umumnya hasil belajar siswa yang kurang memuaskan, hal ini dikarenakan kurangnya  minat siswa terhadap pelajaran matematika sehingga tidak sedikit dari mereka yang  menganggap bahwa matematika adalah ilmu yang sulit dan tidak menarik. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian khusus dari guru selaku pendidik untuk menemukan metode  pengajaran yang tepat dan sesuai dengan materi dan bahan yang diberikan kepada siswa,  karena suatu pembelajaran akan efektif jika metode pembelajaran yang digunakan sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa. Di samping menguasai metode pembelajarannya  seorang  guru  juga  harus  menguasai  teknik  menerangkan,&lt;br /&gt;mengajarkan konsep matematika, cara membangkitkan motivasi siswa, cara&lt;br /&gt;menggunakan alat bantu dan teknik mengevaluasi seberapa jauh proses belajar mengajar dalam kelas telah tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu para pendidik matematika perlu memahami dan mengembangkan berbagai metode, keterampilan dan strategi dalam mengajarkan   matematika.   Tujuannya   antara   lain   agar   dapat   menyusun program pengajaran yang dapat membangkitkan motivasi siswa agar mereka belajar dengan antusias. Lebih daripada itu agar siswa merasa benar-benar ikut ambil  bagian  dan  berperan  aktif  dalam  proses  kegiatan  belajar-mengajar, mengingat  metode  pembelajaran  yang  selama   ini  digunakan  oleh  guru matematika yang kebanyakan didominasi oleh guru itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem persamaan  linear  dua  variabel  adalah  salah  satu  materi pokok matematika di kelas VIII. Materi pokok yang berkaitan dengan masalah sehari-hari ini terasa sulit dipahami siswa kelas VIII SMP Bhakti Praja Gebog. Indikatornya  siswa kurang  mampu  menyelesaikan soal-soal tentang sistem persamaan  linear  dua  variabel  apalagi  bila   disajikan  dalam  soal  cerita, akibatnya lebih dari 75% siswa belum tuntas belajar dan rata-rata nilai ulangan harian kurang dari 6,00 serta kurang dari 75% siswa yang terlibat aktif ketika proses   pembelajaran   berlangsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran berbasis masalah dipilih sebagai salah satu alternatif karena model ini merupakan pendekatan pengajaran yang&lt;br /&gt;menggunakan  masalah-masalah  dunia  nyata  sebagai  konteks  bagi  peserta didik untuk belajar berpikir kritis dan terampil memecahkan,  serta mendapatkan  pengetahuan dan konsep-konsep dasar. Ciri-ciri utama pembelajaran  berbasis  masalah  meliputi  suatu  pengajuan  pertanyaan  atau masalah, memusatkan pada  keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama, dan menghasilkan karya dan peragaan.&lt;br /&gt;Guru  dalam  model  pembelajaran  berbasis  masalah,  berperan sebagai  penyaji masalah, fasilitator, membantu siswa memecahkan masalah dan menjadi salah satu  sumber belajar siswa. Selain itu, guru memberikan dukungan,  motivasi  dan  dorongan  yang  dapat  meningkatkan  pertumbuhan inkuiri dan intelektual siswa. Dalam hal ini guru  berperan sebagai pemberi rangsangan, pembimbing kegiatan siswa dan penentu arah belajar mereka. Di samping itu, kegiatan pengembangan model pembelajaran berbasis masalah dalam materi pokok sistem persamaan linear dua variabel amatlah strategis, seiring dengan implementasi KBK, sehingga kreativitas guru dapat ditingkatkan, serta ketersediaan berbagai fasilitas yang dimiliki secara terbatas dapat ditingkatkan.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-6347455181273000190?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/6347455181273000190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/meningkatkan-kemampuan-menyelesaikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/6347455181273000190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/6347455181273000190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/meningkatkan-kemampuan-menyelesaikan.html' title='Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Siswa Kelas Viii Smp Bhakti Praja Gebog Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 Pada Materi ..(P-69)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-8339448432540717117</id><published>2011-04-03T17:55:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T17:57:12.870-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Kemampuan Guru Dalam Mengintegrasikan Pendidikan Kependudukan Dan Lingkungan Hidup (Pklh) Dengan Mata  Pelajaran  Sains  &amp; Pengetahuan  Sosial (P-68)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang Masalah Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan  lingkungan  hidup  akan  membawa  dampak  positif  untuk tetap  lestarinya  lingkungan  itu  sendiri.  Namun,  kenyataan  yang  terjadi  justru sebaliknya,  ketika  kita  berjalan  di  sekitar  halaman  rumah,  di  sepanjang  jalan bahkan di sekeliling gedung-gedung pemerintahan, maupun di lembaga-lembaga pendidikan, dengan sangat  mudah didapati sampah-sampah yang berserakan di sana-sini dan sudah menjadi pemandangan keseharian. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi krisis air yang sering terjadi melanda negeri ini, saat musim kemarau sulit untuk mendapatkan air dan bila musim penghujan tiba, maka dapat  dipastikan  terjadi banjir (Kompas Mahasiswa  2002:15).  Hutan  banyak  dibabat  untuk  kepentingan  sesaat  tanpa mempedulikan  upaya  penghijauannya  (Warnadi.,  Sunarto,   dan   Muchlidawati&lt;br /&gt;1997:35). Tanah dan air banyak tercemar oleh limbah-limbah industri dan limbah domestik yang berasal dari rumah hunian, belum lagi udara yang tercemar akibat asap kendaraan bermotor dan asap pabrik (Warnadi., Sunarto, dan Muchlidawati&lt;br /&gt;1997:36-39).  Jika  keadaan  seperti  itu  dibiarkan  terus-menerus,  maka  dapat dipastikan   cepat   ataupun   lambat   lingkungan   hidup   akan   semakin   parah kerusakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah sebenarnya sudah sejak lama melakukan upaya dalam menjaga kelestarian lingkungan  hidup, salah satu diantaranya adalah melalui Pendidikan&lt;br /&gt;Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) yang mulai dirintis sejak tahun&lt;br /&gt;1975   (Anonim   a   2002:1).   Seperti   diungkapkan   oleh   Alkarhami   (dalam http://www.pdk.go.id/balitbang/publikasi/jurnal/no_26/program_pklh_suud_kari m.htm.),   bahwa  pengenalan   program  PKLH  telah  diimplementasikan   sejak kurikulum  1984,   namun  kenyataan  sehari-hari  menunjukkan  hampir  semua lulusan sekolah belum  menampilkan kinerja ramah lingkungan. Buktinya masih banyak menemui lulusan sekolah yang membuang sampah di jalanan, merokok di kendaraan  umum,  berludah  dan  membuang  hajat  tidak  pada  tempatnya,  dan kegiatan merusak lingkungan lainnya. Dengan demikian dapat dikatakan program PKLH di sekolah  belum optimal, untuk  itu  perlu dilakukan  pembenahan pada tubuh PKLH jalur sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan regional Sekolah Model Berwawasan Lingkungan tahun 2001 dilaksanakan di Makasar, Denpasar, dan Batam. Utusan Jawa Tengah mengikuti pertemuan  regional  di  Denpasar,  Bali  yang  berlangsung  dari  tanggal  12  Juli sampai dengan 13 Juli 2001. Wakil dari Jawa Tengah adalah: SD Negeri Singosari&lt;br /&gt;03-04  Semarang  yang  sekarang   menjadi   SD   Negeri   Pleburan   IV-V  Kota Semarang, SMP 4 Semarang, dan SMA 1 Semarang (Anonim b 2001:1), namun dari laporan pelaksanaan implementasi pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup  (PKLH)  didapat adanya ketidakpedulian warga sekolah terhadap masalah lingkungan hidup (Syafrudie 2002:19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya   10,01%   guru   yang   pernah   mempunyai   pengalaman   dalam mengintegrasikan  materi  pendidikan  kependudukan  dan  lingkungan  hidup/isu lingkungan  pada  proses  belajar  mengajar  dan  89,99%   guru  belum  pernah mempunyai pengalaman  dalam  mengintegrasikan  materi  Pendidikan&lt;br /&gt;Kependudukan  dan  Lingkungan  Hidup  (PKLH)  pada  proses  belajar  mengajar&lt;br /&gt;(Anonim a 2002:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Pendidikan  Kependudukan  dan Lingkungan Hidup  (PKLH)  di sekolah   akan   berhasil   tergantung   pada   keinginan   guru   untuk   melakukan perubahan  mendasar pada keyakinan  tentang  hakikat belajar-mengajar, strategi pengajaran, dan  penyediaan pengalaman belajar pada peserta didik (Alkarhami http: //www.pdk.go.id/balitbang/publikasi/jurnal/no_26/program_pklh_suud_ karim.htm.).&lt;br /&gt;Di sekolah dasar guru masih merupakan ujung tombak pelaksanaan proses pembelajaran dan masih merupakan tokoh yang “sentral” karena siswa banyak meneladani tingkah laku gurunya. Namun, kenyataan yang ada di lapangan, guru kurang  berkomunikasi  dalam  menyampaikan  pesan  pembelajaran  lingkungan hidup sehingga masih terjadi banyak hambatan yang dialami siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur pendidikan sebenarnya merupakan salah satu wahana yang efektif dalam sosialisasi dan internalisasi pelestarian lingkungan hidup, khususnya pada tingkat  pendidikan dasar. Materi  pendidikan  lingkungan  hidup  yang dirancang dengan baik, diajarkan kepada siswa dengan benar, dan dipraktekkan dalam tata kehidupan sekolah akan memberikan dampak positif bagi pelestarian lingkungan hidup   dikemudian   hari.   Melalui   pendidikan   lingkungan   hidup   di   tingkat pendidikan dasar, siswa dan warga sekolah lebih dini dapat memahami pentingnya menjaga  dan  melestarikan  lingkungan   hidup,  sehingga  kelak  mereka  tidak melakukan kesalahan  yang sama sebagaimana  telah terjadi  dengan lingkungan&lt;br /&gt;hidup kita dalam beberapa dekade belakangan ini (Tim Pendidikan Lingkungan&lt;br /&gt;Hidup 2000:viii).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian dunia terhadap lingkungan hidup sebenarnya telah diawali sejak konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Stockholm, Swedia pada bulan Juni&lt;br /&gt;1972.  Konferensi  ini  mencanangkan  Pembangunan  Berkelanjutan  yang Berwawasan Lingkungan  (PBBL) dengan menghasilkan suatu keputusan untuk tetap  meneruskan kegiatan pembangunan ekonomi, namun pada saat yang sama menjamin Lingkungan Hidup maupun Sumber Daya Alam akan tetap layak untuk diwariskan pada generasi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya  menjaga  kelestarian  Lingkungan  Hidup  tersebut  direspon  oleh Indonesia  melalui  Program Pendidikan  Kependudukan  dan  Lingkungan  Hidup (PKLH) yang sudah mulai dirintis sejak tahun 1975 berdasarkan SK Mendikbud No.  068/U/1974  dan  secara  sentral  dilaksanakan  oleh  proyek  PKLH  Ditjen Dikdasmen  (Anonim  e   2002:3).  Tahun  1976  dinamakan  “Proyek  Nasional Program Kependudukan” bekerjasama  dengan  BKKBN.  Program  Diklat Kependudukan mulai dilaksanakan di sekolah pada tahun 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak  tahun  1987/1988   mulai  dirasakan  bahwa  manusia  tidak  dapat dipisahkan  dari  lingkungan  hidup,  sehingga  dimasukkanlah  materi  lingkungan hidup,   dan  berubah  nama  menjadi  “Proyek  Kependudukan  dan  Lingkungan Hidup”.   Adapun   pelaksanaan   program   PKLH   mulai   terealisir  sejak   tahun&lt;br /&gt;1992/1993 (Anonim a 2002:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan  PKLH  ini  diperkuat  dengan  memorandum  bersama  antara&lt;br /&gt;Depdiknas dengan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 0142/U/1996&lt;br /&gt;dan Kep. 89/MenLH/5/1996 tentang pembinaan dan pengembangan pendidikan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;Rahardjo  (2004:45),  mengungkapkan  bahwa  DEPDIKNAS  telah  lama melaksanakan program PKLH di sekolah dasar yang disesuaikan ke dalam lima bidang studi yaitu IPS, IPA, Bahasa Indonesia, agama, dan orkes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa sekolah dasar secara formal telah mengenal konsep-konsep PKLH, dengan   demikian  Susilowati  (2003:9),  menekankan  bahwa  untuk  menjamin keberhasilan  pendidikan  lingkungan  di sekolah dasar, maka pengetahuan guru- guru sekolah dasar tentang lingkungan harus memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di   sisi   lain   para   guru   masih   kurang   memiliki   wawasan   tentang kependudukan  dan  lingkungan  hidup,  akibatnya  pengintegrasian   pendidikan kependudukan dan  lingkungan hidup  ke  dalam  materi pelajaran  masih  kurang (Anonim  c 2002:2). Menurut Siskandar (2002:5), pendidikan di sekolah sangat strategis sebagai tempat untuk merencanakan dan melaksanakan pendidikan yang diberi  muatan  nilai-nilai,  pengetahuan,  dan  pembiasaan  perilaku  positif  dalam rangka  memberikan  kesadaran   tentang  pentingnya  sikap  dan  perilaku  untuk melestarikan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  latar  belakang  di  atas  maka  peneliti  tertarik  untuk  melakukan penelitian di kelas 4, 5, dan 6 dengan mempertimbangkan aspek perkembangan kognitif  siswa  menurut  William  Stern  dan  Clam  Stern  (dalam  Ahmadi  dan Munawar Soleh 2005:91), bahwa anak usia 9 – 10 tahun (kelas tinggi) telah dapat mengamati relasi/hubungan kausal dari benda-benda dan peristiwa-peristiwa dan mulai memperhatkan ciri-ciri  dan  sifat-sifat  dari  benda  sebagai  objek&lt;br /&gt;pengamatannya.  Berdasarkan  pertimbangan  di  atas  maka  peneliti  mengadakan penelitian dengan judul “Kemampuan Guru dalam Mengintegrasikan Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) dengan Mata Pelajaran Sains dan Pengetahuan   Sosial   di   SD   Negeri   Se-Kecamatan   Semarang   Selatan   Kota Semarang Tahun 2006/2007).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-8339448432540717117?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/8339448432540717117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/kemampuan-guru-dalam-mengintegrasikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8339448432540717117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8339448432540717117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/kemampuan-guru-dalam-mengintegrasikan.html' title='Kemampuan Guru Dalam Mengintegrasikan Pendidikan Kependudukan Dan Lingkungan Hidup (Pklh) Dengan Mata  Pelajaran  Sains  &amp; Pengetahuan  Sosial (P-68)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-3396155000712895860</id><published>2011-04-03T17:54:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T17:55:12.118-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Studi Tentang Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran Biologi Pada SLTP Negeri 2 Pangkajene Kabupaten Pangkep (P-67)</title><content type='html'>BAB  I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Kualitas dan kuantitas pendidikan sampai saat ini masih merupakan suatu masalah yang paling menonjol dalam setiap usaha pembaharuan sistem pendidikan nasional. Kedua masalah tersebut sulit ditangani secara simultan sebab dalam upaya meningkatkan kualitas, masalah kuantitas terabaikan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu tidak mengherankan bila masalah pendidikan tidak pernah tuntas dimanapun, termasuk di negara yang maju sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguhpun demikian pemerintah, dalam hal ini Depdiknas telah melakukan berbagai upaya dalam mengatasi segala masalah pendidikan. Upaya tersebut hampir mencakup semua komponen pendidikan. Misalnya pembaharuan kurikulum, pembaharuan proses belajar mengajar, peningkatan kualitas guru, pengadaan buku pelajaran, pengadaan dan penyempurnaan sarana dan prasarana belajar, penyempurnaan sistem penilaian, penataan organisasi dan manajemen pendidikan, dan berbagai usaha yang mengarah pada pencapaian hasil pengajaran/pendidikan secara maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat pendidikan selalu berkenan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada manusianya (Nana Sudjana, 1989). Unsur manusia yang paling menentukan keberhasilan pendidikan adalah guru dan pesrta didik. Dalam hal ini guru dituntut bagaimana ia menjadi tenaga pengajar dan pendidik yang profesional. Di lain pihak peserta didik harus sadar bahwa pendidikan sangat menentukan kemajuan peradaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegiatan pengajaran, unsur yang penting adalah bagaimana guru dapat merangsang dan mengarahkan siswa dalam belajar, yang pada gilirannya dapat mendorong siswa dalam pencapaian hasil belajar secara optimal. Mengajar dapat merangsang dan membimbing dengan berbagai pendekatan, dimana setiap pendekatan dapat mengarah pada pencapai tuain belajar yang berbeda. Tetapi apapun subyeknya mengajar pada hakekatnya adalah menolong siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan sikap serta ide dan apresiasi yang mengarah pada perubahan tingkah laku dan pertumbuhan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar dari uraian di atas tampaknya, masalah pendidikan yang banyak diragukan orang bisa diselesaikan dengan baik. Hal mana semua unsur yang berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar yang maksimal diperhatikan. Hanya saja kenyataan menunjukan, bahwa setiap kali evaluasi pengajaran dilakukan seringkali hasilnya tidak memuaskan, termasuk dalam pengajaran IPA-Biologi umumnya. Tentu saja banyak faktor yang berpengaruh, di antaranya adalah minat belajar siswa terhadap pelajaran yang dimaksud, pantas untuk dipertanyakan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Abu Ahmadi dkk, (1998) bahwa bilamana tidak ada minat seseorang terhadap suatu pelajaran, akan timbul kesulitan dalam belajarnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-3396155000712895860?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/3396155000712895860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/studi-tentang-minat-siswa-terhadap-mata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/3396155000712895860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/3396155000712895860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/studi-tentang-minat-siswa-terhadap-mata.html' title='Studi Tentang Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran Biologi Pada SLTP Negeri 2 Pangkajene Kabupaten Pangkep (P-67)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-6667763342887867162</id><published>2011-04-03T17:52:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T17:54:16.419-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan Anak Di Lingkungan Keluarga Gelandangan (Studi Kasus di Pekojan Kelurahan Jagalan Kecamatan Semarang Tengah) (P-66)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan moderen, Indonesia telah berkembang dengan pesat. Beberapa fasilitas infra struktur, seperti gedung, jalan bebas hambatan, jalan raya dan taman,  telah dibangun dengan mantap dan indah. Akan tetapi hal tersebut mengalami  hambatan  bagi  bangsa  Indonesia  yang  dalam  tahap  berkembang, hambatan tersebut dimulai sejak adanya  krisis ekonomi yang berkepanjangan sehingga bangsa Indonesia pada masa sekarang masih menghadapi pemasalahan yang cukup kompleks, meliputi aspek politik, ekonomi, budaya, pendidikan serta sosial&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimnya  Pendidikan  Formal  masyarakat  Indonesia  merupakan  suatu hambatan  bagi bangsa Indonesia untuk berkembang maju. Berdampak negatif terhadap keluarga tidak mampu atau keluarga golongan bawah. Dampak negatif tersebut antara lain kemampuan  keluarga dalam membiayai sekolah anaknya. Bagi  keluarga  gelandangan,  permasalahan   yang   dialami  itu  bersifat  multi demensional sehingga mengakibatkan  kehidupannya semakin terpuruk. Munculnya  gelandangan  di  lingkungan  perkotaan   merupakan  gejala  sosial budaya yang  menarik.  Gejala sosial ini kebanyakan   dikaitkan  dengan perkembangan lingkungan perkotaan, karena didaerah kota sampai saat ini relatif masih  membutuhkan  tenaga  yang  murah,  kasar  dan   tidak  terdidik  dalam mendukung proses perkembangannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kondisi semacam ini membuktikan bahwa semakin kuatnya dikotomi antara kehidupan yang  "resmi"  kota dan  kehidupan lain yang   berbeda  atau berseberangan dengan  kontruksi   kehidupan  yang resmi tersebut. Pada kenyataannya  Indonesia  pada  saat  ini  merupakan  salah  satu  negara  sedang berkembang yang ketinggalan jauh dibandingkan dengan negara lainnya, seperti Jepang, Korea, Cina, Malaysia dsb. Keterbelakangan itu menyangkut di bidang ekonomi,  teknologi  maupun  bidang  pendidikan.   Guna  menanggula-ngi  hal tersebut khususnya dibidang pendidikan, pemerintah berupaya mengadakan atau lebih  menekankan  program  Pendidikaa  Wajib  Belajar  9  Tahun.  Karena  kita sadari  pendidikan  diajarkan  sejak  anak  masih  kecil,  jadi  bahwasannya  anak adalah generasi penerus bangsa  yang diharapkan  mampu mendapatkan pendidikan yang layak serendah-rendahnya setingkat SLTP sebagai bekal yang berguna bagi masa depannya kelak, di samping itu anak dapat menikamati masa kecilnya  secara  wajar  dalam  lingkup  pergaulan  yang  layak.  Hal  ini  perlu diperhatikan agar anak dapat tumbuh dan mengembangkan kepribadianya seiring dengan  bertambahnya usia sampai berusia 16  tahun. Program tersebut berlangsung dari tahun 1990. Program Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun yaitu setiap  anak  minimal  harus  memiiki  ijazah  sampai  Sekolah  Lanjutan  Tingkat Pertama (SLTP) bukan hanya sekedar sampai bangku sekolah dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataanya  program  tersebut  hanya  dapat  dinikmati  atau  dilaksanakan pada masayarakat golongan keluarga yang mampu, lain halnya dengan keluarga yang  tidak  mampu   (keluarga  gelandangan),  bagi  mereka  untuk  memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka sudah kurang, apalagi harus untuk&lt;br /&gt;memikirkan biaya akan pendidikan bagi anaknya. Keadaan seperti inilah yang menyebabkan  negara kita semakin terbelakang, karena Sumber Daya Manusia (SDM) yang rendah itu  menjadi salah satu faktor utama mengakibatkan kita terpuruk. Keterpurukan itu berdampak  negatif pada masyarakat, misal semakin sulitnya  seseorang  mencari  suatu  pekerjaan,  karena   semakin  sempit  serta semakin  sedikitnya  lapangan  kerja  yang ada  sehingga  rakyat  sebagian hidup dalam  keadaan  yang  tidak  memiliki  daya,  sehingga  menjadi  suatu  penyakit masyarakat yaitu Gelandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah gelandangan merupakan salah satu dari penyakit masyarakat yang dari  dahulu  tidak  dapat  ditemukan  jalan  keluarnya.  Contoh  dari  masalah  itu misalnya pemerintah sudah  berupaya mengentaskan gelandangan tersebut dari keadaan. Kenyataannya keadaan itu akan  kembali lagi seperti semula. Masalah tersebut akan terselesaikan apabila si gelandangan serta  pemerintah berupaya penuh akan pengentasan kemiskinan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini berkaitan erat dengan beberapa faktor penyebab gelandangan yang paling dominan antara lain:&lt;br /&gt;1.  Kemiskinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan baik kemiskinan kelembagaan maupun kemiskinan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan juga merupakan salah satu faktor terjadinya gelandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang  paling  utama  dalam  masalah  ini  adalah  gelandangan  yang  sudah mempunyai  keluarga serta mempunyai anak. Dari sinilah sudah tampak baik&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;secara langsung maupun tidak langsung adanya "regenerasi" dari gelandangan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya keluarga gelandangan, khususnya orang tua tidak memikirkan pendidikan  anaknya  dengan  alasan  kondisi  miskin  yang  menimpa  keluarga tersebut.  Orang  tua  tidak  dapat  memberikan  bimbingan  pada  anak-anaknya, padahal pendidikan serta bimbingan orang tua atau orang dewasa yang berada di sekitar  anak  itu  sangat  dibutuhkan  oleh  anak  pada   usia  pertumbuhan  dan perkembangan dalam hidup ini. Data tersebut merupakan gambaran umum, akan tetapi juga banyak anak dari keluarga gelandangan yang dapat merasakan bangku sekolahan.&lt;br /&gt;Pengamatan peneliti selama ini menunjukkan bahwa peran orang tua sangat dominan  dalam pendidikan bagi anak. Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang  berperan  terhadap   perkembangan  diri  pribadi  anak.  Di  samping  itu kesadaran  dalam  diri  anak  untuk  tetap  bersekolah  minimal  sampai  tingkat pendidikan lanjutan pertama masih kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat golongan kurang mampu (gelandangan), pada dasarnya gelandangan masih memiliki ketangguhan dan ketrampilan dasar, hanya karena sebab-sebab  yang  unik  mereka  tidak  dapat  hidup  dan  berkehidupan  sebagai masyarakat  yang  pada  umunya.  Sebenarnya  anak  dari  keluarga  gelandangan membutuhkan  dunia  bermain  maupun  belajar  di  bangku  sekolah.  Umumnya banyak anak dari keluarga gelandangan yang tidak  dapat mengenyam bangku sekolah  serta  mendapatkan  bimbingan  dari  orang  tua  mereka  dapat  dilihat diberbagai tempat seperti halnya di traffic light disitu dapat dilihat banyak anak-&lt;br /&gt;anak  yang  berkeliaran  pada  jam-jam  dimana  semestinya  anak-anak  sekolah, disisi lain ada juga sebagian yang dari keluarga gelandangan yang anaknya dapat sekolah.  Anak-anak dari  keluarga  gelandangan  pada  umumnya malah  harus berfikir  bahwa  yang  penting  ialah  untuk  segera  dapat  memenuhi  kebutuhan dasarnya yakni pangan, sandang serta papan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-6667763342887867162?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/6667763342887867162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/pendidikan-anak-di-lingkungan-keluarga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/6667763342887867162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/6667763342887867162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/pendidikan-anak-di-lingkungan-keluarga.html' title='Pendidikan Anak Di Lingkungan Keluarga Gelandangan (Studi Kasus di Pekojan Kelurahan Jagalan Kecamatan Semarang Tengah) (P-66)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-2976576107107021111</id><published>2011-04-03T17:50:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T17:52:24.053-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Penerapan Model Pembelajaran Iqro’ Guna Meningkatkan Ketercapaian Kecakapan Hidup Siswa Pada Pembelajaran Prinsip-Prinsip Klasifikasi, Virus, ..(P-5)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan yang sangat pesat terjadi dalam berbagai bidang seperti politik, sosial, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini merupakan ciri/karakter dari dinamika di abad 21 yang merupakan abad informasi. Seiring dengan perubahan tersebut,   lembaga   pendidikan   memiliki   peranan   penting   dalam   membantu mempersiapkan  peserta  didik  agar  mampu  hidup  secara  produktif  di  tengah masyarakat dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk mengantisipasi perubahan yang pesat tersebut, maka pendidikan  yang hanya menekankan pada penanaman konsep (produk) menjadi tidak sesuai lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain penanaman konsep, pendidikan dewasa ini harus mampu mengembangkan kecakapan-kecakapan yang berguna untuk menghadapi permasalahan dalam kehidupan. Kecakapan ini sering disebut dengan Life Skills. Dalam kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi) telah diupayakan untuk mensinergikan  berbagai  mata  pelajaran  dengan  kecakapan  hidup  (Life  Skills) sebagai  pengalaman  belajar.  Pengalaman  belajar  tersebut  diharapkan  mampu mengembangkan potensi yang dimiliki  peserta  didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  hasil  wawancara  dengan  guru  MA  Al  Asror  Semarang didapatkan  bahwa  rata-rata  nilai  harian  siswa  kelas  X  pada  materi  virus  dan&lt;br /&gt;monera  masih  rendah.  Nilai  harian  siswa  pada  tahun  2003/2004  dan  tahun&lt;br /&gt;2004/2005 secara  klasikal  &lt;6,5.  Dari  hasil  wawancara  juga  diketahui  bahwa aktivitas  siswa rendah dan siswa cenderung pasif. Hal ini dimungkinkan karena metode  pembelajarannya   cenderung  teoritik  yaitu  guru  masih  menggunakan metode ceramah. Jadi dalam proses pembelajaran masih banyak didominasi oleh guru.&lt;br /&gt;Model pembelajaran iqro’ adalah suatu model pembelajaran yang lebih menitikberatkan pada aktivitas siswa dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran iqro’  mempunyai tiga  sintaks yaitu  eksplorasi, konseptualisasi, dan komunikasi. Dengan model pembelajaran iqro’ siswa diajak untuk aktif  mengeksploitasi lingkungan disekitar siswa, baik lingkungan alam, sosial, budaya, agama dan  sebagainya. Dengan memanfaatkan lingkungan atau alam sekitar diharapkan pembelajaran biologi akan lebih menyenangkan dan lebih mudah untuk dipahami sehingga siswa dapat  mencapai hasil yang lebih baik, siswa juga dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengkaitkannya dengan kehidupan nyata, sehingga hasil belajarnya lebih berdaya guna bagi kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan masalah-masalah yang ada dan segala sesuatu yang mendukung, penulis berkeinginan untuk menerapkan model pembelajaran iqro’ pada  materi  prinsip-prinsip  klasifikasi,  virus,  dan  monera.  Dengan  demikian diharapkan hasil belajar siswa lebih meningkat dan kecakapan hidup siswa dapat lebih ditingkatkan serta dalam  kehidupan di masyarakat dapat mengaplikasikan kecakapan yang dimiliki untuk mengatasi masalah/problem yang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-2976576107107021111?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/2976576107107021111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/penerapan-model-pembelajaran-iqro-guna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2976576107107021111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2976576107107021111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/penerapan-model-pembelajaran-iqro-guna.html' title='Penerapan Model Pembelajaran Iqro’ Guna Meningkatkan Ketercapaian Kecakapan Hidup Siswa Pada Pembelajaran Prinsip-Prinsip Klasifikasi, Virus, ..(P-5)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-8549427215993355447</id><published>2011-04-03T17:49:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T17:50:50.808-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>The Expressions Of The Main Characters’ Love In Thomas Hardy’s Novel The Return Of The Native (Psychological Approach) (P-64)</title><content type='html'>CHAPTER I&lt;br /&gt;INTRODUCTION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Background of the Study&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The study is in the area of psychology analysis. Davidoff (1976: 2) explains that psychology is  the science of behavior. While behavior itself is any human or animal process or activity that  can be objectively observed or measured. The definition of behavior includes thoughts, feelings, dreams, and anything a person does or experiences.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On the area of psychology, psychologists have observed some phenomena such as thoughts, sensations, emotions, needs, motives, personality characteristics, and capabilities that cannot be observed or measured directly. These phenomena are called hypothetical  constructs  (Davidoff 1976: 2)&lt;br /&gt;Psychology happens  in  human  mind,  which  will  give  the  impact  on people’s activities everyday. We can learn the psychological study not only in the character of human in real life but also in such literary works, like novel, short story, poem, etc.  According to William Henry as cited by Hardjana (1991: 59), psychology enters the area of literary criticism through four ways: (1) discussion about the process of literary creation, (2) psychological  analysis of the author (either as a type or as a person), (3) discussion about psychological  theories applicable to the analysis of the character’s behavior in literary works, (4) the influence of literary works on the readers.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rees (1973: 20) states that literature is a writing which expresses and communicates thoughts or ideas, feeling or emotions, and attitude towards life. It means that  through literature, we know other people’s feelings, thoughts, and attitude’s in the written form of language.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiel (1974: 9) states that fiction, as a part of literature, can be pointed as a fruitful field  for exploration in the study of human personality. In psychology insight, the writers usually know many things between heaven and earth that the academic wisdom does not dream about. Great writers know how to give a unified picture  of  a  whole  personality  trough  minute   observation  of  meaningful expression, a characteristic mannerism, or unconscious habit. It can be said that there is an intimate relationship between psychology and literature. Psychology helps  to  clarify  some  literary  problems  and  literature  presents  insight  to psychology.  According to Henry L in his book entitled Psychology (1984:423), there are two classification of emotion as follows:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Positive emotions (i.e. joy, love, and sexual excitement) (2)  Negative emotions (i.e. anger, fear, sadness, and grief)&lt;br /&gt;From the  categories  above,  the  writer  will  focus  only  on the  positive emotion that  is love. Love is the most complex and important thing from all human emotions (Tressider, 1997: 1). Love is a prominence and virtue based on the human life. The supreme value of human virtue is out poured from their regard to  the  life  itself.  In  this  case,  the  reality  of  a  certain  person  or  individual development always has direct relation to the attention and relation of conscious inter-subject. It can be described that life flows from and within love.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Along the history, for the sake of love, people are willing to ignore their importance; they even sacrificing their life to show the expressions of their love to others. If we love someone or our homeland for example, we will do anything for them. The Return of the Native is one of  many novels that tells about it. The sacrifice and love are still found all over the countries in the world, including in our country, and is still relevant to be analyzed at the present life.  Therefore, I interested in the novel that reveals these human values that is love and sacrifice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-8549427215993355447?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/8549427215993355447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/expressions-of-main-characters-love-in.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8549427215993355447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/8549427215993355447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/expressions-of-main-characters-love-in.html' title='The Expressions Of The Main Characters’ Love In Thomas Hardy’s Novel The Return Of The Native (Psychological Approach) (P-64)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-5717575813034890455</id><published>2011-04-03T17:47:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T17:49:15.308-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Pengaruh Pemberian Merkuri Klorida Terhadap Struktur Mikroanatomi Hati Ikan Mas (P-63)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah  pencemaran   lingkungan   terutama   masalah   pencemaran   air mendapat perhatian yang besar dari pemerintah, karena air merupakan salah satu unsur penting bagi makhluk hidup dan kehidupan. Sejalan dengan meningkatnya industrialisasi, konsentrasi unsur logam berat di dalam perairan juga meningkat, sehingga memungkinkan tercapainya tingkat  konsentrasi toksik bagi kehidupan akuatik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah  satu  logam  berat  yang  terus  meningkat  konsentrasinya  adalah merkuri. Kandungan merkuri di badan air Kali Surabaya, telah mencapai seratus kali lipat dari Baku  mutu yang ditetapkan Pemerintah yaitu 0,001 mg/l. Kajian ECOTON mendeteksi adanya  peningkatan kandungan merkuri pada tahun 2001 sebesar 0,0011 – 0,0049 mg/l, meningkat pada tahun 2002 menjadi 0,004 – 0,089&lt;br /&gt;mg/l  (Anonim,  2004c).  Pencemaran  merkuri  juga  terjadi  di  perairan  umum&lt;br /&gt;Cakung  Dalam,  Jakarta  Utara.  Tahun  2003  kadar  merkuri  meningkat  dari&lt;br /&gt;0,0012 ppm menjadi 0,0079 ppm dan telah melebihi Baku mutu Hg air Golongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C sehingga kurang layak dimanfaatkan untuk perikanan (Anonim, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  keseharian,  pemakaian  merkuri  telah  berkembang  sangat  luas. Merkuri   digunakan  dalam  bermacam-macam  perindustrian,  untuk  peralatan- peralatan  elektris  digunakan  untuk  alat-alat  ukur  dalam  dunia  pertanian  dan&lt;br /&gt;keperluan yang lainnya. Demikian luasnya pemakaian merkuri mengakibatkan semakin mudah pula organisme mengalami keracunan merkuri.&lt;br /&gt;Merkuri telah dikenal sejak zaman Mesir kuno dan Romawi pada awalnya digunakan sebagai bahan pemisah emas dari batuan lain dalam proses pengolahan tambang. Merkuri telah digunakan untuk menambang emas selama berabad-abad karena  racun  tersebut  harganya  murah,  mudah  digunakan,  dan  relatif  efisien. Namun dampak yang ditimbulkannya juga dapat dirasakan sampai berabad-abad kemudian. Merkuri merupakan suatu toksin yang bersifat kuat dapat merusak bayi dalam kandungan, sistem saraf pusat manusia, organ-organ reproduksi dan sistem kekebalan tubuh. Insiden besar yang diakibatkan oleh pencemaran mercuri terjadi di teluk  minimata, jepang . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan 1.800 orang meninggal dunia karena memakan  hasil  laut  dari  perairan  lokal  yang  tercemar  merkuri  (Arie,  2006). Ancaman kematian akibat bahan beracun itu semakin luas karena penggunaannya yang kini beragam. Merkuri juga digunakan untuk thermometer, bahan penambal gigi, juga baterai  (Yun, 2004).&lt;br /&gt;Pada industri  manufaktur  Vinilkhlorida  di  Jepang,  merkuri  digunakan sebagai  katalis. Pemakaian merkuri pada industri tersebut telah mengakibatkan terjadinya pencemaran merkuri pada bidang perairan Teluk Minamata. Pada tahun&lt;br /&gt;1960,  untuk  pertama  kalinya  dunia  dihebohkan  oleh  suatu  jenis  penyakit kerapuhan  pada tulang. Melalui pengujian-pengujian yang dilakukan, diketahui bahwa penyakit tersebut berawal dari keracunan logam berat merkuri yang masuk melalui ikan-ikan yang ditangkap di Perairan Teluk Minamata untuk dikonsumsi (Palar, 1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala pencemaran merkuri juga mengintai Surabaya. Meurut Amsyari (2004),  penelitian  yang  dilakukan tahun  2003  yang lalu  menunjukkan  kadar merkuri, arsen, cadmium, timbal dan tembaga di perairan sudah di atas ambang batas. Bahkan  kandungan bahan kimia berbahaya ini juga terdapat pada ASI, rambut dan darah di tubuh  masyarakat yang tinggal di pesisir. Hasil penelitian tersebut  menunjukkan  bahwa  perairan  di  muara  sungai  Surabaya,  tepatnya  di Kenjeran telah tercemar. Kondisi ini juga berimbas pada kehidupan nelayan yang hasil tangkapan ikan di perairan Kenjeran terus menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapatnya mekuri  di  perairan  dapat  disebabkan  oleh  dua  hal,  yaitu pertama  oleh kegiatan perindustrian seperti pabrik cat, kertas, peralatan listrik, klorin dan soda kaustik.  Penyebab yang kedua oleh alam yaitu melalui proses pelapukan dan peletusan gunung berapi.  Pencemaran merkuri yang disebabkan kegiatan alam pengaruhnya terhadap biologi maupun ekologi tidak menimbulkan efek-efek  yang  merugikan,  karena  masih  dapat  ditolelir  oleh alam  itu  sendiri (Budiono, 2003).&lt;br /&gt;Merkuri masuk ke dalam jaringan tubuh makhluk hidup melalui beberapa jalan, yaitu saluran pernapasan, pencernaan dan penetrasi melalui kulit. Merkuri yang masuk dalam tubuh  organisme air tidak dapat dicerna, dan merkuri dapat larut dalam lemak. Logam yang larut  dalam lemak mampu untuk melakukan penetrasi  pada  membran  sel,  sehingga  akhirnya  ion-ion  logam  merkuri  akan menumpuk (terakumulasi) di dalam sel dan organ-organ lain. Akumulasi tertinggi biasanya dalam organ detoksikasi (hati) dan organ ekskresi (ginjal) (Palar, 1994).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rand (1980)  dalam Muhammad  (2002),  mengatakan  bahwa  salah  satu jenis  hewan   yang  direkomendasikan  oleh  EPA  (Environmental  Protection Agency)  sebagai  hewan  uji  adalah  Cyprinus  carpio  L.,  karena  ikan  tersebut memenuhi   persyaratan   yaitu   penyebarannya   cukup   luas,   mempunyai   nilai ekonomi yang menonjol, mudah dipelihara di laboratorium. Ikan pada umumnya mempunyai  kemampuan  menghindarkan  diri  dari   pengaruh  pencemaran  air. Namun  demikian,  pada  ikan  yang  hidup  dalam  habitat  yang  terbatas  (seperti sungai, danau, dan teluk), ikan sulit melarikan diri dari pengaruh pencemaran tersebut. Akibatnya, unsur-unsur pencemaran logam berat masuk ke dalam tubuh ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati merupakan organ terbesar dalam tubuh yang terletak pada bagian sirip dalam rongga peritoneal dan melingkupi viscera. Bentuk hati seperti huruf U dan berwarna merah kecoklatan (Anonim, 2004a). Hati merupakan organ yang sangat rentan terhadap pengaruh zat kimia dan  menjadi organ sasaran utama dari efek racun zat kimia (toksikan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disebabkan sebagian besar toksikan yang masuk ke dalam tubuh setelah  diserap sel epitel usus halus akan dibawa ke hati oleh vena porta hati. Karena itulah organ hati sangat rentan terhadap pengaruh berbagai zat kimia dan merupakan organ tubuh yang sering mengalami kerusakan (Lu, 1995). Oleh sebab itu, penelitian mengenai kerusakan organ kritis khususnya hati ikan mas akibat Hg (merkuri)   sangat   penting   untuk   mengetahui   sejauh   mana   kerusakan   yang ditimbulkannya sebagai upaya mengkaji berbahayanya logam berat, dalam hal ini merkuri klorida terhadap kehidupan organisme perairan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-5717575813034890455?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/5717575813034890455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/pengaruh-pemberian-merkuri-klorida.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/5717575813034890455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/5717575813034890455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/pengaruh-pemberian-merkuri-klorida.html' title='Pengaruh Pemberian Merkuri Klorida Terhadap Struktur Mikroanatomi Hati Ikan Mas (P-63)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-6993064429803799725</id><published>2011-04-03T17:45:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T17:47:29.404-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Referensi Dalam Wacana Tulis Berbahasa Indonesia Di Surat Kabar (P-62)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi umum bahasa adalah sebagai alat komunikasi sosial. Manusia dalam  sepanjang  hidupnya  hampir-hampir  tidak  pernah  dapat  terlepas dari peristiwa  komunikasi. Di dalam berkomunikasi manusia memerlukan sarana untuk   mengungkapkan   ide,  gagasan,   isi   pikiran,   maksud,   realitas,  dan sebagainya.  Sarana yang paling utama dan vital untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah  bahasa. Dengan demikian fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai sarana komunikasi. Setiap anggota masyarakat dan komunitas selalu   terlibat   dalam   komunikasi   bahasa,   baik   dia   bertindak   sebagai komunikator  (pembicara  atau  penulis)  maupun  sebagai  komunikan  (mitra baca, penyimak, pendengar, atau pembaca)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar, sarana komunikasi verbal dibedakan menjadi dua macam,   yaitu  sarana  komunikasi  yang  berupa  bahasa  lisan  dan  sarana komunikasi yang berupa bahasa tulis. Dengan begitu, wacana atau tuturan pun dibagi  menjadi  dua  macam:  wacana  lisan  dan  wacana  tulis.  Kridalaksana (1978:23) berpendapat bahwa dalam konteks tata bahasa, wacana merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pendapat tersebut berarti bahwa apa  yang  disebut  wacana  mencakup  kalimat,  gugus  kalimat,  alinea  atau paragraf, penggalan wacana (pasal, subbab,  bab, atau episode), dan wacana utuh. Hal ini berarti juga bahwa kalimat merupakan satuan gramatikal terkecil&lt;br /&gt;dalam  wacana  dan  dengan  demikian  kalimat  juga  merupakan  basis  pokok pembentukan wacana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana   merupakan   tataran   yang   paling   besar   dalam   hierarki kebahasaan. Sebagai tataran terbesar dalam hierarki kebahasaan, wacana tidak merupakan susunan kalimat secara acak, tetapi merupakan satuan bahasa, baik lisan   maupun  tertulis.  Untuk  wacana  yang  disampaikan  secara  tertulis, penyampaian isi atau informasi disampaikan secara tertulis. Ini dimaksudkan agar  tulisan  tesebut  dapat  dipahami  dan  diinterpretasikan  oleh  pembaca. Hubungan antarkalimat dalam sebuah  wacana  tulis  tersusun berkesinambungan   dan   membentuk   suatu   kepaduan.   Oleh   karena   itu, kepaduan makna dan kerapian bentuk pada wacana tulis merupakan salah satu faktor yang penting dalam rangka meningkatkan tingkat keterbacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang disampaikan melalui wacana tulis tentu mempunyai perbedaan  dengan  infomasi  yang  disampaikan  secara  lisan.  Perbedaan  itu ditandai  oleh  adanya keterkaitan  antarproposisi.  Keterkaitan  dalam wacana tulis  dinyatakan   secara  eksplisit  yang  merupakan  rangkaian  antarkalimat secara  gramatikal.  Adapun  untuk  bahasa  lisan  keterikatan  itu  dinyatakan secara implisit, di mana kejelasan informasi akan didukung oleh konteks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasakan pernyataan di atas dapat dikatakan   bahwa bahasa lisan atau ujaran lebih ditekankan pada konteks dan situasi untuk lebih menjelaskan topik  pembicaraan  pada  saat  komunikasi.  Lain  halnya  pada  bahasa  tulis, keterkaitan  kalimat  sebagai  unsur  pembangun  wacana,  harus  dirangkaikan secara  runtut  sehingga  menjadi  wacana  yang  mempunyai  kepaduan,  baik&lt;br /&gt;secara  bentuk  ataupun  secara  makna.  Kelompok  kata  belum  tentu  disebut wacana  bila  rentetan  itu  tidak  memberikan  informasi  yang  lengkap  unsur- unsur yang membangun wacana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat  fenomena  yang  ada,  dalam  wacana  tulis  hubungan antarkalimat  harus  selalu  diperhatikan  untuk  memelihara  keterkaitan  dan keruntutan  antarkalimat.  Di  dalam  ilmu  bahasa  keterkaitan  dan  kerapian bentuk  dinamakan  kohesi  dan  koherensi.  Di  dalam  manifestasi  fonetisnya kohesi  dan  koherensi  memiliki  peran  yang  sangat  vital  untuk  memelihara keterkaitan   antarkalimat,   sehingga   wacana   menjadi   padu,   tidak   hanya sekumpulan  kalimat  yang  setiap  kalimat  mengandung  pokok  pembicaraan yang berbeda,  melainkan  satu  unsur  dalam  teks  harus  menyatakan  konsep ikatan (Nunan 1992:6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana merupakan sebuah struktur kebahasaan yang luas melebihi batasan-batasan  kalimat,  sehingga  dalam  penyusunannya  hendaknya  selalu menggunakan bentuk  tulis yang efektif.  Salah satunya dengan penggunaan kohesi  internal yang tepat. Kohesi  merupakan salah satu unsur pembangun wacana yang  menjadikan wacana menjadi padu dan jelas secara gamatikal. Konsep suatu  ikatan  dalam kebahasaan merupakan unsur  pembangun yang membentuk  sebuah  wacana,  sehingga  menjadi  kesatuan  rangkaian  kalimat yang bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaian bahasa yang baik dan benar, berarti sesuai dengan  tata gramatikal dalam wacana tulis. Suatu  wacana  mempunyai kesatuan makna yang  diciptakan melalui hubungan yang kohesif antarkalimat dalam wacana&lt;br /&gt;tersebut. Dengan hubungan yang kohesif itu, suatu unsur dalam wacana dapat diinterpretasikan  sesuai  dengan  ketergantungan  antarunsur-unsur  (Halliday dan   Hasan  dalam  Cahyono  1995:231).  Dengan  demikian,  kalimat  yang terdapat dalam wacana saling berkaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baryadi  (2002:17)  mengemukakan  bahwa  untuk  menciptakan keutuhan,   bagian   wacana   harus   saling   berhubungan.   Sejalan   dengan pandangan bahwa bahasa itu terdiri dari bentuk (form) dan makna (meaning), hubungan dalam wacana dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu hubungan bentuk  yang disebut kohesi (cohesion) dan hubungan makna atau hubungan semantis yang disebut koherensi (coherence).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hubungan bentuk dalam sebuah wacana dapat dilakukan dengan  menggunakan  penanda  referensial.  Hubungan  referensial  menandai hubungan kohesif wacana  melalui  pengacuan. Sumarlam  (2003:23) menyebutkan  bahwa pengacuan atau referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang  berupa  satuan  lingual  tertentu  yang  mengacu  pada satuan lingual yang lain (atau suatu acuan) yang mendahului atau mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wacana tulis terdapat berbagai unsur seperti pelaku perbuatan, penderita  perbuatan,  pelengkap  perbuatan,  perbuatan  yang  dilakukan  oleh pelaku,  dan  tempat  perbuatan  (Alwi  1998:40).  Unsur  itu  acap  kali  harus diulang-ulang  untuk mengacu kembali atau untuk memperjelas makna. Oleh karena itu, pemilihan kata serta penempatannya harus tepat sehingga wacana tadi tidak hanya kohesif, tetapi juga koheren. Dengan kata lain, referensinya atau pengacuannya harus jelas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Referensi di dalam bahasa yang menyangkut nama diri digunakan sebagai  topik baru (untuk memperkenalkan) atau untuk menegaskan bahwa topik masih sama. Topik yang sudah jelas biasanya dihilangkan atau diganti. Pada  kalimat  yang  panjang,  biasanya  muncul  beberapa  predikat  dengan subjek yang sama dan subjek menjadi topik juga. Subjek hanya disebutkan satu kali pada permulaan kalimat, lalu diganti dengan acuan (referensi) yang sama. Perhatikan contoh berikut,&lt;br /&gt;(1)  Safira kembali ke Indonesia. Dia membeli rumah baru di daerah    Kebayoran,   dan   mulai   mengatur   hidupnya kembali di tempat baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada contoh (1) kata ‘Safira’ merupakan topik  yang diletakkan di depan  paragraf.  Pada  kalimat  berikutnya  topik  yang  masih  sama  diulang kembali menggunakan  penanda  referensial  persona  ‘dia,  dan  -nya’,  serta penanda  referensial  demonstratifa ‘itu’. Dengan adanya penanda referensial membuat  kepaduan dalam kalimat. Apabila penanda ini dihilangkan berarti topik merupakan informasi yang kurang penting sebagai unsur kesatuan yang suplementer  (pelengkap).   Bila  penanda  referensial  ini  digunakan   dalam kalimat  tersebut  makna  akan  dijadikan  kesatuan  terdahulu.  Dalam  hal  ini, pronomina dapat digunakan sebagai referensi dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan yang akan dilakukan adalah wacana bentuk tulis dalam surat  kabar karena peneliti menduga bahwa wacana tulis dalam surat kabar mempunyai  variasi penggunaan penanda referensial. Fungsinya sebagai alat penggabung  antarkalimat yang satu dengan yang lain, antara paragraf yang&lt;br /&gt;satu dengan yang lain sehingga membentuk keterkaitan. Penanda kebahasaan itu biasa disebut kohesi referensial.&lt;br /&gt;Adapun  pemilihan  wacana  tulis  dalam  surat  kabar  dikarenakan wacana  yang terdapat  pada surat kabar lebih bervariasi  jenisnya.  Misalnya terdapat wacana narasi, eksposisi, argumentasi, persuasi. Dengan kevariasian jenis wacana tersebut  menjadikan data penelitian berasal dari berbagai jenis wacana. Selain itu, surat kabar  adalah sebuah lembaga yang menggunakan bahasa tulis sebagai alat komunikasi.  Dengan demikian, penggunaan bahasa selalu diperhatikan untuk membentuk sebuah hubungan dalam sebuah wacana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan surat kabar Kompas, Suara Merdeka, dan Solopos sebagai sumber  data  dalam  penelitian  dengan  mempertimbangkan  beberapa  aspek. Kompas dipilih karena merupakan surat kabar nasional yang memiliki  oplah yang  cukup  besar  dan  rantai  distribusi  yang  luas.  Suara  Merdeka  dipilih karena  merupakan  surat  kabar  regional  terbesar  di  Jawa  Tengah.  Adapun Solopos  dikelompokkan  ke  dalam  surat  kabar  lokal.  Ketiganya  merupakan surat  kabar  ternama,  yang  tentunya  berbanding   lurus  dengan  efektifitas wacana yang berada di dalamnya.&lt;br /&gt;Beranjak dari fenomena yang ada dalam latar belakang di atas maka peneliti   mengangkat   judul   “Referensi   dalam   Wacana   Tulis   Berbahasa Indonesia di Surat Kabar”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-6993064429803799725?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/6993064429803799725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/referensi-dalam-wacana-tulis-berbahasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/6993064429803799725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/6993064429803799725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/referensi-dalam-wacana-tulis-berbahasa.html' title='Referensi Dalam Wacana Tulis Berbahasa Indonesia Di Surat Kabar (P-62)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-2033958731105433341</id><published>2011-04-03T17:41:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T17:45:20.671-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Perbedaan Urutan Mengajar Smash Normal Antara Awalan – Memukul Dan Memukul – Awalan Terhadap Hasil Belajar Smash Normal Pada Siswa Putra (P-61)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;1.1.1 Kebijakan Tentang Ekstrakurikuler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang Republik  Indonesia  No.20  tahun  2003  tentang  sistem Pendidikan   Nasional  mengamanatkan  bahwa  Pendidikan  Nasional  berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat  dalam  rangka   mencerdaskan  kehidupan  bangsa,  bertujuan  untuk perkembangan potensi peserta didik agar  menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta  bertanggung jawab. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dalam undang-undang tersebut dan menghadapi era globalisasi, maka diperlukan peningkatan kualitas pendidikan.  Kualitas  pendidikan  membentuk  kualitas  generasi  muda  sebagai generasi  penerus  bangsa  yang  tangguh.  Upaya  untuk  meningkatkan  kualitas pendidikan merupakan usaha yang penting bagi masa depan generasi muda agar mampu berperan aktif dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, telah dilakukan oleh  Direktorat  Pembinaan  Sekolah  Menengah  Kejuruan  melalui  usaha-usaha perbaikan  antara  lain  :  peningkatan  SDM,  peningkatan  sarana  dan  prasarana, kurikulum. SMK sebagai lembaga pendidikan menengah berperan menghasilkan&lt;br /&gt;tenaga kerja tingkat menengah yang terampil komponen dan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembinaan  siswa  SMK  bertujuan  untuk  menyeimbangkan  kemampuan otak  kanan   dan  otak  kiri  dalam  bentuk  kegiatan  ektrakulikuler.  Kegiatan kesiswaan khususnya pada pembinaan ektrakulikuler  Direktorat pembinaan SMK memfasilitasi beberapa kegiatatan yang diantaranya mengarah kepada kreatifitas dan  inovasi  dalam  pengembangan  bakat  minat   siswa  serta  pengembangan kepribadian. Sebagai usaha dalam merealisasikan kegiatan  ektrakulikuler maka pada tahun 2007 Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah  Kejuruan menyediakan dana subsidi untuk memotivasi SMK mengembangkan Klub bakat dan Minat disekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler di SMK diharapkan   secara   umum   dapat   membekali   siswa   dalam   mengembangkan kepribadian,   bakat   dan   minat.   Disamping   itu   juga   diharapakan   kegiatan ekstrakurikuler dapat digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan sikap sportifitas, menghargai karya seni serta kemampuan kecakapan hidup lainnya. Kegiatan  ekstrakurikuler dapat didorong melalui pembentukan klub-klub dalam bidang olahraga, kesenian, pecinta alam, maupun klub-klub lainnya sesuai dengan minat dan potensi sekolah/masyarakat sekitar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-2033958731105433341?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/2033958731105433341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/perbedaan-urutan-mengajar-smash-normal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2033958731105433341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2033958731105433341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/perbedaan-urutan-mengajar-smash-normal.html' title='Perbedaan Urutan Mengajar Smash Normal Antara Awalan – Memukul Dan Memukul – Awalan Terhadap Hasil Belajar Smash Normal Pada Siswa Putra (P-61)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-1122032200153646292</id><published>2011-04-03T17:38:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T17:40:35.436-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Pandangan tiga tokoh utama wanita tentang emansipasi dalam novel tiga orang perempuan karya maria a. Sardjono (P-60)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 1  Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Indonesia saat  ini  memasuki  era  globalisasi  yang  ditandai  dengan  arus informasi  dan teknologi yang canggih yang menuntut masyarakat untuk lebih berperan  aktif  dalam  pembangunan.  Tidak  hanya  kaum  laki-laki  saja  yang berperan  aktif,  perempuan  dituntut  untuk  beperan  aktif  juga  dalam  mengisi pembangunan.  Mereka  harus  lebih  mempunyai   suatu  sikap  yang  mandiri, disamping  kebebasan  untuk  mengembangkan  dirinya  sebagai  manusia  sesuai dengan bakat yang dimilikinya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan banyak yang memiliki peran ganda selain  sebagai  ibu  rumah  tangga,  mereka  juga  berperan  sebagai  wanita  yang bekerja atau lebih dikenal dengan sebutan wanita karier. Oleh karena itu wanita belum bisa berperan secara  utuh di masyarakat. Di satu sisi perempuan ingin berperan secara penuh baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat, namun di sisi lain perempuan tidak boleh melupakan kodratnya sebagai seorang wanita..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi permasalahan di atas diperlukan adanya strategi yang tepat yang mampu mendukung wanita dalam beperan aktif baik di lingkungan keluarga maupun di luar  sebagai wanita karier tanpa mendapat pandangan negatif dari masyarakat. Strategi tersebut  adalah dengan gerakan emansipasi wanita. Namun pada  umumnya  masyarakat  berprasangka   bahwa  gerakan  emansipasi  wanita adalah gerakan pemberontakan terhadap kaum laki-laki, upaya melawan nilai-nilai atau  norma-norma  sosial  yang  ada,  misalnya  lembaga/institusi  rumah  tangga,&lt;br /&gt;perkawinan maupun usaha pemberontakan untuk mengingkari apa yang disebut&lt;br /&gt;kodrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan  yang  sebenarnya  dari  gerakan  ini  adalah  untuk  meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat  laki-laki,  bukan  untuk  mengungguli  atau  mendominasi  kaum  laki-laki sevagai balas dendam dengan menindas atau menguasai kaum laki-laki. Dengan adanya pemahaman yang salah tentang gerakan emansipasi wanita banyak pihak yang menentang gerakan ini terutama dari pihak laki-laki.  Namun dari pihak perempuan pun ada yang menentang terutama mereka yang masih  memegang teguh nilai-nilai budaya tradisional yang masih kuat yaitu ciri tradisional yang mengharuskan wanita menjaga kesalehan serta kemurnian mereka, bersikap pasif dan  menyerah,  rajin  mengurus  keluarga  dan  rumah  tangga  atau  memelihara domestisitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang ahli berpendapat mengenai gerakan emansipasi atau sering disebut feminisme. Feminisme ialah teori tentang persamaan antara laki-laki dan wanita di bidang  politik, ekonomi, dan sosial; atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta  kepentingan wanita (Geofe 1986:837). Menurut pendapat   yang   dikemukakan   oleh   Dzuhayatin   (dalam   Bainar   1998:16-17) feminisme merupakan sebuah ideologi yang berangkat dari suatu kesadaran akan suatu penindasan dan pemerasan terhadap wanita dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan  yang  menyatakan  bahwa  emansipasi  wanita  tidak  hanya menuntut  kesamaan saja dan itu dianggap tidak begitu penting, yang penting di&lt;br /&gt;sini  adalah  bagaimana  wanita  memiliki  kesempatan  untuk  mengembangkan potensi serta bakatnya agar lebih maju (Widoyo 1991:16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan  yang  dihadapi  oleh  wanita  terutama  yang  menyangkut emansipasi  wanita ini merupakan kenyataan sosial yang dihadapi oleh wanita tidak hanya di Indonesia  tapi juga di seluruh dunia. Dari kenyataan sosial yang dihadapi manusia khususnya wanita  memberikan ilham kepada sastrawan untuk menuangkannya ke dalam karya sastra yang akan  dibuatnya. Karya sastra ini merupakan  buah  pikiran  seorang  pengarang  yang  bersumber  dari  pengalaman hidupnya  sendiri  maupun  orang  lain.  Hal  ini  sesuai  dengan  pendapat  Wellek (dalam Budianta 1990:109) yang menyatakan bahwa sastra menyajikan kehidupan dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra itu  juga  meniru  alam  dan   dunia  subyektif  manusia.  Suharianto  (1982:11) mengatakan   bahwa   karya   sastra   pada   hakikatnya   adalah   pengejawantahan kehidupan,  hasil  pengamatan  sastrawan  atas  kehidupan  sekitarnya.  Pengarang dalam   menciptakan   karya   sastra   didasarkan   pada   pengalaman   yang   telah diperolehnya dari realitas kehidupan di masyarakat. Peran tokoh dari dunia nyata kemudian dituangkan ke dalam bentuk karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalaha  yang  menjadi  sorotan  publik  dan  ide  dalam  sebuah  karya sastra saat ini adalah mengenai permasalahan gender. Adanya perbedaab gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inqualities). Namun  yang menjadi persoalan ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan gender baik bagi kaum laki-laki dan  terutama  kaum  perempuan.  Ketidakadilan  gender  merupakan  sistem  dan&lt;br /&gt;struktur dimana baik kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut (Fakih  2001:12). Permasalahan gender tersebut yaitu bahwa kehidupan wanita  di  zaman  dahulu  sampai  sekarang  mengalami  kegelapan  dan  sangat diabaikan keberadaannya. Gambaran sosok wanita selalu berada dalam kekuasaan laki-laki (Mukmin 1980:83). Menurut Fakih (2001:10)  karena konstruksi sosial gender, kaum laki-laki harus bersifat kuat dan agresif, maka laki-laki  kemudian terlatih dan tersosialisasi serta termotivasi untuk menjadi atau menuju sifat gender yang  ditentukan oleh suatu masyarakat, yakni secara fisik lebih kuat dan lebih besar. Sebaliknya, karena perempuan harus lemah lembut, maka sejak bayi proses sosialisasi tersebut tidak saja berpengaruh kepada perkembangan emosi dan visi serta ideologi kaum perempuan, tetapi juga  mempengaruhi perkembangan fisik dan biologis selanjutnya. Dengan adanya permasalahan gender tersebut membawa perkembangan baru bagi dunia sastra yaitu memberikan pengaruh  terhadap cara pandang sastrawan untuk menciptakan tokoh perempuan dalam karya sastranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pandang  sastrawan  tersebut  yang  pertama  adalah  wanita  sebagai pelengkap   suami  atau  wanita  yang  melihat  perannya  berdasarkan  keadaan biologisnya (baik sebagai  isteri, ibu rumah tangga, nenek, dsb). Cara pandang yang kedua, wanita sebagai sentral kapitalis. Artinya wanita mampu mandiri dan berkarier   di   lingkungan   luar   (Mukmin   2001:13).   Wanita   yang   mencoba menembus batas stereotip kedudukan perempuan dan melihat diri sendiri sebagai individu bukan hanya sebagai pendamping laki-laki. Tokoh perempuan seperti ini adalah mereka yang disebut perempuan feminis yang berusaha mandiri  dalam berfikir dan bertindak, serta menyadari hak-haknya (Chudori 1991:28).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berbicara mengenai karya sastra yang feminis dalam hubungannya dengan emansipasi   tokoh   wanita   di   masyarakat,   salah   seorang   pengarang   wanita Indonesia yang tertarik  membicarakan masalah perempuan dalam dunia sastra melalui karya-karyanya adalah Maria A. Sardjono. Sebagai pengarang Maria A. Sardjono merupakan pengarang yang cukup poduktif membuat karya sastra yang bertemakan wanita.&lt;br /&gt;Maria A. Sardjono adalah pengarang wanita yang lahir di Semarang 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 1945  namun  ia  dibesarkan  dan  bersekolah  di  Jakarta.  Ia  menulis  sejak remaja, namun  baru pada tahun 1974 karya-karyanya dipublikasikan. Ia sudah menulis kurang lebih 80 novel,  belasan novelet dan buku cerita anak-anak dan kurang  lebih  120  cerpen.  Novel-novel  karya  Maria  A.  Sardjono  di  antaranya adalah Langit di atas Merapi, Pengantin Kecilku, Sepatu Emas Untukmu, Daun- daun yang Gugur, Menjolok Rembulan, Bintang Dini Hari, Kemuning,  Ketika Flamboyan  Berbunga,  Melati  di  Musim  Kemarau,  Gaun  Sutra  Warna  Ungu, Lembayung di Kaki Langit, Lembayung di matamu dan masih banyak lainnya. Di antara novel-novel karya Maria A. Sardjono tersebut ada empat novel yang sudah difilmkan dan  beberapa kali dibeli rumah produksi untuk dibuat sinetron. Salah satu sinetron tersebut adalah Tiga Orang Perempuan. Novel ini mengisahkan tiga perempuan  berbeda  generasi  terbentur   oleh  budaya  yang  diwarnai  sistem patriarkat.  Akibatnya  timbul  gejolak  dalam  kehidupan   masing-masing  dan kegiatannya mengalami kegamangan ketika harus mengungkapkan cinta terhadap perasaan laki-laki yang mereka kasihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang nenek membentengi dirinya dari perasaan cinta pada suaminya yang berpoligami. Sang Ibu lain lagi. Karena melihat rumah tangga orang tuanya, dia bertekad sebagai wanita super terhadap suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gading  sebagai  generasi  ketiga  yang  hidup  di  masa  sekarang  pun mengalami  benturan  nilai-nilai  tersebut.  Yoyok,  kekasihnya,  masih  memiliki pemikiran yang sama seperti kakek moyangnya, yaitu tempat yang paling pas bagi perempuan  adalah  di  dalam  rumah.  Gading  sadar  bahwa  ada  nilai  lain  yang menyangkut kasih yaitu pengorbanan, Yoyok sudah  pergi meninggalkannya ke negeri orang. Kemana harus dicarinya lelaki itu? Dia yang akhirnya memberinya kesadaran  bahwa  di  rumah  pun  seorang  wanita  tetap  bisa  berkarya  dan mengungkapkan   eksistensinya,   setara   dengan   laki-laki.   Apakah   dia   harus menerima jodoh yang didesakkan neneknya, seorang lelaki ningrat modern yang pikirannya jauh lebih kuno dari Yoyok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian cerita novel Tiga Orang Perempuan di atas dapat kita ambil suatu   permasalahan  yang  menyangkut  masalah  emansipasi  wanita,  sehingga menarik untuk dibahas lebih lanjut dalam skripsi ini. Permasalahan yang sejenis juga pernah dibahas oleh penulis lain tetapi merujuk pada peran tokoh wanita di dalam  keluarga  dan  masyarakat,  bukan  inti  dari   gerakan  emansipasi  yang dilakukan  oleh  tokoh  utama  wanita.  Yang  menarik  dari  novel  Tiga  Orang Perempuan  ini  adalah  bagaimana  pandangan  tiga  orang  tokoh  yang  berbeda generasi yaitu Nenek, Ibu, dan Gading yang terbentur oleh budaya yang diwarnai sistem   patriarkat,   bisa   menyatukan   perbedaan   tersebut   dalam   menghadapi berbagai permasalahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdasakan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, penelitian ini akan membahas  secara lengkap dan utuh tentang tokoh wanita dalam sebuah karya sastra (novel), khususnya  ditinjau dari segi feminisme. Penelitian sejenis sudah banyak. Penelitian yang menjadi landasan dalam penelitian skripsi ini diantaranya skripsi berjudul Feminisme Dalam Novel Tumini  (Perawan Onderneming) oleh Suprapti  Dewi  Mahanani  yang  membahas  masalah  kedudukan  wanita,  tokoh wanita dilihat dari perspektif gender. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. Tokoh utama dalam novel ini yaitu  Tumini yang digambarkan selalu menderita dan dilihat dari perspektif gender  sebagai  kaum   perempuan  ia  mengalami  ketidakadilan  gender  yang termanifestasi kekerasan dalam bentuk pemerkosaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian  skripsi  Fitriani  Nur  Rahayu  berjudul  Perspektif  Feminisme Tokoh Utama  Wanita Dalam Novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto yang membahas penentuan pola dan pendeskripsian feminisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Tokoh utama dalam novel ini Bu Bei. Ia memperjuangkan wanita agar memiliki kedudukan yang sejajar dengan kaum pria, persamaan  hak atas rumah dan tanah serta persamaan hak untuk menikah lagi. Penelitian sejenis tersebut sangat relevan dengan penelitian dalam kajian ini, yang mencoba untuk melengkapi penelitian sejenis yang sudah ada. Perbedaannya adalah pada permasalahan yang dikaji. Pada skripsi Suprapti (2001) yang berjudul Feminisme  Dalam  Novel  Tumini  (Perawan  Onderneming)  dibahas   masalah kedudukan wanita, tokoh wanita dilihat dari perspektif gender. Sedangkan pada skripsi Fitriani (2003) yang berjudul Perspektif Feminisme Tokoh Utama Wanita&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam Novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto dibahas penentuan pola dan pendeskripsian feminisme. Berbeda dengan skripsi Tri Rahmawati yang berjudul Peran dan Emansipasi Tokoh Utama Wanita Pada Novel Jalan Bandungan Karya Nh.  Dini  (2003)  dibahas  peran  dan  emansipasi  tokoh  utama  wanita  baik  di lingkungan   keluarga   maupun   di   masyarakat.   Penelitian   dalam   skripsi   ini membahas pandangan tiga tokoh utama wanita  yang berbeda generasi tentang emansipasi. Perbedaan tersebut tidak hany dari segi umur tetapi juga menyangkut latar belakang kehidupan sosial ketiga tokoh wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-1122032200153646292?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/1122032200153646292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/pandangan-tiga-tokoh-utama-wanita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1122032200153646292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/1122032200153646292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/pandangan-tiga-tokoh-utama-wanita.html' title='Pandangan tiga tokoh utama wanita tentang emansipasi dalam novel tiga orang perempuan karya maria a. Sardjono (P-60)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-4044127560266109019</id><published>2011-04-03T17:35:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T17:37:57.269-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Survai Kondisi Fisik Atlet Pencak Silat Tapak Suci Usia 13-18 Tahun Di Kecamatan Wanadadi Kabupaten Banjarnegara Tahun 2006 (P-59)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;Pembinaan olahraga di Indonesia dewasa ini semakin maju, hal ini tidak lepas dari  peran serta masyarakat yang semakin sadar dan mengerti akan arti pentingnya olahraga itu sendiri, di samping adanya dukungan dan perhatian dari pemerintah  dalam  menunjang  perkembangan  olahraga  di  negara  kita. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan modern ini suatu kenyataan bahwa ada empat dasar tujuan manusia melakukan kegiatan olahraga yaitu:&lt;br /&gt;1.  Mereka  yang  melakukan  kegiatan  olahraga  hanya  untuk  rekreasi,  jadi segalanya  dikerjakan dengan santai dan tidak formal, baik tempat maupun peraturannya.&lt;br /&gt;2.  Mereka yang melakukan kegiatan olahraga untuk tujuan pendidikan seperti misalnya anak – anak sekolah yang diasuh oleh guru olahraga. Kegiatan yang dilakukan  formal,  tujuannya  guna  mencapai  sasaran  pendidikan  nasional melalui kegiatan olahraga yang telah disusun melaui kurikulum tertentu.&lt;br /&gt;3.  Mereka melakukan kegiatan olahraga dengan tujuan meningkatkan kesegaran jasmani tertentu.&lt;br /&gt;4.  Mereka yang melakukan kegiatan olahraga tertentu untuk mencapai prestasi. ( Sajoto1988: 1-2 )&lt;br /&gt;Terkait dengan poin ke empat untuk mencapai prestasi tersebut maka perlu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adanya pembinaan olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari  pembinaan  olahraga  itu  sendiri  untuk  mengidentifikasikan calon atlet  berpotensi, memilih jenis olahraga yang sesuai dengan potensi dan minatnya yang memperkirakan peluang untuk berhasil dalam program pembinaan sehingga dapat mencapai  prestasi yang diharapkan, salah satunya Pencak Silat. Dalam  Pencak  silat  yang  merupakan   hasil  usaha  budi  daya  manusia  yang bertujuan   untuk   menjamin   keamanan   dan   kesejahteraan   bersama,   seiring perkembangan zaman Pencak Silat juga masuk dalam olahraga prestasi dan yang membedakan Pencak Silat dengan olahraga yang lain yaitu empat aspek  yang merupakan satu kesatuan bulat, yakni aspek mental spiritual, beladiri, seni dan olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya perguruan-perguruan Pencak Silat  di  Indonesia,salah  satunya  adalah  perguruan  Pencak  Silat  Tapak  Suci Kecamatan Wanadadi Kabupaten Banjarnegara.Perguruan ini berdiri tahun 1979, tepatnya pada tanggal 17 Juli 1979 dan sampai sekarang perguruan ini masih eksis dan  selalu  memunculkan  atlet-atlet  baru.  Usaha  untuk  tetap  mempertahankan keeksisan tersebut tidak mudah diperlukan pembinaan dan  pengembangan yang optimal. Bahwa ada 4 aspek pokok yang menentukan prestasi olahraga,  yaitu aspek biologis, aspek psikologis, aspek lingkungan dan aspek penunjang (Sajoto&lt;br /&gt;1995:2-5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa  aspek  biologis  merupakan  salah  satu  aspek  yang  tidak  dapat diabaikan  dan sangat diandalkan dalam menentukan tinggi rendahnya prestasi yang dicapai atlet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini  disebabkan dalam aspek biologis terhadap salah satu&lt;br /&gt;aspek yang  disebut  kondisi  fisik,  yaitu  suatu  tingkat  kesegaran  jasmani  yang sangat diperlukan atlet untuk dapat berprestasi dalam suatu pertandingan.&lt;br /&gt;Kesegaran jasmani dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam melakukan  aktivitas fisik secara berulang-ulang dalam waktu yang relatif lama tanpa menimbulkan  kelelahan yang berarti.  Kondisi fisik merupakan salah satu faktor  yang  menentukan   performance  atau  penampilan,  sehingga  runtuhnya kondisi fisik akan menyebabkan hilangnya keterampilan(Sajoto 1988:99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat  dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaannya. Artinya bahwa di dalam usaha peningkatan kondisi fisik, maka seluruh komponen tersebut harus di kembangkan. Walaupun disana-sini dilakukan dengan sistem prioritas  sesuai  keadaan  atau  status  yang   dibutuhkan  tersebut,  maka  perlu diketahui selanjutnya adalah bagaimana seorang atlet dapat  diketahui status dan keadaan kondisi fisiknya pada suatu saat. (Sajoto,1995:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komponen  kondisi  fisik  tersebut terdiri  atas  kekuatan,  kecepatan, kelincahan, kelentukan, daya tahan, daya ledak otot, koordinasi, keseimbangan, daya lentur, dan reaksi. Bahwa faktor penentu pencapaian prestasi maksimal, ada dua faktor yaitu faktor indogen  (atlet) dan faktor eksogen. Salah satu faktor indogen yang sangat penting adalah kondisi fisik (Suharsono 1988:2-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  latihan  kondisi  fisik,  teknik,  mental  dan  sebagainya  dapat diketahui peningkatannya karena untuk meningkatkan fisik tidak dapat dilakukan dengan permainan itu sendiri.  Mengapa faktor fisik? Karena faktor kondisi fisik memegang  peranan  penting  dan   merupakan  komponen  dasar  untuk  menuju&lt;br /&gt;latihan-latihan berikutnya, kalau tidak di dukung dengan kondisi fisik yang prima seorang atlet tidak akan mampu melakukan latihan sesuai dengan porsinya, nilai fisik antara lain kualitas otot  berdasarkan kinerja faal dan mekanisme otot yang sedang bekerja yang dipertimbangkan pada  kekuatan otot, kapasitas anaerobik, kapasitas aerobik power, fleksibilitas (Boucard,1975:15-16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi  fisik  atlet  memegang  peranan  yang  sangat  penting  dalam program  latihannya. Program latihan kondisi fisik haruslah direncanakan secara baik dan sistematis serta  ditujukan untuk meningkatkan kesegaran jasmani dan kemampuan fungsional dari sistem tubuh sehingga dengan demikian memungkinkan  atlet  untuk  mencapai  tingkat  prestasi  yang  lebih  baik,  kalau kondisi  fisik  baik  maka,  1)akan  ada  peningkatan  dalam  kemampuan  sistem sirkulasi  kerja  jantung,  2)  akan  ada  peningkatan  dalam  kekuatan,  kecepatan, kelincahan, kelentukan, stamina dan nilai-nilai komponen kondisi fisik, 3) akan ada efisiensi gerak yan lebih baik pada waktu latihan, 4) akan ada pemulihan yang lebih cepat dari organ tubuh setelah latihan, 5) akan ada respon yang cepat dari organisme  tubuh  apabila  sewaktu-waktu  respon  demikian  diperlukan(Harsono&lt;br /&gt;1988:133).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap  usaha  peningkatan  kondisi  fisik  harus  dikembangkan  semua komponen  yang  ada,  walaupun  dalam  pelaksanaannya  perlu  adanya  prioritas untuk menentukan komponen mana yang perlu untuk mendapatkan porsi latihan lebih besar sesuai dengan olahraga yang ditekuni dalam hal ini pencak silat. Tidak adanya salah satu komponen pendukung akan mempengaruhi hasil yang dicapai. Demikian juga dalam olahraga pencak silat membutuhkan  dasar fisik yang baik tetapi tidak meninggalkan faktor-faktor yang lain seperi teknik dan mental.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum seseorang  atlet  terjun  karena  pertandingan,  ia  harus  berada dalam kondisi fisik dan tingkat kebugaran yang baik. Tanpa persiapan dan kondisi fisik yang baik atlet yang diterjunkan kepertandingan tidak akan berhasil. Kondisi fisik  yang  baik  dapat  menyebabkan  stamina  tidak  cepat  turun  dengan  drastis sewaktu dalam permainan atau pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari paparan diatas maka peneliti ingin mengetahui bagaimana tingkat kondisi  fisik  atlet  Pencak  Silat  Tapak  Suci  usia  13-18  tahun  di  Kecamatan Wanadadi  Kabupaten   Banjarnegara  Adapun  alasan  peneliti  mengapa  perlu mengetahui kondisi fisik mereka adalah:&lt;br /&gt;1.  Kondisi fisik merupakan salah satu faktor penting yang dibutuhkan oleh atlet pencak silat untuk menjaga dan meningkatkan efektivitas latihan.&lt;br /&gt;2.  Kondisi fisik yang baik diharapkan dapat membantu atlet pencak silat selama permainan atau pertandingan&lt;br /&gt;3.  Dengan  pembinaan  kondisi  fisik  yan  baik  diharapkan  dapat  menghasilkan atlet-atlet pencak silat yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-4044127560266109019?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/4044127560266109019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/survai-kondisi-fisik-atlet-pencak-silat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/4044127560266109019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/4044127560266109019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/survai-kondisi-fisik-atlet-pencak-silat.html' title='Survai Kondisi Fisik Atlet Pencak Silat Tapak Suci Usia 13-18 Tahun Di Kecamatan Wanadadi Kabupaten Banjarnegara Tahun 2006 (P-59)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-6679577244281369753</id><published>2011-04-03T17:33:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T17:35:49.910-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Tinjauan Geografis Terhadap Upaya Pengembangan Kawasan Obyek Wisata Goa Lawa Di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purabalingga (P-58)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan  Nasional  merupakan  suatu  usaha  untuk  meningkatkan kualitas  manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan  teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan    global. Dalam pelaksananannya mengacu   pada   kepribadian   bangsa   dan   nilai   luhur   yang   universal   untuk mewujudkan  kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju, dan kukuh kekuatan moral dan etikanya. (GBHN 1999-2000)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era  globalisasi  seperti  sekarang  ini,  pembangunan  dunia  pariwisata dapat  dijadikan  sebagai  prioritas  utama  dalam menunjang  pembangunan  suatu daerah.  Pengembangan  pariwisata  dilakukan  bukan  hanya  untuk  kepentingan wisatawan   mancanegara   saja,  namun  juga  untuk menggalakan  kepentingan wisatawan  dalam negeri.  Pembangunan  kepariwisataan  pada  hakekatnya  untuk mengembangkan  dan memanfaatkan obyek dan daya tarik wisata yang berupa kekayaan  alam  yang  indah,  keragaman  flora  fauna,  seni  budaya,  peninggalan sejarah, benda-benda purbakala serta kemajemukan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka mencapai tujuan pengembangan pariwisata maka pembanguan pariwisata harus diarahkan pada pemanfaatan sumber daya alam, makin besar  sumber daya alam yang dimiliki suatu negara, maka semakin besar pula harapan untuk mencapai tujuan pembangunan dan pengembangan pariwisata.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tujuan pengembangan pariwisata akan berhasil dengan optimal bila ditunjang oleh potensi daerah yang berupa obyek wisata baik wisata alam maupun wisata buatan manusia. Yoeti (1985: 5),  mengatakan bahwa pembangunan dan pengembangan daerah menjadi daerah tujuan wisata  tergantung dari daya tarik itu sendiri yang dapat berupa keindahan alam, tempat bersejarah, tata  cara hidup bermasyarakat maupun  upacara  keagamaan.  Dari uraian  tersebut  diatas  sektor  kepariwisataan perlu mendapat penanganan yang serius karena kepariwisataan adalah merupakan kegiatan lintas sektoral dan lintas wilayah yang saling terkait ,diantaranya dengan sektor industri, perdagangan, pertanian, perhubungan, kebudayaan, sosial ekonomi, politik, keamanan serta lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, Kabupaten Purbalingga memiliki aset  wisata   yang  cukup  beragam  yang  dapat  memenuhi  segala  kebutuhan kepariwisataan jika aset tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan Perda Bupati Nomor 15 Tahun 1996 tanggal 18 Desember 1996, Moto dan Etos Kerja Masyarakat Purbalingga adalah Perwira (Pengabdian, Ramah, Wibawa, Rapi dan Aman). Selain itu Purbalingga dikenal pula dengan berbagai macam predikat antara lain:&lt;br /&gt;1. Kota Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena  ditemukannya  peningggalan-peninggalan  purbakala  yang  berbentuk candi, batu tulis, lingga, dan yoni&lt;br /&gt;2. Kota Perjuangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak  perjuangan  pergerakan  kebangsaan  Indonesia,  Purbalingga  tidak pernah ketinggalan dan ikut andil dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda&lt;br /&gt;maupun Jepang. Purbalingga melahirkan seorang Ksatri seperti Panglima Besar&lt;br /&gt;Jendral Soedirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kota Wisata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Purbalingga merupakan daerah yang menyajikan berbagai obyek dan daya tarik wisata yang menarik untuk dikunjungi antara lain berupa wisata alam, atraksi budaya, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;(Dishubpar, Purbalingga 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu potensi wisata yang menjadi obyek andalan dan merupakan obyek wisata  yang potensial untuk dikunjungi adalah obyek wisata alam Goa Lawa yang terletak di Desa  Siwarak Kecamatan Karangreja. Berdasarkan data statistik  jumlah  pengunjung  obyek  wisata,   maka  obyek  wisata  Goa  Lawa merupakan  salah  satu  dari  tiga  obyek  wisata  yang  selalu  diminati  oleh  para wisatawan setelah Kolam Renang Tirto Asri dan Taman Aquarium Purbasari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyek wisata Goa Lawa merupakan obyek wisata dengan latar belakang kondisi alam  yang sangat indah dengan pemandangan Gunung Slamet. Obyek wisata ini mempunyai daya tarik tersendiri yang mampu menarik wisatawan untuk berkunjung.   Hal   tersebut   dikarenakan   obyek   wisata   tersebut   tidak   hanya menyajikan potensi berupa Goa saja tetapi juga didukung oleh potensi yang lain seperti areal bermain untuk anak-anak, bumi perkemahan serta pemandangan yang indah dan udara pegunungan yang sejuk.&lt;br /&gt;Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purbalingga tahun 2000. Untuk perencanaan kawasan pariwisata harus&lt;br /&gt;diperuntukan bagi kegiatan pariwisata saja, yang sampai saat ini masih diperlukan peningkatan  sarana  dan  prasarana.  Berdasarkan  Rencana  Tata  Ruang  Wilayah (  RTRW)  tersebut  ada  kriteria-kriteria  tertentu  untuk  pengembangan  kawasan pariwisata antara lain:&lt;br /&gt;1. Keindahan alam dan keindahan panorama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Masyarakat  dengan  kebudayaan  yang  bernilai  tinggi  dan  diminati  oleh wisatawan&lt;br /&gt;3. Bangunan peninggalan budaya dan atau mempunyai nilai budaya yang tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tersedianya sarana dan prasaran air dan listrik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mempunyai kepadatan penduduk yang relatif rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mempunyai aksesibilitas yang tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Lahan tersebut tidak telalu subur dan bukan lahan produktif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Adanya lahan yang mungkin bisa digunakan untuk areal perluasan kawasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut Kecamatan Karangreja merupakan kawasan  perencanaan untuk kawasan wisata alam yang dipusatkan pada tempat wisata Goa Lawa.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk meneliti tentang kondisi obyek  wisata  tersebut  dan  pengembangan  obyek  tersebut  dari  sudut  pandang geografis dengan mengambil judul “Tinjauan Geografis Terhadap Pengembangan Obyek Wisata Alam Goa Lawa Di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga”, dengan mengikuti aturan penulisan dan bersifat obyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-6679577244281369753?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/6679577244281369753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/tinjauan-geografis-terhadap-upaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/6679577244281369753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/6679577244281369753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/tinjauan-geografis-terhadap-upaya.html' title='Tinjauan Geografis Terhadap Upaya Pengembangan Kawasan Obyek Wisata Goa Lawa Di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purabalingga (P-58)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-4172892419794329423</id><published>2011-04-03T17:31:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T17:33:56.841-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Pemahaman Guru Ips Terhadap Penilaian  Kelas Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) DI SMP Negeri Kecamatan Jepara (P-57)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan hal penting dan berkaitan langsung dengan aspek kehidupan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Pendidikan akan  membawa  perubahan  sikap,  perilaku  dan  nilai-nilai  pada  individu, kelompok dan masyarakat. Melalui pendidikan diharapkan Negara dapat maju dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan tuntutan zaman. Disamping itu pendidikan juga dituntut maju dan berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk itu pemerintah selalu mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan baik secara konvensional maupun inovatif.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan adalah penyempurnaan kurikulum.   Peningkatan  kurikulum  dilakukan  untuk  meningkatkan  mutu pendidikan secara nasional.  Mutu pendidikan yang tinggi diperlukan untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, ramai, terbuka, demokratis dan mampu bersaing sehingga  dapat meningkatkan kesejahteraan Warga Negara Indonesia. Kurikulum yang baik mampu  menyediakan  pengalaman  belajar yang mencakup baik konsep maupun proses dimana ada keseimbangan antara kemampuan konseptual dan kemampuan prosedural. Pengalaman belajar yang mencakup  konsep maupun proses dimana ada keseimbangan   antara kemampuan konseptual dan kemampuan prosedural. Pengalaman belajar ini&lt;br /&gt;juga membantu siswa untuk memberikan sumbangan yang positif untuk masa&lt;br /&gt;depan dalam bidang sosial, ekonomi dan lingkungan yang tidak hanya lingkup&lt;br /&gt;Indonesia tetapi mencakup lingkup yang lebih luas (Depdiknas 2003; 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan penyempurnaan  dari  KBK  agar  lebih  familiar  dengan  guru,  karena  guru banyak   dilibatkan  diharapkan  memiliki  tanggung  jawab  yang  memadai. Penyempurnaan  kurikulum  yang  berkelanjutan  merupakan  keharusan  agar sistem pendidikan selalu  relevan  dan kompetitif. Penyempurnaan kurikulum ini dilakukan berdasarkan hasil kajian para pakar pendidikan yang tergabung di  Badan  Standar  Nasional  Pendidikan  (BSNP)   dan  juga  masukan  dari masyarakat  yang  terfokus  terhadap  dua  hal  yakni  1)  pengurangan  beban belajar kurang lebih 10%, 2) penyedarhanaan kerangka dasar dan  struktur kurikulum. Penyempurnaan tersebut mencakup sikronisasi kompetensi untuk setiap mata pelajaran antar jenjang pendidikan, beban belajar dan jumlah mata pelajaran serta validasi empirik terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar (Mulyasa 2006:10).&lt;br /&gt;Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum opersional  yang  dikembangkan  sesuai  dengan  satuan  pendidikan,  potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial dan budaya masyarakat setempat dan karakteristik peserta didik (Mulyasa 2006;8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum tingkat  satuan  pendidikan  (KTSP)  merupakan  penjabaran dari  standar  isi  dan  standar  kompetensi  kelulusan.  Di  dalamnya  memuat kompetensi  secara  utuh  yang  merefleksikan  pengetahuan,  ketrampilan  dan&lt;br /&gt;sikap sesuai karakteristik masing-masing mata pelajaran (BP Dharma Bhakti&lt;br /&gt;2007; 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hamid Hasan dalam seminar Nasional Pendidikan – UNNES pada tanggal  15 Maret 2007 menyatakan bahwa komponen penilaian hasil belajar   harus   juga   diungkap   dalam   sebuah   dokumen   kurikulum.   Para pengembang  kurikulum  harus  juga  memiliki  model  penilaian  (assessment) hasil  belajar  yang  sesuai  dengan  informasi  mengenai  pengetahuan  yang dimiliki  peserta  didik  maka  “pencil  and  paper  test”  dengan  bentuk  soal obyektif  dapat  digunakan.  Meskipun  demikian  haruslah  diingat   bahwa kompetensi bukan hanya pengetahuan tetapi seperti dikemukakan oleh Becker (1997) dan Gordon (1988) dalam Hamid Hasan (2007: 8) kompetensi meliputi pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai, sikap dan minat. Oleh karena itu tes yang hanya mampu mengungkapkan pengetahuan dan pemahaman kurang tepat digunakan untuk aspek kompetensi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sistem penilaian dilandasi oleh prinsip validitas, reabilitas, menyeluruh, berkesinambungan, obyektif dan mendidik (BP dharma  Bakti 2007:7). Sehubungan hal tersebut, pendekatan penilaian yang digunakan adalah  pendekatan penilaian berbasis kelas, yaitu pendekatan  penilaian  yang  menitikberatkan   pada   penilaian  sebagai  ‘alat pembelajaran’ bukan tujuan pembelajaran (Nurhadi 2004: 164).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian  berbasis  kelas  ini  merupakan  nama  lain  penilaian  otentik. Penilaian  otentik lebih dikenal dalam kajian penilaian pendidikan. Hakikat&lt;br /&gt;keduanya sama. Landasan teoritis penilaian berbasis kelas terangkum dalam pengembangan penilaian otentik (Nurhadi 2004: 167).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu  prosedur  dalam  penilaian  berbasis  kelas  adalah  penilaian portofolio.  Penilaian  portofolio  digunakan  dalam  penilaian  berbasis  kelas karena  penilaian  tersebut  memenuhi  kriteria  dari  salah satu  prinsip dalam penilaian berbasis kelas yaitu penilaian harus dilakukan secara komprehensif, adil dan berkesinambungan (Nurhadi 2004: 167).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar guru  dapat  menerapkan  Kurikulum  Tingkat  Satuan  Pendidikan (KTSP) dalam kegiatan pembelajaran maka guru harus memiliki pemahaman tentang  Kurikulum  Tingkat  Satuan  Pendidikan  (KTSP)  termasuk  didalam sistem penilaian  dalam kegiatan  pembelajaran  di  kelas.  Untuk  itu  peneliti ingin meneliti sejauh mana pemahaman guru  terhadap Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) terutama pemahaman guru IPS terhadap penilaian kelas yang digunakan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Kecamatan Jepara.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-4172892419794329423?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/4172892419794329423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/pemahaman-guru-ips-terhadap-penilaian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/4172892419794329423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/4172892419794329423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/04/pemahaman-guru-ips-terhadap-penilaian.html' title='Pemahaman Guru Ips Terhadap Penilaian  Kelas Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) DI SMP Negeri Kecamatan Jepara (P-57)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-4294689755378132268</id><published>2011-01-24T16:33:00.001-08:00</published><updated>2011-01-24T16:34:27.551-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>THE EFFECT OF USING “MULTI MEDIA” VCD AS MEDIA FOR TEACHING VOCABULARY TO KINDERGARTEN STUDENTS (P-56)</title><content type='html'>CHAPTER I INTRODUCTION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Background of the Study&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is very important to master English as an international language. To gain a good result of English learning, people should take a good and effective ways because  learning  English  as  a  foreign  language  is  a  complex  task.  Learning English as a foreign language is a difficult thing to do for most of the Indonesian students. It also takes a lot of time since English as a foreign language for them.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The same condition also happens to very young learners who are the beginners in learning English. Vanessa Reilly &amp; Sheila M. Ward ( 2003: 3 ) states that very young learners  refer to children who have not yet started compulsory schooling and have not yet started to read. It means that it is really a new thing for them in learning English. It also means that the teacher needs more effort to teach them English. As young learners who enjoy having fun, and enjoy  things with happy feeling, the students need more relaxing learning atmosphere, so they could join  the English classes comfortably, and with high enthusiasm. It becomes the teacher’s tasks to make the situation comes true. The teacher needs some things to be involved in the English classes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The writer  observed  that  the  students  of  Panti  Puruhita  Kindergarten Krapyak Indah Semarang, still have difficulties in memorizing new vocabularies. It could be seen in the daily teaching and learning process. The students seemed to forget the vocabulary which had been taught easily. Probably this happen because of the weakness of the students’ memory, the technique of teaching used by the teacher or it may be because of the lack of the instructional media of learning.&lt;br /&gt;The writer aware that the students of the kindergarten are the students who learn a new language during the critical period, so they should be understood it easier  and  better  than  other  who  are  not  exposed  that  language  during  the childhood. In addition, Rudolph and Cohen (1984: 16) state that early childhood years are very important for learning in the basic.  Although the children at the kindergarten are in the critical period, the fact shows that the students still have difficulties in learning new language.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In teaching vocabulary to the kindergarten students, the teacher should be more creative and able to keep the students away from getting bored. In order to keep the students away from  getting bored in learning vocabulary, the teacher should  use  an  appropriate  instructional  media.  This  media  should  gain  the students’ interest in learning new vocabulary. Media such as cartoon, VCD, tape recorder, overhead projector, radio, television, computer, and etc. play important role in teaching vocabulary. They are very useful for the teacher to achieve the instructional goals and the objectives of learning, besides as a tool to command students in teaching learning process.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Webster  states  that  teaching  aids  are  many  varieties  of  devices  and materials,  which  rely  on  the  sense  of  sight  to  inform  (1972:  664).  Without technique  and  teaching  aids  which  are appropriate  to the  students’ level, the students may get bored and not interested in following the lesson and the result will not be satisfactory.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;In this study the writer wants to examine a technique which is hoped can be a good  method for teaching vocabulary to kindergarten students. Here, the writer will try to present  VCD as a media in teaching English to kindergrten students.  Teaching  English  using  VCD   can  be  considered  as  one  of  the appropriate method. The use of VCD as media can be a choice for the teacher in teaching vocabulary in which the students are given a chance to study vocabulary in  different  way  which  is  hoped  that  they  will  be  motivated  in  learning vocabulary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For the reasons above, the writer wants to try to use “Multi Media” VCD as media for teaching vocabulary to the kindergarten students. The writer hopes that it will be an effective  and interesting media in teaching vocabulary to the students, so that they can enjoy and interested in learning vocabulary.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-4294689755378132268?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/4294689755378132268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/01/effect-of-using-multi-media-vcd-as.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/4294689755378132268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/4294689755378132268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/01/effect-of-using-multi-media-vcd-as.html' title='THE EFFECT OF USING “MULTI MEDIA” VCD AS MEDIA FOR TEACHING VOCABULARY TO KINDERGARTEN STUDENTS (P-56)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-2177142230285251070</id><published>2011-01-24T16:30:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T16:32:07.844-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>PENGGUNAAN MEDIA KIT IPA DALAM MENUNJANG PROSES PEMBELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR DAERAH BINAAN IV KECAMATAN PETARUKAN PEMALANG (P-55)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru  memegang   peranan   penting   dalam   meningkatkan   kualitas pembelajaran.   Sebagai   sentral   dalam   proses   pembelajaran,   guru   perlu meningkatkan kualitas kegiatan belajar dan mengajar di sekolah.&lt;br /&gt;Di tingkat Sekolah Dasar, pola pikir siswa tentang suatu pengetahuan ditentukan   sampai  ke  tingkat  atau  pendidikan  yang  lebih  tinggi.  Untuk memacu kualitas para siswa, diperlukan kemampuan berpikir kritis. Salah satu mata pelajaran di Sekolah Dasar  yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis adalah Ilmu Pengetahuan Alam (Sidharta, 1990: 1).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu  Pengetahuan  Alam  (IPA)  merupakan  mata  pelajaran,  yang dimaksudkan   agar  siswa  mempunyai  pengetahuan,  gagasan  dan  konsep- konsep yang terorganisasi dengan alam   sekitar, yang diperoleh dari pengalaman  melalui  serangkaian  proses  ilmiah,  antara  lain  penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan ( Subiyanto, 1988: 47). Di dalam Ilmu  Pengetahuan  Alam,   siswa  dituntut  memahami  konsep-konsep  Ilmu Pengetahuan Alam, melalui kegiatan-kegiatan dari mengamati sampai menarik simpulan, sehingga terbentuk sikap kritis dan ilmiah. Dalam kenyataan dapat terlihat  bahwa  proses  belajar  dan  mengajar  Ilmu   Pengetahuan  Alam  di sekolah, banyak guru menyampaikan materi secara informatif dengan ceramah&lt;br /&gt;( Iskandar, 2001: 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil  penelitian  Umar  (1990:  7)  mengungkapkan  bahwa  tingkat penguasaan   peserta  didik  terhadap  materi  Ilmu  Pengetahuan  Alam  baru mencapai  kurang  dari  separuh  dari  tuntutan  kurikulum yang  ideal.  Dalam menghadapi masalah tersebut, apabila  diamati dengan saksama, maka telah banyak  pihak  yang  terkait  di  bidang  pendidikan   mencoba  memecahkan persoalan  rendahnya  mutu  pendidikan  Ilmu  Pengetahuan  Alam.  Misalnya melakukan inovasi, penataran, pelatihan, penelitian, penyediaan kurikulum. Berkaitan dengan penyediaan sarana pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional melakukan proyek pengadaan peralatan Ilmu Pengetahuan  Alam untuk Sekolah Dasar yang berupa Komponen Instrumen Terpadu (Kit) Ilmu  Pengetahuan Alam serta buku pedoman penggunaannya untuk guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Berta (1996: 17), media Kit IPA adalah peralatan IPA yang diproduksi dan dikemas dalam bentuk kotak unit pengajaran, yang menyerupai rangkaian peralatan uji coba keterampilan proses pada bidang studi IPA dan dilengkapi dengan buku pedoman penggunaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian Budiningsih (1994: 28) tentang intensitas penggunaan media  Kit   IPA  di  16  Sekolah  Dasar  di  wilayah  Kodya  Yogyakarta, menunjukkan bahwa secara keseluruhan sebenarnya kelengkapan media IPA adalah cukup, namun tidak seluruhnya dimanfaatkan oleh guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya media Kit Ilmu Pengetahuan Alam diharapkan dapat memacu  proses dan hasil belajar siswa dengan kondisi dinamis, kreatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Namun, media Kit IPA ternyata belum dimanfaatkan oleh guru dengan seoptimal mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hermiati (1999: 4), pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang selama ini dilaksanakan lebih mengandalkan olah kata, yang bersumber pada  buku  dan  guru,  media  Kit  Ilmu  Pengetahuan  Alam  yang  dirancang khusus  untuk  mempermudah  siswa   dalam  mengaitkan  langsung  konsep- konsep pelajaran dalam alam sekitar, ternyata hanya tampak sebagai pajangan sekolah belaka. Telah kita ketahui bersama bahwa kegiatan dan eksperimen- eksperimen merupakan suatu usaha yang berharga dalam Ilmu Pengetahuan Alam  sehingga  dapat  memberikan  rangsangan  penemuan-penemuan  baru dalam teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat  pentingnya  media  yang  dapat  mendukung  tercapainya tujuan pembelajaran, serta peran media dalam menunjang proses pembelajaran yang lebih baik, maka penulis mencoba untuk meneliti “Penggunaan Media Kit IPA dalam menunjang proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar Daerah Binaan IV Kecamatan Petarukan Pemalang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-2177142230285251070?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/2177142230285251070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/01/penggunaan-media-kit-ipa-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2177142230285251070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/2177142230285251070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/01/penggunaan-media-kit-ipa-dalam.html' title='PENGGUNAAN MEDIA KIT IPA DALAM MENUNJANG PROSES PEMBELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR DAERAH BINAAN IV KECAMATAN PETARUKAN PEMALANG (P-55)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-9195919222439796303</id><published>2011-01-24T16:28:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T16:30:16.101-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>PENGARUH PERSEPSI SISWA TENTANG FASILITAS PERPUSTAKAAN DAN KINERJA PUSTAKAWAN TERHADAP MINAT BACA SISWA SMK NEGERI 2 BLORA (P-54)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan  sekolah  sebagai  salah  satu  sarana  yang  menunjang kegiatan belajar  siswa  sangat  tepat  digunakan  sebagai  satu  cara  untuk meningkatkan minat baca  siswa, terutama para pelajar sebagai masyarakat ilmiah. Minat baca didefinisikan oleh  Dirjen Dikdasmen (1996:125) sebagai keinginan kuat yang disertai usaha-usaha seseorang  atau masyarakat untuk membaca.  Orang  yang  mempunyai  minat  baca  besar   ditunjukkan   oleh kesediaanya atas dasar mendapatkan bahan bacaan dan kemudian membacanya atas dasar keinginan sendiri. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mempunyai minat baca yang  kuat  akan  menjadikan  membaca  sebagai  suatu  kebiasaan  sekaligus kebutuhan. Membaca merupakan suatu proses komunikasi antara penulis dan pembaca. Dalam proses ini terdapat tiga elemen yang harus dipenuhi yaitu penulis (writer), karya tulis (piece of literature) dan pembaca (reader). Dalam proses  ini   perpustakaan  bertindak  sebagai  perantara  antara  penulis  dan pembaca.  Kebiasaan  membaca  adalah  ketrampilan  yang  diperoleh  setelah seseorang dilahirkan, bukan  ketrampilan bawaan. Oleh karena itu kebiasaan membaca dapat dipupuk, dibina dan dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  Dawsen   dan   Bahan   dalam   buku   M.   Rahman   (1985:6) menyatakan  bahwa fasilitas perpustakaan mempengaruhi minat baca siswa, sehingga  agar  minat  baca   siswa  dapat  meningkat  maka  sekolah  harus menyediakan  fasilitas  perpustakaan  yang  memadai.  Perpustakaan  sekolah dapat dikatakan baik apabila dalam perpustakaan itu sendiri dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas  penunjang  seperti  tersedianya  bahan-bahan  pustaka  yang tidak  hanya  berhubungan  dengan  pelajaran  tetapi  berkaitan  juga  dengan berbagai  jenis  bacaan  yang  meningkatkan  pengetahuan  siswa,  tersedianya ruangan   khusus   yang   digunakan   sebagai   perpustakaan   bukan   ruangan serbaguna, serta tersedia meja dan kursi untuk membaca di perpustakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dawsen dan  Bahan  dalam  buku  M.  Rahman  (1985:6)  menyebutkan selain dipengaruhi oleh tersedianya fasilitas perpustakaan sekolah, minat baca juga  dipengaruhi  oleh  kinerja  dari  pustakawan.  Menurut  Poerwodarminto (1988:507), kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan. Kinerja  menurut  As’ad  (2001:48)  adalah  keberhasilan  seseorang  pekerja terkait dengan keberhasilan dalam menyelesaikan tugasnya hal tersebut dapat dilihat dari sisi kualitas dan  ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  dua  pendapat  tersebut  dapat  disimpulan  bahwa  kinerja adalah prestasi atas suatu pekerjaan  yang dapat dilihat dari sisi kualitas dan ketepatan waktu dalam  menyelesaikan pekerjaan  tersebut. Sedangkan pustakawan  berdasarkan  Keputusan  Menpan  RI  No.  18  Th.  1998  adalah pegawai negeri sipil yang  diberi tanggungjawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang  untuk melakukan  kegiatan kepustakawanan  pada  unit-unit  perpustakaan,  dokumentasi,  dan  informasi pemerintah atau unit-unit informasi lainnya. Pustakawan perpustakaan sekolah adalah seorang yang telah memiliki pendidikan ilmu perpustakaan serendah- rendahnya Diploma II (DII) dan bertugas penuh di perpustakaan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi dari pustakawan adalah melayani serta menyediakan informasi sehingga diharapkan pustakawan mampu membaca apa yang diinginkan dan dibutuhkan  oleh  murid,  selain  itu  juga  diharapkan  pustakawan  memiliki pengetahuan tentang kearsipan.  Pustakawan adalah orang-orang yang secara fungsional  mempunyai  tanggung  jawab  baik   secara  langsung  atau  tidak langsung bagi pelayanan perpustakaan bagaimanapun lengkapnya koleksi dan fasilitas  perpustakaan,  kalau  tidak  ditangani  oleh  personal  yang  memadai maka kekayaan yang tersedia di perpustakaan  kurang mempunyai makna dan arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggi  rendahnya  kinerja  pustakawan  dapat  dilihat  dari  bagaimana pustakawan  memberikan  pelayanan  terhadap  para  pengunjung.  Pelayanan merupakan kunci sukses dalam penyelenggaraan perpustakaan oleh karena itu, setiap  petugas  perpustakaan  harus  memiliki  motivasi  yang  kuat,  wawasan yang   luas,   dan   senantiasa   berupaya   secara   aktif   untuk   meningkatkan pelayanan. Dengan pelayanan yang baik dari pustakawan siswa akan tertarik untuk  membaca  buku-buku  di  perpustakaan  sehingga  minat  baca  siswa meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMK Negeri  2  Blora  adalah  sebuah  sekolah  menengah  kejuruan  di Blora.   Sekolah  yang  memiliki  akreditasi  B  atau  baik  dari  Departemen Pendidikan Nasional  tersebut berusaha mencetak lulusan yang siap kerja dan bersaing dalam dunia kerja. Untuk  mewujudkan hal tersebut siswa dibekali dengan berbagai keahlian yang disesuaikan dengan kebutuhan kerja saat ini. Di SMK  Negeri 2 Blora terdapat empat program keahlian yaitu Sekretaris, Penjualan, Akuntansi, dan Tata Busana.&lt;br /&gt;Sesuai dengan hasil penelitian awal di SMK Negeri 2 Blora, peneliti menemukan bahwa koleksi buku di perpustakaan sekolah cukup lengkap  hal ini terlihat dari adanya koleksi buku-buku yang sesuai dengan kurikulum yang terbaru, sedangkan ruang  perpustakaan SMK Negeri 2 Blora tertata dengan rapi dan sistematis, dipandang dari segi  estetika dan ergonomis juga cukup baik Perpustakaan di SMK Negeri 2 Blora juga dilengkapi dengan ruang baca, ruang tamu, ruang referensi, ruang kerja dan juga tersedianya  katalog untuk memudahkan siswa dalam pencarian buku.&lt;br /&gt;Sedangkan  kinerja  dari  pustakawan  sekolah  SMK  Negeri  2  Blora, peneliti   menyimpulkan   bahwa   pustakawan   telah   berusaha   keras   untuk memajukan  perpustakaan  dan  menjalankan  fungsinya  dengan  baik  hal  ini terlihat  dari  keramahan  yang  diberikan  oleh  pustakawan  saat  memberikan pelayanan  serta  program  kerja  yang  telah  disusun  dan  akan  dilaksanakan selama  satu  tahun  kedepan  dan dalam  pelayanannya  telah  dilaksanakan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku terbukti dengan adanya tiga tenaga kerja  yang  masing-masing  bertugas  melayani  dibagian  sirkulasi,  melayani dibagian  referensi dan yang satunya melayani dibagian membaca. Dari segi teknis  ada  dua  tenaga  kerja  yang  masing-masing  bertugas  dalam  bidang pengadaan bahan pustaka dan yang  satunya bertugas sebagai pengolah atau penyusun. Pustakawan juga membuat tata tertib perpustakaan SMK Negeri 2 Blora yang harus ditaati oleh pemakai perpustakaan tersebut. Pada tahun 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan SMK Negeri 2 Blora mendapatkan penghargaan juara  3 sebagai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan yang baik sekotamadya dan pada tahun 2007 mendapatkan juara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 dengan tema yang sama sekabupaten Blora&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian ternyata minat baca di SMK Negeri 2 Blora masih rendah hal  ini  terlihat dari data statistik kunjungan siswa di perpustakaan dalam   laporan   pertigabulan   pada   tahun   2007,   laporan   III   (   Oktober, Nopember, Desember) ada 6.281 siswa kelas 1,2, maupun 3 yang berkunjung di perpustakaan , pada laporan I tahun  2008 ( Januari, Februari, Maret) ada&lt;br /&gt;6.054  siswa kelas 1,2, maupun kelas 3 yang berkunjung di perpustakaan, dan pada laporan  II tahun 2008 ( April, Mei, Juni)   ada 5.585 siswa kelas 1,2, maupun 3 yang berkunjung di perpustakaan. Dari data tersebut, peneliti ingin mengetahui apakah minat baca  dipengaruhi oleh fasilitas perpustakaan dan kinerja pustakawan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menelusuri seberapa besar faktor tersebut berpengaruh terhadap minat baca siswa maka penelitian ini perlu dilakukan.&lt;br /&gt;Dari uraian diatas, penulis tertarik mengadakan penelitian dengan judul “PENGARUH FASILITAS PERPUSTAKAAN SEKOLAH DAN KINERJA PUSTAKAWAN TERHADAP MINAT BACA SISWA SMK NEGERI 2 BLORA”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-9195919222439796303?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/9195919222439796303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/01/pengaruh-persepsi-siswa-tentang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/9195919222439796303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/9195919222439796303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/01/pengaruh-persepsi-siswa-tentang.html' title='PENGARUH PERSEPSI SISWA TENTANG FASILITAS PERPUSTAKAAN DAN KINERJA PUSTAKAWAN TERHADAP MINAT BACA SISWA SMK NEGERI 2 BLORA (P-54)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-405387091083321239</id><published>2011-01-24T16:26:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T16:28:06.738-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Preparasi Lapisan Tipis Semikonduktor P-N Junction Menggunakan Teknik Implantasi Ion Untuk Aplikasi Detektor Sawar Muka (P-53)</title><content type='html'>BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang.&lt;br /&gt;Pada saat ini aplikasi dari perkembangan teknologi lapisan tipis telah meluas, misalnya komponen aktif dari alat yang digunakan untuk komputer dan komunikasi dan bidang mikroelektronik. Alasan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi lapisan tipis menuju teknologi tinggi adalah sifat atau karakter lapisan tipis yang dapat divariasi secara drastis baik secara langsung (variasi parameter deposisi) maupun secara tidak langsung (annealing dan irradiasi).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu aplikasi lapisan tipis berhubungan dengan pembuatan detektor sawar muka. Detektor sawar muka adalah sambungan antara semikonduktor tipe P dengan semikonduktor tipe N, dimana daerah sambungan tersebut merupakan daerah aktif detektor. Detektor sawar muka menggunakan tenaga dari partikel sinar alpha untuk menimbulkan pasangan elektron-hole dalam bahan semikonduktor. Jumlah pasangan elektron-hole yang terbentuk sebanding dengan besar tenaga radiasi. Medan listrik yang ditimbulkan tegangan terbalik akan menyapu elektron ke terminal positif dan hole ke terminal negatif. Kepekaan dari suatu detektor sawar muka diantaranya tergantung pada bahan untuk membuat sambungan P-N. Bahan Silikon adalah salah satu bahan semikonduktor yang cocok untuk keperluan tersebut, karena mempunyai resistivitas tinggi (Agus Baskoro, 1992:339). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengubah dari Silikon intrisik menjadi ekstrisik bahan Silikon diberi ketidakmurnian Boron (untuk membuat tipe P) dan ketidakmurnian Posfor (untuk membuat tipe N). Untuk memberikan ketidakmurnian pada bahan Silikon diantaranya menggunakan teknik implantasi ion. Teknik implantasi ion ini dapat memberi ketidakmurnian lebih baik, karena hanya ion tertentu (tidak dikotori unsur lain) yang dicangkokan pada bahan yang dikehendaki. Dosis dan kedalaman pencangkokan dapat dikendalikan dengan mengatur waktu dan energi ion yang dicangkokan. Dengan demikian akan terjadi sambungan N-P yang baik dan pada akhirnya akan menambah kepekaan detektor sawar muka.&lt;br /&gt; Dalam metode implantasi ion, dimanfaatkan kemampuan akselerator untuk “menanamkan” atom ketidakmurnian langsung kedalam substrat. Teknik ini merupakan salah satu teknik pembuatan sambungan N-P semikonduktor yang mencapai kemajuan dalam proses reaktif dan modifikasi bentuk. Teknik implantasi ion mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan metode difusi, epitaksi dan paduan. Kelebihan dari teknik implantasi ion adalah: (Reka Rio, S dan Lida, M.1982:178) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bahan yang diimplantasikan memiliki tingkat kemurnian yang sangat tinggi, karena menggunakan magnet pemisah massa sehingga dapat dipilih ion tertentu saja yang diinginkan.&lt;br /&gt;2. Jumlah (dosis) pengotor yang ditambahkan dapat diatur dan diamati dari berkas arus ion dengan teliti.&lt;br /&gt;3. Kosentrasi atom pengotor yang diimplantasikan sangat seragam.&lt;br /&gt;4. Kedalaman sambungan dapat diatur dengan sangat teliti melalui pengaturan tenaga implantasi.&lt;br /&gt;5. Tidak memerlukan temperatur tinggi dalam pengoperasianya.&lt;br /&gt;Selain mempunyai keunggulan-keunggulan tersebut, teknik implantasi ion mempunyai kelemahan yaitu menghasilkan kerusakan yang tersisa pada lapisan yang diimplantasi. Bentuk nyata dari kerusakan belum diketahui dengan pasti, bisa terdiri dari interstisi (sisipan), yaitu atom yang berpindah ke posisi interstisi dalam kisi, kekosongan, yaitu lubang yang ditinggalkannya, atau dislokasi, yaitu cacat kristal dengan sebaris atom tidak berada pada posisi yang seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil kerusakan untuk implantasi dosis rendah (≤ 1012 ion/cm2) adalah terbentuknya lorong terisolasi dan terbatas pada volume tertentu saja, sedangkan untuk dosis tinggi (≥1014 ion/cm2) akan terjadi tumpang tindih dari daerah-daerah yang rusak. Kerusakan yang diakibatkan oleh pengimplanan tersebut dapat dikompensasi sampai pada batas-batas tertentu dengan memanaskannya, biasanya pada suhu 600 oC-1000 oC, karena dengan adanya pemanasan diharapkan tenaga vibrasional atom-atom meningkat dan atom cenderung untuk kembali teratur (Mayer dkk, 1970 : -).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil implantasi ion antara lain: energi ion dopan, massa ion dopan (jenis atom dopan), massa atom bahan yang diimplantasi (sasaran), kuat arus ion dopan dan suhu penganilan. Berdasarkan faktor-faktor tersebut dan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yaitu implantasi ion Au ke permukaan wafer Silikon tipe N, maka akan diteliti lebih lanjut bagaimana pengaruh ketidakmurnian ion Boron yang dicangkokan pada wafer Silikon tipe N menggunakan teknik implantasi ion terhadap karakterisasi diode sambungan N-P. Karakterisasi diode sambungan N-P meliputi resistansi lapis, karakteristik arus tegangan I-V berupa arus dadal dan tegangan dadal serta kapasitansi sambungan N-P.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8771025797402608718-405387091083321239?l=www.ilmiahpendidikan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/feeds/405387091083321239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/01/preparasi-lapisan-tipis-semikonduktor-p.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/405387091083321239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8771025797402608718/posts/default/405387091083321239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ilmiahpendidikan.com/2011/01/preparasi-lapisan-tipis-semikonduktor-p.html' title='Preparasi Lapisan Tipis Semikonduktor P-N Junction Menggunakan Teknik Implantasi Ion Untuk Aplikasi Detektor Sawar Muka (P-53)'/><author><name>skripsi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12290069510315752613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8771025797402608718.post-2914434212547053034</id><published>2011-01-24T16:22:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T16:26:53.352-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi Pendidikan'/><title type='text'>Penyajian Masalah Melalui Permainan untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII B MTs Surya Buana Malang  (P-52)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Fisika merupakan pelajaran yang sulit. Itu adalah paradigma tersebut telah berkembang di dalam masyarkat. Kondisi yang demikian sangat mem -  pengaruhi proses pembelajaran fisika yang dilaksanakan oleh guru. Guru akan mengalami kesulitan melakukan proses pembelajaran karena kebanyakan siswa dari awal sudah tidak tertarik untuk mengikuti proses p
