Strategi Penggunaan Bantuan Operasional Pendidikan (Bop) Sd Dalam Peningkatan Pengelolaan Sarana Pendidikan Di Kabupaten Kediri (119)

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang Masalah
Era dimana penuh dengan tantangan dan persaingan yang sangat ketat atau yang lebih dikenal dengan Era Pasar Bebas, diberlakukan di Asia Tenggara tahun 2003 dan untuk kawasan Asia Pasifik tahun 2020, yang walaupun mulai 1 Januari 2003 yang lalu telah dimulai era pasar bebas, namun saat ini belum terasa perubahan yang tajam, padahal selama ini digambarkan bahwa pasar bebas adalah serba segalanya yang semestinya mudah menjadi sulit dan yang semestinya sulit menjadi sangat sulit ataupun sebaliknya.
Sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan karena pada dasarnya bayangan yang sulit itu memberi tantangan supaya berfikir yang lebih serius lagi dalam menghadapinya, baik secara mental ataupun spiritual, memang jarak antara negara yang satu dengan yang lain sangat dekat sekali ibarat menjadi negara dunia, karena bebas memasukkan barang-barang dari satu negara ke nagara lain tanpa ada larangan dan ditunjang dengan teknologi informasi yang maju menjadikan sangat leluasa mengirim barang ke negara lain yang jaraknya sangat jauh menjadi pendek, tinggal kirim berita saja sudah cukup, jadi tidak susah payah mengantarnya sendiri.
Namun yang selama ini dipersiapkan, baik dari segi teknologi maupun yang lain tiba saatnya negara Indonesia masih sangat kedodoran, ibarat kedatangan tamu seorang presiden menjadi sangat tidak siap, contoh yang kongkrit waktu didatangkan gula dari luar betapa ramainya, betapa petani kita sangat tersudutkan, yang tidak itu saja seakan sangat terpukul dengan adanya gula impor, hal ini bukti bahwa negara Indonesia sangat belum siap menghadapi adanya pasar bebas.

PENGARUH PENDIDIKAN, PELATIHAN, DAN PENGALAMAN MENGAJAR TERHADAP PROFESIONALISME GURU SEKOLAH DASAR NEGERI DI GUGUS II KECAMATAN NGANJUK (PEND-14)

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu bangsa. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan / atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Setiap warga Negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan pada tahap manapun dalam perjalanan hidupnya.

Studi Tentang Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran Biologi Pada SLTP Negeri 2 Pangkajene Kabupaten Pangkep (PEND-117)

BAB  I
PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang

Kualitas dan kuantitas pendidikan sampai saat ini masih merupakan suatu masalah yang paling menonjol dalam setiap usaha pembaharuan sistem pendidikan nasional. Kedua masalah tersebut sulit ditangani secara simultan sebab dalam upaya meningkatkan kualitas, masalah kuantitas terabaikan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu tidak mengherankan bila masalah pendidikan tidak pernah tuntas dimanapun, termasuk di negara yang maju sekalipun.
Sungguhpun demikian pemerintah, dalam hal ini Depdiknas telah melakukan berbagai upaya dalam mengatasi segala masalah pendidikan. Upaya tersebut hampir mencakup semua komponen pendidikan. Misalnya pembaharuan kurikulum, pembaharuan proses belajar mengajar, peningkatan kualitas guru, pengadaan buku pelajaran, pengadaan dan penyempurnaan sarana dan prasarana belajar, penyempurnaan sistem penilaian, penataan organisasi dan manajemen pendidikan, dan berbagai usaha yang mengarah pada pencapaian hasil pengajaran/pendidikan secara maksimal.
Mengingat pendidikan selalu berkenan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada manusianya (Nana Sudjana, 1989). Unsur manusia yang paling menentukan keberhasilan pendidikan adalah guru dan pesrta didik. Dalam hal ini guru dituntut bagaimana ia menjadi tenaga pengajar dan pendidik yang profesional. Di lain pihak peserta didik harus sadar bahwa pendidikan sangat menentukan kemajuan peradaban manusia.

Kemampuan Penarikan Simpulan Dalam Berlogika Pada Siswa Kelas Xi Semester 2 Sma Persada Bandarlampung Tahun Pelajaran 2009/2010 (PEND-118)


I.  PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk yang berakal. Dengan adanya akal manusia akan dapat berpikir. Proses berpikir biasanya bertolak dari pengamatan indera atau observasi empirik. Proses itu dalam pikiran menghasilkan sejumlah pengertian dan sekaligus keputusan atau simpulan. Kegiatan berpikir itu sendiri sangat diperlukan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa tersebut. Kegiatan berpikir yang logis harus diikuti bahasa yang logis pula, agar informasi yang disampaikan penutur dapat tersampaikan secara logis pula.

Salah satu fungsi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah sebagai sarana pengembangan penalaran (Depdikbud, 1995: 1). Selain itu, dikatakan pula bahwa salah satu tujuan pengajaran Bahasa Indonesia adalah agar siswa dapat mengungkapkan suatu hal secara jelas dan logis serta sistematis sesuai dengan konteks dan situasi di berbagai bentuk dan ragam bahasa (Depdikbud, 1995: 2). Oleh sebab itu, seorang guru atau pengajar harus mampu mengembangkan kemampuan berlogika peserta didik melalui proses belajar mengajar.

Pengaruh Reward Terhadap Motivasi Berprestasi Dan Prestasi Belajar Akuntansi Pada Siswa Kelas Xi Smk Muhammadiyah 2 Karanganyar Tahun Ajaran 2007 / 2008 (P-125)


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang, baik dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh tingkat keberhasilan pendidikan. Keberhasilan pendidikan akan dicapai suatu bangsa apabila ada usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa itu sendiri. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia (SDM). Fungsi dan tujuan pendidikan nasional menurut pasal 3 UU No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa :

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi untuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan yang mulia pada saat ini tampaknya sulit tercapai apabila pelajar-pelajar di Indonesia sering berbuat curang dan tidak jujur dalam tes. Kenyataan yang sering terjadi pada banyak murid di sekolah-sekolah atau mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi atau universitas baik swasta maupun negri, yang melakukan perbuatan menyontek pada saat tes untuk mendapatkan nilai bagus sangat banyak. Menyontek dilakukan bukan hanya karena ingin mendapat prestasi yang baik disekolah, tetapi banyak juga yang melakukan perbuatan ini karena terpengaruh teman bergaulnya atau karena takut ditinggalkan kelompok teman sebayanya.

Problematika Penerapan Kurikulum Muatan Lokal Dalam Meningkatkan Keterampilan Berbahasa Sasak (Studi Kasus Di Sdn 1 Kediri Lombok Barat (P-124)

Kata Kunci             Problematika Penerapan Kurikulum Muatan Lokal

Latar belakang dari penelitian ini adalah bahwasanya SDN 1 Kediri Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat menerapkan kurikulum muatan lokal dalam upaya meningkatkan keterampilan berbahasa Sasak. Hal ini dinilai berdampak positif terhadap peningkatan kemampuan siswa dalam berbahasa Sasak, terutama dalam bertutur kata yang sopan sesuai dengan tata krama berbahasa Sasak. Namun, dalam perjalanan sebuah usaha tentunya tidak terlepas dari kendala-kendala. Begitu juga dalam penerapa kurikulum muatan lokal di SDN 1 Kediri Lombok Barat.

Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui : 1). Penerapan kurikulum muatan lokal di SDN 1 Kediri Lombok Barat, 2). Problematika penerapan kurikulum muatan lokal dalam meningkatkan keterampilan berbahasa sasak di SDN 1 Kediri Lombok Barat, 3). Jalan keluar yang dilakukan dalam menanggulangi problematika penerapan kurikulum muatan lokal dalam meningkatkan keterampilan berbahasa sasak di SDN 1 Kediri Lombok Barat.

Penelitian ini dilaksanakan di SDN 1 Kediri Lombok Barat, dan yang menjadi subyek penelitian adalah guru bidang studi muatan lokal di SDN 1 Kediri Lombok Barat. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pengumpulan data berupa metode observasi, wawancara dan dokumentasi sehingga menghasilkan diskripsi tentang problematika penerapan kurikulum muatan lokal dalam meningkatkan keterampilan berbahasa sasak di SDN 1 Kediri Lombok Barat.

Pelaksanaaan Pembelajaran Portofolio Mata Pelajaran Sosiologi Kelas X Di Sma Negeri 4 Kota Tega (P-123)

Pelaksanaan  Pembelajaran  Portofolio  Mata  Pelajaran Sosiologi Kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal. Jurusan Pendidikan Sosiologi dan Antropologi. 
 
Kata Kunci : Pelaksanaan, Pembelajaran Portofolio, Hambatan-hambatan.
Selama  ini  pembelajaran  Sosiologi  dianggap  sebagai  mata  pelajaran kurang  menyenangkan.  Ini  dikarenakan  guru  terbiasa  dengan  pembelajaran konvensional, dimana   siswa  kurang  dilibatkan  secara  aktif  dalam  kegiatan pembelajaran. 

Belajar    mengajar     terkesan    kaku,    kurang     fleksibel,     kurang demokratis dan guru cenderung menggunakan satu metode (one way method). untuk menanggapi anggapan di atas  diperlukan suatu pembelajaran yang efektif dan efisien. Untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan suatu inovasi dalam dunia pendidkan yaitu pembelajaran portofolio, merupakan alternatif cara belajar siswa aktif. Dimana guru harus mampu sebagai pemegang kunci yang mempunyai ide-ide  kreatif  dan  inovasi  agar  pembelajaran  tidak membosankan.  Namun, kebenaran   argumen   ini   perlu   dibuktikan   melalui   kegiatan  penelitian   agar diperoleh jawaban yang akurat.

Dari latar belakang masalah diatas muncul permasalahan yang akan dikaji dalam  penelitian ini yaitu: (1) bagaimana pelaksanaan pembelajaran portofolio pada mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal? dan (2) adakah  hambatan-hambatan dalam  pelaksanaan  pembelajaran  portofolio  mata pelajaran  Sosiologi  kelas  X  di  SMA Negeri  4   Kota  Tegal?  Penelitian  ini bertujuan: (1) ingin mengetahui pelaksanaan pembelajaran  portofolio pada mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal, (2) ingin mengetahui hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran portofolio mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal.

An Analysis Of Children’s Emotion In Privratsky’s Conversations With My Daughter Through The Freudian Psychoanalysis Theory (P-122)

AN  ANALYSIS    OF   CHILDREN’S    EMOTION    IN    PRIVRATSKY’S CONVERSATIONS                   WITH             MY   DAUGHTER       THROUGH   FREUDIAN PSYCHOANALYSIS       THEORY.     

Family, as the child’s first environment sets the patterns for her/his attitudes toward people,  things,  and  life  in  general.  Parents,  in  this  case  have  great responsibility in giving models to their children. Therefore, the writer is interested in analyzing Shaunna Privratsky’s short  story,  entitled Conversations with My Daughter,  since  this  short  story reveals  the  influence  of  family  relationship, especially between mother and daughter.

In her analysis, the writer emphasizes on the three problems of the study. They are the daughter’s Id, Ego, and Superego, the emotional characteristics of the daughter and the parental attitudes of the mother. The purposes of the study are  to  find  out  daughter’s  Id, Ego,  and   Superego  according  to  Freudian Psychoanalysis theory, the emotional characteristics of the daughter, and parental attitudes of the mother. The object of the writer’s study is Conversations with My Daughter by Shaunna Privratsky.

The writer used some methods in analyzing the story. In reporting the result of data analysis, the writer used the descriptive analytical interpretation in which she gave the descriptions of the situation had happened, related to the theory of some researcher, then interpreted the condition of the characters. She collected the data in forms of words, phrases, and sentences, then she classified the data and put them into three tables with the different topics each.

Meningkatkan Hasil Belajar Dan Kecakapan Hidup Siswa Pada Materi Prinsip-Prinsip Klasifikasi, Virus, Dan Monera Melalui Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (Jas) Dengan Model Iqro Di Man 2 Semarang (P-121)

ABSTRAK 


Pembelajaran  Biologi  masih  dipahami  secara  tekstual,  siswa  kurang memahami  gejala dan  realita  serta  makna  dari  gejala  alam,  siswa  cepat  lupa terhadap materi yang diajarkan, sehingga menyebabkan hasil belajar siswa tidak memuaskan.   Selain     itu     mata     pelajaran     Biologi      harus     mengembangkan keterampilan proses ilmiah yang berupa  kecakapan hidup (life skill) misalnya kecakapan  observasi,  kecakapan memecahkan  masalah   secara  logis,  dengan kecakapan tersebut siswa akan terbiasa untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari secara runtut. Oleh karena itu penelitian ini menerapkan pembelajaran  melalui  Jelajah  Alam  Sekitar  (JAS)  dengan  model  Iqro  untuk meningkatkan hasil belajar dan kecakapan hidup siswa.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar  dan kecakapan hidup siswa pada materi prinsip-prinsip klasifikasi, virus, dan monera di MAN 2 Semarang melalui pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) dengan model Iqro. 

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada kelas X-B  semester 1 MAN 2 Semarang tahun ajaran 2005/ 2006 pada materi prinsip-prinsip klasifikasi, virus dan monera. Kelas X-B mempunyai jumlah siswa 44 anak yang terdiri atas 19 siswa putra dan 25 siswa putri. Penelitian ini terbagi dalam 3 siklus, masing-masing siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Pengambilan  data  dalam penelitian ini dilaksanakan dengan cara observasi, wawancara, angket dan tes tertulis.

Tesis Pendidikan

Tesis pendidikan merupakan sebuah laporan riset yang sama dengan esai dan makalah, tetapi masuk ke dalam jauh lebih detail. 

Biasanya merupakan laporan ilmiah. Ini menjadi cara yang hebat untuk menguji seberapa baik yang bisa dilakukan oleh mahasiswa, terutama mahasiswa pascasarjana.
Menulis tesis pendidikan nyatanya bukan hal yang mudah. Dibutuhkan kerja keras dan tekad kuat yang harus benar-benar ditanamkan sejak awal. Bisa jadi, untuk urusan judul saja kita sudah dibuat pusing. Kita harus bolak balik mengganti dengan berbagai alasan.

Dalam membuat tesis pendidikan, dibutuhkan referensi yang cukup. Semakin banyak referensi yang kita baca, semakin bertambah pengetahuan kita.
Dengan melakukan diskusi yang intens dengan pembimbing, maka kita bisa mendapatkan pencerahan dalam mengerjakan tesis. Setidaknya, pemikiran kita tentang apa yang akan kita tulis untuk tesis bisa diterima.

Tesis pendidikan yang benar tentu saja memerlukan pemikiran yang benar-benar mendalam. Ada hal penting yang harus menjadi prioritas adalah kita harus berpikir bahwa tesis yang kita buat berdasarkan azas manfaat. Apakah berguna bagi dunia pendidikan, memberikan manfaat bagi banyak orang, atau tidak. 

Jangan sampai tesis yang kita buat tidak bermanfaat apa-apa, baik untuk diri kita, apalagi untuk orang lain. Idealnya, dalam membuat tesis, kita bisa membantu memecahkan permasalahan yang ada.

Langkah awal menulis tesis pendidikan harus dimulai dengan garis besar, termasuk judul bab, sub-judul, dan tabel/grafik. Biarkan garis besar ini menjadi panduan untuk menulis tesis. 

Peningkatan Kreativitas Siswa Melalui Permainan Cipta Lagu Dalam Pembelajaran Seni Budaya Di Smp Nasima Semarang (P-120)

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Pembelajaran seni budaya mengembangkan semua bentuk aktifitas cita rasa keindahan yang meliputi kegiatan berekspresi, bereksplorasi, berkreasi dan apresiasi dalam bahasa, rupa, bunyi, gerak, tutur dan peran. Sedangkan tujuan pendidikan seni untuk mengembangkan sikap toleransi, demokratis, beradab, dan hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk, mengembangkan ketrampilan dan menerapkan teknologi dalam berkarya dan menampilkan karya seni rupa, seni musik, tari dan peran, dan menanamkan pemahaman tentang dasar-dasar dalam berkesenian (Sujadmiko,2004:26 )

Seiring dengan program KTSP ( Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ) yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara bersama untuk memenuhi kebutuhan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan kebijakan pendidikan nasional (Raharjo,
2003:5). Berkaitan dengan KTSP tersebut sekolah perlu mencari program- program yang sesuai di lembaganya, dan guru punya wewenang yang penuh untuk pengembangan dirinya termasuk SDMnya.

Perbedaan Hasil Belajar Antara Pendekatan Kontekstual Dengan Konvensional Pada Sub Konsep Keanekaragaman Hewan Di Kelas Vii Smp Negeri I Sragen Tahun Ajaran 2005/2006 (P-119)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa akan datang. Pendidikan dapat dipahami sebagai suatu proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan dan suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak dalam menuju ke arah kedewasaan. Proses pembelajaran di lingkungan sekolah (pendidikan formal) melibatkan berbagai komponen. Jika salah satu komponen tidak terpenuhi maka proses pembelajaran kurang berhasil. 

Dalam proses pembelajaran biologi melibatkan banyak unsur yang saling berikatan dan menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Unsur-unsur tersebut adalah pendidik (guru), peserta didik (siswa), kurikulum, pengajaran, tes dan lingkungan. Guru dan siswa merupakan subjek pendidikan yang sangat menentukan dalam konteks pengembangan di sekolah. Sebaik apapun kurikulum, jika motivasi guru dan siswa kurang memadai maka proses pembelajaran seperti yang diharapkan tidak akan terjadi.

Pendugaan Hubungan Antara Kurang Gizi Pada Balita Dengan Kurang Energi Protein Ringan Dan Sedang Di Wilayah Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang Tahun 2005 (P-118)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul
Salah satu masalah pokok kesehatan di negara sedang berkembang adalah masalah gangguan terhadap kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh kekurangan gizi. Masalah gizi di Indonesia masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), Anemia zat Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), dan Kurang Vitamin A (KVA). Penyakit kekurangan gizi banyak ditemui pada masyarakat golongan rentan, yaitu golongan yang mudah sekali menderita akibat kurang gizi dan juga kekurangan zat makanan (Syahmien Moehji, 2003:7). Kebutuhan setiap orang akan makanan tidak sama, karena kebutuhan akan berbagai zat gizi juga berbeda. Umur, Jenis kelamin, macam pekerjaan dan faktor-faktor lain menentukan kebutuhan masing-masing orang akan zat gizi. Anak balita (bawah lima tahun) merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kilogram berat badannya. Anak balita ini justru merupakan kelompok umur yang paling sering dan sangat rawan menderita akibat kekurangan gizi yaitu KEP.

Kesiapan Guru Fisika Smp Dalam Melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Di Kabupaten Purbalingga Tahun Pelajaran 2006/2007 (P-117)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Perwujudan masyarakat yang berkualitas merupakan tanggung jawab pendidik yang sekaligus juga menjadi tanggung jawab pemerintah. Tanggung jawab terfokus pada upaya mempersiapkan peserta didik yang mempunyai keunggulan, kreatifitas, mandiri, dan professional dalam bidangnya masing- masing. Upaya meningkatkan kualitas pendidikan ini terus menerus dilakukan oleh pemerintah guna memenuhi tanggung jawab tersebut.


Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan memperbaiki kurikulum. Seperti yang telah dilakukan pemerintah saat ini yaitu memperbaiki Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada dasarnya kurikulum ditentukan oleh guru (tenaga kependidikan). Guru turut serta menyusun kurikulum, duduk dalam suatu panitia pengembang kurikulum, atau memberikan masukan kepada panitia pengembang kurikulum (Hamalik, 2005: 64).

Survei Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Siswa Kelas Xi Dalam Mengikuti Pelajaran Pendidikan Jasmani Di SMA Muhammadiyah 1 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 (P-116)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Di Indonesia, mata pelajaran jasmani beberapa kali berganti nama. Nama terakhir adalah Pendidikan Jasmani tanpa ditambah kesehatan. Perubahan nama ini tidak berarti menghilangkan perhatian terhadap kesehatan siswa. Kesehatan siswa tetap menjadi perhatian utama, tetapi kesehatan siswa merupakan dampak dari pendidikan jasmani. Nama pendidikan jasmani lebih menegaskan bahwa mata pelajaran ini menggunakan aktivitas jasmani sebagai media untuk tujuan pembelajarannya. (Depdikbud, 2003:2).
 
Melalui pendidikan jasmani diharapkan kesehatan siswa tetap terjaga. Seorang siswa yang mempunyai tingkat kesehatan jasmani yang baik akan dengan mudah melakukan aktivitas belajar dengan lancar. Dengan demikian motivasi mengikuti pelajaran akan meningkat karena jasmani yang baik.
Sedangkan motivasi itu sendiri menurut Oemar Hamalik (2005:106), adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.
 
Motivasi mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan yang ingin dicapainya. Disini motivasi adalah sangat penting, motivasi merupakan konsep yang menjelaskan alasan seseorang berperilaku. Apabila terdapat dua anak yang memiliki kemampuan sama dan memberikan peluang dan kondisi yang sama untuk mencapai tujuan, kinerja dan hasil yang dicapai oleh anak yang termotivasi akan lebih baik dibandingkan dengan anak yang tidak termotivasi. Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan belajar siswa. Belajar tanpa motivasi sulit untuk mencapai keberhasilan secara optimal (Oemar Hamalik,2005:108).

Pengaruh Modal Kerja Dan Satuan Jam Kerja Terhadap Pendapatan Pada Industri Kecil Pengrajin Genting Di Desa Karangasem Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan (P-115)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sebagai usaha meningkatkan pendapatan individu pada umumnya dan masyarakat daerah Wirosari pada khususnya, penduduk di Desa Karangasem Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan telah berusaha menciptakan lapangan kerja sendiri, yaitu dengan mendirikan industri kecil genting. Keberadaan industri kecil genting tersebut merupakan salah satu potensi yang memiliki peran yang strategis didalam memajukan roda perekonomian suatu bangsa.
 
Dalam kegiatan usahanya sebagian besar penduduk di Desa karangasem Kecamatan Wirosari adalah di sektor pertanian, baik sebagai buruh maupun sebagai petani. Karena hasil di sektor pertanian belum mencukupi kebutuhan hidup dan guna menambah pendapatan, maka mulailah mencari pekerjaan tambahan yaitu pada industri genting. Industri genting tersebut mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan bagi penduduk setempat dan sekitarnya.

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kapasitas Vital Paru Tukang Ojek Di Alun-Alun Ungaran Kabupaten Semarang Bulan Maret Tahun 2007 (P-114)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Transportasi memegang peranan penting dalam akitivitas manusia, baik transportasi udara, laut maupun darat. Kepadatan lalu-lintas alat transportasi berkaitan erat dengan jumlah penduduk dan ketersediaan sarana-prasarana. Lalu lintas dan angkutan jalan raya sebagai bagian dari sistem transportasi menempati posisi vital dan strategis dalam pembangunan nasional. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama dalam industri otomotif begitu pesat, sehingga laju pertambahan kendaraan juga meningkat dengan cepat yang mengakibatkan transportasi manusia dan barang dari suatu tempat ke tempat lain menjadi mudah dan cepat. Dalam kondisi ini persaingan di sektor transportasi menjadi semakin ketat dan untuk memenangkan persaingan diperlukan sumber daya manusia pekerja di sektor transportasi yang sehat dan produktif (Eryus AK.,2001:2).
Semakin banyak jumlah kendaraan bermotor yang digunakan per satuan waktu pada wilayah tertentu, semakin tinggi pencemaran udara. Pada tahun 2005 jumlah kendaraan bermotor di Jateng sekitar 3,8 juta unit yang terdiri dari sepeda motor mencapai 70 persen, sedangkan mobil 30 persen, bahkan jumlahnya tahun 2006 bakal bertambah lagi (www.kompas.com).

Studi Deskriptif Tentang Faktor-Faktor Kesulitan Belajar Siswa Kelas 3 Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK NU MA’ARIF Kudus Tahun Pelajaran 2005/2006 (P-113)

BAB I PENDAHULUAN 

A. Latar belakang masalah
Sekarang ini persaingan antar bangsa akan semakin tajam dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Keberhasilan suatu bangsa akan ditentukan seberapa besar kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Kualitas sumber daya manusia dipengaruhi oleh mutu pendidikan sebagai pemasok sumber daya manusia. Dunia pendidikan akan memegang peranan yang strategis dan menentukan dalam kehidupan bangsa Indonesia pada masa yang akan datang. 

Kegiatan pendididikan hakekatnya merupakan suatu kegiatan yang sesuai dengan adanya manusia. Artinya sejak adanya manusia telah ada usaha-usaha pendidikan dalam rangka memberikan kemampuan kepada peserta didik untuk hidup secara mandiri dalam masyarakat. Sistem pendidikan yang dianut oleh setiap negara akan mewarnai operasional pendidikannya, baik menyangkut isi, bentuk, struktur, kurikulum, maupun komponen pokok kegiatan yang lain. Di sini tampak ada korelasi antara sistem pendidikan dengan tingkat kemajuan dan peradaban suatu bangsa.

Motivation Of The Main Character’s Survival In O’henry’s ‘Soapy’s Choice’ (P-112)

CHAPTER I 
INTRODUCTION 

1.1 Backgrounds of the Study 
Why does somebody do something? Why do people go to work? Why do we go to college? There are many reasons why we do such things. Somebody does something because he/she wants something to be done, reached, and else. People go to work because they want to earn money, to spend their times, to increase their societal status, and else. We go to school because we need knowledge, or maybe we just want to do our obligation to fulfill our education status. 

The reasons here can be said as goals. All of those examples make us learn that there must be something drives them to do something besides the goals we have said above, it is a motivation. For more details about motivation, we can do one thing that is asking any person who is successful in whatever he or she is doing, what motivate him/her, and very likely, the answer will be ‘goals’. Goal setting is extremely important to motivation and success. So, what motivate you? Just like what we have talked above, why are you in college? If you are in college because that is what your parents want, you may find it difficult to motivate yourself. 

Love As A Motivation Of Life For The Main Character Reflected In Nathaniel Hawthorne’s “Rappacini’s Daughter” (P-111)

CHAPTER I 
INTRODUCTION


1.1 Background of the Study

Love is more than a feeling. It is also a motivational force that compels us to do an action. The experience of love is unique for every person, and one might use that feeling to measure the success of a relationship. Love is fuelled by a mixture of sexual attraction and gratification, the security of the developing attachment, and excitement due to exploration of human being. The sexual attraction wanes, lead to the conflict and withdrawal. Lovers can find themselves securely attached and caring deeply about each other or experiencing some forms of distress, boredom, loneliness or hostility and yearning for a more satisfying relationship.

"I love you" with a feeling is essential. The ability to express those words in a nonsexual context to men, women and children is a good indicator of emotional health. To be able to love men, women and children is part of being healthy adults. Love is a passionate spiritual-emotional-sexual attachment between a man and a woman that reflects a high regard for the value of each other’s person. It is a way not only to feel the extraordinary joy but also to experience self-discovery.

Social Conflicts Between Upper Class And Lower Class As A Result Of Industrialization Found In Jack London’s Short Story “South Of The Slot” (P-110)

CHAPTER I
INTRODUCTION

1.1 Background of the Study

People live in a society. They interact each other and actually cannot live alone without their neighbors. Society is very complex because there are many people with different background. James Mc Knee in Introduction in Sociology (1969:124) defines people in social group are conscious of belonging together in common membership, and a group possesion some mechanism to determine who belongs and who doesnot. Talking about modern society means talking about the history of class struggles. Karl Marx looked upon society as composed of the haves and havenots, oppressor and oppressed. Karl Marx in Communist Manifesto assumes:

The history of all hitherto existing society is the history of class struggles. Freeman and slaves, patrician and plebeian, lord and serf, guildmaster and journeyman, in a word, oppressor and oppressed, stood in a constant position to one another, carried on an uninterrupted, now hidden, now open fight, a fight that each time ended, either in an revolutionary reconstruction of society at large, or in the common ruin of the struggling class.(1963:58)

Students’ Errors In Using Simple Present Tense In Writing Descriptive Texts The Case of the Eighth Year Students of SMP N 2 Brebes in the Academic Year of 2006/2007 (P-109)

CHAPTER I
INTRODUCTION


1.1 Background of the Study
English  is  a  language  spoken  by  people  in  English  speaking  countries  or  in international  events among countries around the world. Ramelan (1992:2-3) stated that “English as an international language is used to communicate, to strengthen and to fasten relationship among all countries in the world in all fields, for example: in tourism, business, science  and  technology,  etc.  Considering  the  importance  of English, people from various non-English speaking countries  including Indonesia learn English.” Having proficiency in English, people will be able to face this over- changing world easily. So, it is not surprising if the number of people who are interested in learning English is getting increased from time to time.

In Indonesia,  English  has  been  taught  as  a  foreign  language.  Ramelan (1992; 1)  stated that English has been taught in our country as the first foreign language since the proclamation in Indonesia on the 17th  of August 1945.” It is taught as  a  compulsory subject  in  junior  high  school  and  senior  high  school  and  in universities or institutes for several terms. Even, it has been tried to be taught to the students of some elementary schools.
Cara Seo Blogger

Kumpulan Tesis dan Skripsi Pendidikan Headline Animator

Anda ingin download daftar judul tesis dan skripsi terbaru dan lengkap silahkan klik download

Like Ya

×